
"Eh, Hubby sudah kembali?" tanya Nina.
Tapi tidak digubris oleh Lee Joon.Pria itu langsung mendekati adik kembarnya.
"Apa tadi yang barusan kau katakan?" tanya Lee Joon to the poin.
"Aku bilang kalau anak kalian perempuan dia akan jadi milikku," jawab Jae Kyung santai.
"Enak saja. Aku yang tanam benih kamu yang panen. Tidak bisa!" jawab Lee Joon tegas.
"Istrimu boleh," ujar Jae Kyung.
"Hei aku belum memberikan jawaban. Main bilang aku setuju saja," sangkal Nina.
"See... dia belum memutuskan," balas Lee Joon mengejek.
"Ah terserah.Pokoknya kalau anak kalian perempuan. Akan jadi milikku," sahut Jae Kyung tidak peduli. Sambil berjalan keluar kamar rawat inap Nina.
"Kali ini aku benar-benar harus berusaha melepasmu," batin Jae Kyung.
"Bagaimana urusannya. Kamu tidak menghajarnya kan?" tanya Nina khawatir.
"Tenang saja aku tidak menyentuhnya kok," jawab Lee Joon.
"Hanya sedikit memberinya pelajaran," batin Lee Joon sambil tersenyum misterius.
"Oh apa kamu tahu By? Karin sudah melahirkan," ucap Lee Joon.
"Benarkah?" tanya Nina antusias.
"Iya kemarin habis keluar dari sini. Habis nengok kamu kemarin itu. Dia langsung....apa itu kalau mau melahirkan?"
"Kontraksi," ucap Nina.
"Nah itu. Terus langsung masuk rumah sakit. Lahir deh anaknya. Perempuan," kata Lee Joon.
"Anaknya perempuan? Bagus. Biar Max tahu gimana susahnya jaga anak perempuan," ujar Nina tersenyum.
Lee Joon hanya tertegun. Betul juga ya jaga anak perempuan itu lebih susah ketimbang jaga anak laki-laki. Walaupun sama susahnya tapi kadarnya berbeda.
"By, sini," ucap Nina lembut. Menepuk sisi ranjangnya. Membuat pria itu mengerutkan dahinya. Lantas melepas sepatunya. Ikut naik ke ranjang Nina. Begitu sang suami naik. Nina langsung masuk ke dalam pelukan sang suami. Meletakkan wajahnya pada dada bidang sang suami. Ahhh nyamannya.
"Ini masih siang lo. Jangan memancingku," ucap Lee Joon menggoda.
"Kamu nggak ingat kata dokter. Paling tidak sampai sebulan ke depan kita dilarang bercin** dulu," ingat Nina.
__ADS_1
Lee Joon melemas seketika.
"Yah bisa karatan dong dia," keluh Lee Joon.
"Nanti aku kasih servis yang oke. Jangan khawatir," bujuk Nina. Lee Joon langsung berbinar senang.
Mengingat kemampuan bl*w j*b sang istri tidak kalah dengan gerakan liar sang istri saat menari diatas tubuhnya. Sama-sama bisa membuatnya melambung ke awan.
"By, boleh aku cerita. Tapi Hubby berjanji tidak boleh marah," ucap Nina.
"Soal?" Lee Joon heran. Tidak biasanya sang istri bersikap seperti itu.
"Janji dulu tidak akan marah," ucap Nina lagi. Membuat Joon mengangguk.
Nina menarik nafasnya pelan.
"Sebenarnya hari itu...."
Dan mengalirlah cerita dimana Jae Kyung yang coba melecehkan dirinya. Terpaksa Nina ceritakan kembali. Dia pikir dia tidak ingin menyembunyikan apapun dari suaminya. Dia pikir bersikap terbuka adalah salah satu kunci keharmonisan rumah tangga.
Selama ini baik Nina maupun Lee Joon berusaha untuk selalu terbuka dalam hal apapun. Baik itu pahit maupun manis.
Termasuk hal yang sudah coba Jae Kyung lakukan pada dirinya. Dia tidak ingin menutupinya sama sekali. Walau itu terasa sangat pahit baginya. Dia tidak ingin membohongi suaminya dengan menyembunyikan hal itu. Walau ia tahu kemungkinan sang suami akan marah setelah mendengar hal itu.
"Kamu juga pernah khilaf sebelumnya kan? Dan kamu lebih tahu rasanya seperti apa? Aku yakin adikmu juga khilaf saat itu. Tidak bisa mengendalikan dirinya," ucap Nina lembut.
Lee Joon terdiam. Dia ingat betul rasanya khilaf itu seperti apa. Sangat susah untuk dijelaskan.
"Lagipula dia sudah menebus kesalahannya. Dia menyelamatkan calon anakmu. Dia juga sudah minta maaf. Dan berjanji tidak akan melakukannya lagi. Apakah itu tidak cukup untukmu memberikan maaf bagi adikmu. Memberikan kesempatan baginya untuk memperbaiki dirinya. Sama sepertiku yang memberikan kesempatan padamu," tambah Nina panjang lebar.
