Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 97


__ADS_3

Nina dan para wanita tengah berkumpul. Menghabiskan makan siang bersama yang sudah lama tidak mereka lakukan.


"Jadi mbak Dina dan Maya juga hamil?" tanya Nina sendu.


"Iya mbak jalan 2 bulan, Maya malah baru tahu tadi pagi," jelas mbak Dina-nya.


"Ya, tinggal aku doang dong yang belum," ucap Nina sendu.


"Sabar dhik. Nanti kamu juga hamil. They will come on the right time. Mereka akan datang di waktu yang tepat," hibur Mbak Dina-nya. Yang diangguki juga oleh yang lain.


Makan siang mereka berlangsung meriah. Sudah lama tidak bertemu karena kesibukan masing-masing. Mereka saling bertukar pengalaman hamil masing-masing. Membuat Nina semakin insecure dengan dirinya sendiri.


Usia kandungan Karin sudah masuk 6 bulan. Begitu juga Nindy. Diperkirakan mereka akan melahirkan di bulan yang sama. Karin yang perutnya sudah mulai membuncit. Mulai mengurangi ruang geraknya. Hingga Nina yang lebih banyak bergerak ke sana ke sini. Menghandle departemen keuangan mereka.


Nina menghela nafasnya. Dirinya tengah menunggu taksi. Bermaksud ingin pulang karena mood bekerjanya sudah hancur. Dia akan mengecek pekerjaannya dari rumah saja.


"Ya, halo Jae Kyung. Ada apa?" Natasya sedikit heran adik iparnya menghubunginya.


"Datanglah ke hotel XX dan tolonglah suamimu!" ucap Jae Kyung singkat.


"Memangnya ada apa dengan Lee Joo?" tanya Nina panik.


"Datang saja secepatnya ke sini," ucap Jae Kyung lantas mematikan panggilannya.


"Ada apa ini?" batin Nina panik.


Sambil masuk ke dalam taksi.


15 menit kemudian Nina sampai di hotel XX. Langsung masuk ke lobi. Dan kebetulan Jae Kyung juga baru keluar dari lift. Langsung menarik Nina masuk kembali ke dalam lift. Menekan angka 15.


"Ada apa sebenarnya? Jangan membuatku panik," tanya Nina.


"Kau lihatlah sendiri nanti," Jae Kyung menjawab singkat.


Tiiing, mereka tiba di lantai 15. Nina mengikuti langkah Jae Kyung. Memasuki sebuah kamar hotel. Dimana dilihatnya Lee Joon terbaring tidak sadarkan diri.


"Dia kenapa? Kita harus membawanya ke rumah sakit. Bukannya membiarkannya di sini," panik Nina.


"Dia tidak butuh dokter. Dia butuh kamu," jawab Jae Kyung.


"Kenapa?" Nina tidak paham dengan ucapan Jae Kyung.

__ADS_1


"Max berbuat kesalahan kali ini. Dia membiarkan suamimu menemui klien sendirian. Dan kliennya mencoba menjebak suamimu. Dia memberikan obat perang**** kepada suamimu. Untung aku melihatnya. Jadi aku membawanya ke sini," jelas Jae Kyung.


"Obat perang****?" tanya Nina lantas menatap sang suami. Lee Joon mulai bergerak tidak karuan. Seperti orang kegerahan. Berusaha melucuti pakaiannya sendiri.


"Obatnya mulai bekerja. Aku pergi dulu kalau begitu," ucap Jae Kyung. Berbalik menuju pintu keluar.


"Terima kasih, Jay," ucap Nina sesaat sebelum Jae Kyung menghilang di balik pintu.


"Anything for you. Aku hanya tidak ingin melihatmu menangis," batin Jae Kyung.


Hatinya teriris sakit. Membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Membayangkan Nina berci*** dengan Lee Joon yang suaminya sendiri. Membuat hati Jae Kyung terasa perih.


Jae Kyung meraup wajahnya kasar.


"Dia berci*** dengan suaminya sendiri. Lalu apa masalahnya denganmu. Ya, masalahnya adalah dia tidak rela. Tidak rela? Ada hak apa dirimu atas Nina. Dia kakak iparmu. Bukan istrimu," batin Jae Kyung berperang sendiri.


Jae Kyung baru saja akan menekan tombol lift ketika pintu itu terbuka. Seorang gadis yang cukup cantik menurut Jae Kyung. Keluar dari lift dengan tubuh sempoyongan. Jae Kyung dengan sigap menangkap tubuh gadis itu. Ketika hampir ambruk ke lantai.


"Ah yang benar saja. Siang-siang sudah mabuk," gumam Jae Kyung ketika aroma alkohol tercium dari tubuh gadis itu.


"Hei! Aku tidak mabuk ya," ucap gadis itu kesal.


"Terserahlah kalau begitu," balas Jae Kyung lantas meninggalkan gadis itu, yang dengan susah payah akhirnya bisa berdiri. Berusaha berjalan sambil bertumpu pada dinding di sepanjang lorong hotel itu. Tangannya sibuk mencari-cari dalam hand bag-nya. Tanpa ia sadari yang ia cari terjatuh di lantai.


