Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 68


__ADS_3

Karin memandang lekat-lekat sahabatnya, Nina yang duduk di hadapannya. Gadis itu tengah menikmati moccachino-nya. Mereka sedang menghabiskan waktu di sebuah kafe. Di deretan coffeshoop yang memang banyak bertebaran di kawasan kantor mereka.


Nina tampak tenang. Namun Karin tahu. Gadis itu tengah menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya. Setelah semalam Karin melihat betapa histerisnya Nina, ketika bertemu dengan Joon.Karin menduga telah terjadi hal yang buruk di antara keduanya. Atau lebih tepatnya Joon telah melakukan hal buruk yang membuat Nina benar-benar marah pada Joon.


Karin masih mengingat dengan benar. Bagaimana Lee Joon benar-benar membujuk Nina untuk memaafkannya. Yang malah membuat Nina semakin histeris. Hingga pada akhirnya Lee Joon berkata bahwa Nina lebih baik membunuhnya daripada Nina tidak mau memaafkannya. Seorang Lee Joon, bahkan sampai memohon kepada Nina.


"Haaahhh" Karin menghela nafasnya. Nina hanya memandang sahabat karibnya itu sekilas. Lantas kembali asyik dengan moccachino-nya.


"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan denganku? Sampai kamu menyuruhku bolos kerja?" tanya Karin. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan temannya yang satu ini. Dia sendiri tidak kerja. Menyuruhnya menemaninya minum kopi. Terpaksa dia meninggalkan semua tugasnya kepada Neni, sang sekretaris yang untungnya sangat bisa diandalkan.


"Tidak ada. Temani aku minum kopi," ucap Nina sendu.


"Apa Lee Joon berselingkuh?" tanya Karin to the poin. Hanya hal itu yang ada di kepala Karin. Hal yang paling mungkin, membuat seorang wanita sangat marah pada kekasihnya adalah mengetahui jika kekasih mereka selingkuh.


Nina semakin menunduk. Lantas perlahan menggelengkan kepalanya. "Lalu apa yang sudah dia lakukan, hingga kamu begitu marah padanya," tanya Karin semakin hilang kesabarannya.


"Katakan saja. Jika dia memang bersalah aku akan menghajarnya untukmu."


Nina semakin menunduk dan perlahan air matanya mulai menetes dari pelupuk matanya.


Mungkin di zaman modern seperti sekarang. Sudah banyak yang menganggap kalau keperawanan bukanlah hal yang penting. Sehingga banyak yang tidak masalah jika kehilangannya. Dan mungkin tidak peduli siapa yang telah mengambilnya.


Tapi ada juga yang masih menganggap bahwa menjaga keperawanan adalah hal yang penting. Sama seperti menjaga nyawanya sendiri. Hingga ada yang lebih memilih mati daripada harus menyerahkannya kepada orang yang tidak berhak.


Dan itu berlaku kepada Nina. Karena itu dia benar-benar marah ketika Joon memaksa untuk menidurinya. Dia memang mencintai pria itu. Tapi dia juga masih waras untuk tidak membiarkan pria itu mengambil keperawanannya sebelum mereka menikah. Apalagi ketika Lee Joon berkata ingin melakukannya agar dirinya mau menikah dengannya.


Dia benar-benar kecewa dengan Lee Joon. Dia tidak bisa memungkiri jika Lee Joon mungkin pria paling baik yang pernah dia temui selama ini. Dia selalu bisa menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang melebihi batas. Selalu berlaku baik padanya.


Pria sempurna yang menjadi dambaan semua wanita. Kadang Nina suka minder dengan dirinya sendiri. Apakah dia pantas bersanding dengan seorang Lee Joon.


Walaupun Lee Joon selalu berkata bahwa dia mencintai Nina apa adanya. Hanya menginginkan Nina dalam hidupnya, tidak peduli dengan yang lain. Namun dia juga hanya wanita biasa yang kadang merasa minder dengan keadaan di sekelilingnya.


Semua itu berkecamuk di pikiran Nina. Membuatnya selalu bimbang tentang keputusannya menikah dengan Lee Joon adalah keputusan yang tepat atau justru sebuah kesalahan.


*****


"Jadi keputusanmu sudah bulat? Ingin menuntut keadilan atas kematian kedua orang tuamu?" tanya tuan Lee kepada Mike.


Saat ini, semua orang tengah berkumpul di ruangan tuan Lee. Mike dan Doni. Lee Joon dan Max. Serta asisten Jo.


Mereka berkumpul setelah Mike menghubungi Lee Joon bahwa ia ingin bertemu dengan papanya. Membicarakan hal yang tak lain adalah keinginan Mike agar orang yang melenyapkan orang tuanya bisa mendapat balasan yang setimpal.


"Dokter Pras dan yang lainnya sudah menyatakan bahwa aku sudah sembuh. Dan apa yang aku ceritakan waktu itu adalah ingatanku di masa lalu. Mereka sudah mengkonfirmasinya. Dan ada surat yang menyatakan bahwa kesaksianku sah dan legal di mata hukum," ucap Mike mantap.


