
Hari itu wajah Nina begitu sumringah. Mereka selesai berkonsultasi dengan dokter Rita. Dan dokter Rita mengatakan tidak ada masalah jika Nina ingin melahirkan normal. Hati Lee Joon kebat-kebit dibuatnya.
Namun dokter Rita menenangkan Lee Joon.
"Bapak akan melihat betapa hebatnya seorang wanita ketika sedang melahirkan," ucap dokter Rita sambil tersenyum.
Namun karena kehamilan kembar. Dan yang dilahirkan dua. Dokter Rita menyarankan Nina untuk mempersiapkan staminanya. Mulai mengkonsumsi makanan yang lebih banyak gizinya. Dan tetap rutin melakukan senam hamil.
Hal yang paling mencengangkan adalah ketika Jae Kyung dengan terpaksa harus menggantikan posisi kakaknya menemani Nina menghadiri kelas senam hamil. Karena hari itu ada kelas couple. Sedang Lee Joon masih ada dinas ke Bandung.
"Kamu nggak salah nyuruh aku gantiin kamu ke kelas ibu hamil istrimu. Oh come on, jangan mempersulit posisiku," keluh Jae Kyung.
"Sulit apanya? Kamu tinggal berangkat. Temani dia senam. Habis cerita," cuek sang kakak.
"Posisi hatiku maksudku. Aku mati-matian menghindar malah kamu menyuruhku mendekat. Bagaimana caranya bisa move on kalau begini," umpat Jae Kyung dalam hati.
Dan akhirnya walau dengan berat hati dia berangkat juga.
"Tidak usah dipaksa kalau tidak mau. Disana ada kok instruktur yang bantu kalau suami berhalangan hadir," ucap Nina ketika melihat wajah masam Jae Kyung.
"Laki apa perempuan," tanya Jae Kyung.
"Ya lakilah wong gantinya suami," jelas Nina.
"Ayo berangkat kalau begitu," balas Jae Kyung.
"Mending aku yang pegang daripada dia dipegang pria lain," batin Jae Kyung.
"La... hei mau kemana?" tanya Nina.
Ketika melihat Jae Kyung masuk ke Ferrari-nya.
"Berangkatlah," jawab Jae Kyung bersiap masuk ke Ferrari-nya.
"Jangan pakai itu. Pakai ini saja. Itu terlalu rendah aku tidak nyaman," ucap Nina.
Jae Kyung langsung menepuk dahinya pelan. Lupa dengan perut besar kakak iparnya. Lantas menjauh dari Ferrari-nya dan masuk ke Fortuner yang memang lebih tinggi posisi tempat duduknya. Walaupun Nina sedikit kepayahan saat menaikinya.
Kredit google.com
Dan dimulailah hari Jae Kyung menjadi suami pengganti bagi Nina ke kelas ibu hamil. Wajahnya yang persis sama dengan Lee Joon membuat dirinya lebih mudah melakukan tugasnya. Tanpa banyak yang bertanya.
Jae Kyung begitu menikmati perannya sebagai suami pengganti. Membantu wanita yang tengah hamil besar itu melakukan beberapa gerakan senam khusus bagi ibu hamil. Rona bahagia jelas tepancar dari wajah Jae Kyung.
"Bolehkah aku bermimpi jika hal ini nyata," batin Jae Kyung.
Menatap Nina dalam, ketika Nina tengah memejamkan mata saat sesi pendinginan berlangsung. Peluh masih bercucuran di wajah dan sekujur tubuh Nina. Membuatnya terlihat sangat seksi di mata Jae Kyung.
"Oh tidak. Tidak. Otak, otak jangan berpikiran yang aneh-aneh. Tolong kondisikan. Tolong kondisikan," Jae Kyung tengah merapalkan doa. Agar tidak bertingkah aneh di depan kakak iparnya.
"Sudah selesai?" tanya Jae Kyung saat melihat Nina sudah keluar dari ruang ganti. Nina mengangguk. Jae Kyung mengambil barang bawaan Nina dari tangan Nina. Lantas mengikuti bumil itu keluar dari ruangan itu.
"Mau kemana lagi?" tanya Jae Kyung.
__ADS_1
"Kamu sibuk tidak?" tanya Nina balik.
"Kalau aku sibuk, aku tidak di rumah Nyonya," jawab Jae Kyung.
"Bisa antarkan aku ke rumah mbak Dina? Dia baru lahiran. Seharusnya aku pergi dengan Lee Joon hari ini. Tapi nyatanya dia belum pulang," ucap Nina.
"Hubungi dulu suamimu. Tanya boleh tidak aku yang ngantar. Kalau boleh ya tak hantar kalau tidak ya kita pulang," saran Jae Kyung. Tidak ingin terjadi salah paham di antara kakak dan istrinya itu.
Segera Nina menelepon Lee Joon. Suaminya. Tak lama kemudian Nina mengatakan kalau boleh. Lagipula ternyata urusan di Bandung lebih rumit dari yang Lee Joon bayangkan. Hingga mungkin besok mungkin dia baru bisa pulang.
Wajah Jae Kyung kembali berbinar cerah. Bisa menghabiskanl lebih banyak waktu bersama Nina.
Doni dan Dina jelas terkejut melihat Jae Kyung yang mengantar Nina ke apartemen mereka.
"Kalian tidak sedang berselingkuh kan?" tanya Doni tanpa filter.
"Enak saja bilang selingkuh. Dia sudah minta izin suaminya," jelas Jae Kyung.
