Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 83


__ADS_3

Nina masih mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk, ketika Joon keluar dari walk in closet hanya mengenakan celana trainingnya. Salah satu kebiasaan yang baru Nina tahu setelah mereka menikah.


Lee Joon selalu shirtless saat tidur. Hingga kesempurnaan tubuh suaminya itu seringkali terpampang nyata di depan mata. Membuat Nina kadang suka panas dingin dibuatnya.


Mereka langsung kembali ke apartemen begitu acara pesta pernikahan mereka selesai. Mereka memutuskan untuk tinggal di apartemen. Lebih nyaman di apartemen sendiri. Walaupun mama dan papanya meminta mereka untuk tinggal di rumah mereka yang di Bogor.


Joon pikir ingin menikmati waktu berdua dulu dengan istrinya. Mungkin nanti setelah keduanya punya anak. Mereka akan tinggal dengan orang tuanya. Joon juga tidak mungkin meninggalkan kedua orang tuanya, saat usia keduanya semakin menua.


Joon langsung naik ke ranjang king size-nya. Meraih ponselnya lalu berpura-pura memainkannya. Padahal perhatian tertuju pada sang istri yang memang tidak mengubah kebiasaan. Hanya memakai tank top dan hot pants longgar saat tidur.


Bahkan akhir-akhir ini, Joon juga tahu jika Nina tidur braless. Alias tanpa bra. Kebiasaan yang benar-benar membuat Joon pusing kepala. Bisa dibayangkan betapa tersiksanya dia selama seminggu ini. Dikasih makanan lezat tapi tidak berani memakannya. Frustrasi tingkat dewa.


Nina langsung naik ke tempat tidur begitu ritual mengeringkan rambutnya selesai. Begitu naik dia langsung memeluk tubuh sang suami. Kebiasaan baru setelah mereka berdua menikah. Joon masih mengecek beberapa email yang masuk. Ketika Nina tampak memainkan jari lentiknya di dada bidang Joon.


Merasa ada pergerakan aneh. Joon menghentikan kegiatannya mengecek emailnya. Tubuhnya langsung berdesir ketika Nina memainkan jari-jarinya di dadanya.


"Baby, jangan menggodaku," ucap Joon serak. Has***nya jelas mulai naik.


"Memang menggoda suami sendiri salah? Tidak boleh ya," jawab Nina tanpa menghentikan aksinya. Posisi Nina yang menyender pada tubuh Joon membuat pria itu bisa melihat belahan dada Nina yang tampak penuh meski tanpa menggunakan bra.


Hati Joon semakin tidak karuan. Bagaimana dia bisa menahan diri kalau dengan begini saja tubuhnya sudah tidak bisa diajak kompromi. Nina bukannya berhenti malah semakin asyik memainkan jarinya di niple sang suami. Membuat langsung Joon memejamkan mata. Menahan ledakan ha**** yang naik tiba-tiba.


Joon dengan cepat menahan gerakan tangan Nina. Sejenak ia menatap mata sang istri yang juga balik menatapnya. Menatap dalam bola mata sang istri.Nafas mereka mulai memburu.


Joon pikir kali ini dia benar-benar tidak bisa menahan dirinya.


"Bolehkah?" tanya Joon dengan sorot mata yang sudah dipenuhi kabut ga****. Nina langsung teringat malam di mana Joon mencoba melecehkannya. Sorot matanya sama dengan saat ini. Hanya saja waktu itu Nina ketakutan luar biasa. Sedang sekarang tidak.


Status mereka yang sudah sah menjadi suami istri membuat Nina mulai menyadari kewajibannya sebagai seorang istri. Salah satunya melayani suami di ranjang. Sudah seminggu ini, Joon sudah berbaik hati tidak menuntut haknya terlebih dulu.


Nina tahu Lee Joon takut kalau dirinya masih trauma dengan kejadian di masa lalu. Jadi dia ingin membuktikan jika dirinya benar-benar sudah bisa menghilangkan trauma itu.


