Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 51


__ADS_3

Nina terbangun ketika langit di luar jendea apartemennya telah menggelap. Dia pikir berapa lama dia tertidur. Apa karena pengaruh dari obat yang dia minum. Nina merasa dia telah tidur sangat lama.


Dia melihat ke kira dan kanan, tidak melihat Karin sahabatnya. Ke mana pikirnya. Apa mungkin dia sedang memasak. Karena tiba-tiba harum makanan menyeruak di hidungnya. Menerbitkan rasa lapar di perutnya.


Bergegas ke kamar mandi. Membasuh wajahnya. Berpikir nanti sajalah acara mandinya. Dia sudah sangat lapar.


Keluar kamar memakai kaos dan hot pants seperti biasanya. Sebab Nina pikir yang ada di dapur adalah Karin. Namun begitu sampai di dapur, ia disuguhi pemandangan yang membuatnya ternganga.


Lee Joon dengan apron yang melekat ditubuhnya tengah memasak di dapur. Kedua lengan kekarnya tampak lihai memainkan berbagai alat masak. Satu hal yang pasti. Lee Joon terlihat seksi saat memasak.


Dengan perlahan Nina menghampiri Joon. Lantas memeluknya dari belakang. Joon terkesiap. Namun detik berikutnya senyum tipis mengembang di wajahnya.


"Sudah bangun? Apa kamu lapar?"


Nina mengangguk. "Tunggulah sebentar lagi. Ini akan segera siap."


Nina sama sekali tidak melepaskan pelukannya. Tubuh Joon berhenti bergerak ke sana ke sini. Hanya dua tangannya saja yang sibuk membolak-balikkan daging di teflon grill. Sedang satunya lagi sibuk mengaduk saus di sebuah saus pan. Sepertinya dia sedang memasak steak.


Nina tersenyum. Lee Joon yang biasanya berkutat dengan berkas dan klien. Kini berjibaku memasak di dapur.


"Sudah siap. Tinggal platting saja," ucap Joon sambil mematikan kompor.


Namun Nina tidak juga mengurai pelukannya. Sedikit heran. Karena gadis itu menjadi agak berbeda, setelah tersadar dari pingsannya kemarin malam. Namun dokter mengatakan kalau kondisi Nina baik-baik saja.


"Ada apa? Ada yang ingin kamu katakan? Atau ada yang ingin kamu inginkan?" tanya Joon setelah Nina melepaskan pelukannya dan Joon sudah membalikkan badannya.Nina menggeleng. Di tatapnya lama mata gadis itu.


Lalu perlahan dibawanya gadis itu ke meja makan. Mendudukkannya di atas meja makan.


"Ehhhh"


Nina heran namun detik berikutnya ia terkejut. Karena dengan tiba-tiba Joon sudah menautkan bibir mereka. Menciumnya dengan lembut. Sambil sesekali ******* bibir Nina. Awalnya terkejut namun tidak berapa lama Nina mulai terbawa suasana. Ikut menikmati ciuman yang Joon berikan.


Bahkan tangan Nina tanpa ia sadari sudah berada di leher Joon. Beberapa kali Nina juga membalas ciuman Joon. Hingga ketika jemari Joon meraih tengkuk Nina. Bermaksud untuk memperdalam ciuman mereka. Nina meringis karena tanpa sengaja jemari Joon menyentuh bekas jahitan di kepala Nina.


"Ssssiihh," Nina mendesis menahan sakit.


Joon seketika melepaskan tautan bibir mereka.


"Sakitkah?"


"Sedikit."


"Oke kita makan dulu kalau begitu?"


Tak berapa lama dua piring steak dengan saus barbeque lengkap dengan sayuran pelengkapnya terhidang di depan Nina.


"Untukku?" tanya Nina dengan mata berbinar. Terlebih Joon telah melepas apronnya, Hingga menampakkan bentuk tubuh sempurnanya yang tercetak jelas di balik kaos polos hitam yang tengah di pakainya.


Menggoda iman itulah kata-kata yang sering Karin ucapkan saat melihat pria dengan tubuh sempurna. Nina tersenyum.


"Karin mana?"


"Ada sedikit masalah di lantaimu. Jadi dia pergi untuk memeriksanya. Ini"


"Untukku?" Nina bertanya kembali. Menatap piring steak dengan daging yang sudah dipotong-potong. Siap untuk di santap.


"Oh so sweet."


Benar kata Karin kamu mau cari di mana pria seperti Lee joon. Nina mulai menyantap steaknya dengan senyum yang tidak pernah lekang dari bibirnya.


"Bagaimana rasanya? Enak tidak?"


"Enak. Aku menyukainya. Tapi apa ini akan cukup untukku?"


"Kita lihat saja nanti."


"Aku tidak tahu kamu bisa masak."