"Kami siap mendukungmu Mike. Dia juga andil dalam beberapa kekacauan di perusahaanku," Joon ikut bicara.


Semua memperhatikan Joon. Pria itu akhir-akhir ini penampilannya agak berantakan. Walaupun kinerjanya sama sekali tidak berkurang. Tapi jelas pria itu tengah mempunyai masalahnya sendiri.


"Are you okay, Son?" tanya tuan Lee yang baru sadar dengan keadaan sang putra. Putranya yang biasanya klimis. Kini terlihat berantakan. Dengan bulu-bulu halus yang mulai tumbuh di wajahnya. Bagi sebagian wanita malah membuatnya terlihat lebih manly dan macho. Namun ditambah dengan wajah kuyunya, semakin jelas bahwa pria itu sedang bermasalah.


"Bukan saatnya mengurusi masalahku, Pa. Kita sedang membahas masalah Mike. Lalu apa yang kamu rencanakan?" jawab Joon mengalihkan perhatian orang-orang dari dirinya.


Sejenak semua orang terdiam. Mereka semua menatap ke arah Joon yang berusaha untuk tampak baik-baik saja. Hingga akhirnya Mike memutuskan menjawab pertanyaan Joon. Bukankah akan tidak pantas jika seseorang itu tidak ingin bercerita tentang masalahnya namun kita memaksanya. Tentu akan menyinggung perasaan orang itu.


"Aku sedang mengajukan surat untuk membuka kasus itu kembali. Sudah lebih dari 10 tahun bukan. Pengacaraku sedang mengajukan permohonan agar kasus itu bisa disidangkan kembali. Beserta bukti-bukti baru yang kita temukan."


"Pengacara kami sudah berkoordinasi dengan pengacaramu. Ada beberapa bukti yang bisa sedikit memberatkan hukumannya," tambah Lee Joon.


"Dan karena kamu sudah memutuskan hal itu. Tidak ada lagi yang bisa Om katakan selain mendukungmu. Dan ini mungkin sedikit membantu untuk memudahkan kita menyeret orang itu ke penjara," ucap tuan Lee sambil menyerahkan sebuah flash disk kepada Mike.

__ADS_1


"Itu adalah rekaman CCTV yang di pasang ayahmu di sudut ruang tengah. Tidak ada yang tahu. Bahkan aku sendiri tidak tahu. Hingga Hendra ayahmu menyerahkannya padaku," ucap tuan Lee sambil melirik ke arah Doni.


"Jadi ini maksud dari ayah. Masalah tuan Mike akan selesai jika sudah bertemu dengan tuan Lee. Karena bukti kuncinya ada padamu tuan Lee," ucap Doni takjub.


"Pantas saja aku tidak bisa meretasnya. Sudah diambil Papa to" kata Joon tanpa sadar.


"Pak Bos!" Max berteriak mengingatkan.


"Kamu bisa meretas data? Kamu seorang hancker?" tanya Mike tidak percaya.


"Uuuppps aku keceplosan," kata Joon sambil nyengir. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dan merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa dirinya sendiri yang membuka rahasianya sendiri. Semua orang di ruangan itu jadi tahu rahasia terbesarnya.


Sedang Max hanya bisa menepuk jidatnya pelan.


"Fix, gara-gara masalahnya dengan Nina membuat Bos Joon kehilangan konsentrasinya," batin Max sambil ikut merutuki kebodohan bosnya itu.


"Sudah berapa banyak data yang kamu retas?" tanya Doni penasaran.


"Itu... itu oh come on. Itu hanya hobi. Aku tidak meretas data siapapun."


"Dia tidak meretas data siapapun. Dia hanya menggunakan "hobi"-nya itu untuk memata-matai pacarnya," ujar Max. Joon langsung mengeplak lengan Max.


"Aduh Bos sakit. Daripada mereka tahu bahwa Bos sudah pernah meretas semua data mereka," ucap Max meringis sambil berbisik kepada Bosnya itu.


"Betul itu Joon?" tanya tuan Lee dengan sorot matanya tajam seakan siap memindai isi kepala sang putra.


"I-iya Pa," jawab Joon sedikit ragu. Dia benar-benar tidak bisa berbohong di depan papanya jika papanya sudah mengeluarkan tatapan elangnya.


"Jangan pernah bertindak melebihi batasanmu," ucap tuan Lee dingin. Lee Joon seketika menelan salivanya dengan susah payah.


"Apa mungkin Papa sudah tahu," batin Lee Joon.


"Bisakah kamu membobolkan bank yang didepan itu. Aku perlu uang untuk menikah bulan depan," ucap asisten Jo setengah berbisik.


Namun ucapan asisten Jo barusan mengingatkan Joon pada ucapan Nina beberapa bulan yang lalu. Persis seperti apa yang asisten Jo katakan.


"Oh Baby, aku benar-benar merindukanmu. Tolong maafkan kebodohanku malam itu,"


Bisik Joon dalam hatinya. Hingga tanpa sadar matanya berkaca-kaca. Dia sekarang sadar dia benar-benar tidak bisa hidup tanpa gadis itu disisinya. Hampir satu minggu gadis itu mendiamkannya. Menghindari dirinya. Membuat dunia Joon jungkir balik dibuatnya. Lamunan Joon buyar ketika papanya mulai kembali serius bicara dengan Mike.


