
Dengan rekomendasi dari Karin dan Nindy. Di sinilah keduanya. Di ruang tunggu pemeriksaan salah satu dokter kandungan di rumah sakit. Mereka tidak perlu membuat janji temu dulu. Bisa langsung memeriksakan kandungan Nina. Nindy dan Karin mempunyai dokter kandungan yang sama.
Dokter Rita, seorang wanita paruh baya. Jelas raut keibuan terpancar dari wajahnya. Ramah dan terlihat sangat sabar. Dia langsung mengembangkan senyumnya, ketika Nina dan Lee Joon masuk ke ruangannya.
"Kehamilan pertama?" tanyanya ramah. Melihat sedikit raut kecemasan di wajah pasangan suami istri itu.
"Iya, Dok," jawab Nina. Sedang Lee Joon jelas tidak tahu apa yang tengah dia rasakan. Cemas, penasaran, deg-degan semua bercampur menjadi satu.
"Sudah pernah USG sebelumnya?" tanyanya lagi.
"Belum,Dok. Kami baru tahu kehamilan ini tiga hari yang lalu" jawab Nina.
"Tidak merasa mual, muntah, pusing atau rasa tidak nyaman lainnya?" dokter Rita kembali bertanya.
Nina sejenak berpikir. Berusaha mengingat-ingat. Sedang Lee Joon hanya memperhatikan interaksi sang istri dan dokter Rita.
"Saya rasa iya. Perut saya sering terasa tidak nyaman. Kadang sedikit pusing dan juga mual. Itu tanda-tanda orang hamil ya, Dok?" tanya Nina.
"Salah satunya iya. Walaupun tiap wanita tidak selalu sama," jawab dokter Rita sambil mengembangkan senyumnya.
Nina dan Lee Joon saling berpandangan. Senyum lantas terkembang di bibir masing-masing.
"Kalau begitu mari kita lihat calon bayinya. Saya lihat pemeriksaan sebelumnya belum detail. Jadi ada beberapa hal yang harus dipastikan lagi. Mari," ucap dokter Rita.
Seorang perawat menuntun Nina untuk berbaring di bed. Lantas perawat itu menyingkap dres Nina. Setelah sebelumnya meminta maaf. Bagian bawah tubuh Nina ditutup menggunakan selimut. Bagian atas menyisakan perut mulus Nina yang masih rata.
"Oke, mari kita lihat calon bayinya," kata dokter Rita. Sambil menggerakkan transduser yang sudah diolesi gel terlebih dahulu diatas perut Nina.
"Ah, ini kantong rahimnya sudah terbentuk. Berarti memang benar ada kehamilan yang terjadi," jelas dokter Rita sambil menunjuk sebuah gambar serupa kantong kecil berwarna gelap di layar monitor di hadapannya.
Lee Joon dan Nina kembali tersenyum. Kehamilan itu benar terjadi.
"Dan.... ah sepertinya akan ada dua bayi di sini," ucap dokter Rita sumringah. Kali ini Nina dan Lee Joon benar-benar bahagia luar biasa.
"Anda lihat dua titik kecil ini. Kemungkinan ini adalah calon bayi kalian. Belum terlalu jelas. Tapi kemungkinan kehamilan kembar," jelas dokter Rita sembari terus menggerakkan transdusernya dan melihat ke arah layar monitor.
"Apa ada yang kembar di keluarga kalian?" tanya dokter Rita ketika kedunya sudah menyelesikan pemeriksaan USG. Mereka tengah duduk santai di sofa. Melanjutkan sesi konseling mereka.
"Suami saya kembar," ucap Nina.
"Benarkah? Kembar bagaimana?" tanya dokter Rita.
"Kami kembar identik. Mungkin hampir seratus persen mirip," jelas Lee Joon.
__ADS_1
"Wah ini hebat sekali. Biasanya keturunan kembar tidak akan langsung menurunkan gen kembarnya ke anaknya. Tapi sepertinya gen kembar Anda sangat kuat. Hingga istri Anda langsung bisa hamil kembar," ujar dokter Rita.
Setelah beberapa waktu sesi konseling mereka berakhir. Dokter Rita meresepkan beberapa vitamin. Juga obat pusing, obat untuk mencegah mual dan muntah. Walaupun sejauh ini dia belum merasakan itu semua.
Mereka sampai di kediaman Bogor hampir makan siang. Ketika mereka datang semua anggota keluarga sudah berkumpul menyambut kedatangan mereka. Bahkan Jonathan dan Risma juga ada.
"Selamat, Bro. Akhirnya usahamu berhasil. Bakal jadi ayah sebentar lagi," seloroh Jonathan, membuat yang lain terpingkal.
"Lagakmu kayak sudah pro aja. Jangan-jangan Risma sudah kamu unboxing ya?" tuduh Lee Joon setengah berbisik.
"Sembarangan kalau ngomong. Dia masih ting-ting tahu," kesal Jonathan.
"Tahu dari mana dia masih ting-ting. Kalau kamu belum testing," goda Lee Joon.
"Aiisshhh.Pokoknya dia masih ting-ting. Aku belum menyentuhnya!" Jonathan bertambah kesal.
Lee Joon tertawa senang bukan main. Bisa menggoda Jonathan. Lee Joon tahu track record Jonathan sangatlah baik. Kecuali khilaf dia tidak memaksa Risma sebelum mereka menikah.
