Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 48


__ADS_3

"Hari ini kita ada jadwal meeting dengan LJ GROUP, Tuan."


"Baik."


"Mereka meminta kita membawa analisis keuangan kita. Sepertinya mereka ingin bernegosiasi mengenai proposal kita."


"Siapkan saja semuanya, Doni"


"Baik,Tuan."


"Tentu saja mereka akan bernegosiasi soal proposal itu. Hanya pengusaha bodoh saja yang akan langsung menyetujui proposal itu" guman Mike setelah Doni keluar dari ruangannya.


Tok, tok, tok,


"Ya, masuk."


"Tuan, ini beberapa berkas yang harus Anda tanda tangani sebelum Anda keluar bertemu klien."


"Letakkan saja di situ."


"Eh baik, Tuan. Dan ini," Maya menyerahkan sebuah amplop coklat.


"Apa ini?" tanya Mike heran.


"Uang ganti waktu saya merampok Tuan hari itu. Uang yang untuk belanja."


"Oh, kamu tidak perlu menggantinya. Aku sangat senang waktu itu. Kamu tidak usah menggantinya. Anggap saja kamu lembur menemaniku dan itu bayarannya," Mike mengembalikan amplop itu.


"Tapi Tuan," Maya bermaksud protes.


"Sudah jangan membantahku. Atau lain kali kita jalan-jalan lagi dan kamu gantian yang bayar. Bagaimana?"


"Ha?"


"Seperti sebuah ajakan kencan saja," batin Maya.


"Bagaimana?" tanya Mike ketika melihat Maya hanya terdiam.


"Oh, baik Tuan kalau begitu. Tapi jalan-jalannya habis gajian ya," tawar Maya sambil nyengir.


"La?"


"Emmm, itu gaji saya sudah habis buat nonton konser kemarin," jawab Maya malu-malu sambil menggaruk kepalanya.


Alhasil Mike hanya bisa menepuk dahinya pelan. Mengingat gadis di hadapannya ini baru berumur 23 tahun jadi wajar jika masih suka dengan hal-hal seperti itu.


"Tidak masalah," toh minggu depan sudah waktunya gajian.


"Terima kasih Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu. Oh ya Tuan ada pesan dari Ayah. Kalau masih sering sakit kepala disuruh Ayah untuk periksa lagi."


"Baik. Terima kasihku, tolong sampaikan kepada Ayahmu."


"Iya,Tuan. Saya permisi."


Mike ingat terakhir kali ia menghabiskan waktu dengan gadis itu rasanya sangat menyenangkan. Karena memang Mike belum pernah dekat dengan gadis manapun. Mengingat kondisinya yang susah ditebak. Mungkin banyak yang akan sulit menerima kondisinya.


Mike pernah dekat dengan Vivi, model yang mengejar-ngejar Joon waktu itu. Karena itu pun sebenarnya Mike yang menyuruhnya. Namun hubungan mereka hanya berlalu begitu saja. Tanpa ada kejelasan status.


Namun berbeda dengan Maya. Dia terlihat tidak mengalami masalah dengan kondisi Mike. Karena terkadang Mayalah pertolongan pertama saat kondisinya memburuk saat dirinya berada di kantor. Karena Dokter Pras memang sedikit banyak mengajari Maya untuk manangani keadaan darurat yang terhitung ringan untuk orang yang mengalami gangguan kesehatan mental.


Satu hal yang pasti. Mike merasa nyaman saat bersama Maya.


*****


Keempat orang itu turun dari mobil Mercedez E Class milik Max. Kehadiran mereka yang datang bersamaan dengan satu mobil tentu saja menarik perhatian para karyawan.


Walaupun sudah banyak rumor yang beredar jika Joon dan Nina memiliki hubungan spesial. Namun sampai saat tidak ada pernyataan resmi akan hal itu. Semuanya masih sebatas rumor yang tidak pasti.


Mereka berpisah di lantai 34. Namun Max ikut keluar di lantai 34.


"Ngapain kamu turun di sini. Mau ketemu Stella?"


"Pagi-pagi jangan cemburu gitu dong."


Nina yang mendengar kedua calon pasangan itu mulai berdebat hanya memutar matanya malas.


