Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 16


__ADS_3

Hari terus berganti. Tidak terasa sudah hampir satu bulan Nina bekerja di LJ GROUP di cabang yang ada di Yogyakarta.


Dan ia cukup senang dengan suasana tempatnya bekerja. Semua rekan kerjanya sangat ramah dan hangat.


Bekerja di bagian keuangan, membuatnya kadang pusing tujuh keliling. Walaupun pada akhirnya, ia bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Hingga tak jarang ia mendapat pujian dari sesama rekan kerja atau bahkan sang manager sendiri yang memujinya.


Nina terbilang cukup sukses dengan pekerjaannya. Dia cepat belajar dan mudah beradaptasi dengan lingkungan tempatnya bekerja. Terlebih pembawaannya yang supel, membuatnya mudah berbaur dengan karyawan lain.


Berbeda dengan pekerjaannya yang terhitung lancar, hubungannya dengan Joon justru sebaliknya. Sejak wisuda hari itu tidak ada tanda-tanda perhatian dari si makhluk menyebalkan itu. Sebutan Nina untuk Joon.


Di kantor mungkin dia sedikit melupakan rasa kesalnya pada Joon. Tapi di rumah, dia akan langsung teringat dengan makhluk menyebalkan itu. Apalagi setiap ia menatap gelang cantik di pergelangan tangan kirinya. Entah perasaan apa yang ia rasakan saat ini. Terkadang terselip rasa ingin melihatnya.


"Rindukah aku dengan makhluk menyebalkan itu."


Entahlah, dia sendiri tidak tahu dengan perasaannya sendiri. Dia sebenarnya bisa menelepon Joon tapi rasa gengsi mengalahkannya.


Sedangkan di ibukota. Joon sedang bersiap untuk konferensi pers. Yang akan mengumumkan tentang pengunduran dirinya dari dunia tarik suara. Dan memulai untuk masuk kantor sang Papa. Semua kontrak sudah dia selesaikan. Joon benar-benar bekerja keras untuk itu.


" Sudah siap?" tanya Max. Joon sedang merapikan jasnya. Memakai setelan resmi berwarna navi, Joon terlihat sempurna. Joon hanya menganggukkan kepalanya. Lantas mengikuti langkah Max. Saat akan masuk ke venue presscon, dia bertemu dengan sang Papa dan asisten Jo.


" Sudah siap?" tanya Lee Jae Ha.


"Sudah," jawab Joon dingin.


Keduanya masuk ke venue, langsung disambut kilatan kamera para wartawan yang sudah menunggu.


Asisten Jo langsung membuka presscon dan mengatakan maksud dari presscon itu. Selain mengumumkan pengunduran diri Joon dari dunia tarik suara. Juga sekaligus mengumumkan jati diri Joon yang sebenarnya.


Berita yang langsung membuat heboh para wartawan dan para fans Joon tentunya. Terlebih setelah asisten Jo mengumunkan bahwa Lee Joon adalah putra tunggal dari pengusaha terkenal Lee Jae Ha. Sontak kembali membuat para wartawan heboh.


Lee Jae Ha dan Lee joon hanya terdiam selama presscon. Mereka hanya menjawab beberapa pertanyaan dan selebihnya Max dan asisten Jo yang menjawab mewakili keduanya.


Setengah jam kemudian keempatnya keluar dari venue presscon.


"Kapan kamu berencana masuk kantor, Nak?"


"Mungkin minggu depan."


"Baiklah, kalau begitu Papa akan mengumpulkan para pemegang saham dan para direktur minggu depan untuk memperkenalkanmu secara resmi."


"Terserah,"


Dan Joon berlalu meninggalkan sang Papa. Keluar dari hotel tempat presscon diselenggarakan. Max pun mengikuti Joon setelah berpamitan pada tuan Lee dan asisten Jo. Meninggalkan tuan Lee yang hanya bisa menarik nafasnya pelan. Melihat tingkah sang putra.


Dan tepat seminggu kemudian. Joon benar-benar menepati janjinya. Dia sudah memasuki lobi kantor ketika asisten Jo menyambutnya.


"Mari Tuan Muda, Tuan Besar sudah menunggu." Joon mendahului langkah asisten Jo, lantas memasuki lift.


