Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 38


__ADS_3

"Iya Bu, iya. Maafkan Nina yang lupa nggak ngasih kabar ke Ibu."


"Nina baik-baik saja. Jangan khawatir."


"Iya, cuma lagi sibuk saja."


"Iya-iya. Nina sekali lagi minta maaf ya."


Begitulah penggalan telepon yang Nina terima dari sang ibu. Matahari sudah tinggi tapi Nina masih betah berlama-lama di ranjangnya.


"Capek banget rasanya, bener kata Karin. Enak banget ini kalau seharian bisa tidur saja."


Nina kembali masuk ke dalam selimutnya lagi mencoba untuk melanjutkan tidurnya. Matanya baru saja akan terpejam ketika ponselnya berbunyi.


"Satu jam lagi aku jemput." Bunyi suara itu.


"Aku mau tidur," gumam Nina singkat


"Bangun sekarang, Baby."


"Ogah!" Tak lama ponselnya berbunyi, panggilan video. Dilihatnya Joon di seberang sana. Sudah terlihat rapi dan segar.


"Astaga," Joon mengumpat pelan. Bagaimana ia tidak mengumpat, ia kembali melihat pemandangan yang memancing hasratnya seperti waktu itu. Nina memang terbiasa tidur hanya menggunakan tanktop. Dan lagi ia terbiasa melepas bra-nya ketika sedang tidur.


Dan ketika Joon sedang menelepon. Nina tengah tengkurap sehingga secara otomatis bagian dadanya akan tertekan. Terlihat menyembul apalagi dia tidak mengenakan bra-nya. Membuat belahan dada Nina semakin jelas terlihat. Benar-benar menggoda mata Jòon.


"Oh sh**." Joon kembali mengumpat kali ini dalam hatinya.


"Cepatlah bangun dan bersiap. Aku tunggu di bawah satu jam lagi. Kalau tidak akan kuseret kamu jika tidak segera bersiap," ancam Joon.


Tut, sambungan terputus. Joon langsung memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut. Sedang Nina kembali memejamkan matanya.


"Kenapa, Bos?" tanya Max. Ternyata Joon sendiri sudah berada di unitnya Max. Sedang si empunya unit juga masih memeluk gulingnya. Ia hanya pindah tidur ke ruang tengah sambil membawa gulingnya. Ketika si bos minta di bukakan pintu. Masih ngantuk, jelas. Orang Subuh baru balik dari klub.


"Apa semua perempuan kalau tidur seperti itu," tanya Joon akhirnya.


"Seperti itu bagaimana?" tanya Max balik, heran.


"Ya seperti itu," Joon pikir akan sedikit berkonsultasi dengan Max yang notabene lebih banyak bergaul dengan wanita dibanding dirinya. Max berpikir sejenak. Mencoba menebak arah pembicaraan bosnya.


"Maksud Bos naked alias telanjang. Apa pacar Bos, kalau tidur juga nggak pake baju."


"Sembarangan kalau ngomong," ucap Joon sambil menendang kaki Max yang menjuntai karena panjang badannya yang melebihi panjang sofa.


"Lalu?"


"Ya...." Joon menggantung ucapannya. Tidak sanggup menceritakan apa yang dilihatnya barusan. Dengan kadar kemesuman Max yang sudah masuk kategori akut. Joon tidak ingin Nina dijadikan obyek fantasi oleh asistennya itu.


"Kebanyakan perempuan memang suka memakai pakaian yang longgar dan melepas semua underwear mereka. Dengan alasan lebih nyaman dan memang disarankan untuk kesehatan. Dengan melepas underwear tubuh jadi bisa bernapas lega. Seperti itu perumpamaannya. Tapi tidak semua perempuan sama. Satu dengan yang lain bisa berbeda kebiasaannya," jelas Max panjang lebar. Sudah seperti ahlinya saja.


"Tapi satu yang pasti Bos. Setiap perempuan yang tidur dengan saya, saya pastikan akan berakhir naked alias tel*nj*ng," jawaban narsis Max langsung mendapat lemparan bantal sofa dari Joon.


"Dasar, pagi-pagi aja sudah kumat mesumnya," umpat Joon.


"Eh Bos jangan salah. Saat pagi hari adalah waktu yang sangat tepat untuk menikmati ****. Saat Bos bangun si dia juga akan ikut terbangun minta untuk dipuaskan.Tidak percaya, Bos bisa buktikan. Tapi tunggu Bos nikah dulu, kalau Bos takut untuk melakukannya sekarang," ucap Max dengn nada sedikit mengejek. Dan kembali Joon melempar bantal sofa ke arah Max yang kali ini ia sigap menangkapnya.