"Baguslah. Jangan sampai terjadi perang saudara," kelakar Doni.
"Iya, iya aku tahu" jawab Jae Kyung.
Dan keempatnya mulai mengobrol ngalor ngidul tidak karuan. Sambil sesekali Nina dan Jae Kyung menggendong Vino. Anak Doni dan Dina.
"Makanya cepet nikah. Biar punya sendiri," seloroh Dina.
"Nggak ah. Enak minjem gini. Lihat orang hamil susah. Kasihan," jawab Jae Kyung tanpa sadar sambil menggendong Vino yang tampak anteng tertidur di lengan kokoh Jae Kyung.
Perkataan Jae Kyung sontak membuat ketiganya saling pandang sambil mengulum senyum.
"Tu....." ucap Jae Kyung menunjuk Nina dengan dagunya.
"Tapi aku bahagia lo menjalaninya. Jangan salah," bela Nina.
"Tetap saja kasihan," kekeuh Jae Kyung.
"Jadi kamu nggak mau punya anak?" tanya Dina.
"Mau dong," jawab Jae Kyung.
"Lah kalau nggak nikah mau punya anak dari mana. Jangan main tanam saham sembarangan," nasihat Doni.
"Enak saja tanam saham sembarangan. Bibit kelas premiumku tentu saja tidak boleh ditanam di sembarang tempat," sahut Jae Kyung yang langsung mendapat pelototan dari ketiga orang itu.
"Wah sekolah dari mana kamu. Bisa ngomong kayak gitu," canda Dina.
"Ada deh," jawab Jae Kyung santai.
"Lalu dapat anak dari mana?" tanya Nina.
"La kan anakmu kalau cewek bakal jadi anakku," jawab Jae Kyung.
"Enak saja," balas Nina.
Jae Kyung hanya nyengir mendapat pelototan dari kakak iparnya.
__ADS_1
Bulan berganti. Pagi itu entah mengapa perasaan Nina tidak nyaman dari pagi. Perutnya terasa berputar-putar tidak karuan.
Sedang Lee Joon hari itu ada pekerjaan di pelabuhan. Mengecek langsung kegiatan ekspor impor yang berada di bawah naungan Affandi Corp. Perusahaan yang diwariskan oleh ayah angkatnya. Burhanuddin Affandi. Lee Joon pergi bersama Doni.
Jauh sih tidak. Tapi kalau jalanan ke pelabuhan tahu sendiri. Pasti macet. Kan harus berjibaku dengan ribuan truk kontainer yang akan masuk dan keluar dari dan ke pelabuhan.
Sedang mamanya sedang ada arisan dengan geng sosialitanya. Dan yang tidak diduga. Yang di rumah hanya ada Jae Kyung dan bik Sumi. ART mereka.
Nina terus meringis merasa ngilu di pinggangnya. Dia pikir apa sudah waktunya. Tapi HPL-nya masih bulan depan.
Dia teringat cerita mbak Dina-nya. Vino putra mereka lahir 2 minggu lebih awal dari hari perkiraan lahirnya. Beruntungnya Dina sudah mempersiapkan semuanya. Jadi tidak terlalu jadi masalah.
Mengikuti saran Mbak-nya akhirnya setelah acara mitoni kemarin. Acara tujuh bulanan khas Jawa. Dia dan Lee Joon sudah berbelanja kebutuhan bayi mereka. Namun tak banyak karena sebagian sudah dicicil mama mertuanya. Tiap ngemall mamanya itu selalu beli baju bayi walau cuma satu. Katanya tidak tahan lihat baju-baju bayi yang lucu. Pengennya ngeborong. Ucap mamanya kala itu. Bahkan Jae Kyung ikut heboh. Ikut membeli baju-baju bayi. Tapi semuanya baju perempuan.
Lee Joon jelas kesal dibuatnya. Kamu pilih kasih ucapnya saat itu. Tapi Jae Kyung berkata kan anakku yang perempuan jadi anak kalian ya kalian yang belikan baju.
Semua sudah dimasukkan ke dalam sebuah tas. Dan sudah dimasukkkan ke Fortuner mereka. Yang resmi menjadi kendaraan dinas. Selama Nina hamil.
Nina menuruni tangga sambil terus meringis.
"Kamu kenapa?" tanya Jae Kyung. Melihat Nina meringis.
"Nggak tahu. Rasanya ngilu, panas pinggangku," jawab Nina.
"Sudah waktunya apa?" tanya Jae Kyung lagi.
"Perkiraan masih bulan depan. Tapi tidak tahu. Aaahhh," jawabnya sambil meringis.
"Non kenapa?" tanya bik Sumi.
"Gak tahu ni Bi. Sakit," jawab Nina.
Rasa sakitnya sebentar datang. Sebentar pergi. Persis seperti cerita Karin dan Mbaknya ketika mereka mau melahirkan.
"Apa kalian sudah ingin melihat dunia?" batin Nina sambil mengelus perutnya.
"Apa perlu ke rumah sakit sekarang?" tanya Jae Kyung mulai panik.
"Non, kadang ada lo yang hamil anak kembar yang lahir lebih dulu. Maksudnya sebelum HPL sudah lahir," ucap bik Sumi.
"Masa sih Bi?" tanya Nina lagi. Bi Sumi mengangguk.
"Apa iya ia akan melahirkan sekarang?" batin Nina lagi.
******
Up lagi readers,
Thank's sudah mampir,
Happy reading everyone,
Love you all 😘😘😘😘
******
__ADS_1