Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 22


__ADS_3

Joon ternyata hanya bisa tinggal satu hari di Jogja. Hari berikutnya ia sudah harus kembali. Meninggalkan Nina yang mencoba menunjukkan wajah tegarnya di hadapan Joon.


"Are you sure?" tanya Joon.


Nina menangguk. Yang jelas Nina tidak ingin keadaannya menjadi penghalang bagi Joon dalam menyelesaikan pekerjaannya.


"Bekerjalah dengan tenang di kantor, aku jamin tidak akan ada lagi yang mengganggumu."


"Ya?" Nina tidak paham dengan ucapan Joon. Pria itu lantas memeluk Nina dan mengecup lembut pucuk kepala Nina.


"Aku pergi."


Nina hanya memandang kepergian Joon dengan perasaan hampa yang mulai merayapi hatinya. Ingin rasanya ia menahan pria itu agar selalu berada di sisinya. Tapi ia juga tidak bisa egois. Pria itu punya tanggungjawab yang harus ia selesaikan.


"Hah, perasaan apa ini. Mengapa aku seolah-olah tidak mau berpisah dari Joon."


"Kamu sebenarnya jatuh cinta dengan Joon, hanya saja kamu terlalu gengsi untuk mengakuinya," kata-kata Karin kembali terngiang di telinganya.


"Ini pasti tidak benar," sangkal Nina.


Namun tidak bisa dia pungkiri. Kehadiran Joon kemarin benar-benar membantu Nina menghadapi kenyataan pahit di hidupnya.


"Aku harap kamu akan baik-baik saja. Maaf aku tidak bisa tinggal lebih lama lagi," batin Joon ketika taksi yang ditumpanginya perlahan meninggalkan rumah sang mama. Membawanya ke bandara. Kembali ke ibukota, Jakarta.


Joon menghela nafasnya. Ada beban tersendiri ketika ia harus meninggalkan Nina dalam keadaan seperti itu.


*****


"Kirimkan surat pemecatan atas nama Heri Kurniawan ke cabang Jogja."


Perintah pertama yang Joon ucapkan kepada Max begitu ia memasuki kantornya. Membuat pria itu melongo.


"Tapi kenapa?"


"Dia berani mencuri dariku!"


"Bukankah kantor cabang bisa mengurusnya."


"Sudah lakukan saja dan banyak bertanya. Akan kukirimkan bukti pencuriaannya."


Perintah tanpa bantahan membuat Max mau tak mau harus segera melaksanakannya.


"Apa ini yang dia bilang mengurus sesuatu di Jogja," batin Max


"Berani-beraninya kamu menganggu milikku dan mencuri dariku," ucap Joon. Sambil memandangi seseorang yang tengah bekerja melalui cctv yang telah ia retas.


Flashback on


"Tinggalkan Nina dan jangan menganggunya lagi," ucap Joon kepada pria yang ada di hadapannya. Dingin dan tanpa ampun itulah yang tergambar di wajah Joon saat itu.

__ADS_1


"Kamu pikir kamu siapa? Berani sekali memberi perintah kepadaku," jawab pria itu tak mau kalah.


"Kau tidak tahu siapa aku."


"Kau pikir aku peduli siapa kamu."


"Bagaimana jika aku adalah orang yang mampu membuatmu jadi pengangguran?"


"Cih, kau pikir dirimu sangat hebat, ha?!"


"Baiklah, kalau kau tidak percaya. Besok akan aku pastikan surat pemecatanmu sudah ada di mejamu. Dan jangan kau pikir Nina tidak tahu dengan perbuatanmu di kantor."


Perkataan Joon mampu membuat Heri langsung naik darah. Ia langsung maju mencengkeram kerah baju Joon. Sedang Joon hanya menyeringai menerima perbuatan Heri.


"Kau? Siapa kau berani memecatku? Oooo, salah tidak akan ada yang bisa memecatku dan tidak ada yang bisa memaksaku untuk meninggalkan Nina!" kata Heri penuh penekanan


"Aku bisa melakukan itu, jangan khawatir," balas Joon santai


"Dasar brengsek!" ucap Heri yang langsung melayangkan sebuah pukulan ke arah Joon. Namun Joon dengan cepat dapat mengelak dan, Buuggh....


Sebuah pukulan justru di dapat Heri di perutnya


"Aaaakkhh, sial!" umpat Heri sambil meringis memegangi perutnya yang terasa nyeri.


"Itu adalah balasan untuk orang yang berani mengganggu milikku dan mencuri di kantorku. Tapi balasan yang sesungguhnya akan kamu terima besok. Jadi tunggu saja."


Ucap Joon, lantas meninggalkan Heri. Dengan wajah heran sekaligus sakit menahan rasa sakit di perutnya.


Namun tak lama ponselnya berdering.


