
Sebuah mobil Audi R8 berhenti tepat di lobi kantor pusat LJ GROUP pagi itu. Membuat para karyawan yang baru datang sejenak menghentikan langkah mereka. Melirik ke arah mobil mewah berwarna hitam itu.
Kredit Pinterest.com
Audi R8,
Penasaran, tentu saja. Tak lama sang pemilik mobil itu turun yang kembali membuat para karyawan itu takjub dengan pemandangan yang ada di depan.
Joon hari itu terlihat sedikit berbeda di mata para karyawannya. Ia tampil begitu mempesona dengan setelan jas berwarna abu-abu. Membuatnya semakin terlihat tampan. Walau hari biasanya dia juga terlihat tampan. Sedikit merapikan jasnya lantas melangkah masuk ke lobi. Menyerahkan urusan mobilnya kepada petugas valet.
"Pagi, Bos," sambut Max di lobi.
"Perintahkan dia untuk menunggu di ruang tunggu lobi. Jangan menyuruhnya naik dulu. Kita ada meeting pagi ini, bukan?"
"Siap, Bos."
"Auranya berbeda pagi ini," batin Max.
Sepertinya, apa yang dikatakan mamanya pagi ini benar adanya.
"Duh, tampannya putra Mama yang mau ketemu pacar. Auranya ya Pa, kinclong bener," begitu sang Mama menggodanya saat mereka sarapan.
Tak berapa lama, sebuah Avanza juga berhenti di lobi. Dua orang wanita turun dari dalam mobil itu. Wajah yang asing, membuat beberapa karyawan yang masih berlalu lalang sedikit bertanya-tanya. Siapakah kedua wanita cantik itu.
Nina memakai dress selutut berwarna baby blue dibalut blazer berwarna senada. Dengan heels 5 senti berwarna putih. Sedang Karin yang cenderung tomboi tampil menawan dengan setelan celana panjang berwarna cream.
Keduanya menarik nafas sebelum masuk ke lobi. Langsung ke meja resepsionis yang langsung terpana dengan penampilan keduanya.
"Selamat pagi, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?" sapa seorang resepsionis
"Selamat pagi, saya Karenina Putri dan ini Karina Saraswati. Kami sudah ada janji dengan wakil Presiden Direktur."
"Mbaknya, yang baru dipindahkan dari Jogja ya?"
"Ah betul,"
"Mohon maaf. Pagi ini Wakil Presdir ada meeting. Jadi anda berdua diharap menunggu sejenak. Mari ikut saya."
Nina dan Karinpun akhirnya mengikuti mbak resepsionis itu. Memasuki sebuah ruang tunggu yang nyaman di lobi itu.
"Mohon tunggu sebentar ya, Mbak."
Keduanya pun mengangguk. Hampir setengah jam keduanya menunggu. Tapi belum juga ada pemberitahuan untuk naik ke atas. Karin sudah bosan bermain ponselnya.
"Ish... untung kita tadi sempat sarapan. Kalau nggak bisa mati kelaparan aku. Meeting apa sih lama amat," gerutu Karin.
"He.. nggak boleh gitu. Kayak nggak pernah ikut meeting yang bahasannya alot kaya karet aja," gurau Nina.
"Ih... sebel. Jadi penasaran siapa sih bosnya. Pengen tak semprot juga tu orang."
"Emang berani?"
__ADS_1
"Berani, siapa takut?"
"Beneran berani? Nanti begitu ketemu orangnya mlungker kaya putri malu."
"Ih... kamu nih."
Sementara itu, "Suruh mereka naik, Max," perintah Joon.
"Siap bos!" Joon langsung duduk dan memutar kursinya membelakangi pintu masuk.
"Aku ingin melihat ekspresimu saat bertemu denganku di sini, Baby."
"Penasaran juga aku dengan penampakan pacar bos di dunia nyata. Apakah secantik di dunia maya atau malah sebaliknya," batin Max sambil menghubungi bagian resepsionis.
Tak berapa lama pintu diketuk. "Masuk," Max yang menjawab.
Pintu terbuka dan masuklah Nina dan Karin. Mata Max membulat tidak percaya.
"Oh astaga, dia bahkan dua kali lebih cantik dari fotonya."
Keduanya sudah berdiri di hadapan meja Joon. Namun Joon belum juga membalikkan kursinya. Sebenarnya Joon memandangi pantulan bayangan Nina yang nampak dari kaca jendela di depannya.
"Kamu cantik sekali, Baby," batin Joon. Seulas senyum terbit di wajahnya.
"Selamat pagi, Tuan. Saya Karenina Putri dan Karina Saraswati dari cabang Jogja yang dipindahkan kemari. Senang bisa bertemu dengan anda Tuan Wakil Presdir."
Nina memperkenalkan diri yang kembali membuat Max terpana.
Sejenak Max melirik ke arah bosnya. Yang kini duduk dengan menyilangkan kedua kakinya. Sedang jarinya tampak mengelus ujung bibirnya. Sekilas bisa Max lihat senyum di bibir bosnya itu.
Lama tidak ada yang saling berbicara. Membuat Nina dan Karin saling bertukar pandang. Nina baru akan berbicara kembali ketika sang wakil presdir mengeluarkan suaranya. Yang terdengar sangat akrab di telinganya.
"Senang bisa bertemu kembali denganmu, Baby."
Dan perlahan kursi itu berputar menunjukkan siapa yang tengah duduk di atasnya. Dan begitu melihat siapa sosok sang wakil presdir baik Nina maupun Karin hampir terpekik bersamaan. Membuat Max sejenak memejamkan matanya.
"Kamu!!!" pekik keduanya. Namun Karin langsung menutup mulutnya. Berbeda dengan Nina.
