Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 73


__ADS_3

"Bagaimana Om tahu jika aku pernah melakukan hal itu pada Nina?" tanya Joon pada dokter Pras, ketika Joon berada di ruangan dokter Pras. Joon memang ingin melarikan diri dari tatapan mata keluarganya yang menyalahkan dirinya atas yang terjadi pada Nina.


Dan mungkin berkonsultasi dengan psikiater adalah pilihan yang tepat. Mengingat dia pun sangat tertekan saat ini.


"Ketika Nina menatapmu, Om bisa lihat jika diapun sebenarnya takut padamu. Ada sesuatu yang pernah kamu lakukan padanya dan itu meninggalkan sebuah kenangan buruk di otaknya. Namun kemudian dia merasa bahwa dia tidak punya pilihan selain dirimu.


Karena kamu ada di saat Nina berada di level ketakutannya yang paling tinggi. Itu menunjukkan, bahwa apa yang dilakukan Heri, levelnya jauh lebih buruk dari yang sudah kamu lakukan padanya. Hanya saja ulahmu itu memulai trauma pada Nina ditambah Heri memperparah keadaan Nina" jelas Dokter Joon. Joon hanya diam mendengarnya.


"Eye contact," sangat penting dalam ilmu kejiwaan. Om tahu kamu sangat menyesalinya. Om bisa melihatnya di matamu. Hanya yang Om, heran kenapa kamu melakukannya. Kamu bukan tipe pria yang suka memaksa" tanya dokter Pras.


"Dia menolak untuk menikah denganku," ucap Joon pelan.


"Alasannya?"


"Timingnya belum tepat. Om aku pikir dengan menikahinya, aku bisa melindunginya karena aku bisa berada disisinya setiap saat. Aku begitu khawatir soal dia. Melihat Mike terluka dan Om juga, waktu itu aku benar-benar khawatir jika si brengseek itu akan mengincar Nina. Dan dugaanku benar kan Om," ucap Joon mengeluarkan uneg-unegnya selama ini.


"Baik Om paham dengan kekhawatiranmu itu. Tapi kenapa kamu jadi berpikir. Melakukan hal itu padanya agar Nina mau menikah denganmu. Apa karena kamu pikir Nina gadis baik-baik. Dia pasti mau kamu nikahi setelah kehilangan mahkotanya?" tanya dokter Pras. Joon hanya mengangguk pelan.


"Boleh Om tebak lagi, dia menolakmu bukan?" tanya dokter Pras lagi. Joon kembali mengangguk. Dokter Pras terkekeh sejenak.


"Ada yang lucu Om?" tanya Joon heran.


"Hebat sekali Nina bisa menolak rayuan dan pesona tuan muda Lee " ucap dokter Pras sambil terkekeh. Joon langsung mendengus kesal.


"Om tahu, bahkan dia berkata lebih baik mati daripada harus ber.cinta denganku sebelum kami menikah " kata Joon dengan nada kesalnya. Dokter Pras tertawa terbahak-bahak.


"Hancur sudah harga diri tuan muda Lee. Padahal jika kamu mau, Om yakin di luar sana pasti banyak sekali yang ngantri agar bisa ber.cinta denganmu. Betul tidak?" tanya dokter Pras masih tertawa.


"Om meledekku ya. Om tahu, bahkan Nina hanya melirik sekilas ketika aku sudah topless. Benar-benar membuatku kesal."


"Karena itulah kamu memaksanya. Karena kamu merasa Nina telah menghina harga dirimu. Betul?" dan Joon mengangguk.


"Apapun itu Om. Aku sangat menyesal. Sungguh,"


"Om tahu. Om bisa melihatnya. Hal itu lumrah terjadi pada kita. Ketika seseorang telah menghina harga diri kita. Kita cenderung akan kehilangan akal waras kita. Kita bisa melakukan hal-hal di luar kendali. Apalagi jika itu dibarengi dengan adanya hasrat dan gairah. Beeuuh, Om jamin kamu pasti langsung kehilangan kendali dirimu. Betul tidak?" Joon kembali mengangguk.


"Itulah yang dinamakan khilaf."


"Aku benar-benar kehilangan kontrol waktu itu. Apalagi Nina terlihat begitu seksi saat itu. Aku pasti sudah gila."


"Itu reaksi normal seorang pria pada wanita. Jangan khawatir berarti kamu masih lempeng. Nggak belok."


"Om ini malah bercanda."


"Kenapa? Om hanya ngomong apa adanya " ucap dokter Pras. Joon seketika terdiam.


"Sudah merasa lebih baik?" tanya dokter Pras. Joon tersenyum sebagai jawaban.


"Om tahu kamu juga tertekan. Tetapi Om, yakin kamu melakukan ini karena kamu benar-benar mencintai Nina."


"Terima kasih Om atas pengertiannya," Dokter Pras mengangguk.


"Kembalilah ke sana. Hadapi keluargamu. Lagipula, kamu juga salah dalam hal ini. Main mau nidurin anak orang saja. Nasib baik sekarang Nina cuma jinak padamu. Kalau tidak sudah habis kamu di bejeg-bejeg sama papamu " omel dokter Pras, Joon seketika membulatkan matanya.


