Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 39


__ADS_3

Mereka ternyata masih berputar-putar mengelilingi jalanan ibukota setelah sarapan. Dan baru ke rumah Jòon ketika makan siang hampir tiba-tiba.


"Tidak sopan. Datang ke rumah orang waktu makan," gerutu Nina.


"Siapa yang tidak sopan?"


"Akulah siapa lagi? Kamu kan pemilik rumah."


"Aku juga nebeng tinggal di rumah ini. Ini rumah Papa dan Mama. Rumahku yang sebenarnya, ya yang kamu tempati itu."


"Itu apartemen kamu? Kenapa nyuruh aku tinggal di sana? Aku kan bisa ngontrak atau ngekost sama Karin."


"Kan seperti katamu. Ngirit"


"Astaga," Nina menepuk dahinya.


"Itu mahal Lee Joon."


"Itu sudah lunas, jangan khawatir."


"Tapi tetap kan itu berlebihan."


"Menurut saja. Disitu tempat yang paling aman. Keamanannya terjamin. Karena itu aku dan Max membeli unit di situ."


"Max juga tinggal di situ?"


"Di sebelah kamu."


"Kamu serius?"


Joon hanya mengangguk. Bisa dibayangkan ekspresi Nina, ketika tahu ia tinggal bersebelahan dengan Max.


"Lalu Karin?"


"Nah kalau itu aku baru membelinya."


"Kenapa kita nggak tinggal bareng aja. Maksudku aku dan Karin. Ngirit."


"Kirain kamu mau kita tinggal bareng," ucap Joon menggoda Nina


"Ish, ish, ish, kamu tu ya."


"Aku nggak mau ada yang ngganggu waktu kita lagi berdua."


Nina langsung membulatkan matanya mendengar ucapan Joon. "Maksud kamu apa? Waktu berdua apa? Jangan ketularan otak mesumnya Max ya. Aku nggak suka."


"Siapa juga yang ketularan otak mesumnya Max. Aku masih waras."


"Kecuali jika kamu berpakaian seperti itu. Aku bisa hilang kendali," batin Joon.


Kedatangan mereka langsung disambut heboh Sofia. Mamanya Joon langsung memeluk dan menciumi wajah Nina persis ketemu anak perempuannya yang lama tidak pulang. Joon hanya memandang jengah pemandangan itu. Sedang tuan Lee hanya bisa tersenyum melihat kelakuan sang istri.


"Ma, bisa nggak aku yang gantiin Mama buat meluk sama nyium Nina," ucap Joon saat ia sudah duduk dan kedua wanita itu masih saja berpelukan enggan melepaskan satu sama lain.


"Kamu tu ya," ucap Sofia.


"Senang akhirnya bisa bertemu kamu, Nak?" kali ini tuan Lee yang bicara ketika keduanya sudah duduk di tempat masing-masing. Setelah Nina mencium punggung tangan tuan Lee.


"Eh, iya Om" jawab Nina kikuk. Ia yang duduk di sebelah Joon hanya bisa nyengir.


"Anggap saja rumah sendiri. Dan terima kasih sudah mau bergabung ke perusahaan. Membantu Joon."

__ADS_1


"Ah itu...." Nina melirik Joon yang duduk di sampingnya.


"Aku yang memaksanya datang Pa."


"Papa tahu. Oh iya untuk ayahmu, Om ikut turut berbela sungkawa. Maaf waktu itu Om nggak bisa pulang melayat."


"Ah itu tidak apa-apa Om," raut wajah Nina langsung berubah sendu


"Maaf jika Om mengingatkanmu pada ayahmu. Tapi kamu bisa anggap Om seperti ayahmu sendiri. Kamu bisa datang kapada Om, kapanpun kamu mau. Bicara apapun, Om akan dengarkan."


Seketika mata Nina berkaca-kaca. "Ihh, jangan bikin nangis anak gadis orang dong. Cukup aku aja yang boleh bikin dia nangis."


Satu cubitan keras langsung mendarat di perut Joon. "Aaah sakit, By. Belum apa-apa sudah KDRT."


