Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 66


__ADS_3

Nina sedikit terkejut, ketika tahu-tahu Joon sudah memeluknya dari belakang. Kepala Joon sudah bersandar manis dibahu Nina yang sedikit terbuka. Karena seperti biasa ia hanya memakai baju kebangsaannya. Pipi mereka saling menempel. Pun dengan dada bidang Joon yang juga menempel ketat di punggung Nina.


Joon memang langsung masuk ke kamar. Dipikirnya kekasihnya itu sudah tidur. Sebab Riko melapor padanya kalau Nonanya sudah pulang sejak petang tadi. Dan ini hampir pukul 11 malam.


Namun ketika dia masuk ke kamar. Di dapatinya gadis itu malah melamun sambil memandang keluar jendela kamarnya. Dengan outfit yang cukup membuat panas dingin pikiran Joon.


"Gadis ini apa tengah berusaha menggodaku," batin Joon.


Saking asyiknya melamun, bahkan Nina tidak menyadari jika ada orang lain yang memasuki kamarnya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan, Baby?" tanya Joon lembut.


Aroma nafas mint segar langsung memenuhi rongga pernafasan Nina. Dia sejenak memejamkan mata. Menikmati pelukan hangat dan juga aroma tubuh Joon yang membuatnya nyaman.


"Ada yang sedang mengganggu pikiranmu, hmm?" tanya Joon lagi.


Nina menggeleng. Dia masih memejamkan matanya. Joon benar-benar merasa bisa kehilangan kendali dirinya. Aroma lembut tubuh Nina memenuhi seluruh pikiran Joon.


"Mari menikah," ucap Joon tiba-tiba. Nina langsung membuka matanya.


"Ya?"


Nina melihat Joon yang tengah melihat dirinya dari pantulan jendela kaca di depannya. Bisa dilihat jika Joon serius dengan perkataannya.


"Menikahlah denganku," ucap Joon lagi.


Nina jelas kelabakan mendengar ucapan Joon. Dia pikir kenapa tiba-tiba pria di depannya ini memintanya untuk menikah dengannya. Nina membalikkan badannya. Sehingga mereka berdua saling berhadapan. Nina memandang dalam bola mata Joon. Sekali lagi dia menemukan keseriusan di sana.


"Kamu melamarku?" Nina bertanya. Dan Joon mengangguk. Perlahan Joon berjalan menuju nakas di samping ranjangnya. Mengambil sebuah kotak beludru berwarna merah dari dalam lacinya.


Lantas membukanya di depan Nina. Sebentuk cincin dan dipastikan bermata berlian tunggal bertengger cantik di dalamnya.


"Will you?" tanya Joon lagi.


"Aduh bagaimana ini?"


Nina memang mencintai pria di hadapannya ini. Tapi untuk menerima lamarannya. Nina pikir timingnya belum tepat. Ada begitu banyak masalah yang tengah mereka hadapi. Menerima sebuah lamaran saat ini, rasanya Nina tidak bisa.


"Lee Joon bisakah kita membicarakan hal ini lain kali?" ucap Nina penuh keraguan. Nina benar-benar takut melukai perasaan pria di depannya ini. Pria yang Nina tahu sudah memberikan segalanya untuk Nina.


"Berikan aku alasannya," pinta Joon perlahan. Ada sedikit rasa kecewa ketika Nina tidak langsung menerima lamarannya.


"Itu... aku.. kita...," Nina tidak tahu harus menjawab apa.


"Apa kamu tidak mencintaiku?" tanya Joon lagi.


"Tidak bukan seperti itu....hanya saja aku pikir timingnya belum tepat," jawab Nina ragu.


Joon menghela nafasnya pelan. Sekelebat suara Max terlintas di pikiran Joon.

__ADS_1


" Hamili saja dia. Aku yakin dia pasti mau menikah denganmu."


Perlahan Joon mundur. Meletakkan kembali kotak cincin itu di atas nakas. Pria itu membuka jasnya, Nina melongo seketika. Membuangnya ke sembarang arah. Lantas Joon mulai membuka kancing kemeja navinya. Nina jelas semakin heran. Apa yang sedang pria ini lakukan?


Hingga seluruh kancing kemeja itu terbuka. Dengan cepat Lee Joon melepasnya dan kembali melemparnya ke sembarang arah.


Tubuh atas Lee Joon kini polos. Membuat dada bidang dan otot sixpack-nya terekspos sempurna. Membuat siapa saja yang melihatnya pasti ngiler dibuatnya. Tak terkecuali Nina.Gadis itu benar-benar terpesona dengan tubuh sempurna Lee Joon.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Nina heran. Untuk apa pria ini memamerkan tubuhnya di depannya. Tubuh Nina panas dingin seketika. Serta otaknya yang sudah traveling ke mana-mana.


