Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 24


__ADS_3

Hampir dini hari ketika Joon dan Max turun dari apartemen mereka. Dengan celana jeans dan kaos polos hitam dibalut jaket. Keduanya tampak santai, berbeda dengan keseharian mereka yang biasa tampil formal. Dengan sepatu sneakers menambah kesan manly mereka. Mereka berdua memakai masker dan juga topi.


"Sudah siap?"


Max hanya mengangkat tangannya membentuk simbol ok. Sesuai dengan rencana yang berhasil mereka sadap dari ponsel Joni, mereka ingin menyaksikan bagaimana proses penangkapan Joni.


Mereka jelas tidak mempunyai wewenang untuk menangkap Joni. Lagi pula Joon tidak ingin Joni dan orang di belakang Joni tahu bahwa dirinyalah, dalang dibalik penangkapan mereka. Mereka sudah berkoordinasi dengan pihak kepolisian.


Pihak kepolisian sudah standby di lokasi sejak semalam. Mengamati situasi dan keadaan di lokasi guna menyusun strategi untuk melumpuhkan lawan tanpa melukai. Setidaknya meminimalkan korban jiwa.


Perlu hampir satu jam untuk berkendara menuju titik penangkapan. Di sebuah dermaga tua karena lama tak pernah digunakan, di sudut utara ibukota, tampak beberapa anggota polisi sudah bersiap. Mengintai target yang sampai sekarang belum ada tanda-tanda pergerakannya.


"Anda yakin di sini titik pertemuannya?" tanya pimpinan polisi.


Joon hanya menunjukkan rekaman dari ponsel Max yang berisi percakapan Joni dan seseorang. Yang tengah berdiskusi tentang rencana pengiriman sesuatu yang diyakini Joon sebagai narkoba.


"Baik mari kita tunggu sebentar lagi."


Dan tak berapa lama, suara deru mesin mobil terdengar di kejauhan. "Mereka datang," seru polisi itu.


Lantas pimpinan polisi itu berbicara melalui walkie talkienya. Tampak memberikan beberapa instruksi kepada anak buahnya.


"Target mulai mendekat," pimpinan polisi itu berkata lagi.


"Mereka mulai memasuki dermaga."


Joon dan Max hanya mendengarkan pimpinan polisi itu berbicara kepada anak buahnya. Mereka di larang mendekat ke titik penangkapan. Sedang jarak mereka terbilang cukup jauh dari dermaga itu.


Beberapa saat hanya deru angin malam yang terdengar. Hingga tiba-tiba pimpinan polisi itu melesat pergi ke arah dermaga di ikuti beberapa anak buah mereka.


"Kalian tunggulah di sini. Ini akan sangat berbahaya." Pesan pimpinan polisi itu.


Max berguman, "padahal pengen ikut. Pasti seru tu bisa ikut nggebukin Joni."


Joon hanya menghela nafasnya pelan mendengar gumaman sang asisten. "Belum waktunya kita menunjukkan diri di hadapan Joni."


"Iya Bos, aku tahu."


Tak berapa lama, bunyi tembakan terdengar bersahutan. Membuat Joon dan Max mengambil sikap waspada. Mata mereka memandang tajam ke arah dermaga dimana suara tembakan, teriakan dan derap langkah kaki berlarian terdengar semakin keras.


Keduanya semakin waspada ketika suara derap langkah kaki semakin mendekat ke arah mereka. Dan tak lama beberapa orang berpakaian serba hitam muncul di hadapan mereka.


"Itu Joni!" batin Joon dan Max bersamaan ketika keduanya saling pandang ,menyadari siapa orang yang berdiri di hadapan mereka.


Untung keduanya memakai masker dan topi sehingga wajah keduanya tidak terlihat dengan jelas. Jika tidak, bisa dipastikan Joni akan terkejut setengah mati melihat pasangan bos dan asistennya berada di depan matanya.


Beberapa saat mereka hanya saling bertatapan. Hingga teriakan seseorang di belakang orang berpakaian hitam itu terdengar

__ADS_1


"Hentikan mereka, mereka membawa uang dan barangnya!"


Tak pelak baku hantam pun terjadi. Saling memukul dan menendang. Berusaha saling melumpuhkan. Namun Joon dan Max selalu bisa menghindar dari serangan Joni dan anak buahnya. Joon dan Max memang punya keahlian bela diri. Sehingga mereka bisa mengimbangi perlawanan musuh mereka yang terdiri dari lima orang.


Beberapa kali menghindari serangan dan balik menyerang lawan. Hingga akhirnya Joon bisa berhadapan langsung dengan Joni. Aksi saling serang pun terjadi di antara keduanya. Dan buughh.....Akhhh....


Teriakan Joni terdengar saat Joon berhasil melumpuhkan Joni dengan memiting kedua tangannya ke belakang tubuhnya. Namun suasana kembali memanas ketika salah satu anak buah melepaskan sebuah tembakan ke arah Joon.


Beruntungnya Joon waspada dengan hal itu. Hingga dia berhasil menghindar dengan cara meniarapkan badannya. Sekaligus menindih tubuh Joni membuat Joni berteriak.


Satu tembakan kembali terdengar dan "aaakhhh".....


teriakan anak buah Joni terdengar karena seorang polisi telah menembak kakinya. Ia hanya bisa meringis menahan sakit di kakinya.