"Aduh di mana sih," teriak gadis itu kesal. Membuat Jae Kyung memutar matanya malas. Lantas menghampiri gadis itu. Memungut room key yang dijatuhkannya.


"Ini. Di mana kamarmu. Ayo aku antar," ucap Jae Kyung sambil memapah gadis itu.


"Iihh lepas jangan pegang-pegang," teriak gadis itu lagi. Jae Kyung hanya bisa menghela nafasnya.


"Sudah mabuk merepotkan," guman Jae Kyung lagi.


"Iya aku sangat merepotkan. Sampai-sampai dia melarikan diri dariku di hari pernikahanku," teriak gadis itu lagi.


"Oh, patah hati ditinggal calon suami," kali ini Jae Kyung jelas mengatakannya. Membuat gadis itu menangis. Tapi Jae Kyung tidak menghiraukannya.


"Ini kamarmu kan?" tanya Jae Kyung setelah melihat nomor kamar di room key gadis itu. Lantas dibukanya kamar itu. Dan gadis itu mengikuti Jae Kyung dari belakang sambil menangis.


"Ini betulkan kamarmu. Kalau begitu aku pergi. Selamat menikmati harimu Nona," ucap Jae Kyung.


Namun ketika dia hendak keluar kamar. Gadis itu menahan tangan Jae Kyung.

__ADS_1


"Temani aku sebentar," pintanya gadis itu lirih.


Jae Kyung mengerutkan dahinya. Gadis itu sangat cantik ternyata. Sekilas garis wajahnya mirip dengan Nina. Membuat Jae Kyung sedikit penasaran dengan gadis yang berdiri di hadapannya.


Okay, sebentar saja," ucap Jae Kyung. Dia berjalan menuju sofa. Ketika lagi-lagi gadis itu menahan tangannya.


"Apa lagi?" tanya Jae Kyung.


Namun bukan jawaban yang ia dapat. Namun gadis itu malah mengalungkan tangannya ke leher kokoh Jae Kyung. Lantas menciumnya. Jae Kyung seketika melebarkan matanya. Ciuman gadis itu begitu biasa hingga Jae Kyung menyimpulkan kalau ini adalah ciuman pertama gadis itu.


Gadis itu melepaskan ciumannya. Menatap Jae Kyung malu. Wajahnya merona menambah kecantikan gadis itu.


"Maaf," ucapnya lirih.


"Apa ini ciuman pertamamu. Sangat amatiran," ejek Jae Kyung. Gadis itu membulatkan matanya, kesal.


"Mau aku ajari ciuman yang sesungguhnya. Seperti ini," kata Jae Kyung lantas dengan cepat meraih tengkuk gadis itu. Menautkan bibirnya sempurna di bibir gadis itu. Perlahan mulai melum**nya. Gadis itu shock seketika. Dia belum pernah mengalami hal ini sebelumnya.


Jae Kyung terus menggerakkan bibirnya dengan sempurna di bibir gadis itu. Lembut dan dalam. Hingga dalam detik berikutnya gadis itu mulai membalas setiap pagu*** yang Jae Kyung berikan.


Suhu tubuh Jae Kyung mulai memanas. Bayangan Nina yang tengah bercin** dengan Lee Joon terlintas dikepalanya, membuat has***nya ikut naik seketika.


Tak butuh waktu lama bagi Jae Kyung, yang memang sudah ahli dalam hal wanita. Karena hanya dalam hitungan menit. Gadis itu sudah berada di bawah kungkungannya. Dengan tubuh hampir pol**. Menyisakan pakaian dalamnya saja.


Jae Kyung benar-benar sudah terbakar api gai***. Tak menunggu lama ia sudah melucuti pakaiannya sendiri. Dan bersiap memasuki gadis itu.


Cukup terkejut ketika tahu gadis yang baru saja dimasukinya ternyata masih perawan. Jae Kyung sedikit bimbang. Ingin melanjutkan atau tidak. Tapi dia sudah kepalang basah. Dia akan menggila jika has***nya tidak terpenuhi. Sudah di ubun-ubun. Tinggal meledakkannya saja pikirnya.


Dilihatnya gadis itu hanya pasrah. Hingga satu suara keluar dari bibir gadis yang baru saja berubah menjadi seorang wanita.


"Lakukan saja. Tidak ada lagi alasan bagiku untuk mempertahankannya," ucap gadis itu. Jae Kyung langsung meneruskan aksinya begitu mendapat lampu hijau, membawa wanita itu mengarungi cakrawala menggapai indahnya surga dunia.


Hingga tak terasa hampir 2 jam mereka bergelut panas di atas ranjang hotel itu. Jae Kyung langsung ambruk di samping gadis itu usai mencapai pelepasannya. Sedang gadis itu langsung tertidur.


Jae Kyung sejenak menatap gadis itu.


"Kamu adalah milikku," ucap pria itu pelan.


******


Slow up ya readers, bapak eike masuk rumah sakit.

__ADS_1


*******


__ADS_2