"Aku lama hidup sendiri. Jadi aku sering masak jika luang dengan Max." Nina hanya ber-oh ria.


Selesai membereskan acara makan mereka. Tak berapa lama Max dan Karinpun datang. Max melongo melihat Nina yang hanya memakai hot pants. Hingga paha putih mulusnya terekspos sempurna.


"Max, kondisikan matamu!" ucap Joon dengan tatapan membunuhnya.


"Sorry Bos. Maaf sayang aku khilaf," ucap Max membujuk Karin yang mode kesalnya sudah on.

__ADS_1


"Sorry aku tidak tahu jika kalian akan segera pulang," kali ini Nina yang berkata.


Tak berapa lama kedua pria itu pun pulang ke unit sebelah. Sedang Karin dan Nina langsung masuk ke kamar.


"Ada masalah?"


"Ah tidak terlalu serius. Hanya masalah laporan dari Neni yang agak mencurigakan. Tapi aku bisa mengatasinya. Jangan khawatir."


"Baguslah kalau begitu."


"Aku mau mandi dulu. Gerah banget". Karin langsung melesat masuk ke kamar mandi. Memulai ritual mandinya.


Sedang Nina langsung membuka laci terbawah di nakas samping tempat tidurnya. Ketika dia membuka lacinya terlihat sebuah kotak ponsel dan masih baru. Iphone 13.


Teringat ucapan Joon ketika dia menyerahkan sebuah sim card yang ternyata adalah miliknya.


"Ada ponsel baru di laci paling bawah dekat tempat tidur. Gunakanlah. Itu hadiah dari fansku dulu."


Nina sedikit malu dengan ulahnya yang terkesan ke kanak-kanakkan. Main banting ponsel kala ia marah. Walaupun ia pecinta Samsung, Iphone? okelah. Siapa juga yang nolak dapat Iphone, gratis lagi.


(Author juga mau dong dapat Iphone gratis🤣🤣🤣)


" Wah ada yang dapat hape baru nih," seloroh Karin yang baru saja selesai mandi.


"Kamu ngeledek aku ya," kesal Nina sambil memanyunkan bibirnya. Karin tergelak melihat wajah temannya itu.


Sementara itu di unit sebelah,


"Itu adalah Heri," ucap Max seraya menyerahkan laptop dengan rekaman CCTV yang tengah terpasang.


Keduanya duduk di sofa ruang tengah seperti biasanya. Max baru saja selesai mandi dan sudah mengganti bajunya dengan kaos polos dan celana pendek berwarna hitam senada dengan kaosnya.


"Sudah aku duga. Aku sedikit mengenali wajahnya walau ia memakai masker," Joon memang sekilas melihat wajah si pengendara mobil itu.


"Apa Papa sudah tahu?"


"Justru aku mendapatkan itu dari Tuan Besar. Asisten Jo langsung bergerak begitu Bos memberitahu Tuan Besar soal malam itu."


"Tempatkan pengawal bayangan untuk Nina dan Karin, apalagi saat mereka ada di luar. Bahkan jika mereka tengah bersama kita. Aku tidak mau Heri berbuat yang aneh-aneh lagi."


"Baik Bos. Dan satu lagi asisten pribadi tuan Mike meminta untuk bertemu dengan Bos secara pribadi. Dia menghubungi saya untuk mengaturkan pertemuan bisnis dengan Bos. Ingin membicarakan soal tuan Mike."


"Apa ada masalah?"


"Aku tidak berani berspekulasi. Tapi mungkin ini hal yang penting."


"Siapkan saja kalau begitu. Beritahu aku jika semuanya sudah siap."


"Siap, Bos."


Keduanya lantas terdiam.


"Bos, memang Bos tidak tergoda melihat pemandangan indah di depan mata Bos," tanya Max tiba-tiba. Ia heran melihat Bosnya itu tidak tergoda dengan penampilan Nina.


Dan sebuah bantal sofa melayang ke wajah Max.


"Ihhh Bos mah kebiasaan. Melempar bantal sofa mulu perasaan."


"Pertanyaanmu itu lo. Aku ini normal Max. Tentu saja aku tergoda. Tapi aku menahan diri."


"Wah anggaran beli sabun naik nih."


"Kayak kamu enggak aja."


"Hebat banget sih Bos ini. Kalau aku, sudah aku seret ke kasur"


Ucap Max tanpa filter.


"Kamu mau dihajar lagi sama calon pacarmu?"


"Ah enggak Bos. Kapok."


"Kapok apa ketagihan?"


"Kapok sama tendangannya. Ketagihan sama bibirnya," ucap Max sambil nyengir.

__ADS_1


"Dasar otak mesum!"


**


Joon memasuki restoran XX di daerah Jakarta Selatan. Seminggu setelah laporan Max, tentang keinginan asisten Doni. Akhirnya Joon bisa mendapatkan waktu luangnya.


