Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 67


__ADS_3

"Kenapa kau lakukan ini kepada kami?" tanya seorang pria. Jelas terlihat sebuah luka tembak telah bersarang di kakinya. Di sampingnya seorang perempuan tergeletak. Berlumuran darah. Sudah jelas kalau perempuan itupun sudah meninggal


"Kau tanya kenapa? Tanya pada dirimu sendiri. Kenapa kau berani menerimanya dari kakek?" tanya pria yang satunya lagi. Wajahnya menyiratkan amarah yang sangat besar. Satu tangannya memainkan sepucuk pistol dengan santainya.


"Bukankah kakek juga memberikan bagian yang sama kepadamu? Aku memiliki lebih banyak karena ayah menghibahkan semua sahamnya padaku," pria itu berusaha menjelaskan. Sambil menahan sakit di kakinya.


"Kau bohong. Kakek lebih sayang padamu. Makanya dia memberikan lebih banyak padamu."


"Aku tidak bohong. Kau bisa mengeceknya kalau kau tidak percaya."


"Hah!! Aku tidak percaya!!"


"Kenapa kau tidak percaya padaku. Bukankah kita saudara," pria itu mencoba membujuk pria yang satunya.


"Saudara katamu? Kalau kau memang saudaraku. Seharusnya kau membantuku mendapatkan Sofia."


"Sofia tidak mencintaimu. Dia mencintai Jae Ha. Kenapa kau tidak bisa melepaskannya. Dia sudah bahagia dengan keluarganya. Lagipula bukankah kamu sudah memiliki anak dan istri. Apa mereka belum cukup untukmu."


"Diam!! Jangan coba-coba untuk menasehatiku. Kalau aku tidak bisa mendapatkan Sofia. Maka diapun tidak akan pernah bahagia."


"Tolong hentikan semua ini. Kau hanya akan membuat semua orang menderita. Terlebih anak dan istrimu."


"Jangan banyak bicara!"


"Baik kalau begitu. Lenyapkan saja aku. Tapi aku mohon jangan kau teruskan niatmu untuk menyakiti semua orang."


"Aku memang akan melenyapkanmu. Kau jangan khawatir. Sebentar lagi kau akan menyusul istrimu, Vina."


"Jangan menyakiti orang lagi, Kak. Atau kakak akan menyesalinya."


Kata-kata terakhir Henri, membuat emosi pria yang ada didepannya langsung meroket seketika. Dan, "doooorrrr" satu tembakan melesat tepat ke jantung Henri. Membuatnya roboh seketika disamping tubuh sang istri, Vina.


"Kau terlalu banyak bicara," ucap pria itu tanpa rasa bersalah. Lalu ia melangkah keluar dari rumah itu. Tanpa sadar sepasang mata menyaksikan semua peristiwa mengerikan itu dari dalam lemari di sebelah kiri. Ia hanya menangis tanpa bisa melakukan apapun. Melihat kedua orang tuanya meninggal di depan matanya.


"Hah," sebuah helaan nafas terdengar. Diiringi suara nafas yang memburu. Mike terbangun tiba-tiba dari mimpi buruknya. Biasanya mimpi buruknya hanya datang sepotong- sepotong. Tapi kali ini aneh. Ini seperti bukan sebuah mimpi. Hingga akhirnya dia menyadari.


"Ini bukanlah sebuah mimpi. Ini adalah ingatanku yang hilang. Dan dia adalah orang yang sudah melenyapkan orang tuaku," batin Mike.


Emosinya langsung meluap. Rahangnya mengeras. Berusaha menahan gejolak amarah yang siap meledak.


"Aku akan memberikan keadilan untuk papa dan mamaku. Kau tunggu saja hari itu tiba," guman Mike.


*****


Matahari mulai menampakkan dirinya di sisi barat. Sinarnya mampu menerangi kamar Nina. Walau tidak bisa menembus masuk. Sebab kaca jendela yang dipakai memiliki ketebalan yang sanggup menahan lesakan peluru.


Hingga cahaya mataharipun tidak mampu menembusnya.


Namun kacanya mampu menyerap radiasi ultra violet yang berbahaya. Alhasil hanya cahaya matahari yang mengandung vitamin D saja yang bisa menerobos masuk.


Nina mengeliat pelan dalam tidurnya. Tubuhnya terasa letih. Dia perlahan membuka matanya. Menyesuaikan dengan cahaya di kamarnya.


Melirik ke jam dinding di sudut kamar. Pukul 9. Dia hanya menghela nafasnya. Dia memang tidak berniat masuk kerja hari ini. Perlahan matanya menangkap siluet sebuah kotak beludru berwarna merah. Yang ia tahu persis apa isinya.


Perlahan air matanya kembali mengalir. Dia begitu kecewa dengan Lee Joon, pria yang semalam hampir saja melecehkan dirinya. Namun, ia juga ingat bagaimana pria itu begitu menyesali tindakan gilanya semalam.


Pria itu tidak berhenti meminta maaf padanya. Entah berapa kali, hingga Nina sampai tidak menyadarinya. Entah dia pingsan atau tidur di pelukan pria itu.