Mendengar Joon yang meminta izin untuk menyentuhnya. Nina hanya tersenyum. Suaminya begitu menghargainya. Tidak ingin memaksakan keinginannya sama sekali. Sesaat kemudian Nina mengangguk. Joon langsung mengembangkan senyumnya. Seperti baru saja memenangkan tender ratusan milyar.


Tanpa basa basi diciumnya bibir sang istri yang memang sudah menggodanya selama beberapa hari ini. Ciuman panas dan menuntut. Penuh dengan has*ra* dan ga**rah yang menggebu.

__ADS_1


Joon terus mencium bibir Nina sembari tangannya mulai bergerilya di tubuh sang istri. Gerakannya semakin lama semakin liar. Membuat Nina benar-benar kewalahan menahan sensasi aneh di tubuhnya.


"Lee Joon" ucap Nina saat suaminya itu bermain-main di dadanya. Nina merasa gelenyar-gelenyar aneh mulai merayap di seluruh tubuhnya. Terlebih saat sang suami mulai bermain di bawah sana. Memulai penyatuan mereka untuk pertama kalinya.


Tubuh Joon langsung ambruk di samping Nina. Nafas keduanya masih tersengal-sengal. Perlahan di raihnya tubuh Nina yang terlihat lemas. Dua jam Joon baru bisa mencapai puncaknya. Membuat Nina benar-benar tidak berdaya.


"Thank you Baby, sudah menjaganya untukku. Bahkan ketika aku ingin mengambilnya paksa. Kamu masih bisa mempertahankannya. I love you," ucap Joon sambil mengecup kening Nina. Padahal Nina sudah terlelap masuk ke alam mimpi. Saking lelahnya.


Pagi menjelang. Sinar matahari mulai mengusik dua insan yang masih bergelung di bawah satu selimut. Keduanya masih polos. Dengan pakaian mereka bertebaran di sembarang tempat.


"Lee Joon kamu benar-benar brengsek!" umpat Nina. Dia mencoba menggerakkan tubuhnya dan sesaat kemudian dia meringis. Perih ia rasakan di area intinya.


Joon yang mendengar umpatan sang istri hanya tersenyum. Semalam dia sendiri hanya bisa mematung. Mendengar Nina menjerit saat dia berhasil menerobos milik Nina. Sebegitu sakitkah rasanya? Bahkan Nina sempat menggigit bahu kanan Joon guna menahan rasa sakitnya.


"Maki saja aku. Aku akan menerimanya," jawab Joon pelan sambil mencium kembali kening sang istri.


"Sakitkah?" tanya Joon. Dia pikir dia sudah berusaha selembut mungkin saat mulai memasuki Nina. Namun nyatanya wanita ini masih juga berteriak, menjerit, menangis bahkan menggigit bahunya.


"Sakit?" rengek Nina.


"Maaf," ucap Joon lirih.


"Jangan memaksanya saat kamu baru saja mengambil miliknya. Akan sangat sakit pada awalnya. Tunggulah beberapa waktu dulu. Jangan langsung mengajaknya bermain dengan durasi lama," pesan Max sebelum mereka melakukan akad kemarin.


Nina sendiri merasakan sakit yang luar biasa. Saat Joon berhasil masuk menerobos miliknya. Ia pikir sakit tapi tidak mengira jika akan sesakit ini. Saking sakitnya, bahkan ia sadar sempat menggigit bahu pria itu hingga sang suamipun hanya bisa meringis menahan sakit di bahunya.


Namun sejurus kemudian ia benar-benar merasakan hal yang berbeda. Ketika suaminya itu mulai menggerakkan pinggulnya. Memacu dirinya, membawanya mengarungi cakrawala. Menuju indahnya surga dunia. Sungguh rasanya sulit digambarkan dengan kata-kata. Sungguh nikmat dan benar kata Nindy. Rasanya bikin nagih.


Bahkan Nina berkali-kali bisa mencapai puncaknya. Dan itu rasanya sungguh luar biasa. Perlahan wajah Nina merona merah. Malu. Teringat bagaimana ia mendesah nikmat tanpa henti di bawah kungkungan tubuh sang suami.