"Kamu ngapain duduk di situ?" tanya Nina tanpa takut. Membuat Max langsung menatap bosnya. Biasanya bosnya itu akan marah dibentak orang lain seperti itu. Tapi ini tidak. Bosnya hanya menatap tajam ke arah Nina, seolah tidak peduli dengan orang lain yang ada di ruangan itu. Jarinya masih terus mengusap lembut ujung bibirnya.
Sesaat hening kembali. Nina pun menatap Joon yang seolah tak berkedip memandang dirinya. Jantungnya tiba-tiba berdebar kencang. Memandang pria yang tanpa sadar ia rindukan akhir-akhir ini. Begitupun dengan Joon. Bahkan jantungnya sudah mulai berdebar sejak Nina masuk ke ruangannya.
"Max, bawa Nona Karin keluar. Aku ingin bicara dengan Nona Nina," perintah Joon
"Baik, bos."
"Mari Nona Karin ikut saya," ajak Max.
"Tapi, tapi ...." Karin ingin bicara tapi tidak bisa. Karin pikir keduanya akan bertengkar jika ditinggalkan berdua.
Karena Karin tak kunjung mengikutinya. Max langsung menarik tangan Karin. Lantas setengah menyeretnya keluar ruangan.
"Eh, eh, eh, ini, ini, lepaskan, lepaskan!" Karin berusaha melepaskan tarikan tangan Max. Namun Max tidak menggubrisnya. Menyeretnya hingga ke luar ruangan.
__ADS_1
"Lepasin, kamu tahu nggak sih kalau mereka itu selalu bertengkar jika bertemu."
"Masa sih?" tanya Max. Dan detik berikutnya keduanya langsung menempelkan telinga mereka ke daun pintu. Berusaha mendengarkan yang terjadi di dalam.
Begitu Max dan Karin keluar. Perlahan Joon bangkit dari duduknya. Masih dengan tatapannya yang seolah mengunci Nina. Seperti adegan slow motion. Perlahan Joon semakin mendekati Nina membuat jantung keduanya, semakin berdebar kencang. Ketika Joon semakin dekat, Nina dengan cepat menyembunyikan tangan kiri ke belakang tubuhnya.
Takut pria itu tahu kalau dia memakai gelang pemberiaannya selama ini. Begitu Joon tepat berada di hadapan Nina, tanpa aba-aba pria langsung meraih tengkuk Nina dan selanjutnya menautkan bibirnya ke bibir Nina.
Nina langsung membulatkan matanya seketika, sedang Joon dengan lembut mulai mencium bibir Nina. Membuat Nina mengedip-ngedipkan matanya. Tidak percaya dengan yang Joon lakukan. Meski detik berikutnya ia mulai menikmatinya. Cukup lama Joon mencium Nina. Hingga dengan perlahan Joon mulai melepaskan tautan bibir mereka. Jantung mereka saling berkejaran dengan nafas yang masih terengah-engah akibat kehabisan nafas karena ciuman mereka yang lumyan lama.
Sesaat kemudian, Joon merengkuh tubuh Nina ke dalam pelukannya.
"Aku sangat merindukanmu, Baby," bisiknya pelan di telinga Nina. Bisikan Joon membuat gadis itu hanya bisa memejamkan mata. Menikmati pelukan Joon dengan perasaan yang sama.
Tapi tak berapa lama pekikan Joon terdengar. "Aaaawww, sakit tahu."
"Rasain, sesek tahu!" Nina protes sambil memanyunkan bibirnya. Joon seketika mengusap bibir Nina yang masih terlihat basah karena ciuman mereka tadi.
Dan kembali Nina mencubit perut Joon. "Baby, sakiiit!" teriak Joon. Membuat dua orang yang sedang menguping di luar saling berpandangan.
"Apa aku bilang, mereka itu akan bertengkar jika bertemu."
"Tapi sepertinya Bos bucin akut ke nona Nina."
"Ya Lee Joon ,memang bucin akut ke Nina. Tapi Ninanya aja yang susah buat bilang iya, ketika Lee Joon nembak dia." ucap Karin panjang lebar membuat Max terkejut. Bukan karena ceritanya tapi karena Karin yang dengan beraninya memanggil nama bosnya tanpa embel-embel.
"Eh tunggu dulu, tunggu dulu. Jadi Lee Joon itu beneran wakil presdir di sini?"
Max mengangguk. "Beneran kamu nggak bohong?" tanya Karin kembali meyakinkan.
Max kembali mengangguk, Karin langsung menepuk dahinya dan langsung menepuk-nepuk bibirnya sendiri.
"Dasar mulut lancang, mulut lancang," gerutu Karin membuat Max terkekeh melihat sikap polos Karin.
"Dia lucu sekali."
Karin teringat bagaimana dia dulu mengejek Joon, bahwa Joon tidak akan bisa memecatnya.
"Kalau dia beneran mecat aku bagaimana?" batin Karin panik.
"Sayang, dia siapa? Kalian ngapain di sini?" Suara seorang perempuan mengejutkan mereka berdua.
"Oh, ini Nona Karin karyawan yang baru saja dipindahkan dari Jogja."
"Halo, Mbak, saya Karin. Senang berkenalan dengan Mbak."
"Aku Stella," ucap Stella sedikit angkuh melihat penampilan Karin dari atas ke bawah.
"Wah, wah bakal ada kasus pembulian nih," batin Karin melihat gelagat Stella yang sepertinya kurang menyenangkan.
Tapi Karin sudah terbiasa dengan hal itu. Dan dia tidak akan gentar menghadapi siapapun.
*****
__ADS_1