Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 30


__ADS_3

"Karin, Karin, tunggu. Dengarkan aku dulu."


Nina benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Dia benar-benar kehilangan kata-kata. Dia tengah berlari mengejar Karin yang langsung keluar dari ruang HRD. Begitu mendengar keputusan kalau dia akan ikut dimutasi bersama Nina ke Jakarta.


Nafas Nina tersengal-sengal ketika ia berusaha meraih lengan sahabatnya, agar mau berhenti dan mendengarkan penjelasannya.


"Karin, sungguh aku minta maaf. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk melibatkanmu dalam hal ini."


Karin masih terdiam sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ekspresinya datar, tidak terbaca oleh Nina. Entah gadis itu marah atau tidak. Nina tidak tahu.


"Aku pikir dengan mengajukan syarat seperti itu,mereka tidak jadi memutasiku.Tapi ternyata semua tidak seperti dugaanku. Aku minta maaf. Aku sungguh minta maaf."


Karin masih diam.


"Aku akan bilang ke mereka kalau kamu tidak mau dimutasi kalau begitu," ucap Nina lantas berbalik akan kembali masuk ke ruang HRD lagi. Ketika tiba-tiba tangan Karin menahannya.


"Eeeeehhh, siapa yang bilang tidak mau," cegah Karin buru-buru.


Sekarang giliran Nina yang terdiam. "Siapa yang bilang aku tidak mau di mutasi bareng kamu. Aku mau kok."


Perkataaa Karin langsung membuat Nina mengembangkan senyumya. "Kamu beneran nggak marah?"


"Siapa juga yang marah?" Nina menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Aku pikir kamu marah padaku karena aku melibatkanmu dalam hal ini."


"Aku tidak marah kok. Malah aku senang. Kapanlagi bisa pergi ke Jakarta. Langsung kerja lagi. Walaupun nggak tahu kita bakal kerja apa di sana," jawab Karin sambil nyengir.


"Akan aku pastikan kalau kamu dapat kerjaan yang bagus. Kalau nggak kita pulang aja. Kita cari yang lain."


"Oke deh," jawab Karin sambil mengacungkan jempolnya.


Sementara itu Joon benar-benar pindah ke rumah orang tuanya ketika Nina setuju untuk di mutasi.


"Bos, kamu beneran pindah ke rumah utama. Dan kekasihmu akan tinggal di apartemenmu?"


"Hemm."


"Ya...aku jadi sepi dong, nggak ada temen,"


Mengingat hanya ada 2 unit di lantai mereka. Yang hanya ditempati dirinya dan Joon, tapi sekarang Joon akan kembali ke rumah utama jadi tinggal dirinya saja di lantai itu.


"Kamu jangan macam-macam dengan Nina, mengerti?" ucap Joon dengan tatapan membunuh.

__ADS_1


"I- iya bos"


"Siapa juga yang berani nggangguin milik kamu Bos. Walaupun beningnya minta ampun."


"Lalu bagaimana dengan temannya itu?"


"Aku membuka satu unit lagi, satu lantai di bawahmu."


"Oooooo," Max hanya ber-ooo ria.


"Benar-benar deh si Bos ni. Demi kekasih tercinta apapun dilakukan. Secinta itukah bosnya itu kepada kekasihnya," Max kembali membatin.


"Temannya pacar Bos cantik nggak?"


"Aku tidak tahu. Aku hanya pernah bertemu dengannya dua kali. Awas ya kalau kamu berani macam-macam dengan mereka," ucap Joon kembali penuh ancaman.


"Ah nggak Bos. Mana berani aku," jawab Max gelagapan.


"Kapan mereka berangkat?"


"Besok malam menurut schedule. Sehingga mereka bisa istirahat 2 hari sebelum mulai masuk minggu depan."


"Aku sudah tidak sabar bertemu denganmu, Baby. Aku merindukanmu," batin Joon sambil menatap bayangan dirinya di jendela full kaca di ruangannya.


***


***


Joon mulai pulang ke rumah utamanya hari itu. Mama dan papanya baru pulang dari Bali beberapa waktu lalu. Ya, tuan Lee Jae Ha benar-benar menepati ucapannya soal mengambil liburan.


Mobil Joon mulai memasuki gerbang rumahnya yang terletak di daerah Bogor. Kota yang terkenal dengan hawa sejuknya lantaran hujan yang kerap menerpanya. Ya iyalah, orang julukannya kota hujan.


Joon memutuskan untuk mulai memakai mobil sendiri. Mengingat jika dia harus menyuruh Max untuk menjemputnya pasti akan sangat merepotkan. Harus memutarbalik. Rumah dan apartemen mereka berlawanan arah. Dan lagi jarak rumah ke kantor memang lumayan jauh.