Dan tentu saja yang paling berbahagia di kantor itu selain sang Papa adalah para karyawannya. Begitu berita Lee Joon adalah pewaris LJ GROUP, para karyawan banyak yang berbisik-bisik. Merasa beruntung bisa melihat wajah tampan Lee Joon setiap hari.


"Ah, setidaknya bisa melihat wajah tampan Lee Joon setiap hari bisa menjadi obat penghilang stress karena pekerjaan." Seloroh beberapa karyawan yang diamini karyawan yang lain.

__ADS_1


"Tapi sekarang kita harus memanggilnya apa? Secara dia sekarang adalah atasan kita. Bisa dipecat kita bila salah memanggilnya," ucap seorang karyawan yang kembali diiyakan oleh yang lain.


"Apa kita memanggilnya Tuan Muda saja seperti asisten Jo memanggilnya?"


"Ah boleh juga itu. Lagipula kita juga belum tahu jabatan apa yang akan dipegangnya."


Dan akhirnya kumpulan karyawan yang sibuk bergosip itu membubarkan diri setelah waktu bekerja sudah dimulai.


Sementara di ruang meeting, sudah berkumpul para pemegang saham dan para direktur. Mereka sedikit banyak sudah tahu maksud dari meeting itu di selenggarakan. Dan tak lama terdengar pintu ruang meeting yang dibuka. Mengalihkan perhatian seisi ruang meeting untuk fokus ke arah empat orang yang mulai memasuki ruang meeting.


Tuan Lee dan Lee Joon duduk di kursi yang berdampingan. Dengan asisten masing-masing di sisi mereka. Suasana hening sesaat.


"Selamat pagi semua," sapa Tuan Lee yang langsung dibalas oleh semua orang yang ada di ruang itu.


"Langsung saja. Saya tidak ingin berbasa-basi. Mungkin kalian semua sudah tahu tujuan dari meeting kita pagi ini," tuan Lee menjeda ucapannya. Melihat ke seluruh wajah yang hadir di ruang meeting itu.


"Saya ingin mengenalkan putra saya. Lee Joon, putra tunggal saya dan pewaris dari LJ GROUP."


Tepuk tangan terdengar dari seluruh peserta meeting. Sedang yang dibicarakan masih duduk dengan santai, namun tatapan setajam elang yang sejak tadi ia tampilkan, membuat suasana sedikit mencekam. Joon perlahan berdiri lalu membungkukkan badannya 90 derajat. Hanya sesaat dia membungkukkan badannya, lantas menegakkan badannya dan ia duduk kembali.


" Saya tahu ia masih muda, bahkan mungkin belum berpengalaman dalam dunia bisnis. Mengingat seperti yang kalian tahu, siapa dia sebelum dunia mengenal Lee Joon sebagai putraku. Karena itu ia akan menjabat sebagai wakilku, agar dia bisa belajar dan beradaptasi dengan dunia yang baru. Beri dia kesempatan untuk belajar dan membuktikan bahwa ia pantas dan mampu memimpin LJ GROUP," tuan Lee mengakhiri pidatonya.


Sedang Joon, matanya memandang seluruh peserta meeting. Seolah tatapannya seperti sebuah sensor yang sedang memindai seluruh peserta meeting.


Meeting tak berlangsung lama. Setelah meeting selesai, Joon langsung masuk ke ruangan yang sudah asisten Jo sediakan.


Ruangan yang sama luasnya dengan ruangan sang Papa. Hanya saja ruangan itu bernuansa abu-abu dan gold. Warna favorit Joon.


Kemudian berguman, "baiklah ayo kita mulai" ketika dilihatnya Max dan asisten Jo masuk sambil membawa tumpukan berkas yang harus ia periksa dan pelajari.


******


Sementara itu di sebuah ruang VVIP, sebuah restoran mewah di jantung ibukota. Tampak beberapa orang tengah menikmati makan siang mereka. Terlihat pula bahwa mereka sesekali bicara dengan nada yang serius.


"Bagaimana menurutmu? Anak itu?"


"Kalian tenang saja, dia pasti hanya bisa menghabiskan harta ayahnya saja. Kalian lihat saja seorang penyanyi disuruh mengelola perusahaan sebesar itu. Tau apa dia soal urusan kantor,"


"Kau betul juga, selama ini Lee Jae Ha yang terkenal sangat telitipun tidak tahu tentang kita. Berapa banyak yang sudah kita ambil dari kantongnya."