Ia lantas masuk ke ruangannya. Mulai memeriksa berkas dan laporan yang masuk. Karena ia akan ikut bertemu klien siang ini. Meninggalkan Karin dan Max yang masih berdebat di luar pintu ruangannya.


"Nina, kemarin yang bawa aku ke atas siapa?" tanya Karin yang ternyata menyusul masuk ke ruangannya.


"Ya calon pacar kamulah. Siapa lagi? Masak suruh Joon. Sudah pasti nggak mau."


"Iya juga ya" Semalam ia ketiduran di mobil. Dan tahu-tahu sudah ada di kamar Nina waktu ia tertidur

__ADS_1


"Dia nggak ngapa-ngapain kamu kok. Makanya aku suruh bawa ke apartemen atas. Kecuali kamu mau di apa-apain sama Max."


"Isssh... amit-amit deh."


"Kamu harus berhati-hati saat berduaan dengan Max. Dia sudah terbiasa melakukan hal seperti itu. Jadi kamu yang harus pegang kendali. Ingat, hal itu tidak akan terjadi jika salah satu pihak mampu mengendalikan diri. Berpegang teguh pada akal warasmu. Kita masih punya orang tua dan keluarga yang harus kita jaga kehormatannya. Berbanggalah saat kita bisa memberikan yang paling berharga dari diri kita hanya pada yang berhak. Yaitu suami kita. Jadi jaga diri baik-baik. Max itu pandai merayu."


Ceramah Nina yang panjang dan lebar plus tinggi itu seakan sebuah nasihat dan peringatan untuk dirinya. Mengingat dengan siapa saat ini dirinya sedang menjalin hubungan. Seorang Max Aldrian seorang playboy, suka nonkrong di klub. Hobinya ONS. Busyet deh jelek amat track recordmu Max. Semoga saja otw tobat.


"Kamu mau keluar?" tanya Karin yang melihat Nina menyiapkan beberapa berkas dan mulai menyusunnya ke dalam tas kerjanya.


"He e. Aku mau menemui orang dari MH GROUP. Ingat kan?"


"Oh iya. Apa Max juga ikut?"


"Iya kenapa? Jangan cemburu denganku."


"Tentu saja tidak. Akan lebih baik jika dia dekat denganmu daripada diuber Stella mulu. Ih kesel kalau ingat."


"Nanti aku telikung bagaimana?"


"Memang kurangnya Lee Joon apa sampai kamu niat nelikung Max yang bekas banyak wanita."


Nina hanya nyengir kuda mendengar ucapan temannya itu. "Iya juga ya"


"Kalau bisa dapat yang tong tong ngapain juga nyari yang bekas. Nasibku saja yang harus jatuh cinta sama mantan playboy itu. Uuh hati, kenapa sih kamu nggak bisa milih buat jatuh cinta sama yang agak beresan dikit," keluh Karin. Dan keluhan Karin itu sontak meledakkan tawa Nina.


"Eh dia malah tertawa."


Bukannya berhenti, tawa Nina malah semakin keras. Karin semakin geram dibuatnya. Hingga ponsel Nina berbunyi, ia menjawabnya masih dengan tawa di sela-selanya.


"Ah iya. I'm coming now," Nina melesat keluar ruangannya. Meninggalkan Karin dengan wajah kesalnya.


"Jaga kantor. Aku keluar dulu."


"Kenapa kamu tertawa seperti itu" tanya Joon ketika melihat Nina masih tertawa saat bertemu di lobi.


"Ada yang mengeluh kenapa hatinya malah memilih untuk jatuh cinta pada mantan playboy." Max pun langsung tahu siapa itu.


"Aku kan lagi otw tobat Nin. Beri dong aku kesempatan."


"Jangan katakan itu padaku. Tapi noh pada orang yang lagi kesel di lantai 34."


Nina kembali tertawa cekikikan. Sedang Max hanya menghela nafasnya. Berat nian perjuangannya kali ini.


Pukul sepuluh mereka tiba di restoran XX. Langsung diarahkan menuju ke ruang VVIP. Di sana telah menunggu Mike Mahardika, Doni dan seorang analisis keuangan.


"Selamat siang, Tuan Lee Joon."


"Selamat siang juga, Tuan Mike."


