
Joon sedikit mengumpat. Mengapa akhir-akhir ini mereka jadi sering keluar masuk rumah sakit. Seperti saat ini. Dia langsung melesat ke sebuah rumah sakit di Jakarta timur. Setelah mendapat telepon dari Doni.
"Apalagi sekarang?" tanyanya sedikit kesal. Beruntung dia baru saja menurunkan Nina di mall yang sudah masuk kawasan Jakarta Timur. Sehingga dia tidak perlu memutar atau perlu perjalanan jauh.
"Dia kan baru saja keluar rumah sakit. Masak sudah masuk lagi. Hobi bener masuk rumah sakit," ucapnya lagi.
"Bukan Doni, Pak Bos yang masuk rumah sakit. Sekarang gantian bosnya yang masuk rumah sakit," jawab Max dari seberang sana.
"La kenapa lagi? Belum cukup dia berurusan dengan rumah sakit jiwa. Masih masuk rumah sakit umum juga," kelakar Joon.
"Bos dia itu teman kita lo Bos. Walaupun belum ingat sama kita. Oh ya, ngomongin rumah sakit jiwa kemarin Tuan Burhan menemui dokter Pras," sambung Max.
"Apa yang dia inginkan?"
"Mengancam dokter Pras agar tidak lagi mengurusi Mike."
"Apa dokter Pras terluka?"
"Sedikit. Sekarang dia masih sembunyi di rumah sakit. Takut Maya jadi khawatir jika tahu ayahnya terluka."
"Apa yang harus kita lakukan Max? Agar dia berhenti melukai orang-orang. Aku benar-benar ingin memenjarakan orang itu. Tapi bukti yang kita miliki belum cukup kuat," ucap Joon masih terhubung melalui headset bluetooth-nya dengan Max.
"Entahlah semua menjadi tidak jelas. Dan semakin tidak terkendali."
"Kamu benar. Aku sampai," ucap Joon. Memarkirkan mobilnya lantas langsung menuju ruangan di mana Mike di rawat. Di lantai 4.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Joon ketika melihat Max di depan sebuah ruang perawatan kelas 1.
"Dia ditusuk orang mabuk setelah mengantarkan Maya pulang," jelas Max.
"Apakah parah?"
"Delapan jahitan di lengan kirinya. Dan empat jahitan di perut kirinya. Untung tidak terlalu dalam."
"Sudah menangkap pelakunya?"
"Sudah. Sedang di tangani Polsek Kramat Jati."
"Bagus. Kalau dia mabuk. Hukuman akan tambah berat."
Max mengangguk. "Mau masuk?" Max kembali mengangguk.
Dilihatnya Doni yang tengah membantu Mike untuk duduk. Saat keduanya masuk ke ruangan tempat Mike di rawat.Terluka pada lengannya tentu akan membuat Mike sulit bergerak.
"Oh hai Bro," sapa Doni ketika melihat Joon dan Max datang.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Joon.
"Aku baik.Jangan khawatir," kali ini Mike sendiri yang menjawab.
Ketiganya jadi sedikit heran. Nada bicara Mike berbeda dari terakhir kali mereka bertemu, kala itu nada bicara Mike terdengar dingin. Namun sekarang nada bicara Mike terdengar lebih santai dan humble.
"Maaf untuk tidak mengenali dan melupakan kalian bertahun-tahun ini," kata Mike lagi. Ketiganya hampir tersenyum bersamaan mendengar perkataan Mike.
"Ah, welcome back Bro. Should I say long time no see?" kelakar Max. Dan disambut gelak tawa yang lain.
"Boleh juga itu," jawab Mike. Lantas Max pun memeluk Mike. Langsung disambut ringisan Mike.
"Uuuups sorry," ucap Max saat sadar yang dilakukannya.
Sedang Joon masih setia dengan wajah datarnya. Dia memang dari dulu tidak pernah berubah.
__ADS_1
"Oh come on, Bro. Don't wanna hug me?" ucap Mike saat melihat Joon hanya berdiri diam menatap dirinya.
"Ogah. Aku masih normal ya," ucap Joon ketus. Sambil mengambil tempat duduk di samping bed Mike.
"Oh I see. Young master Lee. Tetap tidak berubah setelah sekian tahun, tetap sama saja," gurau Mike. Joon seketika memasang wajah masamnya.
