Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 78


__ADS_3

"Om, kenapa sih Nina akhir-akhir ini jadi suka baca buku Harry Potter. Buku anak-anak kan itu?" protes Joon pada dokter Pras. Saat itu dokter Pras tengah visit ke kamar Nina. Memantau perkembangan perawatan pasca trauma yang Nina alami.


Dan menurut dokter Pras hasilnya sangat bagus. Jauh di luar ekspektasi dokter Pras. Melihat bagaimana keadaan Nina waktu datang pertama kali. Dan ini memasuki minggu ketiga, tapi Nina sudah nampak seperti biasa.


Dia sudah hampir tidak lagi menangis histeris lagi. Sudah lebih bisa mengendalikan diri. Dan yang jelas,Nina sudah mampu menekan ingatan buruk tentang pelecehan yang hampir saja ia alami.


Bahkan beberapa hari ini,Karin terkadang datang dengan beberapa berkas yang dia tidak bisa tangani. Dan Nina sudah bisa mengatasinya seperti biasanya. Membuat Joon dan yang lainnya bisa bernafas lega.


"Ya, bagus dong. Buku anak-anak banyak mengajak kita untuk berimajinasi tentang hal-hal yang baik. Jadi itu sangat berguna buat Nina. Ada masalah?"jelas dokter Pras.


"Ya, aku jadinya kan harus bolak balik ke Gramedia Om. Soalnya kemarin dia baru baca yang seri 5. Eh hari ini dia sudah minta yang seri 6 yang judulnya "Harry Potter and the Half Blood Prince". Lah aku harus ke Gramedia lagi. Terus daripada harus bolak balik lagi. Sekalian aja aku beliin seri 7-nya "Harry Potter and the Deathly Hollows" jawab Joon.


"Jadi apal serinya Harry Potter kan?" canda dokter Pras.


"He e. Bukannya gitu Om. Aku malas diliatin orang se-mall" jawab Joon sambil menggaruk kepalanya. Dokter Pras terkekeh. Maklum dengan wajah Joon yang super tampan tentu kehadirannya akan mengundang perhatian banyak orang.


"Baguslah. Bisa apal mantranya Potter"


"Asal jangan buat aku jadi kodok aja" kelakar Joon.


"Nah, bagus itu. Bisa buat judul buku baru "Nina dan Pangeran Kodok"


"Haissshh, malah makin parah ini" Joon protes sambil memanyunkan bibirnya. Membuat dokter Pras tertawa terbahak-bahak. Dan Joon semakin keki dibuatnya.


"Anyway, itu malah bagus buat Nina. Daripada dia nyakarin kamu tiap hari hayo" ucap dokter Pras lagi.


"Iya juga sih. Lihat ini" ujar Joon sambil memperlihatkan bekas cakaran Nina di lengannya beberapa waktu yang lalu. Walau sekarang Nina jadi sering meminta maaf jika mengingat apa yang sudah ia lakukan pada Lee Joon dalam 3 minggu terakhir ini.


"Itu masih bagus cuma di cakar. Temanku dulu pernah punya pasien. Sama dia mengalami pelecehan ******* juga. Tapi dia lebih parah. Kalau nggak salah sampai hamil malah. Waktu itu pihak RS tidak tahu jika pasien hamil. Dan obat anti depresan memang tidak bisa diberikan pada ibu hamil. Akan berakibat buruk pada janin. Dan ya akhirnya dia keguguran.Waktu itu keadaanya parah sekali. Sampai-sampai suami temannya diaku-aku sebagai suami sendiri. Parah sekali waktu itu dia. Kalau nggak salah namanya Ina" ucap dokter Pras.


"Ina? Tante Ina Damayanti?" tegas Joon.


"Iya kalau gak salah. Dulu pasiennya dokter Budi. Kita merawatnya di Bandung dulu. Kok kamu tahu?"


"Tante Ina jadi korban salah sasaran. Harusnya mama yang diculik eh mereka malah salah culik. Jadi tante Ina yang diculik dan mengalami itu semua" jelas Joon.


"Pantas aku seperti tidak pangling lihat papamu. Kayak pernah lihat di mana gitu? ucap dokter Pras lagi


"La iya to. Orang tante Ina nganggap papa suaminya. Nah hal itu yang buat keluarga kami berantakan. Baru akhir-akhir ini. Kami sekeluarga bisa ngumpul lagi. Setelah tante Ina dinyatakan sembuh dan pindah ke Surabaya" terang Joon.