"Bagaimana... kita langsung saja pada inti permasalahannya. Ada beberapa hal yang ingin kami negosiasikan dengan Anda dan staf keuangan Anda mengenai proposal kerjasama yang perusahaan Anda ajukan beberapa waktu lalu," ucap Lee Joon ketika keempatnya sudah duduk saling berhadapan.


"Tentu saja. Untuk selanjutnya Anda bisa membicarakannya dengan Roni, staf keuangan kami."


"Dan ini Nona Nina, staf keuangan kami."


Roni dan Nina lantas berjabat tangan. Mike dan Roni sejenak terkesima dengan wajah cantik Nina. Membuat Joon sedikit kesal. Karena itulah, Joon tidak terlalu suka jika membawa Nina keluar untuk bertemu klien. Mereka lebih suka memandangi Nina daripada membahas tentang kerjasama mereka.


Namun kali ini ia terpaksa melakukannya. Ia ingin bertemu lebih lama dengan Mike. Dan dia tidak ingin ada orang lain yang tahu akan hal itu.


Rupanya negosiasi itu berjalan alot. Hingga jam makan siang usai. Kedua pemimpin itu baru saling berjabat tangan menandakan mereka sepakat dengan negosiasi yang baru saja dilakukan.


"Senang bernegosiasi dengan Anda, Nona," ucap Mike dengan tatapan yang sulit diartikan menurut Nina. Joon seketika mendengus kesal.


"Eh, sama-sama, Tuan Mike," Nina jadi salah tingkah dibuatnya. Terlebih melihat tatapan Joon yang terlihat tidak suka dengan situasi itu.


"Aku memotongnya tujuh puluh lima persen. Jadi anggap saja kamu bersedekah 25% kepada temanmu itu," ucap Nina setelah orang-orang dari MH GROUP keluar dari tempat meeting itu. Namun Joon masih kesal dengan kejadian barusan. Hingga Joon lebih memilih diam.


"Oh, ayolah jangan marah. Nanti aku carikan ganti yang 75% itu," sontak ucapan Nina langsung melenyapkan rasa kesal Joon seketika.


"Tidak perlu. Biar aku yang cari investornya kamu urusi saja keuanganku," ucap Jòon lembut.


Max yang tengah menikmati makan siangnya merasa jengah dengan kelakuan Bos Kutubnya itu. Sedetik yang lalu masih kesal, tapi menit berikutnya sudah berubah. Hanya gara-gara mendengar bujukan Nina yang terkesan recehan.


"Lagian 25% itu tidak ada seperempat dari isi black cardmu. Betul tidak?" Joon hanya mengedikkan bahunya. Acuh.


"Aku ke toilet dulu. Kita ketemu di depan aja," Nina meraih tasnya lantas melesat ke toilet.


Nina baru saja keluar dari toilet ketika tiba-tiba ia kembali menabrak orang di depan toilet.


Bruuk,


"Aduh kebiasaan banget nabrak orang depan toilet," umpat Nina pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Nina ini kamu?" sapa suara yang sepertinya ia kenal.


"Astaga, Adam ngapain kamu di sini?"


"Makan sianglah, ngapain lagi. Aku seneng banget bisa ketemu kamu di sini. Aku pikir kamu sudah tidak mau bertemu aku lagi."


"Aku bertemu klien di sini. Lagi pula aku memang tidak ingin bertemu denganmu lagi," ucap Nina judes modenya sudah on.


Nina lantas berlalu meninggalkan Adam bermaksud menuju pintu keluar. Namun tiba-tiba Adam mencekal tangan Nina lantas memeluk tubuh Nina.


Nina tentu saja terkejut. Dan bersamaan dengan kejadian itu suara baritone Joon terdengar menggelegar di tempat itu.


"Baby, apa yang kalian lakukan?" suara Joon yang terdengar dingin dan mengerikan.


Secepat kilat Nina melepaskan diri dari pelukan Adam.


"Lee Joon ini tidak seperti yang kamu lihat."


"Kalian diam-diam janjian ketemu di sini?"


"Iya."


"Tidak!"


Sahut Adam dan Nina berbarengan. Emosi Joon naik seketika.