Mereka lebih bahagia lagi ketika Lee Joon memberitahukan kalau Nina kemungkinan hamil anak kembar. Sontak Sofia, bu Ratna dan Risma langsung memeluk Nina. Tangis bahagia terdengar di ruangan tengah keluarga itu.
Namun satu orang menyeringai penuh misteri. Jae Kyunglah orang itu. Dia semakin yakin kalau anak Lee Joon dan Nina pasti perempuan.
"Kapan kita tahu jenis kelaminnya?" tanyanya membuat keheningan di ruang tengah itu.
"Tidak ada," jawab Jae Kyung.
Tapi sedetik kemudian Lee Joon sudah berlari mengejar Jae Kyung yang lebih dulu bersembunyi di balik tubuh sang mama. Semua orang melongo dibuatnya. Bisa-bisanya dua pria dewasa itu. Yang notabene salah satunya akan menjadi ayah malah bertingkah seperti anak kecil.
"Jangan harap kamu bisa mengambilnya. Mereka cowok semua. Sama seperti kita," kata Lee JΓ²on.
"Ada ceweknya aku yakin. Mereka sepasang," balas Jae Kyung yakin. Dari balik tubuh sang mama.
"Kalian ini apa-apaan sih?" bentak Nina. Kedua pria itu ciut nyalinya, menghadapi kekesalan bumil itu.
"Maaf," ucap keduanya hampir bersamaan. Jonathan dan Risma kembali melongo.
"Kakak ipar kamu hebat sekali bisa mengatasi dua singa ini," puji Jonathan, yang langsung mendapat pelototan dari
Lee Joon dan Jae Kyung.
Bukannya takut. Jonathan malah tertawa terpingkal-pingkal. Tawanya terhenti ketika semua orang heboh tatkala Nina setengah berlari menuju wastafel yang ada di dapur. Lantas memuntahkan semua yang ada di perutnya.
Para pria panik. Apalagi Lee Joon. Sedang para wanita sigap bergerak. Bu Ratna langsung memijat pelan tengkuk putri sulungnya itu. Membuatnya merasa lebih nyaman. Sedang Sofia langsung mencari minyak kayu putih. Yang langsung dioleskan si tengkuk dan pelipis Nina.
__ADS_1
Wajah Nina terlihat pucat ketika dia sudah kembali duduk. Wajah para pria terlihat masih panik.
"Nina nggak apa-apa Ma?" tanya Lee Joon cemas. Langsung memeluk tubuh istrinya. Sedang Nina seperti biasa langsung memeluk balik tubuh Lee Joon. Mencoba mencari kenyamanan di sana. Tidak peduli dengan tatapan semua orang. Apalagi Jae Kyung. Dia terlihat masih belum terima. Tapi akhirnya dia hanya bisa menarik nafsnya pelan.
"Itu biasa pada ibu hamil, nak Joon. Jadi sekarang tolong jangan terlalu kaget ya kalau Nina seperti ini lagi," nasihat Bu Ratna.
"Kemarin tidak apa-apa. Kenapa baru sekarang muntahnya?" tanya Jae Kyung heran.
"Ya kadang seperti itu, nak Jae. Awalnya nggak apa-apa. Tapi setelah tahu hamil jadi ngadi-ngadi. Mencari perhatian," seloroh bu Ratna lagi.
"Ibu, aku lagi nggak cari perhatian," protes Nina dari balik pelukan sang suami.
Detik berikutnya, Nina kembali melesat ke dapur lagi. Dan muntah lagi.
Kedua ibu-ibu itu langsung mengejarnya. Beberapa menit kemudian wajah Nina semakin pucat.
"Ma, Bu ini beneran nggak apa-apa?" tanya Lee Joon panik.
"Kamu ingin makan apa, *N*duk?" tanya bu Ratna.
"Ada air kulkas nggak Ma, yang dingin banget kalau ada," semua melongo dengan ucapan Nina.
"By, mau kamu apain itu?" Lee Joon bertanya heran. Ketika mamanya datang membawa satu botol besar air dingin langsung dari kulkas. Dan begitu sampai didepan Nina. Bumil itu menyambutnya dengan wajah berbinar. Lngsung meneguknya sekali habis.
"Kamu gila!" umpat Jae Kyung. Dia ngeri melihat kakak iparnya bisa menghabiskan satu botol besar air dingin langsung dari kulkas. Sekali tenggak. Bisa dia bayangkan giginya pasti ngilu waktu minum air dingin itu.
Sedang Nina hanya nyengir kuda dikatai gila oleh adik iparnya.
Beberapa hari berlalu dan nyidam Nina masih sama. Suka minum air kulkas.Ditambah muntah yang tak kunjung berhenti. Enggan makan. Sukanya makan sayur bening bayam. Tanpa nasi. Para pria tentu pening melihatnya.
Berkali-kali Joon bertanya. Apa tidak apa-apa Nina seperti itu. Berkali-kali juga jawaban yang ia terima juga sama. Tidak apa-apa. Itu bawaan ibu hamil. Akhirnya Lee Joon hanya bisa menghela nafasnya. Melihat sang istri tengah makan sayur bayam dengan lahapnya. Walau dia tahu apa yang sebentar lagi akan terjadi.
******
Up lagi readers,
Thank's sudah mampir,
Happy reading,
Love you all, πππ
*****
__ADS_1