"Ha, ha, ha, benar-benar. Itu benar sekali."


"Jadi biarkan saja dia bersenang-senang di perusahaan ayahnya. Dan kita bersenang-senang dengan uang dari perusahaan ayahnya."


Dan tawa mereka kembali pecah. Saking senangnya. Merasa Joon bukanlah sebuah ancaman, tanpa mereka ketahui Joon sudah mulai mengetahui keanehan di laporan keuangan perusahaannya sejak lama dan berniat menyelidikinya.


******


Hari pertama Joon masuk kantor terasa panjang dan melelahkan. Langit mulai menggelap di luar kaca ruangan tempat Joon bekerja. Joon berdiri dari duduknya, lantas berjalan ke sisi jendela. Menikmati senja yang mulai menghilang berganti malam.


Dengan jas yang sudah ia lepas,begitu juga dengan dasi yang sudah ia longgarkan. Lengan kemeja yang sudah ia gulung sampai siku. Membuat penampilannya sekilas berantakan namun malah terlihat macho dan seksi. Kacamata kerja masih bertengger manis di hidung mancungnya.

__ADS_1


"Oh, aku benar-benar membutuhkanmu di sini. Aku tahu ada yang tidak beres dengan laporan keuangan di sini. Tapi aku tidak tahu di mana," gumam Joon pelan.


Dan lagi Joon harus memikirkan cara untuk membawa Nina ke sini. Mengganti direktur keuangan dan membuat Nina menduduki jabatan itu. Joon tahu direktur keuangan banyak terlibat dalam penggelapan dana di perusahaannya. Tapi sampai saat ini dia belum juga menemukan bukti. Dan lagi ia sedikit heran dengan papanya. Tidak mungkin jika papanya tidak tahu akan hal itu. Tapi sampai sekarang papanya terkesan hanya mendiamkan masalah itu.


"Tidak, tidak! Mereka boleh mencuri dari papaku. Tapi tidak dariku. Akan kubuat kalian menyesal telah berani mencuri dari papaku!"


Lamunan Joon buyar ketika Max masuk. "Kamu tidak mengetuk pintu?"


"Sorry, lagian kamu nutupin apa dariku. Melihat kamu naked aja aku udah biasa."


"Mulai sekarang biasakan untuk mengetuk pintu."


"Apa kamu berencana membawa wanita ke sini?"


"Sembarangan kalau ngomong."


Joon melempar bantal sofa ke Max.Yang langsung mengenai muka Max.


"Ah ampun-ampun. Baru hari pertama dan aku sudah dapat lemparan bantal. Gimana besok. bisa-bisa lemparan pisau yang aku dapat." Ucapan Max membuat Joon kesal.


"Kamu ya, beneran mau aku lempar pisau?"


"Eh jangan dong bos, belum nikah ini."


"Nikah belum, tapi udah kawin berkali-kali"


"Ah si Bos, itung-itung buat latihan dulu. Biar bisa geeeeerrrrr gitu bila udah dapat yang pas."


"Cih...." Joon mendecih.


"Lalu bagaimana dengan laporan yang aku minta?"


"Seperti yang bos duga, mereka sepertinya juga terlibat dalam beberapa kegiatan ilegal. Penggelapan dana dan korupsi di perusahaan kita sepertinya hanya sebagian kecil dari kegiatan mereka."


"Wah hebat sekali mereka."


"Baiklah! Kalau begitu aku akan menyingkirkannya menggunakan kegiatan ilegal mereka."


"Sebab aku bukan ahli dalam bidang keuangan. Dan saat ini tidak ada satu ahli bidang di bidang keuangan yang aku percayai. Kecuali dia."


"Max, perintahkan anak buahmu untuk mulai mengikuti seluruh kegiatan direktur keuangan. Mata-matai dia."


"Baik Bos!" ucap Max lantas keluar dari ruangan Joon.


"Mari kita mulai permainannya tuan Joni. Dan kita lihat siapa saja yang berdiri di belakangmu."


Batin Joon sambil menyeringai. Hari pertama yang sangat melelahkan.


"Dan bagaimana kabarmu, Baby. Aku sangat merindukanmu."


Ditatapnya wajah seorang gadis yang tengah tersenyum manis dengan memakai kebaya pemberiannya.

__ADS_1


****


__ADS_2