"Ya halo, Yon."


"Ini gawat Heri. Ini gawat. Mereka sudah mengetahui semuanya."


"Aaah sial!" Umpatnya lagi sambil mengacak rambutnya frustrasi. Dilihatnya punggung Joon yang berlalu meninggalkan restoran.


Flashback off


Joon mengusap ujung bibirnya dengan jemarinya.


"Satu tikus kecil sudah dibereskan," gumam Joon.


Joon telah meretas analisa keuangan yang Nina buat. Dan menemukan adanya keterlibatan Heri dalam sejumlah transaksi yang tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.


Ya, salah satu alasan Nina tidak mau menerima perasaan Heri adalah karena hal itu. Heri terlibat dalam sejumlah penggelapan dana. Waktu itu Nina belum menemukan bukti. Namun dalam laporan terakhirnya , Nina sudah mampu menemukan bukti keterlibatan Heri.


Laporan itu memang belum Nina serahkan ke atasannya. Ada beberapa pertimbangan yang tengah Nina pikirkan. Haruskah ia menyerahkan laporan itu atau tidak. Sedikit ragu akan tindakannya.


Dan Joon melihat keraguan itu. Tanpa Nina sadari, selama ini Joon selalu mengawasi Nina. Dia meretas CCTV di kantor Nina. Sehingga dengan mudah ia bisa mengawasi dan mengetahui yang Nina lakukan.

__ADS_1


"Jika kamu ragu, maka aku yang akan membereskannya. Kamu cukup mencari bukti-buktinya saja," ucap Joon.


*****


Terhitung satu minggu sejak kepergian ayahnya, Nina sudah dua hari mulai masuk kantor. Dia harus menyibukkan diri. Jika tidak dia hanya akan menangis dan mengurung diri di kamar.


Nina baru saja turun dari motornya, ketika tiba-tiba seseorang dengan memakai hodie dan masker menyerang dirinya, dengan sebilah pisau di tangannya.


"Aaaahhhh" Nina langsung menjerit. Pisau itu berhasil melukai lengan kirinya. Darah langsung merembes membasahi lengan blazernya.


Belum selesai dengan rasa terkejutnya, penyerang itu sudah mulai menyerang Nina lagi. Kali ini Nina sigap menahan serangan orang itu. Dia menahan pergelangan tangan orang itu agar pisaunya tidak lagi melukai dirinya.


Beberapa orang yang melihat kejadian itu sontak langsung mendekat memberi bantuan. Nina dengan perlahan menekuk lututnya dan dengan sekuat tenaga ia memukul perut penyerang itu dengan lututnya.


Penyerang itu terhuyung ke belakang, namun nahas pisau yang orang itu pegang berhasil menggores pergelangan tangan Nina. Nina kembali meringis.


Penyerang itu kembali berniat menyerang Nina, namun usahanya gagal karena beberapa orang datang dan memeganginya. Orang itu berusaha meronta tapi tak bisa melepaskan diri.


"Mbak, nggak apa-apa?" tanya pak satpam


"Nggak pak, ini cuma luka kecil aja."


Nina mendekati penyerang itu. Penasaran dia membuka paksa hodie dan masker yang di kenakan penyerang itu.


"Heri, bagaimana bisa kamu..?"


"Kamu senang sekarang, ha?"


"Maksud kamu apa?"


"Gara-gara kamu aku dipecat! Gara-gara kamu aku jadi pengangguran," maki Heri tak henti-hentinya.


"Bagaimana bisa ini terjadi aku bahkan belum menyerahkan laporanku."


Heri masih saja memaki Nina ketika ia digiring paksa ke pos satpam untuk dibawa ke kantor polisi.


"Aku akan membalasmu Nina, kita lihat saja nanti!" ancam Heri dengan suara yang semakin menjauh. Kemarahan dan kebencian jelas tergambar di wajah laki-laki itu.


"Ha? dipecat?" Nina melongo tidak percaya ketika Karin mengatakan Heri sudah dipecat. Keduanya ada di ruang kesehatan. Karin tengah membersihkan luka Nina. Tergores, tapi lumayan mengeluarkan banyak darah. Walau lukanya tidak terlalu dalam.


"Iya dipecat. Bahkan surat pemecatannya langsung dikirim dari kantor pusat. Beserta bukti yang baru saja kita temukan kemarin" kalimat terakhir Karin ucapkan setengah berbisik.


"Aku bahkan belum menyerahkan laporannya ke pak Agung," Ninapun ikut berbisik


"Nah, itu dia masalahnya. Lalu bagaimana ini bisa terjadi?"


"Aku tidak tahu."


Keduanya larut dalam kebingungan. Sama sekali tidak bisa menemukan petunjuk, bagaimana bukti itu bisa sampai ke kantor pusat.

__ADS_1


*****


__ADS_2