Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 23


__ADS_3

Triiing


Ponsel Nina berdering. Dirinya dan Karin tengah menikmati makan siang mereka di kantin kantor. Nina masih bisa bekerja, mengingat lukanya tidak terlalu parah.


Dilihatnya nama penelepon yang membuatnya mengerutkan dahi. Heran dan tak percaya. Membuat Karin yang duduk di depannya mengerutkan kedua alisnya, seolah bertanya siapa yang menelepon.


"Ya halo."


"Kamu nggak apa-apa kan Baby? Apa kamu terluka?"


Sontak Nina menjauhkan ponsel dari telinganya, begitu mendengar suara dari si penelepon yang langsung berteriak dari seberang sana.


"Aku? Aku memang kenapa? Aku nggak apa-apa kok."


"Jangan bohong!"


Kembali Nina menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Aku tahu si brengsek itu menyerangmu. Jadi katakan apa kamu terluka?"


"Ha? Bagaimana orang ini bisa tahu kalau Heri menyerangku. Aku saja tidak memberitau orang rumah."


"Kenapa malah diam? Ayo jawab apa kamu terluka?"


"Oh itu, aku nggak apa-apa kok?"


"Beneran kamu nggak apa-apa?"


"Enggak buktinya aku masih bisa kerja, ini juga lagi makan."


Hening sejenak,


"Ya sudah kalau kamu beneran nggak apa-apa. Aku tutup teleponnya. Met makan siang, makan yang banyak ya."


Nina melongo mendengar perkataan orang itu yang tak lain adalah Joon. Yang langsung menghubungi Nina begitu melihat rekaman CCTV


"Siapa?"


"Percaya nggak kalau makhluk menyebalkan itu yang menelepon."


"Ha? Serius?"


"Dua rius malah."


"Wah kemajuan nih. Biasanya boro-boro telepon, ingat juga nggak."


"Tapi kok dia tahu ya kalau Heri nyerang aku. Padahal aku nggak beritahu orang rumah. Takut mereka cemas." Heran Nina.


"Iya ya, kok dia bisa tahu. Apa dia punya mata-mata di sini," tebak Karin. Bola matanya berkeliling seolah mencari mata-mata seperti yang baru saja ia ucapkan.


Nina hanya mengedikkan bahunya, tidak mengerti. Makan siang berakhir, keduanya kembali ke ruangan masing-masing. Melanjutkan pekerjaan mereka.


Hal yang sama pun terjadi pada Max, yang langsung melongo mendengar bosnya bisa berkata manis dengan seseorang di telepon. Tidak mungkinkan itu mamanya.


"Apa itu pacarnya bos. Ah bikin kepo aja nih."


"Kenapa?"


"Bos sehat kan? Bos nggak gila kan?" tanya Max tanpa filter.

__ADS_1


"Kamu mau mati ya?" bentak Joon yang sudah kembali ke wujud aslinya ( siluman kali ya kembali ke wujud asli 🤣🤣🤣🤣)


"Ah, enggak Bos."


"Max, buatlah perintah penahanan atas nama Heri Kurniawan. Aku ingin memberinya sedikit pelajaran. Dia berani sekali melukai karyawanku."


"Heri Kurniawan? Orang ini lagi, sebenarnya bos ada masalah apa sih sama orang ini," batin Max heran.


Max langsung menelepon seseorang, tak lama ia berkata, "Bos kita tidak bisa menahannya."


"Kenapa?"


"Karena korbannya tidak menuntut lebih jauh."


"Ah sial! Mudah sekali Nina memaafkan si brengsek itu," batin Joon kesal


"Baiklah kalau begitu black list namanya di semua perusahaan," perintah Joon setelah beberapa saat terdiam.


"Baik bos."


"Habislah kau Heri, berani-beraninya kamu mengusik bosku."


Max keluar dari ruangan Joon. Dengan Joon kembali berkutat dengan berkas-berkasnya. Setelah dilihatnya Nina juga melanjutkan pekerjaannya setelah makan siang berakhir.


Joon sendiri lebih senang menikmati makan siangnya di ruangannya. Tidak mau membuat heboh kantin perusahaannya.


Pernah sekali dia mencoba untuk makan di kantin perusahaan. Mencoba akrab dengan para karyawan sesuai saran papanya. Tapi hasilnya, malah kekacauan yang ia buat. Para karyawan berebut ingin melihat dirinya dari dekat. Alhasil sejak hari itu dia tidak pernah makan siang di kantin.


"Bisa hancur tu kantin kalau aku makan siang di sana. Suruh mereka untuk mengantarkan makan siangku ke ruanganku," perintahnya kala itu.


Max kembali masuk lagi ke ruangan Joon. "Bos, ada pergerakan dari tuan Joni."


"Sepertinya kita akan menangkap ikan besar kali ini," ucapnya pada Max.