Perlahan Nina menatap wajah suaminya. Yang sejak tadi tidak melepaskan tatapannya dari dirinya. Sungguh tampan sekali. Benar-benar sempurna. Nina merasa begitu beruntung bisa dicintai dan memiliki suami seperti pria yang tengah menatapnya sambil terus tersenyum manis ke arahnya.


Perlahan Nina mengeratkan pelukannya ke tubuh Lee Joon. Menyembunyikan wajahnya di ceruk leher kokoh Lee Joon. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh maskulin sang suami.


Tanpa sadar gerakan Nina itu kembali menaikkan has*** Lee Joon. Yang memang semalam belum puas menikmati surga dunia. Apalagi dada polos Nina yang menempel di dada bidangnya. Semakin membuatnya semakin menggebu-gebu.

__ADS_1


"Baby, jangan bergerak terus," ujar Joon. Suaranya mulai terdengar parau. Karena Nina terus saja bergerak tidak karuan.


"Kenapa?" tanya Nina polos.


"Kamu membangunkannya lagi," jawab Joon.


"Ha?" Nina melongo, tidak paham ke mana arah pembicaraan sang suami. Melihat sang istri melongo. Dengan cepat Joon membalikkan posisi tubuh mereka. Hingga Nina kembali berada di bawah tubuh Joon.


"Max berkata ini seperti latihan. Semakin sering kita melakukannya. Semakin cepat kita menjadi pandai. Tapi ini semakin sering kita melakukannya. Membuat kita semakin lihai sekaligus membuat kita semakin ketagihan," ucap Joon.


"Jangan berguru pada guru gemblung seperti Max," jawab Nina.


"Kenapa? Nyatanya benar. Kamu membuatku semakin ketagihan dengan tubuhmu," ujar Lee Joon sambil mulai menciumi Nina lagi.


"Lee Joon! Lee Joon! Hubby..." namun perkataan Nina langsung hilang ketika Lee Joon menautkan bibirnya ke bibir Nina. Dan pergelutan panas itu terjadi kembali.


Nina terbangun ketika matahari sudah berlalu ke sisi barat. Dia membuka matanya dan mendapati suaminya sudah tidak ada di sampingnya.


"Lee Joon benar-benar brengsek!" umpatnya pada suaminya sendiri. Remuk rasa tubuhnya. Lelah ia rasakan di seluruh tubuhnya. Perlahan dia bangun menuju kamar mandi. Mencoba untuk membersihkan diri.


Menggulung selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos. Langsung menyalakan shower air hangat. Dan mulai mengguyur tubuhnya. Tanpa ia sadari seseorang menyelinap masuk. Karena Nina lupa mengunci kamar mandi. Melihat gulungan selimut di depan pintu kamar mandi. Joon menduga jika Nina pasti tengah mandi.


Joon langsung menyusul masuk. Pria itu menelan salivanya susah payah. Melihat tubuh polos sang istri dibawah guyuran air shower. Joon langsung melucuti pakaiannya sendiri. Menyusul Nina masuk kedalam guyuran air shower.


Nina terkejut kala tiba-tiba sepasang tangan telah memeluknya dari belakang. Diiringi sebuah bisikan sensual di telinga Nina.


"Baby, aku menginginkannya lagi," Nina seketika mendengus geram. Namun tak berapa lama. Nina pun mulai menikmati tatkala Lee Joon mulai mencumbuinya. Dan entah untuk yang ke berapa kalinya. Joon menyatukan tubuh keduanya hari itu.


*****


Up lagi readers. Agak panas he he, masak MP yang agak terlambat nggak dibikin hot sedikit, semoga lolos sensor saja 😅😅😅


Jangan lupa dukung author ya. Seperti biasa like, vote, gift and comment


So happy reading dan terima kasih atas dukungannya ya,

__ADS_1


Salam sayang dari author, muah 😘😘😘😘


***


__ADS_2