Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 54


__ADS_3

Siang itu, ruangan Nina dan Joon mendadak heboh. Baik laptop Nina maupun Joon, memperingatkan bahwa ada data yang berusaha dibocorkan.


Nina langsung melesat naik ke lantai 35. Begitu alarm di laptopnya memperingatkannya. Joon telah memprogram laptopnya dan milik Nina dengan sistem keamanan terbaru yang berhasil dihack Joon.


Sistem yang memungkinkan pemilik data akan mengetahui jika ada data yang coba untuk dibocorkan.


Walaupun data perusahaan terintegrasi di komputer utama dengan ruang IT sebagai kontrolnya. Tapi Joon tetap membuat sistem cadangan. Karena ada kemungkinan komputer utama bisa diretas. Hal itu Joon lakukan untuk mengantisipasi kebocoran data. Yang tentu saja akan sangat merugikan perusahaan.


Dalam operasionalnya, sistem Joon bahkan lebih cepat mendeteksi adanya kebocoran data. Seperti saat ini. Komputer utama perusahaan, di ruang kendali IT di lantai 20 belum memberikan peringatan adanya kebocoran data. Tapi sistem Joon sudah lebih dulu mendeteksinya.


"Bagaimana sudah ketemu?" tanya Nina.


"Sebentar lagi, Baby."


Max dan Karin turut ada di ruangan itu. Mereka memang tidak mungkin memberitahukan hal ini. Bisa membuat orang satu kantor heboh nanti. Bahkan tuan Lee saja tidak tahu.


"Mereka lumayan ahli juga. Tapi tunggu dulu." Joon sejenak terdiam. Mengamati laptopnya.


"Oh sh*it!!" umpat Joon.


"Ada apa?"


"Mereka melakukannya dari dua tempat. Buka laptopmu," perintah Joon pada Nina.


Nina langsung membuka laptopnya.


"Kamu benar," ucap Nina.


"Satu dari sini dan satu lagi.... departemen keuangan. Luar biasa. Mereka berusaha mengecoh kita."


"Apa masih bisa diatasi?" ucap Nina memandang laptopnya.


Memperlihatkan data perusahaan dengan tanda tengah dicopy. Yang berarti ada seseorang yang tengah berusaha mengcopy data perusahaan secara diam-diam. Hal itu sangat dilarang. Apalagi itu adalah data rahasia perusahaan.


Max dan Karin terlihat panik melihat kedua bosnya yang juga terlihat panik.


"Sebentar, aku sedang memperlambat mereka mengcopy data perusahaan," ucap Joon dengan wajah serius.


Setelah beberapa waktu,


"I did it!" ucap Joon senang.


Membuat ke tiga orang lainnya lega seketika.


"Berikan laptopmu. Oke kita lihat bagaimana denganmu."


Kembali Joon sibuk dengan jari-jarinya. Mengetik kode-kode, sejenak terdiam. Lalu mengetik lagi.


"Yang ini lebih rumit. Ada virus yang coba mereka sebarkan di datamu. Aku pikir tadinya sama." Ucap Joon seolah bicara pada dirinya sendiri.


Ya iyalah, diantara keempatnya yang paham soal hack dan meng-hack ya cuma Lee Joon.


"Mereka sepertinya benar-benar ingin menghancurkan departemenmu " ucap Joon sambil tersenyum.


Nina langsung mendengus kesal mendengarnya.


"Lihat saja jika kita bisa menemukan orangnya. Aku hajar sampai babak belur," ucap Nina berapi-api.


Max seketika menatap Karin. "Dia mengerikan kalau lagi marah," bisik Karin di telinga Max. Max mengangguk paham.


Hampir setengah jam lebih, Joon berkutat dengan laptop Nina. Hingga akhirnya ia menarik nafas lega. Menandakan kalau ia berhasil mengatasi masalah itu.


"Mau sedikit bermain dengan mereka?" tanya Joon dengan seringai misterius di wajahnya. Nina menatap Joon sejenak. Kemudian mengangguk sambil tersenyum.


"Ubah datanya dan biarkan mereka merasa menang kali ini. Minggu depan kita akan menangkap mereka. Dan melemparnya ke jalanan. Berani-beraninya mencuri dan membuat kacau di kantorku.

__ADS_1


Karin sedikit ngeri mendengar ucapan Joon yang terkesan sangat sadis.


"Kalian tahu. Kalian akan jadi pasangan yang paling menakutkan di muka bumi," kali ini Max bersuara.


Joon, Nina dan Karin langsung saling pandang.


"Kalian membuat seolah-olah, tidak ada celah yang bisa kami lakukan untuk mencuri dari kalian. Yang satu tukang meretas data. Yang satu tukang ngitung duit saking telitinya. Ck, ck,ck benar-benar pasangan yang serasi yang patut ditakuti," ucapan Max langsung mendapat keplakan dari Nina yang duduk di samping kirinya.


"Aduh Nin, sakit tahu."


Sedang Karin malah tertawa terpingkal-pingkal.


"Sayang, bukannya bantuin malah ngetawain." protes Max.


"Makanya jangan sembarangan kalau ngomomg."


"Maka cobalah untuk mencuri dari kami, tantang Joon.


"Ngapain nyuri kalau minta aja di kasih. Betul tidak Bu Direktur keuangan? Naikkan gajiku bulan depan ya Bu. Buat modal nikah," rayu Max pada Nina.


"Jangan merayu kekasihku!" ancam Joon.


"Haish, Bos ini aku sedang memohon. Bukan merayu. Bagaimana Bu Direktur?"


Sedang Karin malah terkekeh semakin keras mendengar ucapan Max, sang kekasih.