"Sepertinya begitu Bos."


"Awasi terus dia, kali ini kita tidak boleh kehilangan kesempatan untuk menyingkirkannya."


"Baik, Bos!" jawab Max


"Kamu semakin dekat kepadaku, Baby. Hari itu akan segera datang."


****


"Tuan besar, Tuan Muda baru saja mengeluarkan perintah untuk memblack list seorang karyawan dari kantor cabang Jogja."


Tuan Lee yang tengah menatap pemandangan ibukota dari jendela full kaca di ruangannya langsung berbalik menatap asistennya.


"Masalahnya?"


"Dia terbukti melakukan penggelapan dana. Kemarin, Tuan Muda hanya memerintahkan untuk memecat karyawan itu. Tapi hari ini Tuan Muda memerintahkan untuk memblacklist karyawan itu."


"Apa ada hal lain yang ia lakukan?"


"Dia menyerang seorang karyawan di kantor cabang Jogja." Tuan Lee mengerutkan dahinya.


"Kamu tahu nama karyawan itu?"


"Namanya Karenina Putri,Tuan Besar."

__ADS_1


Tuan Lee hanya menghela nafasnya pelan.


"Gadis itu benar-benar punya tempat yang istimewa di hati putraku."


Sesaat dia hanya terdiam.


"Ada yang lain?"


"Tuan Muda sepertinya sedang menyelidiki tuan Joni."


Kali ini raut wajah tuan Lee berubah serius.


"Awasi terus pergerakan putraku. Perintahkan pengawalan tambahan untuknya. Pastikan tidak terjadi apa-apa pada putraku."


"Baik, Tuan!"


"Semoga tindakanmu kali ini tepat, Nak."


*****


"Apa ada yang serius yang tengah terjadi di kantor," tanya Sofia sesaat setelah Ina berpamitan waktu itu.


"Tidak ada. Apa ada yang mengganggu pikiranmu?"


"Jangan sembunyikan apapun dariku. Aku tahu putramu sedang menyelidiki Joni. Kita tahu siapa orang yang berdiri di belakang Joni."


"Apa kamu meragukan kemampuan putramu?"


"Tidak, bukan itu maksudku. Aku khawatir dia akan terluka."


"Ha, ha.. putramu itu sudah dewasa. Sudah sepantasnya dia melakukan hal-hal yang diperlukan untuk melindungi apa yang seharusnya menjadi miliknya."


"Tapi itu akan sangat berbahaya."


"Dan kamu pikir putramu tidak siap untuk hal itu. Dia siap bahkan sangat siap. Dan aku pastikan bahwa aku juga tidak akan melepaskan pandanganku dari putramu."


"Apa kamu tahu kemampuan putramu. Aku sendiri bahkan tidak percaya dengan apa yang bisa dia lakukan. Dia benar-benar melebihi ekspektasiku." Ucap tuan Lee bangga.


Sofia terdiam. Ia hanya takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada putranya. Mereka baru saja berkumpul setelah sekian lama terpisah. Dia tidak ingin hal itu terjadi lagi pada keluarganya.


"Sudahlah, percaya pada kemampuan putramu. Beri dia kesempatan untuk membuktikan kemampuannya. Dan kita akan siap memberikan bantuan kapanpun ia memerlukannya," ucap tuan Lee berusaha menenangkan istrinya.


*****


Sedang di sisi lain,


"Sial! Kenapa sampai sekarang aku belum bisa mendapatkan pekerjaan?" umpat Heri.


Sudah beberapa kali ia mencoba mencari pekerjaan ke sana ke mari. Seharusnya dengan kualifikasi yang dia punya, dia pikir tidak akan sulit untuk mendapatkan pekerjaan di perusahaan lain.


Tapi anehnya, setelah mendatangi hampir semua perusahaan di Jogja. Tidak ada satupun yang mau menerimanya. Jawaban mereka cuma satu "maaf kami tidak bisa menerima anda."


Hanya itu jawaban yang mereka berikan. Membuat Heri bertambah frustrasi.


"Ini gara-gara wanita itu. Berani-beraninya dia melaporkanku ke perusahaan. Awas saja kamu Nina. Sepertinya aku salah telah menyukaimu. Kamu menghancurkanku. Aaaaah akan kubalas semua perbuatanmu Nina. Kita lihat saja nanti, apa yang bisa aku lakukan padamu!" ucap Heri diiringi gelak tawa yang mengerikan.


Rasa cintanya telah berubah jadi rasa benci yang meluap-luap. Tangannya terkepal erat. Rahangnya mengatup rapat. Tak terbayang rasa benci yang ia rasakan pada gadis yang dulu pernah ia puja-puja.


"Aku benar-benar membencimu Nina!" ucapnya lagi.

__ADS_1


*****


__ADS_2