Nina mendelik mendengar omongan Joon. "Ah sudah, sudah... kalian ini nggak kecil, nggak udah gede berantem mulu kerjaannya."


"Tenang Ma, bentar lagi kita juga akur paling kalau bertengkar pas lagi di kasur aja. Ya kan, Baby?" ucap Joon sambil mengedipkan sebelah matanya.


Sebuah cubitan mendarat lagi, kali ini di lengan Joon. Membuat sang pemilik lengan meringis. "Sakit, Baby," keluh Joon.


"Bodo."


"Sudah-sudah ayo kita makan," kali ini Tuan Lee yang bicara. Makan siang itu mereka lalui dengan canda dan tawa yang tidak habis-habisnya. Nina merasa bahagia. Kehangatan keluarga Joon, sejenak bisa mengobati kerinduan akan sosok sang ayah dan keluarganya.


Setelah makan siang, Sofia dan Nina menghabiskan waktu dengan mengobrol di pinggir kolam renang. Duduk santai sambil membicarakan banyak hal. Sedang para pria berkumpul di ruang kerja, ada hal yang perlu mereka bicarakan. Tentunya masalah pekerjaan apalagi.


Hingga petang kedua ayah dan anak itu belum juga keluar dari ruang kerja sang ayah. Entah apa yang mereka bicarakan.


Joon baru saja keluar dari ruang kerja sang ayah, ketika mendapati sang Mama juga akan masuk ke ruang kerja papanya.


"Sudah selesai?" Joon mengangguk.


"Itu Nina tertidur di dekat kolam renang. Tadi Mama tinggal soalnya ada tetangga depan rumah datang baru pulang kampung. Ngasih oleh-oleh ceritanya."


Kembali Nina berakhir dalam gendongan Joon. Berjalan pelan menuju kamarnya. Lantas direbahkannya tubuh Nina di ranjang king sizenya. Sejenak Joon perhatikan wajah Nina. Raut lelah terlihat jelas di wajah Nina. Namun tidak mengurangi kecantikan wajah Nina.


Joon tersenyum. Dia membaringkan tubuhnya tepat di samping Nina. Detik berikutnya ikut memejamkan matanya.


*****


"Ha? Yang benar saja? Masa Lee Joon menyuruh kamu buat nemenin aku?"


"Iya."


"Nggak usah. Aku bisa sendiri. Orang cuma ke supermarket depan doang."


"Nggak apa-apa. Sekalian aku juga mau beli minuman ringan."


"Tapi... Ah aku pergi sendiri aja."


"Kenapa?" Heran Max, karena gadis di depannya itu terus menolaknya. Padahal tadinya ia hanya menuruti perintah Joon untuk menemani Karin. Tapi Karin yang terus menolaknya membuat Max merasa kehilangan harga dirinya.


Seorang Max gitu lo, ditolak ajakannya oleh seorang gadis. Mau ditaruh di mana mukanya. "Itu, aku takut pacar kamu marah."


"Pacar? Pacar yang mana?" Max yang merasa tidak dalam hubungan berkonteks "pacaran" pun bingung. Ia memang tidak merasa punya pacar tapi yang mengaku sebagai pacarnya memang banyak. Ampun daah narsis banget sih ni orang.


"Itu yang nempel mulu di kantor," jawab Karin ragu takut salah.


"Stella? Itu bukan pacar aku," Max baru menyadari jika hubungannya dengan Stella dianggap pacaran oleh orang lain.


"Lah terus itu namanya apa kalau bukan pacaran. Nempel mulu nggak mau lepas. Kaya perangko."

__ADS_1


"Eh itu kita lagi deket aja."


"Dekat?"


"Dekat kok sampai ciuman hot banget di pantri." Batin Karin sambil memanyunkan bibirnya. Ya, Karin pernah melihat Max dan Stella berciuman hot di pantri. Melihat Karin memanyunkan bibirnya membuat Max gemas.


Biasanya para wanita itu akan bertingkah manis di depannya. Tapi yang ini beda. Karin langsung menunjukkan wajah merajuknya di depan Max. Max yang tidak pernah membujuk wanita yang lagi ngambek jelas bingung dibuatnya.