"Ih si Bos ni dikasih kuliah gratis kok malah ngamuk. Lagian pacarnya Bos tipe yang mana? Suka baju longgar apa yang tidurnya n*k**?" tanya Max kepo.


"Kamu nggak perlu tahu, bukan urusanmu!"


"Tadi nanya gak dijawab, malah marah-marah. Tapi boleh nggak aku tebak? Dilihat dari orangnya kemungkinan pacar bos tipe yang suka pake baju longgar sama nggak pake underwear."


Sontak ucapan Max membuat Joon melotot. Seolah ucapan Max adalah benar.


"Jadi tebakanku benar Bos?" tanya Max dengan wajah sumringah. Bisa Max bayangkan tubuh s***i Nina terpampang jelas di pikirannya.


"Singkirkan pikiran mesummu tentang Nina. Jangan berani membayangkan yang tidak-tidak tentangnya. Awas kamu ya," ancam Joon ketika melihat ekspresi mesum terlihat jelas di wajah Max.

__ADS_1


"Ih si Bos mah nggak bisa lihat orang senang aja."


"Cari kesenangan boleh. Tapi jangan membayangkan Nina. Cari yang lain sana!"


"Sudah pasti Bos jangan khawatir, saya tidak akan kehabisan stok," balas Max narsis.


"Satu lagi jangan sampai melakukannya di kantor dan di sini. Itu menjijikkan."


"Tapi Bos..." Max bermaksud protes.


"Jangan protes. Atau kupotong gajimu."


"Yah gaji mulu yang jadi sasaran. Bos, Bos!"


Tapi Joon sudah terlanjur keluar karena ia sempat melihat Nina sudah bersiap akan keluar dari unitnya. Joon tahu sebab ia juga menyambungkan CCTV apartemennya ke ponselnya juga.


"Jangan pakai rok!"


Nina baru mau keluar kamar ketika pesan itu masuk. "Lah emang kenapa?" ia melirik rok selutut yang ia kenakan.


"Ganti pakai celana panjang. Cepetan!"


Akhirnya mau tidak mau Nina masuk kembali ke kamarnya. Mengganti roknya dengan celana jeans.


Sepuluh menit kemudian Nina sudah berjalan keluar dari lobi. Dilihatnya Joon sudah menunggunya sambil menyandarkan tubuhnya di sebuah motor sport. Ia terlihat tampan dengan kaos putih polos dibalut kemeja merah. Celana jeans dan sneakersnya.


"Oooo, jadi ini alasannya aku disuruh pake celana. Kita mau naik motor," kata Nina ketika ia sudah sampai di depan Joon.


"Pakai ini," Joon memberikan sebuah helm kepada Nina.


Sebuah motor sport berwarna merah akan menjadi kendaraan mereka hari ini.


"Kenapa harus naik motor?" tanya Nina sambil mengenakan helmnya.


"Aku sedang memenuhi janji."


"Aku janji akan mengajakmu naik motor keliling Jakarta jika suatu hari nanti kamu berkunjung ke sana," ucap Joon kala itu.


Waktu itu Nina ngambek karena dia selalu dijadikan supir oleh Joon waktu itu. Dengan alasan Joon tidak tahu jalan di Jogja.


Nina tersenyum. "Kamu masih ingat?"


Joon tidak menjawab. Langsung menaiki motor sportnya. Sedang Nina bingung.


"Ini gimana naiknya?"


"Naik seperti biasalah. Mau bagaimana lagi."


Dan setelah cukup lama mencoba akhirnya Nina berhasil duduk di belakang Joon. Nina agak kesulitan karena motor itu cukup tinggi untuknya. Berusaha membuat dirinya nyaman dulu, itu yang Nina lakukan.


"Sudah siap?" tanya Joon


Bisa dilihat dari spion motornya, gadis itu mengangguk. Joon menghidupkan motornya. Nina menyilangkan tangannya di dadanya. Namun ketika Joon mulai memasukkan gigi motornya. Motor itu bergerak tiba-tiba membuat Nina reflek memeluk pinggang Joon. Dan merapatkan tubuhnya.


Perasaan Joon kembali tidak karuan dibuatnya. Karena dada Nina menempel tepat di punggung kokohnya. Langsung membuat otak Joon traveling ke mana-mana.


"Aah...kenapa aku jadi tertular virus mesum nya Max sih. Ah kacau-kacau," rutuk Joon dalam hati


Dengan pikiran melayang ke mana-mana, Joon membawa motornya perlahan keluar dari kawasan apartemen yang berada di daerah Thamrin menuju ke arah rumahnya di daerah Bogor.