Lee Joon terdiam. Sejenak meresapi semua perkataan sang istri. Lantas menghela nafasnya. Berusaha berbesar hati memaafkan kesalahan adiknya. Yang kalau ikutkan hati. Ingin dia menghajar adiknya sampai babak belur.
"By....," panggil Joon lembut.
Nina reflek mendongak melihat wajah suaminya.
"Apa?" tanyanya pelan. Namun Lee Joon tidak menjawab langsung mencium lembut bibir sang istri. Menautkannya sempurna. ********** lembut dan penuh cinta. Sesaat keduanya hanyut dalam ciuman yang penuh kelembutan dan kehangatan.
"Bibir ini dan semua yang ada di dirimu hanya milikku. Tidak ada seorangpun selain diriku yang boleh menyentuhnya dan memilikinya. Aku tidak ingin ada bekas orang lain di tubuhmu," ucap Lee Joon sesaat setelah dia melepas tautan bibir mereka. Diusapnya lembut bibir sang istri yang basah karena ulahnya.
Ucapan Lee Joon membuat Nina tersenyum. Dia begitu bersyukur memiliki suami seorang Lee Joon. Yang begitu sabar menghadapi dirinya. Yang terkadang begitu kekanak-kanakkan.
"Tapi satu ini... boleh kan?" tanya Lee Joon sambil menunjukkan kepalan tangannya.
Nina mengangguk paham akan maksud sang suami.
__ADS_1
"Sekali saja jangan berlebihan. Heri sudah habis-habisan menghajarnya ketika dia berusaha melindungiku. Lagipula adikmu itu model akan ada gosip kalau wajahnya tertangkap kamera babak belur," cerocos Nina panjang lebar.
"Lah kenapa kamu jadi belain dia. Jangan-jangan kamu juga ada rasa sama dia," ujar Lee Joon. Jealous mode on-nya mulai terlihat.
"Astaga Hubby. Aku tidak membelanya. Hanya bicara fakta," bela Nina.
"Ahh tidak percaya!" ucap Lee Joon. Lee Joon ingin membuka mulutnya untuk berbicara lagi ketika Nina dengan cepat mencium bibir sang suami. Melingkarkan tangannya pada leher kokoh suaminya. ******* lembut bibir Lee Joon yang beraroma mint segar.
Lee Joon tentu saja menikmati ciuman lembut istrinya itu. Ciuman yang mampu meredam kemarahannya. Sebesar apapun itu. Pasti akan langsung menguap entah ke mana.
"Aku mencintaimu Lee Joon suamiku. Benar-benar mencintaimu. Tidak bisakah kamu berhenti cemburu padaku. Itu menyakitiku," rengek Nina. Lee Joon tersenyum, istrinya itu memang paling bisa meredam amarahnya.
"Maafkan aku," ucap Lee Joon. Gantian membuat Nina mengembangkan senyumnya.
"Kamu tahu normalnya aku akan langsung memakanmu. Tapi bersyukurlah calon anak kita menyelamatkanmu. Kalau tidak habis ibumu ayah makan, nak," ucap Lee Joon sambil mengelus lembut perut sang istri.
"Aku sangat bahagia Baby, terima kasih sudah bersamaku. Dan mau mencintaiku. I Love you, Karenina Putri," ucap Lee Joon sambil memandang dalam kedua bola mata sang istri.
"I Love you too, Lee Joon. My dearest husband," balas Nina. Keduanya pun berpelukan semakin erat.
*****
Sore menjelang. Dan kehebohan terjadi lagi. Tatkala Nindy juga akan dilahirkan. Berbeda dengan Karin yang bisa melahirkan normal. Yang membuat Max sampai tidak bisa bicara hingga dua jam setelah kelahiran sang putri. Melihat sendiri bagaimana perjuangan Karin melahirkan putrinya.
Nindy harus melewati metode operasi caesar karena bobot bayinya terlalu besar untuk tubuh Nindy yang mungil. Memang Nindy disarankan untuk caesar sejak awal. Membuat asisten Jo hampir menangis dibuatnya. Melihat bagaimana perut mulus sang istri harus disayat guna memberikan jalan lahir bagi buah hatinya untuk lahir dan melihat dunia.
Dua pria itu benar-benar speecless seusai kelahiran buah hati mereka masing-masing. Terlebih Max. Ingat bagaimana dulu brengseknya dia mempermainkan banyak wanita. Kini dia sadar dan akan berusaha menjadi lebih baik untuk keluarga kecilnya. Pun dengan asisten Jo.
Keduanya tengah memandangi kedua buah hati mereka yang tengah ditidurkan di ruang bayi. Menunggu keadaan ibu masing-masing stabil dan siap menyusui mereka.
"They're so amazing, aren't they," ucap Max.
"Yah kau benar. Ini sangat luar biasa," jawab asisten Jo.
Memandangi putra dan putri mereka yang tengah terlelap di box bayi. Dengan mata berkaca-kaca.
******
Up lagi readers. Terharu eike lihat Max ma asisten Jo 😥😥😥
Thank's sudah mampir ya,
Happy reading and love you all 😘😘😘
****
__ADS_1