Dia sedikit ketakutan saat mengingat wajah Lee Joon yang begitu ingin menidurinya semalam. Ada sedikit trauma untuk bertemu pria itu.


Triiing,


Ponsel di atas nakas berbunyi, sebuah pesan masuk.

__ADS_1


"Tidak perlu masuk kerja dulu. Beristirahatlah. Dan maafkan aku,"


Satu pesan dari Lee Joon, membuat Nina langsung ingin membanting ponselnya. Namun urung dilakukan. Hingga akhirnya dia hanya melemparkannya ke sofa yang ada di sisi kanannya.


"Dasar brengsek," umpat Nina. Lantas masuk kembali ke dalam selimutnya.


Joon mengerutkan dahinya. Hari ini berpuluh-puluh kali ia menghubungi ponsel Nina. Namun tidak juga diangkat.


"Pasti dia masih marah padaku. Atau dia menghancurkan ponselnya. Apa perlu aku beli counter hp?" batin Joon.


Mengingat bagaimana Nina hobi membanting ponsel kalau sedang marah. "Ada masalah Bos?" tanya Max. Mereka sedang bersiap untuk meeting ke luar. Menemui seorang klien. Ikutkan hati Joon sebenarnya Joon ingin diam saja di kamarnya. Menemani Nina dan memastikan kalau gadis itu betul-betul telah memaafkannya. Dia benar-benar menyesali tindakannya semalam. Dia kehilangan kendali dirinya waktu itu.


"Ah, dia pasti sangat marah dan membenciku," batin Joon.


Joon hanya bisa menghela nafasnya pelan.


"Tidak ada. Ayo pergi sekarang," ucap Joon.


Sedang di sisi lain, Dokter Pras begitu bahagia. Ketika mendapat laporan, kalau Mike berhasil mengingat sebagian masa lalunya.


Dia langsung melesat ke rumah sakit tempat di mana Mike dirawat. Di sana sudah ada sang putri, Maya yang sudah beberapa hari tidak ditemuinya. Beruntungnya lebam dan memar di wajahnya sudah menghilang. Hingga Maya tidak menaruh curiga sama sekali.


Mereka saling berpelukan melepas rindu. Setelah beberapa hari tidak bertemu. Maya benar-benar menganggap ayahnya sedang dinas ke luar kota. Padahal sang ayah "ngumpet" di rumah sakit.


Dokter Pras begitu sumringah bertemu Mike pagi itu. "Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya dokter Pras. Mike benar-benar bisa menemukan sosok ayahnya yang hilang dalam diri dokter Pras. Bahagia yang ia rasakan saat bisa bertemu dengan dokter Pras.


"Aku baik-baik saja, Dok," jawab Mike sambil tersenyum.


"Aku mendengar kamu ingin bertemu denganku?"


"Iya, Dok, aku rasa aku ingat sesuatu tentang masa laluku," Mike menjeda ucapannya. Dokter Pras hanya diam menunggu Mike meneruskan ceritanya.


"Dan karena ingatan yang berhasil aku ingat sangat penting jadi aku perlu dokter untuk memeriksanya," lanjut Mike.


"Soal apa?" dokter Pras mengerutkan dahinya mendengar cerita Mike.


"Pembunuhan orang tuamu? Orang tuamu dibunuh maksudmu?" tegas Dokter Pras. Dan Mike mengangguk.


"Akulah saksi satu-satunya. Dan aku tahu dengan jelas siapa pelakunya. Jadi aku ingin Dokter mengesahkan bahwa aku sudah sembuh. Dan bahwa ingatanku adalah sebuah kebenaran. Bukan hasil dari fantasiku atau manipulasi ingatan atau apapun itu. Aku ingin membawa manusia jahanam itu membayar atas apa yang sudah dia lakukan kepada Papa dan Mamaku." Mike mengakhiri ucapannya dengan airmata yang mulai menetes di pipinya.


Menyadari setelah sekian lama, dia baru bisa mengingat bagaimana orang tuanya meninggal.Terlebih dia bisa melihat dengan jelas bagaimana sang mama meninggal sambil tersenyum ke arahnya. Seolah ingin memberitahu bahwa semua akan baik-baik saja.


Rasa dendam jelas terukir di hati Mike. Ikut hati dia ingin langsung melenyapkan orang itu sekarang juga. Tapi itu tidak mungkin ia lakukan.


"Baik kalau begitu. Dalam beberapa hari ke depan, kamu akan menjalani beberapa tes untuk mengujimu. Agar kamu mendapatkan sertifikat kesembuhan yang akan membuat ingatanmu bisa dianggap sebagai sebuah kesaksian yang legal di mata hukum. Jika mereka membutuhkan saksi ahli. Jangan ragu untuk memberitahuku. Aku dan yang lainnya pasti akan membantu," ucapan dokter Pras membuat senyum terukir di bibir Mike.


"Terima kasih Dok. Terima kasih," ucap Mike sumringah.


"Sudah tugasku. Senang melihatmu bisa mengingat masa lalu. Walaupun pahit rasanya bagimu."