"Baguslah kalau begitu"


"Apa Om tahu, anaknya tante Inalah yang jadi istri asisten Jo. Asisten-nya Papa" ucap Joon lagi.


"Ha masak sih?" jawab dokter Pras.


"Iya. Makanya ini Mama sama Papa lagi kondangan ke Surabaya" tambah Joon. Dan obrolan keduanya terhenti ketika tawa Nina terdengar di ruangan itu. Sejenak keduanya melihat ke arah Nina. Yang tertawa terbahak-bahak. Sambil membaca buku.


"Jika dalam minggu ini perkembangannya bagus. Mungkin minggu depan Om bisa men-discharge-nya" ucap dokter Pras kemudian.


"Beneran Om?" tanya Joon menegaskan. Dan dokter Pras mengangguk. Joon tersenyum bahagia.


"Nina pandai menghukum orang. Membuat orang yang berbuat ulah harus bertanggungjawab penuh akibat perbuatannya" ucap dokter Pras.

__ADS_1


"Meledek lagi" keluh Joon. Dan dokter Pras kembali terkekeh.


"Nina sudah beres. Sekarang giliran kakak angkatnya yang bermasalah"


"Dina maksud Om? Ada masalah dengannya?" tanya Joon penasaran.


"Ya dia otw depresi. Tapi masih tahap awal. Jadi masih bisa ditangani. Yang bagusnya dia langsung mencari bantuan. Begitu dia merasakan ada yang tidak beres dengan jiwanya. Siapa juga yang tidak akan depresi dengan keadaan seperti itu" jelas dokter Pras.


"Om benar juga. Pasti berat Dina dan Mike. Keduanya sama-sama korban dalam hal ini" ucap Joon yang diangguki oleh dokter Pras.


Dan dokter Pras akhirnya undur diri. Setelah berpamitan pada Nina tentunya. Dan Nina benar-benar senang jika keadaannya membaik bisa pulang minggu depan.


"Jadi benar aku bisa pulang minggu depan?" tanya Nina antusias.


"He e. Asal kamu tidak mencakar aku lagi" canda Joon.


"Maaf" ucap Nina. Yang langsung membuat Joon menghentikan tawanya.


"No problem. Kamu lebih baik mencakarku dan menghajarku. Daripada mendiamkanku" ucap Joon sambil memeluk Nina. Membuat gadis itu merasa nyaman seketika.


"Mau makan sesuatu?" tanya Joon karena memang sudah masuk waktu makan siang.


"Pengen makan mie ayam" ucap Nina.


"Baby, menu rumah sakit mana ada mie ayam"


"Ya pesenlah. Bosen makan menu rumah sakit. Hambar gak ada rasa" keluh Nina. Yang langsung membuat Joon mengiyakan permintaan Nina. Apa sih yang nggak buat Nina.


"Jadi tuan muda Kusuma suka sama Risma?" tanya Nina sambil menunggu mie ayam mereka datang. Joon sedang memeriksa email-nya. Dan Nina masih asyik dengan Harry Potter-nya.


"Yang kita ketemuannya di mall itu ya. Yang kayak artis Marcel Darwin?" tanya Nina.


"Iya. Kayak artis. Padahal dulu waktu aku jadi artis, kamu nggak kenal aku sama sekali" gerutu Joon. Dan Nina hanya nyengir mendengar keluhan kekasihnya itu.


"Sorry. Aku memang tidak tahu kamu artis waktu itu" bela Nina.


"Dasar nggak pernah update" ucap Joon lirih.


"Iya-iya maaf. Jonathan Kusuma. Apanya dokter Jocelyn Kusuma?" tanya Nina. Nina teringat pernah dikunjungi oleh seorang dokter cantik berkacamata. Yang mengaku sebagai teman Joon. Dan memperkenalkan diri sebagai Jocelyn Kusuma.


"Mereka kakak adik. Jocelyn milih jadi dokter buat bantuin temannya"


"Maksudnya? Temannya sakit gitu?"


"Ya lebih kurang seperti itu. Tapi suka-suka dialah. Orang rumah sakit yang punya dia. Terserahlah dia mau melakukan apa. Keluarga Kusuma terkenal dengan bisnis farmasi dan alkes-nya. Mereka punya saham di beberapa rumah sakit di negeri ini. Tapi yang ini, yang aku tahu mereka merger dengan Atmaja Group. Dan Jonathan yang tengah memimpin sekarang" terang Joon.


"Atmaja Group, rajanya dunia perbankan?" tanya Nina.


"Kamu tahu Atmaja Group?"