"Menuju ke opsi selanjutnya agar kamu mau menikah denganku," ucap Joon. Nina sedikit bingung dengan ucapan Joon barusan.


Selanjutnya, Lee Joon meraih tengkuk Nina. Lantas dengan cepat menautkan bibirnya ke bibir Nina. Gadis itu tentu terkejut. Perlahan Joon mulai mencium bibir Nina. Awalnya, ciumannya begitu lembut dan dalam. Hingga Nina tak berapa lama mulai menikmati ciuman Lee Joon. Pria itu semakin menekan tengkuk Nina. Membuat ciuman mereka semakin dalam.


Nina yang seolah tidak menolak ciuman Lee Joon. Membuat pria itu semakin terbakar api gairah. Hasratnya mulai naik. Apalagi ketika dada bidangnya beradu langsung dengan benda kenyal milik Nina. Joon semakin hilang kendali.


Ciuman Joon semakin menuntut. Dan semakin panas. Bahkan Joon sudah mulai menggiring tubuh Nina ke arah kasur king size-nya. Perlahan mulai merebahkam tubuh Nina di sana. Dengan ciuman yang kini sudah beralih ke leher Nina. Nina mulai merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya. Sensasi aneh persis dengan yang pernah dia rasakan saat Lee Joon mencumbunya waktu itu.


Bedanya kali ini Joon terlihat berbeda. Kali ini Joon melakukannya dengan penuh na*su. Pria yang kini tengah mencumbu dirinya itu sepertinya telah kehilangan kendali. Nina dengan cepat mencari kesadarannya sendiri. Walaupun tubuhnya sendiri merespon dengan baik setiap sentuhan dari Joon.


"Lee Joon, Lee Joon...stop.. hentikan....," Nina berusaha menjauhkan Joon dari tubuhnya. Serta tangannya yang mulai masuk ke dalam tank topnya.


"Apa kamu tidak menginginkannya?" tanya Joon dengan mata yang sudah dipenuhi kabut gairah.


"Ingin, tapi tidak sekarang," jawab Nina dengan nafas yang mulai tersengal. Nafasnya mulai memburu karena tangan Lee Joon yang mulai meremas dadanya. Nina kembali akan kehilangan kesadarannya.


"Apa bedanya kini dan nanti? Bukankah sama saja. Karena kamu tetap akan jadi milikku," ucap Joon parau. Hasratnya benar-benar sudah naik ke ubun-ubun. Melihat wajah Nina yang memerah, menahan hasratnya sendiri. Ia tahu jika gadis yang berada di bawah kungkungannya itu sebenarnya juga merasakan hal yang sama. Ingin mendapatkan lebih.


"Karena itu menikahlah denganku," kembali Joon berkata sambil menggigit daun telinga Nina. Tubuh Nina meremang seketika.


"Lee Joon sudah aku katakan. Timingnya tidak tepat," balas Nina. Kedua belah tangannya sibuk menahan dada bidang Joon. Agar tidak semakin menindih tubuhnya.


"Kalau begitu jangan salahkan aku jika aku mengambilnya sekarang," ucap Joon dan berikutnya Joon kembali mencium bibir Nina. Kali ini dengan ciuman panas dan menuntut. Nina kelabakan dibuatnya. Menghindari setiap ciuman Lee Joon yang semakin tidak terkendali.


"Ini gawat. Pria ini sudah kehilangan kendali."


Tangan Nina terus berusaha mendorong tubuh Lee Joon menjauh. Lee Joon geram dibuatnya. Dengan cepat Lee Joon menangkap kedua tangan Nina, lantas menempatkannya di atas kepala Nina. Membuat Lee Joon semakin bebas menciumi Nina.


"Lee Joon tolong hentikan. Jangan lakukan ini padaku," Nina memohon. Airmatanya sudah mulai turun di pipinya.


"Karenina Putri kamu akan jadi milikku malam ini," ucap Lee Joon.


"Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Aku tidak mau."


Airmata terus mengalir di pipi Nina. Apalagi ketika Joon mulai memainkan dadanya. Nina berusaha bergerak ke kiri dan ke kanan. Mencoba berontak dari tubuh kekar Lee Joon yang dengan sempurna menindihnya. Mengunci seluruh ruang geraknya.


Hingga kesempatan itu datang ketika Lee Joon sedikit mengangkat tubuhnya. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Nina. Dengan kekuatan yang masih tersisa. Dia mendorong tubuh ke samping. Sedikit menendang perut Joon. Joon langsung terguling ke samping Nina dengan sedikit ringisan terdengar dari bibir Joon.


Nina langsung melesat keluar dari kamar Joon. Emosi Joon naik seketika, menggantikan hasratnya yang langsung menguap entah ke mana.