"Om ini gimana sih? Tadi belain sekarang ngancurin."


"Om hanya mewakili para orang tua itu untuk ngomong. Hal inilah yang mereka rasakan saat ini. Sudah sana keluar. Nanti kekasihmu mencarimu. Bisa hancur itu kamar kalau kamu tidak segera datang," ucap dokter Pras sambil membuat tanda mengusir Joon.


"Ah Om gak asiik," omel Joon lantas keluar dari ruangan dokter Pras. Hati Joon benar-benar lega setelah berkonsultasi gratis dengan dokter Pras. Dia siap menghadapi kemarahan orang-orang itu. Karena memang dia salah dalam hal ini.


******


"Bagaimana keadaannya?" tanya Mike kepada Max.


Mereka datang berkunjung melihat keadaan Nina. Bersama Maya tentunya. Doni yang juga datang bersama Dina. Para perempuan langsung berkaca-kaca melihat keadaan Nina. Berantakan dengan wajah sembab. Luka memar terlihat di mana-mana.

__ADS_1


"Dia sudah lebih baik dari keadaan semalam. Semalam dia sulit sekali dikendalikan. Untung ada dokter Pras, hingga kita bisa tahu jika hanya tuan muda Lee yang bisa mengendalikannya."


"Heri benar-benar brengsek! Kamu sudah menahannya?"


"Polisi sudah menahannya."


Para pria duduk di sofa. Para wanita memilih duduk di tepi ranjang Nina. Dina dan Maya sudah menangis melihat keadaan Nina.


"Dia sudah lebih baik. Kata ayahmu dia bisa sembuh. Jangan khawatir," ucap Karin.


"Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Heri benar-benar kurang ajar," umpat Maya.


"Pelakunya Heri?" tanya Dina. Dan keduanya mengangguk.


"Kalau Heri pelakunya. Mungkinkah ayahnya yang sudah menyuruhnya. Ayah benar-benar keterlaluan. Bisa-bisanya dia melukai putrinya sendiri demi balas dendamnya," batin Dina.


Kunjungan keempatnya pun tidak lama. Setelah para pria berbincang dengan Lee Joon sejenak. Keempatnya memutuskan untuk pulang. Percuma juga mereka di situ. Keadaan Nina masih kacau dan belum sepenuhnya bisa dikendalikan. Keempat orang itu sudah pergi. Tinggal Max dan Karin serta Lee Joon.


Karin masih memasang wajah kesalnya.


"Jangan pikir aku sudah memaafkanmu ya?" ucap Karin.


"Iya- iya. Aku tahu. Aku yang salah. Pulang sana. Gantian biar aku yang jaga," sahut Lee Joon.


"Awas kalau kamu apa-apakan Nina lagi. Aku hajar kamu!" ancam Karin.


"Oh, astaga Rin. Masak iya aku tega sama Nina," sahut Joon.


"Nyatanya kemarin, waktu itu kamu tega. Kamu nggak mikir dua kali saat bikin ulah?" cecar Karin tidak mau kalah.


"Sudah aku bilang khilaf, Rin. Kayak Max nggak pernah khilaf aja," Joon membela diri. Sedang Karin langsung melotot.


"Kenapa juga aku di bawa-bawa?" Max protes.


"Dia kan pacarmu. Jadi mestilah, kamu dibawa juga," jawab Joon.


"Kamu pikir aku nggak puyeng apa. Menghandle departemen keuangan sendirian," tambah Karin mengeluarkan uneg-unegnya juga.


"Kamu sudah puyeng, ngapain juga tambah masalah dengan musuhin aku?" tanya Joon heran dengan Karin. Bosnya kan dia. Tapi Karin tidak ada takut-takutnya dengan dirinya.


"Aku bisa ngilangin sedikit stresku dengan marah-marah padamu," jawab Karin kalem.


"La kamu pikir aku samsak tinju bisa jadi pelampiasan kemarahanmu. Kalau mau ngilangin stres, no tanya sama Max. Dia lebih tahu caranya," kata Joon sambil melirik ke arah Max. Max mengerutkan alisnya. Berpikir apa maksud ucapan bosnya itu.


"Pak Bos, mau aku babak belur dihajar sama dia?" ucap Max setelah tahu ke mana arah pembicaraan bos kutubnya itu.


"Kamu kan lebih ahli dalam hal itu daripada aku. Masak iya kamu tidak bisa menakhlukkan perawan yang satu ini," ucap Joon sambil berbisik di telinga Max.


"Dia bahkan lebih galak dari pacar Bos,"


"Coba saja belum. Sudah menyerah. Bukankah kamu bilang. Gadis galak itu pasti hot di ranjang," ucap Joon yang langsung membuat mata Max membulat.


"Kan kamu yang bilang waktu itu," ucap Joon santai.


"Kalian ngomongin apa sih?" tanya Karin melihat Joon dan Max yang bicara sambil berbisik-bisik.


"Tidak ada," jawab Max gugup.


"Awas kalau bicara yang aneh-aneh," salak Karin.