"Oh, come on. Tuan Muda Lee," goda Mike lagi.
"Haiisshh, sejak kapan kamu berubah jadi seperti perempuan begitu. Manja," ketus Joon. Mike tertawa detik berikutnya.
"Jadi kamu ingat kami?" tanya Max antusias.
"Sedikit. Tapi setidaknya aku punya gambaran tentang kalian Tidak seperti kemarin. Aku sama sekali blank soal itu. Obat penekan memori itu benar-benar bekerja dengan baik. Untung saja dokter Pras dengan cepat menanganinya. Jika tidak aku bisa kehilangan ingatanku permanen," jelas Mike.
"Ya, walaupun harus membuat dokter Pras terluka," ucap Doni sendu.
"Dia terluka?" tanya Mike.
"Ya, 3 hari yang lalu ada orang yang memukulinya. Karena dokter Pras menolak untuk dibawa pergi oleh mereka. Dan kemarin Tuan Burhan mendorongnya ke dinding. Hingga punggungya sedikit lebam," jelas Doni membuat Mike terkejut.
"Paman Burhan? Dia mendorong dokter Pras? Tapi kenapa?" tanya Mike heran.
Ketiganya saling pandang mendengar pertanyaan Mike.
"Kemungkinan semua kejadian ini ada hubungannya dengan Pamanmu itu," kali ini Joon membuka suaranya.
"Maksudmu? Pamanku yang melakukan semua ini?" tegas Mike.
"Yeah. Lebih kurang seperti itu," sahut Max.
"Tapi mengapa?" Mike kembali bertanya.
"Itu yang sedang kami selidiki," jawab Doni.
"Ah sudahlah kita bahas itu besok. Lalu sekarang Maya bagaimana? Kita tidak bisa membiarkan dia tinggal sendiri kan?" ujar Mike akhirnya. Ketika dia merasa kepalanya mulai berdenyut sakit.
"Aku mengirimnya untuk tinggal bersama Karin sementara. Terlalu beresiko membiarkan dia tinggal sendirian di rumah," jelas Doni.
"Karin?" tanya Mike.
"Pacar Max," jawab Joon. Dan Mike hanya ber-oo ria.
"Lalu kamu? Pacar kamu mana? Takkan kamu tetap sama seperti dulu. Dingin kayak es," ucap Mike santai, Joon langung mendelik ke arah Mike.
"Jangan sembarangan ya kalau ngomong. Mentang-mentang sudah ingat dengan kita," salak Joon.
"Oh my God. Dia sama sekali tidak berubah. Fix, inilah Tuan amuda Lee yang ku kenal," kembali Mike berkata dengan santai.
"Michael Mahardika!" Joon mulai berteriak.
"Dan temperamental. Benar-benar. Ck, ck, ck....," Mike kembali berkata.
"Diamlah Mike. Atau aku batalkan kontrak kerja sama kita," ancam Joon.
"Batalkan saja. Aku tidak butuh itu. Benar-benar tidak berubah. Aku jadi heran padamu Max. Bagaimana kamu bisa betah kerja dengannya begitu lama?" tanya Mike berani. Tanpa takut ancaman Joon.
"Entahlah," jawab Max.
"Dia mulai berubah kok setelah ketemu pawangnya," ucap Doni sambil mengambil beberapa minuman kaleng. Menyerahkan kepada yang lain. Lantas ikut duduk di antara yang lain.
"Really? Siapa?" Mike kepo. Joon yang ditanya buat wajah tidak tahu.
__ADS_1
"Alah besok saja bahas para pawang kita. Ini ceritanya bagaimana?" tanya Max yang gantian kepo.
"Ya seperti yang Doni ceritakan. Aku mengantar Maya pulang. Dan ketika aku mau pulang aku ditusuk oleh orang mabuk. Entah itu sengaja atau tidak," jelas Mike.
"Kita akan tahu besok," ucap Doni
Malam itu mereka seperti kawan lama, yang reuni setelah lama tidak bertemu. Saling tertawa dan bercerita bersama. Walaupun mungkin di antara mereka Lee Joonlah yang paling banyak dijadikan obyek bullian. Ya memang Mikelah yang sejak dulu paling bisa melawan Joon.