__ADS_1


"Kamu tidak akan bisa keluar dari sini. Karenina Putri," teriakan Joon menggelegar di kamar itu. Dengan cepat Joon langsung melesat keluar. Mencari Nina. Melihat gadis itu tengah berdiri di sudut dapur.


Pemandangan yang langsung membuat emosi Joon menguap, sama cepatnya dengan hasrat yang sempat ia rasakan tadi.


"Baby, jauhkan itu darimu," pinta Joon lembut bercampur panik.


Bagaiman tidak panik. Nina berdiri di sudut dapur. Dengan penampilan berantakan, dan air mata yang terus mengalir di pipinya. Di tangan kirinya terlihat pisau tajam yang biasa ia gunakan saat memasak. Nina mengarahkan ujung pisau itu ke lehernya sendiri.


Joon tentu panik setengah mati. Dia lupa gadis yang dihadapinya adalah tipe nekat. Apalagi jika ia mendapat perlakuan yang tidak sesuai dengam keinginannya.


"Menjauh! Jangan mendekatiku! Kamu anggap aku ini apa ha?"


"Baby, jauhkan itu. Itu berbahaya," bujuk Joon.


"Aku memang mencintaimu. Tapi bukan berarti aku bisa kamu samakan dengan perempuan di luar sana. Aku bukan pel****, yang dengan mudah kamu tiduri!" Nina semakin histeris. Air matanya semakin deras tak terbendung. Dia begitu kecewa dengan pria yang ada di hadapannya itu.


Sejenak Joon terperangah. Mendengar gadis di hadapannya baru saja mengatakan cinta kepadanya.


"Baby, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud melakukan hal itu padamu. Aku lepas kendali. Baby, lepaskan pisau itu. Itu bisa melukaimu," kembali Joon membujuk Nina. Perlahan dia mendekat ke arah Nina.


"Jangan mendekat! Menjauh dariku!" Nina kembali berteriak. Dia semakin mendekatkan ujung pisau itu ke lehernya. Setitik noda berwarna merah terlihat. Menandakan ujung pisau itu sudah melukai leher Nina. Joon terlihat semakin panik.


"Baby, jauhkan itu dari lehermu. Lehermu terluka."


"Aku lebih memilih mati daripada harus menyerahkannya paksa kepadamu. Aku membencimu Lee Joon. Aku membencimu!!" raung Nina disertai gerakan pisau yang terlihat akan menggores leher Nina.


Lee Joon merangsek maju. Tangan kanannya dengan cepat meraih tangan kiri Nina. Mencoba menjauhkan pisau itu dari leher Nina yang sudah mulai mengeluarkan darah. Sedang tangan kirinya meraih pinggang gadis itu. Menahannya agar tidak terlalu banyak bergerak.


Detik berikutnya menjadi detik yang menegangkan. Di mana Lee Joon mati-matian menjauhkan pisau itu dari leher Nina. Sedang Nina dengan segenap kekuatan yang ada mencoba menggoreskan pisau itu ke lehernya.


"Baby, hentikan ini. Ini sangat berbahaya. Ini bisa melukaimu," ucap Joon di sela-sela pergulatan mereka memperebutkan pisau di tangan Nina.


"Jangan menghalangiku. Lepaskan aku! Lepaskan aku!" Nina kembali berteriak.


Pisau itu bergerak tidak menentu. Hingga akhirnya, "arrgghhhh," ringisan lirih keluar dari bibir Joon ketika ujung pisau itu tidak sengaja melukai lengan Lee Joon yang polos tanpa tertutup pakaian.


Darah mulai mengalir. Nina sejenak tertegun. Hingga fokusnya menghilang. Joon dengan cepat menghentakkan pergelangan tangan Nina. Dan, "klontaaaang," bunyi pisau yang terjatuh di lantai dapur. Joon berhasil membuat Nina melepaskan pisaunya.


Detik berikutnya Nina kembali meronta. Berusaha meraih pisau itu kembali.


"Jangan diambil lagi. Itu berbahaya," ucap Joon berusaha meraih Nina ke dalam pelukannya. Mencoba menahan gadis itu agar tidak terus berontak.


"Lepaskan aku! Berikan pisau itu padaku Lee Joon! Lepaskan aku Lee Joon! Aku membencimu!!" Nina terus berontak berusaha melepaskan diri dari pelukan Lee Joon yang semakin erat memeluknya.


" Maafkan aku Baby. Maafkan aku. Maafkan aku," ucap Lee Joon berkali-kali sambil sesekali diciumnya puncak kepala Nina yang masih terus berusaha melepaskan diri darinya.


******


Hai readers, happy reading,

__ADS_1


Jangan lupa untuk vote, like and comment.


Salan sayang dari author yah muacch😘😘😘😘


__ADS_2