"Kamu ingin balikan dengan mantanmu ini!" ucap Joon hampir berteriak.


"Tentu saja tidak!" Nina pun ikut berteriak. Dia paling tidak suka dituduh melakukan hal yang jelas tidak ia lakukan.


"Jangan membentaknya!" Adam menyela.


"Jangan ikut campur!" Joon memperingatkan dengan tatapan mata membunuhnya.


"Aku bisa menjelaskan kejadian tadi. Itu tidak seperti yang kamu lihat," ucap Nina emosinya ikut naik.


"Aku melihatnya dengan mataku sendiri, Baby."


"Jadi kamu tidak percaya padaku?" tanya Nina. Airmata hampir tumpah di pipinya. Joon hanya terdiam. Entah apa yang tengah dipikirkannya.


"Oke, jika kamu tidak percaya padaku! Aku tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi padamu!" emosi Nina sudah berada di puncaknya.


Detik berikutnya Nina melesat keluar dari restoran itu. Membuat Joon langsung mengejarnya. Sedang Adam yang ingin mengejar ditahan oleh Max.


"Jangan coba untuk ikut campur, Tuan. Atau Anda akan tahu apa yang Bos saya bisa lakukan pada karirnya Anda." diancam menggunakan karir yang susah payah ia bangun dua tahun ini tentu membuat Adam tidak punya pilihan. Selain menuruti perintah Max.


"Tunggu dulu, Baby!" ucap Joon sambil mencekal tangan Nina.


"Lepas!" Nina menghempaskan tangan Joon membuat cekalan tangannya terlepas. Joon terkesiap melihat air mata sudah turun di pipi Nina.


"Kamu tahu hal paling menyakitkan? Tidak dipercayai oleh orang yang kita sayang," ucap Nina lantas menjauh dari Joon. Meninggalkan Joon yang terpaku mendengar perkataan Nina.


"Sayang? Gadis tadi mengatakan orang yang kita sayang. Oh God, gadis tadi baru saja menyatakan perasaannya."


Joon kembali mengejar Nina yang sudah berjalan ke arah jalan raya. Ketika sebuah mobil tiba-tiba berhenti di depan Nina.


"Butuh tumpangan?" tanya si penumpang mobil itu.


Merasa tidak punya pilihan, Nina langsung masuk ke dalam mobil yang ternyata adalah mobil Mike.


Melihat hal itu tentu saja membuat emosi Joon naik seketika.


"Nina kembali!" dua kata yang Joon ucapkan sebelum mobil itu menghilang dari pandangan Joon.


"Oh ****!" Joon mengumpat kesal. Dia meraup kasar wajahnya. Emosinya benar-benar ingin meledak.


"Wah bakal ada perang dunia ketiga ini." guman Max yang melihat kejadian itu dari jauh.


Sedang tanpa sadar. Sepasang mata penuh dendam melihat semua kejadian itu dengan seringai mengerikan di wajahnya.


*****


Halo para readers. Sebelumnya author minta maaf untuk karya pertama author yang masih berantakan. Terutama untuk PUEBI-nya. Di episode sebelumnya banyak tulisan author yang belum sesuai dengan PUEBI. Author sudah mencoba untuk memperbaikinya tapi sampai sekarang belum bisa, entah karena kesalahan teknis dari pihak NT atau karena author hanya menggunakan J5 Prime untuk menghasilkan karya ini. Mungkin fiturnya tidak mendukung untuk bisa mengedit tulisan yang sudah aku serahkan ke NT.


Kesalahan PUEBI author akui karena di awal membuat karya ini author bener-bener cuma nulis apa yang ada di kepala author. Tanpa belajar dulu tentang PUEBI. Jadi ini benar-benar kesalahan author karena kurangnya pengetahuan yang author miliki.


Tapi untuk episode-episode yang akan datang. Author usahakan untuk memperbaiki PUEBI-nya. Jadi buat para readers yang melek soal PUEBI, author mohon maaf atas ketidaknyamanan mata Anda ketika membaca karya author yang satu ini. 🙏🙏🙏


Semoga ke depannya karya author bisa lebih baik. Mohon dukungan dari para readers semua.


Selamat membaca and happy reading😚😚


******

__ADS_1


__ADS_2