"Sudah-sudah. Sana pulang. Aku ngantuk mau ikutan Nina tidur. Mumpung mereka lagi pada makan. Pada nyari tenaga buat marahin aku," usir Joon sambil melangkah ke ranjang Nina.


"Habislah kamu tuan muda Lee " ledek Karin.


"Seenggak-enggaknya, mereka kalau marah nggak bakalan nonjok muka aku," balas Joon.

__ADS_1


"Cih, siapa suruh buat orang kesal aja," sahut Karin sambil mencebikkan bibirnya.


"Hei Nona, yang jadi korbannya saja malah jinak padaku. Hayo mau bagaimana?" ledek Joon.


"Oke kita lihat saja. Setelah Nina sembuh. Akan aku hasut dia supaya ninggalin kamu Pak Bos,," ancam Karin.


"Eh, jangan dong Rin. Bisa mati aku kalau nggak sama Nina."


"Bodo amat. Siapa suruh meledekku."


"Max. Urus pacarmu itu. Bujuk dia."


"Jangan coba-coba ikut campur. Kalau tidak..." ancam Karin pada Max.


"Sorry Bos. Aku nggak bisa ikut campur untuk hal ini" jawab Max.


"Max, kamu mau dipecat ya?" Joon mendengus kesal mendengar jawaban Joon.


"Bos, kalau Bos mecat saya sekarang. Bisa hancur tu kantor. Asisten Jo masih di Surabaya buat melamar Nindy. Paling balik minggu depan soalnya mereka langsung hunting tempat dan yang lainnya," ujar Max beralasan.


Joon langsung terdiam. Asisten Jo memang langsung terbang ke Surabaya. Sore hari setelah Nina masuk rumah sakit. Dia tidak bisa menundanya lagi. Karena kalau tidak ini sudah yang ketiga kalinya asisten Jo membatalkan acara lamarannya.


Tuan Lee tidak mempermasalahkan jika asisten Jo pergi ke Surabaya. Karena asisten Jo menikah juga atas saran tuan Lee. Mengingat umur asisten Jo yang sudah tidak lagi muda. Terlebih, tuan Lee melihat Nindy bucin akut ke asistennya yang satu itu.


Bisa dibayangkan reaksi Ina. Mamanya Nindy, ketika tahu putrinya yang masih bau kencur plus manja itu mengatakan ingin menikah. Terkejut iya. Ina lebih terkejut lagi ketika tahu calon suami Nindy usianya terpaut 15 tahun dengan usia putrinya.


Ia sempat ragu. Bukan dengan calon suaminya. Tapi takutnya sang putrinya itu malah hanya akan menyusahkan suaminya saja. Namun setelah asisten Jo yang berbicara sendiri pada Ina. Ina mulai mempertimbangkannya.


Ina bukannya tidak tahu siapa asisten Jo. Dia tahu betul track record asisten Jo. Pria yang sangat baik. Begitulah penilaian Ina pada asisten Jo. Hanya saja dia tidak menyangka jika putrinya akan berjodoh dengan pria itu.


Kembali ke Joon lagi.


"Haiissh, kalian ini malah membuatku pusing saja. Pulang sana. Pulang. Aku mau tidur!" usir Joon. Menghindari pertengkaran yang lebih panjang dengan Karin.


"Awas kalau kamu macam-macam!" kembali Karin mengancam. Sambil keluar dari ruangan Nina.


Karin dan Max pulang. Joon langsung naik ke ranjang Nina. Lalu mulai ikut berbaring di samping Nina. Perlahan diusapnya lembut wajah Nina. Sebuah ciuman singkat mendarat di bibir Nina.


"Maafkan aku " ucap Joon lirih, mulai memejamkan matanya.


Brakk, suara pintu mobil Max ditutup kasar oleh Karin.


"Sayang. Sudah dong marah-marahnya," bujuk Max.


"Aku kesel banget sama Lee Joon," sahut Karin sambil memanyunkan bibirnya.


"Sudah, nanti kamu beneran bisa stres lo."


"Aku memang sudah stres ini. Dia benar-benar membuatku kesal setengah mati. Orang itu be...hmmmmpphh......," omelan Karin berhenti ketika Max menautkan bibirnya ke bibir Karin. Cukup lama hingga Max bisa ******* bibir yang menurut Max sangat menggoda.


"Kamu?" Karin protes.


Namun detik berikutnya Max kembali mencium Karin, membuat gadis itu hanya bisa memejamkan matanya sambil menikmati *******-******* yang Max berikan.


"Ini adalah salah satu shock terapi untuk menghilangkan stres " ucap Max setelah dia melepas tautan bibirnya. Nafas Karin masih tersengal. Berbeda dengan Max yang memang sangat ahli dalam berciuman.


"Max Aldrian! Kamu keterlaluan.....," kembali teriakan Karin hilang setelah Max kembali membungkamnya dengan bibirnya.


*****


Met siang readers. Up siang-siang nih,


Jangan lupa ya buat like, vote, comment and gitftnya. Tak tunggu lho,


Happy reading and salam sayang dari author 😘😘😘😘

__ADS_1


****


__ADS_2