"Tahulah. Bagi seorang akuntan sepertiku. Bisa masuk Atmaja Group adalah mimpi menjadi nyata. Tapi it's okay. Kerjaanku yang sekarang nggak kalah dengan mereka. Gajinya gedhe lagi" ucap Nina sambil mengedipkan matanya manja.


"Haiisssshhh. Jangan menggodaku" ucap Joon. Dalam 3 minggu ini Joon memang benar-benar menahan dirinya. Selain memeluk Nina. Joon tidak berani melakukan hal lainnya. Takut gadis itu masih trauma.

__ADS_1


Seolah tahu dengan hal itu. Nina yang sudah meletakkan bukunya dan Joon yang sudah menutup laptopnya. Nina perlahan memberi kode kepada Joon untuk mendekat. Membuat Joon mengerutkan alisnya.


"Ada apa?" tanya Joon heran. Sambil mendekat ke arah Nina. Dan ketika Joon sudah dalam jangkauan Nina. Dengan perlahan Nina meraih kerah baju Joon dan "cup" sebuah kecupan mendarat di bibir Joon. Membuat pria itu terkejut. Pasalnya ini pertama kalinya Nina berinisiatif untuk menciumnya terlebih dahulu.


"Terima kasih" bisik Nina pelan. Sesaat setelah mencium bibir Joon. Membuat Joon tersenyum.


"Apa kamu tahu Nona. Itu tadi belum cukup sebagai ucapan terima kasih" ucap Joon menyeringai.


"La?"


"Karena belum cukup. Jadi aku akan mengambilnya kekurangannya sendiri"


"Maksudnya?"


"Maksudnya ini....." Dan Joon dengan cepat meraih tengkuk Nina. Dan berikutnya langsung menautkan bibirnya ke bibir Nina. Dan ciuman penuh kerinduan itupun terjadi.


Dan surprisingly Nina langsung membalas ciuman Joon. Membuat Joon semakin bahagia. Trauma pada Nina yang ia torehkan sudah hilang sepenuhnya. Ciuman itu masih berlanjut untuk beberapa saat.


Hingga keduanya saling melepaskan pagutannya setelah kekurangan pasokan oksigen. Keduanya tersenyum,saling menatap satu sama lain. Dengan dahi yang saling menempel.


**


Tuan Lee sedang duduk di ruang kerjanya di rumahnya di Bogor. Dia baru saja kembali dari Surabaya. Menjadi wakil orang tua bagi asisten Jo yang memang sudah yatim piatu.


Di tangannya ada sebuah iPad yang tengah ia pandangi. Foto seorang pria yang berwajah sama dengan Joon terpampang di sana. Wajah keduanya nyaris sama. Hanya warna rambut mereka saja yang membedakan. Joon dengan rambut hitam legamnya. Sedang pria yang wajahnya terpampang di iPad tuan Lee rambutnya berwarna abu-abu.


Ceklek, pintu terbuka. Dan tante Sofia masuk membawa secangkir teh.


"Aku pikir sudah waktunya untuk memberitahu semuanya. Dia sudah terlalu lama sendirian. Aku takut dia akan membenci kita. Karena telah menelantarkannya" ucap tuan Lee.


Tante Sofia hanya diam. Sambil ikut memandang iPad tuan Lee.


"Dia mengubah warna rambutnya" tanya tante Sofia.


"Itu foto dua jam yang lalu. Kamu tahu bidang pekerjaannya kan?"


"Tapi bukan itu yang membuat aku khawatir Pa. Dia punya kebiasaan yang sama dengan Max dulu" keluh tante Sofia.


"Ah itulah kesalahan kita. Kita terlalu takut dengan ancaman Kakek. Hingga membuat keduanya terpisah" ucap tuan Lee sendu.


"Biarkan mereka bertemu akhir tahun ini. Para gadis itu kekeuh akan pergi ke sana untuk menonton konser BTS. Dan bisa dipastikan para pria akan mengawal mereka.Kita akan menyusul lalu kita pertemukan mereka. Mereka berhak tahu satu sama lain" usul tante Sofia.


Tuan Lee hanya menghela nafasnya.


"Aku merindukannya Mas" ucap tante Sofia lirih. Dan kembali tuan Lee menghela nafasnya lagi.


"Aku harap semua kesalahpahaman ini akan berakhir" ucap tuan Lee.


*


Up lagi readers. Alhamdullillah, karya author ini lagi dapat promosi dari NT. Jadi mohon dukungannya ya readers,


Jangan lupa buat like, vote, gift and comment,

__ADS_1


Happy reading and salam sayang dari author, muah 😘😘😘


"


__ADS_2