Joon mulai memasuki rumah bernuansa minimalis bercat putih itu. Minimalis dan sederhana untuk ukuran orang kaya seperti Joon dan keluarganya. Karena alih-alih membangun mansion atau rumah yang besar, mamanya Joon, Sofia lebih memilih rumah yang lebih sederhana. Sofia memang tidak suka dengan sesuatu yang serba wah. Mengingat dia pun bukan berasal dari keluarga yang kaya seperti suaminya.


Rumah dua lantai bercat putih itu nampak asri dengan sebuah taman kecil di bagian depannya. Dibatasi sebuah tembok yang menjulang tinggi mengingat rumah Joon langsung berbatasan dengan jalan raya.


Sebuah kolam renang terbentang di halaman belakang. Berbatasan langsung dengan ruang keluarga yang berdinding kaca transparan.


"Kamu sudah pulang, Nak?" sapa sang Mama ketika melihat kedatangan sang putra.


"Hmmm," Joon langsung merebahkan dirinya di sofa ruang keluarga. Yang pemandangannya langsung mengarah ke kolam renang. Dia pikir sudah lama sekali dia meninggalkan rumah ini. Semua masih terlihat sama seperti terakhir kali dia pergi dari rumah itu.

__ADS_1


"Ingin minum sesuatu," tanya sang Mama yang muncul dari arah dapur yang terletak di antara ruang tamu dan ruang keluarga.


"Nanti saja Ma, Joon ingin berendam. Capek banget. Papa mana?"


"Di kamar baru saja naik."


"Joon naik." Pria itu lantas melesat ke lantai dua rumahnya menuju kamarnya, yang entah sudah berapa lama tidak ia tempati.


Sebuah kamar luas bernuansa abu-abu menyambut Joon, ketika ia membuka pintu kamarnya. Langsung menuju kamar mandi. Melucuti pakaiannya satu persatu, menampilkan tubuh atletis dan proporsionalnya.


Mengisi bath up dengan cepat, lantas mulai masuk ke dalamnya. Berusaha mencari posisi paling nyaman untuk menikmati sesi berendamnya.


" Ah nyamannya." Joon mulai memejamkan matanya. Menikmati aromaterapi yang merilekskan tubuh lelahnya. Dia sangat lelah akhir-akhir ini. Dia pikir akan menikmati waktu weekendnya minggu ini di rumah.


Esok Nina mungkin sudah sampai. Tapi dia belum ingin menemuinya walau rasa rindu sangat menyiksa. Ia ingin memberi Nina surprise saat bertemu gadis itu di kantor. Sebab sejatinya Nina belum tahu siapa Joon yang sebenarnya.


"Aku benar-benar ingin melihat reaksimu saat kita bertemu di kantor," gumam Joon.


"Ah.... aku benar-benar merindukannya."


Joon sedang menikmati waktu berendamnya ketika sebuah mobil van mewah menjemput Nina di rumahnya. Nina dan Karin langsung melongo dibuatnya.


"Ini beneran mobil jemputan kita?" tanya Karin tidak percaya.


"Pak, ini beneran mobil jemputan kita?" tanya Nina kepada sang sopir.


"Iya Mbak, atas nama Karenina Putri to?"


"Iya Pak, saya sendiri,"


"Beneran kok ini mobilnya," kata Nina kepada Karin.


"Busyet deh, aku jadi penasaran seperti apa sih Bos besar di balik semua ini." Yang juga diiyakan oleh Nina. Dia juga penasaran, siapa yang sudah mengirimkan semua ini untuknya.


Dan setelah drama perpisahan yang penuh haru dan air mata. Saling memeluk satu sama lain. Saling meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Nina dan Karin mulai masuk ke dalam van. Diiringi lambaian tangan dari keluarga Nina dan Karin beserta para tetangga yang turut mengantarkan kepergian Nina. Mobil van itu perlahan mulai meninggalkan Yogjakarta menuju Jakarta.


Keduanya masih saling terisak meski van sudah berjalan hampir setengah jam. Mulai keluar dari wilayah Jogyakarta dan mulai memasuki wilayah Purworejo, Jawa Tengah.


"Semoga hal baik yang akan menanti kami di ibukota. Bapak, doakan Nina, semoga ini yang terbaik untuk Nina dan semuanya," sebait doa terucap di hati Nina untuk memulai perjalanan panjang dan kehidupan baru di ibukota.


Mencoba memantapkan hatinya, bahwa apa yang di pilihnya. Bahwa apa yang sudah ia putuskan adalah hal yang benar. Yang akan membawa kebaikan. Baik untuk dirinya maupun keluarganya.


"Ah... aku akan akan memulai kehidupan yang baru di ibukota. Jakarta, aku datang. Mari kita berjuang bersama," batin Nina kembali dalam hati.

__ADS_1


****


__ADS_2