"Anda benar Dok, tapi setidaknya akupun bisa mengingat kenangan indahku bersama mereka. Dan mengubur yang buruk."


"Kamu benar sekali. Selamat. Sekali lagi selamat."


Dan begitulah, selama beberapa hari Mike menjalani serangkaian tes untuk menguji bahwa dia sudah sembuh dari gangguan kesehatan mentalnya.


Selama beberapa hari itu juga. Nina terus berusaha menghindari Joon. Terhitung sudah tiga hari, Nina selalu main kucing-kucingan dengan Joon. Tentu saja yang menjadi korban di sini adalah Karin.


Setiap malam Nina selalu tidur di tempat Karin dan enggan menemui Joon yang selalu datang ke unit Karin.


"Kalian sedang bertengkar?" tanya Karin pada akhirnya. Dia lelah menjadi pos penghubung untuk keduanya. Karena Nina sama sekali tidak menggunakan ponselnya selama tiga hari ini.


"Kami sedang perang dingin?" jawab Nina cuek sambil memร kan cemilan.

__ADS_1


"Kamu yang perang dingin. Jelas-jelas Lee Joon selalu ingin mengajakmu bicara. Kamunya yang tidak mau. Jadi kapan kalian akan gencatan senjata?"


"Tidak tahu," jawab Nina cuek.


"Lalu di mana ponselmu?"


"Tidak tahu," kembali Nina menjawab singkat. Tensi darah Karin langsung meroket. Karin mendekati Nina yang tengah duduk dengan santai di sofa miliknya. Sejenak diperhatikannya temannya itu. Hingga ia tanpa sengaja melihat tanda merah di leher Nina.


"Nina apa kamu habis berci*ta dengan Lee Joon? Dan kamu marah padanya? Apa dia memaksamu?" cecar Karin. Nina langsung menyemburkan kembali cemilan yang tengah dikunyahnya.


"Tentu saja tidak..Siapa yang bilang begitu?" sangkal Nina.


"Itu ada tanda merah di lehermu," ucap Karin sambil menunjuk leher Nina. Nina sejenak mengambil cermin yang kebetulan ada di sampingnya. Memandangi lehernya sendiri.


"Oh ini aku tidak sengaja melukai leherku sendiri," ucap Nina berusaha santai. Hatinya kembali kembali dipenuhi amarah. Teringat kembali bagaimana Lee Joon memaksa dirinya.


"Aku masih marah dan kecewa padamu!"


"Apa kamu mau bunuh diri? Melukai lehermu sendiri. Yang benar saja," Karin kembali berujar.


"Ya boleh dibilang seperti itu," gumam Nina hampir tidak terdengar.


"Apa? Apa kamu mengatakan sesuatu?"


"Aaah itu...tidak," sahut Nina gelagapan.


Karin ingin bertanya kembali tapi urung dilakukan karena terdengar pintu yang digedor dari luar. Nina sudah ingin lari ke kamar Karin. Ketika Karin berbalik dan berkata,


"Jangan lari lagi. Dan selesaikan perang dingin kalian," ucap Karin dengan nada penuh intimidasi, membuat Nina langsung duduk kembali. Merapatkan tubuhnya ke sofa. Ketakutan jelas terlihat di wajahnya.


"Baby, buka pintunya. Mari kita bicara," ucap Joon sambil mengetuk pintu dengan kuat hingga lebih mirip sebuah gedoran ketimbang ketukan.


"Iya-iya, aku buka."


"Mentang-mentang rumah sendiri. Ketuk pintu sudah seperti maling mau ngerampok aja," gumam Karin sambil membuka pintu.


Begitu pintu dibuka, Lee Joon langsung menerobos masuk. Karin hanya bisa mengelus dadanya.


"Astaga, Tuan Muda Lee!" teriaknya membahana di unitnya sendiri.


"Sabar," ucap Max yang ternyata ikut datang.


"Sudah habis ini stocknya."


"Beli lagi yuk di mall," goda Max.


"Kamu pikir baju? Beli di mall," ucap Karin sambil memanyunkan bibirnya.


Max hanya bisa mengusap-usap punggung kekasihnya itu. Berusaha menenangkan.


"Baby" panggil Joon ketika sudah berada di hadapan Nina. Nina mengangkat wajahnya. Lantas dengan cepat memundurkan dirinya. Menjauh dari Lee Joon.


"Jangan mendekat," ucap Nina hampir berteriak. Joon terkesiap. Sebegitu parahnyakah dia telah melukai gadis di hadapannya ini? Hingga reaksinya tetap sama seperti terakhir kali mereka bertemu.


"Jangan mendekat aku bilang," ucap Nina lagi. Hal itu membuat Karin dan Max ikut melongo. Mereka bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi di antara kedua bos mereka itu.


*****


Met pagi readers. Tempatku hujan deras. Jadi malas mau ngapa-ngapain. Jadi up aja deh.


Happy reading ya,


Jangan lupa like, vote and comment,

__ADS_1


Salam sayang dari author, ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


*****


__ADS_2