******
Nina tengah termenung di apartemen Joon. Memandang langit malam Jakarta yang bertabur lampu kerlap-kerlip. Dari jendela kamar Joon. Biasanya dia akan suka dengan pemandangan itu. Tapi kali ini, hal itu justru semakin menambah runyam pikirannya.
Dia sudah kembali dari bertemu mbak Dina-nya ketika malam mulai merayap naik. Diantar Riko yang diminta Joon untuk menjemputnya. Karena Joon akan melihat Mike yang tengah terluka.
Nina menarik nafasnya pelan. Lantas menghembuskannya lagi. Dia baru saja selesai dari ritual berendamnya. Berharap dengan berendam bisa mengurangi kerisauan hatinya. Terngiang kembali pertemuan dengan mbak Dinanya sore tadi. Pertemuan yang membuat hatinya menjadi risau tidak menentu.
"Mbak Dina sendirian?" sapa Nina ketika mereka telah bertemu di sebuah kafe di sebuah mall. Nina pikir Mbak Dinanya itu akan datang bersama Papa Burhan-nya. Mengingat beberapa hari yang lalu, Nina meminta untuk bertemu dengan papa angkatnya itu.
"Iya, kenapa?" Dina balik bertanya.
"Aku pikir Mbak akan membawaku bertemu Papa. Aku rindu Papa, Mbak," ucap Nina. Wajah Dina seketika berubah sendu.
"Mbak, Mbak kenapa? Apa ada yang sudah terjadi dengan Papa?" tanya Nina penasaran.
"Ren, bagaimana jika Papa kita sudah berubah? Bagaimana jika Papa kita tidak seperti dulu lagi," ucap Dina dengan mata berkaca-kaca.
"Maksud Mbak apa? Nina nggak ngerti deh," Nina bingung melihat sikap mbak Dina-nya itu.
"Papa sudah berubah Ren. Dia bukan ?Papa Burhan kita lagi. Mbak bahkan nyaris tidak mengenali Papa lagi," ujar Dina. Air mata sudah mulai turun di pipinya.
"Berubah bagaimana? Nina nggak paham Mbak Dina ngomong apa," Nina berkata dengan ekspresi kebingungan di wajahnya.
Dina menghela nafasnya. Lantas menceritakan bagaimana keadaan sang ayah saat ini.
"Mbak nggak bohong kan. Tidak mungkin Papa jadi seperti itu?" ucap Nina tidak percaya.
"Kenyataannya seperti itu Ren. Maka itu Mbak ingin kamu tahu keadaan Papa sebelum kamu bertemu dengannya" ucap mbak Dina-nya di akhir pertemuannya dengan Nina.
"Apa benar Papa jadi seperti itu sekarang? Papa Burhan? Burhan? Apa dia adalah orang yang sama dengan orang yang sedang mereka selidiki saat ini. Orang yang menurut Joon dan yang lainnya adalah pelaku dari beberapa penggelapan dana, pembobolan data. Dan yang paling baru adalah dugaan keterlibatannya soal hilangnya sebagian ingatan Mike," batin Nina.
"Oh, bagaimana jika mereka adalah orang yang sama. Bagaimana jika itu benar adalah papa Burhan-nya. Aku harus bagaimana?" gumannya.
Papa Burhan mungkin adalah satu-satunya orang yang ingin dia temui. Setelah ayahnya, pak Adi meninggal hampir setahun yang lalu. Selain mbak Dina-nya tentunya.
Tapi mendengar cerita Mbaknya. Tentang bagaimana papanya sekarang yang tidak seperti dulu lagi. Membuatnya sedikit takut untuk bertemu dengan papanya itu.
Terlebih mengingat bagaimana reaksi Joon jika dia tahu. Bahwa dirinya punya hubungan dengan tuan Burhan. Orang yang boleh dibilang adalah musuhnya.
"Tapi kan aku kan belum tahu. Apa Papa Burhan dan tuan Burhan adalah orang yang sama. Atau hanya kebetulan hanya punya nama yang sama," Nina kembali berguman.
Pikirannya kembali menerawang jauh ke awang-awang. Hingga sepasang tangan kekar tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya suara itu lembut.
**
Hai readers. Up malam-malam. Biasa nunggu para bocil tidur dulu.
Seperti biasa. Happy reading,
Jangan lupa buat like, vote, comment and gift,
__ADS_1
Salam sayang dari author, bye met malam semuah....🤗🤗🤗🤗
*****