Dalam beberapa menit beberapa anggota kepolisian telah berhasil membekuk Joni dan kawanannya. Memerlukan waktu yang agak lama untuk membereskan para penyelundup itu. Meringkus sekaligus membawa mereka ke kantor polisi untuk dimintai keterangan dan penyelidikan yang lebih lanjut.


Joon dan Max menghela nafas bersamaan. Akhirnya mereka bisa meringkus Joni dan menyingkirkannya dari perusahaan.


"Terima kasih Tuan, atas laporan, kerjasama dan bantuannya. Kami sudah lama mengincar mereka dan berkat bantuan Anda kami menangkap ikan besar dengan bukti yang cukup membuat kami terkejut." Ujar pimpinan polisi itu.


"Sama-sama pak Komandan." Jawab Joon sambil tersenyum.


Keduanya lantas berjabat tangan. Dan pimpinan polisi itu berlalu meninggalkan Joon dan Max. Dengan senyum yang terkembang di bibir masing-masing.


"Bos."


"Apa ada tugas lagi yang seperti kemarin? Buktinya penangkapan Joni bisa sukses karena diriku."


"Kamu mau tugasnya apa mau perempuannya?"


"Ya dua-duanyalah bos. Eh tambah satu lagi. Bonusnya," jawab Max sambil menggesekkan dua jemarinya, kode uang.


"Dasar asisten nggak ada akhlak!" Joon mengumpat. Namun di sambut gelak tawa oleh Max. Mengendarai mobil mereka untuk kembali ke apartemen. Ketika sampai di apartemen, mereka disambut hari yang sudah menjelang pagi. Untung hari Minggu, jadi keduanya bisa balik tidur.


*****


Braaaakkkkkk,


Terdengar suara meja yang digebrak begitu keras. Membuat kaget sang asisten yang tengah memberi laporan kepada tuan Burhan.


"Bagaimana ini bisa terjadi?!" teriaknya marah.Tuan Burhan benar-benar marah mendengar kegagalan pengiriman barang yang sudah dipesannya.


"Saya benar-benar tidak tahu, Tuan. Tahu-tahu polisi itu sudah mengepung kami. Kami benar-benar tersudut saat itu," jelas anak buah Joni yang ternyata ada yang berhasil lolos.


"Lalu bagaimana dengan uang dan barangnya?"


"Mereka mengambilnya, Tuan."

__ADS_1


"Sial!" umpat tuan Burhan.


"Dan satu lagi Tuan, Tuan Joni tertangkap."


"Apa?! Bagaimana bisa?"


"Iya Tuan, Tuan Joni ikut tertangkap semalam. Sebenarnya Tuan Joni berhasil berhasil kabur, tapi ada dua orang selain polisi yang berhasil menangkap Tuan Joni."


Tuan Burhan mengerutkan dahinya. "Ada dua orang selain polisi di sana?"


"Iya tuan."


"Apa kau melihat wajah mereka?"


"Tidak Tuan, mereka memakai masker dan topi."


Hening sesaat,


Tuan Burhan menghela nafas.Baru kali ini, pengiriman barang miliknya gagal. Bahkan polisi sampai menangkap anak buahnya. Dia meraup wajahnya kasar, frustrasi jelas ia rasakan.


"Pastikan Joni tidak buka mulut soal kita. Kalau perlu lenyapkan dia!" perintah Tuan Burhan. Dia tidak mau kedoknya terbongkar.


"Tapi Tuan, itu akan membuat kita kehilangan sumber dana kita" asistennya berusaha mengingatkan.


"Mereka juga akan tetap memecatnya. Dengan berita seperti ini, aku yakin mereka akan memecat Joni. Kita akan mencari cara lain untuk tetap bisa mencuri dari Lee Jae Ha."


"Baik Tuan, dan ada satu berita buruk lagi tuan."


"Apa itu?"


"Sepertinya keluarga tuan Lee Jae Ha sudah bersatu kembali." Tuan Burhan langsung menatap asistennya.


"Maksudmu?"


"Mereka sudah berdamai. Berdasarkan laporan anak buah kita, Ina telah pindah ke Surabaya."


"Sial!"


Sepertinya rencana untuk bisa menghancurkan keluarga itu kembali gagal. Dia pikir selama ini dia sudah berhasil menghancurkan keluarga itu dengan memisahkan mereka. Ternyata dia salah.


"Cari tahu dua orang yang telah membantu para polisi itu!" perintah tuan Burhan.


"Baik tuan."


Burhan pikir dia harus tahu siapa dua orang itu. Pria itu benar-benar marah. Menghancurkan apapun yang ada di ruangannya. Maklum dia sudah menyusun rencana ini sejak lama. Disusun dengan begitu matang dan rapi. Berharap semua berjalan lancar. Tapi kenyataannya, semua hancur berantakan.


Sang asisten yang mendengarkan kemarahan tuannya dari luar ruangan, hanya memejamkan mata sambil perlahan menghela nafasnya pelan. Tuannya benar-benar marah besar. Dia yang sudah hafal dengan watak tuannya, lebih memilih diam. Membiarkan Burhan melampiaskan kemarahannya.

__ADS_1


***


__ADS_2