"Selamat siang, tuan Lee Joon. Senang Anda bisa meluangkan waktu untuk bertemu saya," ucap asisten Doni.


"Tidak masalah, tuan Doni."


"Ah, jangan memanggil saya dengan sebutan tuan. Anda setara dengan pimpinan saya. Panggil nama saya saja jika Anda tidak keberatan."


"Baiklah Doni, jika itu maumu. Jadi ada yang bisa saya bantu tentang atasan Anda?"


"Saya berharap Anda dan keluarga Anda bisa membantu tuan Mike untuk keluar dari permasalahannya sekarang. Sesuai dengan petunjuk dari Ayah saya."


"Ayah Anda?"


"Ayah saya bernama Hendra Prasetya. Dulu dia adalah orang kepercayaan tuan Henri Mahardika. Ayah tuan Mike Mahardika. Namun setelah peristiwa itu, Ayah saya memutuskan meninggalkan dunia bisnis. Dan memulai kehidupan sederhana di Bandung."


"Lalu apa yang bisa saya bantu mengenai Mike?"


"Apa Anda tidak merasa aneh dengan keadaan tuan Mike?"


"Tentu saja. Kami berteman dari kecil. Tapi setelah peristiwa itu dia menghilang. Dan ketika kami bertemu dia seperti tidak mengenaliku," ucap Joon.


"Dia di bawa pergi ke luar negeri oleh pamannya, tuan Burhan. Dan setelah itu sikapnya mulai berubah. Ayah menugaskanku untuk menemani sekaligus mengawasi tuan Mike. Bagaimanapun juga Ayah sudah menganggap tuan Mike seperti anak sendiri. Jadi Ayah tidak ingin terjadi apa-apa dengan tuan Mike."


"Lalu kenapa bukan Ayah Anda sendiri yang mengawasi Mike. Bukankah tuan Hendra adalah orang kepercayaan tuan Henri. Pasti dia diberi wewenang khusus soal Mike."


"Itulah yang menjadi masalahnya tuan Lee. Setelah kematian tuan Henri, entah bagaimana semua aset dan kekayaan keluarga Mahardika jatuh ke dalam genggaman tuan Burhan. Paman tuan Mike. Karena waktu itu tuan Mike masih di bawah umur. Dan mulai saat itu, tuan Burhan memegang kendali penuh atas aset keluarga Mahardika. Dia memecat Ayah saya sebagai pegawai di perusahaan MH GROUP. Saya pikir ayah Anda pasti tahu soal ini," ucap Doni.


"Tapi yang lebih penting saat ini adalah menolong tuan Mike. Ada yang aneh dengan kesehatan mentalnya."


" Dia gila?" Gumam Max dan langsung mendapat tatapan horor dari Joon.


Doni menghela nafas.


"Menurut dokter yang menanganinya. Seperti ada yang telah mengubah beberapa ingatan tuan Mike."


"Brain wash?" Max menyeletuk.


"Lebih kurang seperti itu. Yang saya dengar tuan Mike pernah berkata ingin membalas dendam kepada keluarga Anda. Karena ayah Anda telah membunuh tuan Henri."


"Whatt!!! Max terpekik.


"Tapi itu tidak mungkin," ucap Joon ragu.


"Untuk hal itu Anda bisa menanyakannya pada ayah Anda. Karena saya dan Ayah saya sendiri, tidak tahu kejadian yang sebenarnya. Orang terakhir yang ada di tempat kejadian adalah ayah Anda dan tuan Mike."


Joon memijat pelan pelipisnya. Satu kenyataan membuatnya pusing kepala.


"Apalagi ini?" gumamnya. Dia harus segera bertemu dengan Papanya untuk membicarakan hal ini.


"Lalu apa yang bisa saya lakukan?"


Donipun lantas menjelaskan seluruh rencananya dengan dokter Pras untuk bisa memulihkan ingatan Mike.


"Bukankah itu terlalu beresiko. Keselamatan kalian menjadi taruhannya."


"Itu bukan masalah."


"Baik aku membantu. Kabari saja aku jika semuanya sudah siap."


"Terima kasih tuan Lee. Ayah saya pasti senang mendengar kabar ini."


"Mike adalah temanku. Sudah seharusnya aku menolongnya."


"Baiklah tuan Lee. Kalau begitu kita akhiri dulu pertemuan kita kali ini. Lain kali kita bisa bertemu lagi."


"Tentu saja."


"Mari, tuan Max dan terima kasih atas bantuan Anda."


"Jangan sungkan. Mike juga temanku."

__ADS_1


Setelah Doni pergi. Joon dan Max saling diam. Merenungi tiap ucapan Doni tentang keadaan Mike. Sungguh kasihan, pikir keduanya.


******


__ADS_2