"Jadi pengacaramu sudah mulai bergerak?" tanya tuan Lee.


"Sudah. Sejak 2 hari yang lalu mereka sudah mulai prosesnya. Tinggal menunggu keputusan apa kasus itu bisa dibuka kembali atau tidak. Tapi dengan bukti baru yang kita punya. Seharusnya bisa," ucap Mike.


"Semoga saja. Ngomong-ngomong apa kalian tidak ingin tahu siapa tersangkanya?" tanya Max.


"Sepertinya kita punya pikiran yang sama," sahut Doni. Semua yang ada di dalam ruangan itu saling pandang. Sepertinya mereka benar-benar berpikiran sama tentang siapa tersangkanya. Sedang wajah Doni langsung berubah sendu.


"Apa yang akan kamu lakukan jika dia adalah dalang dari semua kekacauan ini?" batin Doni.


Sejenak ruangan itu kembali hening. Hingga suara teriakan Karin memecah keheningan ruangan itu.


"Lee Joon! Lee Joon! Di mana kamu?" teriaknya kencang hingga menggema di lantai 35.


"Ada apa dengan pacarmu?" tanya Mike. Max hanya mengedikkan bahunya.


Braaakkkk,


Pintu ruangan tuan Lee dibuka dengan kasar. Membuat semua orang langsung menatap ke arah pintu. Di mana Karin sudah berdiri di sana dengan amarah yang siap diledakkan.

__ADS_1


"Kau di sini rupanya, Lee Joon," ucap Karin penuh amarah.


"Ada apa......?" belum sempat Lee Joon bertanya. Tubuhnya sudah dihempaskan Karin ke dinding ruang kerja tuan Lee. Karin langsung mencengkeram kerah baju Lee Joon. Semua orang di ruangan itu terkejut bukan kepalang. Terlebih Max yang langsung ingin melerai.


"Beraninya kamu melakukan hal itu kepada Nina! Apa kau sudah gila?" amuk Karin pada Lee Joon tanpa basa basi. Tidak peduli dengan semua orang yang ada di ruangan itu.


"Sayang, ini ada apa? Lepaskan dulu sayang," ucap Max lembut berusaha melerai.


Lama, Karin tidak melepaskan cengkerannya pada kerah Joon. Membuat pria itu mulai kekurangan oksigen. "Karin lepaskan dulu. Aku tidak mengerti maksudmu," ujar Joon dengan nafas yang mulai tersengal.


"Kau tidak mengerti maksudku? Dasar brengseeek!" teriak Karin.


"Sayaaang....," ucap Max mencoba membujuk.


"Kamu pikir Nina wanita apaan!" Karin terus berteriak.


"Karin aku tidak mengerti maksudmu,"


"Nina sudah menceritakan semuanya. Aku sudah tahu semuanya!" Karin kembali berucap. Ucapan Karin sukses membuat Joon terdiam. Diamnya Joon membuat Karin semakin marah.


"Kau anggap Nina wanita apa? Gampangan? Murahan? Dasar brengsek!" kembali Karin mengumpat.


"Rin aku bisa jelaskan itu. Aku sungguh tidak berniat melakukan itu padanya. Sungguh," Joon berusaha menjelaskan.


"Bohong!"


Semua yang ada di ruangan itu hanya bisa melihat drama itu. Tanpa tahu apa yang sedang dua orang itu ributkan.


"Rin lepaskan dulu. Aku bisa jelaskan,"


"Sayang lepaskan dulu," bujuk Max.


Akhirnya Karin melepaskan cengkeraman tangannya dari kerah Joon. Pria itu langsung bernafas lega. Namun detik berikutnya raungan keluar dari bibir Joon.


"Aaaaarrrgggghhhh, Karin!!!"


Bagaimana Joon tidak meraung. Karin melesatkan tendangan dengan kekuatan penuh ke arah tulang kering Joon.


"Oh astaga, Max!!!" teriak Joon. Yang lain hanya melongo melihat Joon yang benar-benar kalah dengan kebar-bar-an Karin.


"Ikutkan hati aku ingin sekali menghajar wajahmu, Lee Joon!" teriak Karin dengan berapi-api.


"Kariiiinnn....." teriakan Joon berhenti ketika ponselnya berbunyi. Diangkatnya ponsel dengan kaki satu terangkat. Detik berikutnya ekspresi Joon berubah panik.


"Ooh sh**it!" umpatnya.


Detik berikutnya sebuah pesan masuk. Joon langsung membelalakkan matanya.


"Dasar brengsek! Bajingan!" umpatnya dan dirinya langsung melesat keluar dari ruangan papanya. Membuat yang lain hanya bisa melongo.


"Max, Jo. Susul dan ikuti dia," perintah tuan Lee.


Kedua orang itupun langsung ikut melesat keluar menyusul Lee Joon.


*****


Hai readers, selamat sore.


Jangan lupa like, vote and comment,

__ADS_1


Happy reading, and salam sayang dari author 😘😘😘😘


*****


__ADS_2