"Kenapa?" tanya Joon ketika mereka berhenti untuk sarapan. Nina minta sarapan bubur ayam. Ternyata Joon tidak langsung membawa Nina ke rumahnya. Tapi mengajaknya berputar-putar dulu. Sesuai janjinya dulu.


"Aku jadi tidak enak dengan Karin. Aku yang membawanya ke sini. Tapi aku mengabaikannya begitu sampai sini. Kami berencana belanja bersama hari ini dan mau masak sama-sama," ucap Nina sendu.


"Jangan khawatir aku akan menyuruh Max menemaninya."


"Tapi nanti pacarnya marah."

__ADS_1


"Max tidak punya pacar?"


"Lalu yang nempel terus di kantor itu siapa?"


Joon menghela nafasnya. Haruskah ia bercerita tentang Max. Tapi lebih baik ia memberitahu Nina agar Nina lebih berhati-hati.


"Sebenarnya Max itu playboy. Suka main perempuan. Dan... Joon menggantung ucapannya.... suka menghabiskan malam dengan perempuan yang ia mau."


Sontak Nina langsung tersedak bubur yang tengah ia makan. Dengan sigap Joon langsung memberikan air mineral. Seolah tahu hal itu akan terjadi.


"Yang benar? Suka tidur sama perempuan maksudnya ML gitu?" ucap Nina setengah berbisik.


Dan Joon mengangguk. Nina lantas bergidik ngeri mendengarnya. "Berarti dengan yang di kantor itu. Dia juga..."


Joon mengangguk. Kembali Nina bergidik ngeri. Namun detik berikutnya pandangan Nina berubah. Ia sedikit memicingkan matanya saat memandang Joon.


"Lalu kamu juga ikut-ikutan?" Kali ini giliran Joon yang tersedak.


"Astaga, Baby. Aku tidak seperti itu ya." sangkal Joon sembari meminum air mineralnya.


"Jangan bohong kamu ya."


"Baby, aku bersumpah. Aku bisa buktikan kalau aku masih perjaka," kali ini Joon yang berbisik.


Tawa Nina langsung meledak. "Hei Tuan, sekarang aku tanya. Cara membuktikan seorang pria itu masih perjaka atau tidak itu bagaimana caranya," Nina mengucapkan kata perjaka dengan berbisik. Dan Joon pun hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Benar juga kata Nina. Akhirnya ia hanya bisa nyengir sambil memamerkan deretan gigi putihnya.


"Iya juga ya. Tapi Baby aku bersumpah jika aku belum pernah tidur dengan perempuan manapun."


"Bohong!"


"Aku tidak bohong. Bahkan kamulah gadis pertama yang aku cium di luar set."


"Apa?"


"Yang di dalam set itu cuma pura-pura. Tanpa perasaan. Tapi denganmu beda."


"Beda di mananya?"


"Ya pokoknya bedalah."


"Awas ya kalau kamu sampai macam-macam." Joon tersenyum mendengar ucapan Nina.


"Kamu cemburu ya?"


"Siapa juga yang cemburu?" sangkal Nina. Tapi Joon bisa melihat wajah Nina yang merona merah karena malu ketahuan cemburu.


"Oke-oke kamu nggak cemburu. Tapi aku yang cemburu. Makanya jangan dekat-dekat dengan Max. Pria seperti Max punya seribu cara untuk mendapatkan wanita yang diinginkannya."


"Aku tidak tertarik dengan Max, jangan khawatir."


Mereka terdiam melanjutkan sarapan mereka yang tertunda gara-gara membahas Max.


"Tapi Karin bagaimana? Dia itu masih terlalu polos."


"Apa bedanya sama kamu. Kamu juga masih unyu-unyu banget waktu kita ciuman waktu itu."


Nina langsung menendang kaki Joon di bawah meja. Joon memekik tertahan.


"Kita tidak sedang membicarakan kita. Kita sedang membahas Karin. Bagaimana kalau Karin tertarik dengan Max?"


"Soal itu aku tidak bisa menjamin."


"Aduh bagaimana aku menghadapi orang tua Karin kalau Karin sampai suka sama Max. Bisa rusak Karin di tangan Max," risau Nina.


"Sudah jangan dipikirkan dulu. Satu hal yang bisa aku pastikan. Max tidak akan memaksa wanita itu untuk tidur dengannya. Kecuali wanita itu mau melakukannya dengan sukarela. Dan Max juga bisa membedakan mana wanita malam dan mana wanita baik-baik. Dia tidak akan merusak wanita baik-baik."


Nina sedikit tenang mendengar ucapan Joon. "Semoga yang kamu katakan benar."

__ADS_1


****


__ADS_2