"Tuan Max Aldrian. Jangan pikir aku tidak tahu asetmu ya. Rumahmu ada berapa? Apartemenmu ada berapa? Tanah dan propertimu, belum mobilmu. Kamu tidak akan kekurangan biaya kalau cuma mau pesta nikah tujuh hari tujuh malam," ucap Nina santai membuat Max melongo.


"Kok dia bisa tahu"


"Itu kan invest bu Bos. Investasi bu Bos. I need cash for my wedding party."


"Alah kalau perlu cash. Jual aja Lambo kamu itu. Yang penting Karin kan sudah pernah naik. Jadi bisa dijual buat biaya nikah."


"Ah bu Bos sama pak Bos nih gak asik. Masak suruh jual Lambo buat nikah. Nggak lucu tahu."


"Ya nggak lucu, orang aku serius."


"Bu Bos!!" Max akhirnya meledak juga.


"Nggak suami, nggak istri sama," umpat Max.


"Aku dengar lo Max," ucap Nina.


"Sorry Bu direktur."


Sedang Joon dan Karin hanya bisa mengulum senyum mereka.


"Ini sudah selesai," ucap Nina sambil menyerahkan laptopnya kepada Joon.


"Oke. Selesai. Hah akhirnya. Clear juga masalah ini. Aku akan mengecek CCTV. Jika pelakunya pintar. Mereka pasti sudah memanipulasi rekaman CCTV-nya,"


"Kamu tahu Nin, pertama kali datang ke sini. Waktu aku tahu Lee Joon adalah Bosnya. Aku takut tahu," curhat Karin setelah mereka kembali dari lantai 35. Setelah mengambil makan siang mereka.


"Kenapa?"


"Kamu tahu kan. Aku pernah meledeknya habis-habisan waktu dia datang pas, sorry, ayahmu meninggal."


"Oh yang itu. Mungkin dia sudah lupa."


Semoga saja. Jika tidak aku pasti sudah dipecatnya."


"Asal kita tidak berbuat kesalahan. Dia tidak akan sembarangan memecat orang."


Karin mengangguk setuju.

__ADS_1


"Kira-kira siapa ya Nin orangnya. Yang berusaha buat ngebocorin data perusahaan?"


"Entahlah" jawab Nina sambil mengedikkan bahunya.


******


Hari berganti malam, di sebuah klub malam ibukota,


"Bagaimana sayang rencana kita?"


"Yes berhasil. Aku berhasil melakukannya. Ini."


Stella menyerahkan sebuah flash disk berisi data perusahaan yang berhasil ia curi.


"Dan bodohnya mereka tidak menyadari kalau ada data yang bocor," ucap Stella penuh percaya diri.


"Tuan Bos pasti akan senang menerima ini," batin Heri.


"Itu adalah data rahasia para investor. Mereka pasti akan kehilangan kredibilitasnya jika sampai publik tahu. Mereka tidak bisa menjaga kerahasiaan investor itu," ucap Stella sambil menyesap minumannya.


"Jangan mabuk dulu sayang, kita perlu merayakan malam ini," ucap Heri sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Tentu saja. Kita akan bersenang-senang malam ini," ucap Stella dengan tangannya yang mulai mengelus paha Heri. Semakin naik ke atas. Hingga tiba di junior Heri. Yang lantas diusapnya dengan sedikit menggoda. Membuat si empunya langsung memejamkan mata. Menahan lonjakan gejolak di area itu.


"Sial!! Baru juga di sentuh dari luar. Sudah langsung bereaksi dianya."


Dan malam itu, keduanya kembali menghabiskan malam panjang mereka dengan panas. Penuh kenikmatan di lantai tiga klub malam itu.


Seminggu kemudian,


Joon begitu geram, begitu tahu siapa yang sudah mencoba membocorkan data perusahannya.


"Panggil mereka ke ruangan Papa," perintah Joon kepada Max.


Sang Papa pun ikut terbawa emosi ketika Joon menceritakan kejadian minggu lalu kepada dirinya.


"Berani sekali orang itu bermain-main denganku."


"Papa akan lebih terkejut kalau tahu siapa orangnya."


"Kamu sudah menemukan pelakunya?"


"Mereka sedang dijemput kemari."


Joon tidak mau memakai ruangannya sendiri untuk mengeksekusi para pencuri itu. Hanya akan mengotori ruangannya saja, pikir Joon.


Lagipula yang berhak menghukum para pencuri itu tentu saja papanya. Sebagai pemegang kekuasaan tertinggi. Karena menurut Joon, mencuri data perusahaan termasuk kejahatan kategori tingkat tinggi.


Jadi Joon memutuskan, biar papanya saja yang memberi hukuman pada mereka. Walaupun Joon yakin kalau papanya akan menyerahkan hal itu kepadanya.


"Ngomong-ngomong bagaimana kamu mengetahui ada data yang sedang bocor. Mengingat Papa sendiri bahkan tidak mengetahui hal itu," tanya tuan Lee curiga.


"Ah itu, aku menambahkan sedikit keamanan tambahan pada laptopku. Dan rencananya akan aku aplikasikan di komputer utama. Yang hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu."


"Bagus-bagus," puji tuan Lee.


"Papa tidak penasaran dengan orangnya?"


"Tentu saja papa penasaran."


Tak lama pintu diketuk dan masuklah asisten Jo dan Max membawa dua orang yang langsung membuat tuan Lee ternganga. Tidak percaya.


"Kalian tahu mengapa kalian dibawa ke sini?" tanya Joon dengan nada sedingin es. Dan tatapan yang seolah siap menerkam mangsanya.


******

__ADS_1


__ADS_2