Biasanya para wanita itu yang akan mati-matian membujuknya. Tapi kali ini, apa yang harus ia lakukan.


"Beneran Stella itu bukan pacar aku. Dia cuma ngaku-ngaku aja. Kita nggak pacaran hanya lagi dekat. Masak kamu nggak percaya sama aku."


"Astaga, aku sudah seperti cowok yang lagi ngebujuk ceweknya yang lagi marah.What the hell is this?"


Gara-gara bosnya dia harus menurunkan harga dirinya di depan Karin. Max mengumpat dalam hati.


"Damm it." Kembali ia mengumpat.


Namun sepertinya bujukannya Max tidak mempan pada Karin. Buktinya bukannya bersikap baik Karin malah langsung meninggalkan Max menuju supermarket yang ada di depan apartemen itu. Max dengan terpaksa hanya bisa mengikuti Karin.


"Sudah sana. Nggak usah ngikutin aku." usir Karin galak.


"Kan aku sudah bilang, aku juga mau beli minuman," sahut Max berusaha santai menghadapi Karin. Padahal ia kesal sampai ke ubun-ubun.


Akhirnya mereka berakhir dengan belanja bersama. Walaupun Karin tetap mengabaikan Max selama mereka berada di supermarket. Karin pun tidak peduli melihat Max yang berusaha bersikap baik padanya. Dengan mendorong troli belanjaan mereka.


"Bodo amat," ucap Karin melihat sikap Max.


Hal itu membuat Max kalang kabut sendiri. Benar-benar wanita di hadapannya ini menantang sisi lain dari diri Max. Dia yang biasa dipuja wanita. Dia yang biasa dikejar wanita. Kini harus bersusah payah bersikap baik di depan wanita itu.


"Aku harus menakhlukkanmu. Bagaimanapun caranya. Aku tidak terima harga diriku di injak-injak" batin Max mantap. Ceilah Max sampe segitunya sama Karin.


Sementara itu, hari mulai merayap malam. Ketika Nina membuka matanya.


"Ini dimana?" ucapnya lirih.


"Sudah bangun?"


"Hmmmm."


Dilihatnya Joon sudah terlihat segar. Sudah mandi mungkin, pikir Nina. "Mandilah, lalu aku antar pulang"


Dilirikya jam dinding. Jam 8. Astaga, bagaimana aku bisa tidur begitu lama. Dia nyengir ke arah Joon sambil menggaruk kepalanya.


"Aku ketiduran," ucapnya lirih menahan malu. Ketiduran di rumah orang sampai tidak tahu waktu. Joon hanya tersenyum mendengar ucapan Nina.


"Mandilah," ucap Joon lantas ia menuju meja kerjanya yang ada di kamarnya. Mulai membuka laptopnya.


Nina langsung melesat ke kamar mandi. 20 menit kemudian ia keluar. Tampak segar. Joon melirik ke arah Nina. Wangi lavender seketika menyeruak di hidungnya. Mamanya yang menyiapkan semua untuk Nina.


"Sudah siap?"


Nina mengangguk. Menutup laptopnya. Menyambar jaket, ponsel dan dompetnya. Lantas keluar kamar diikuti Nina.


Sofia sempat menahan Nina untuk menginap saja. Tapi Joon bersikeras akan mengantar Nina pulang. Mamanya akhirnya setuju setelah Joon membisikkan sesuatu ke telinga mamanya.


Kembali mereka menaiki motor yang mereka pakai tadi pagi. Membelah jalanan ibukota. Nina tidak tahu akan dibawa Joon ke mana. Dia pun enggan bertanya. Tidak begitu peduli. Dia asyik menikmati suasana Jakarta saat malam hari.


Setelah beberapa waktu. Motor Joon mulai memasuki kawasan pantai. Membuat Nina sedikit heran. Kenapa Joon membawanya ke pantai.


Menuju tempat yang agak tinggi. Memarkirkan motornya. Dan begitu Joon turun. Nina masih betah nangkring diatas motor.

__ADS_1


"Turunlah." Begitu Nina turun. Ia terpukau dengan pemandangan yang ada di hadapannya.


****


__ADS_2