Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 107


__ADS_3

"Hubby, Hubby tunggu dulu. Jelaskan dulu penjelasanku," ucap Nina sambil berusaha mengejar suaminya. Yang dengan cepat menuruni anak tangga. Nina jelas tidak berani melakukan itu. Ia menuruni anak tangga dengan pelan.


"Hubby, dengar dulu," pinta Nina lagi.


"Sekali tidak.Tetap tidak!" tegas Lee Joon.


Dan blaaammm!!


Suara pintu mobil dibanting kasar oleh Lee Joon. Dengan penuh amarah pria itu melajukan mobilnya keluar dari garasi rumah mereka.


Nina menatap nanar kepergian sang suami dengan air mata mengalir di matanya. Semua yang tengah makan pagi hanya saling pandang, memandang pertengkaran pasangan suami istri itu.


Jae Kyung mulai emosi melihat kakak iparnya menangis. Tapi usapan lembut sang mama langsung menenteramkannya. Seakan kode jika itu bukan urusannya. Jae Kyung akhirnya hanya bisa menghela nafasnya pelan. Melihat kakak iparnya melangkah naik kembali ke lantai dua. Sambil mengusap perutnya yang sudah mulai membuncit.


"Ada masalah, Sayang?" tanya Sofia lembut. Calon ibu itu tengah meringkuk di sofa kamar mereka. Menghadap balkon yang dipenuhi tanaman hias berwarna hijau. Sangat menyejukkan mata.


"Ma, Lee Joon tidak setuju jika aku melahirkan normal," keluh Nina.


"Kamu tahu alasannya?" tanya Sofia. Nina menggeleng.


"Dia tidak ingin kamu kesakitan. Tidak ingin kamu dalam bahaya," jelas Sofia.


"Tapi Ma, Nina merasa yakin bisa dan kuat untuk melahirkan mereka secara normal," kekeuh Nina.


"Mama tahu. Mama juga dulu normal waktu melahirkan mereka. Dan bersyukur tidak ada masalah yang serius," ucap Sofia.


"Beneran. Mama juga normal waktu melahirkan?" tanya Nina antusias. Sofia mengangguk.


"Papamu juga sama. Awalnya tidak setuju untuk normal. Maunya caesar tapi perlahan Mama jelaskan dan akhirnya Papamu menyetujuinya," kata Sofia.


"Bicarakan baik-baik dengan suamimu. Dia berhak memutuskan karena itu anak kalian," saran Sofia.


"Dia begitu karena mencintaimu dan mencemaskan kalian. Ingat itu," tambah Sofia lagi.


Sedang di kantor. Lee Joon langsung membanting kasar pintu ruangannya. Membuat Max yang sudah sampai lebih dulu menatapnya heran.


"Ada apa?" tanya Max.


"Dia bersikeras untuk tetap melahirkan normal!" teriaknya pada Max.


Membuat Max menghela nafasnya.

__ADS_1


"Kamu sendiri yang cerita betapa menderitanya Karin saat melahirkan Rania normal," ucap Lee Joon.


"Lalu kamu ingin Nina melahirkan secara caesar?" tanya Max. Lee Joon mengangguk.


"Kamu tidak ingat asisten Jo hampir menangis menemani Nindy melahirkan Arya secara caesar," tanya Max.


Lee Joon terdiam.


"Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Itu tergantung keputusan istri kita. Tentu setelah dikonsultasikan dengan dokter," jelas Max. Lee Joon kembali terdiam.


"Yang penting jangan membuat emosi seorang ibu hamil terganggu. Itu akan berpengaruh pada kehamilannya. Coba aku tebak. Nina pasti menangis saat kamu pergi tadi," tebak Max.


Lee Joon tertegun. Dia sempat melihat Nina menangis sambil mengusap perutnya. Sesaat sebelum dia keluar dari rumah mereka di Bogor.


"Oh God," ucapnya lirih. Rasa bersalah segera menyergap hatinya.


"Kamu harus mulai mengurangi sifat temperamentalmu. Kita sudah bukan pria lajang lagi. Aku, kamu, kita akan menjadi seorang ayah. Ada banyak hal yang harus kita perhatikan soal perilaku kita. Jangan sampai memberi contoh yang buruk pada anak-anak," jelas Max.


Wow!! Sejak kelahiran Rania, Max berubah sedikit demi sedikit. Dia lebih sabar. Lebih dewasa. Tidak asal saat mengambil keputusan dan tindakan.


Sedang di rumah. Nina sedang kepayahan karena muntah yang tengah melandanya. Hampir 7 bulan tapi terkadang dia masih muntah. Dia masih terus mengeluarkan isi perutnya ketika sebuah tangan kokoh serasa memijit pelan tengkuknya.


Sejenak Nina mengangkat wajahnya. Dilihatnya wajah Jae Kyung yang tengah menatap cemas ke arahnya.


"Kenapa perempuan begitu menginginkan hamil, jika ternyata hamil itu membuatmu menderita?" tanya Jae Kyung.


Nina terkekeh mendengar pertanyaan adik iparnya.


"Hamil adalah sebuah anugerah untuk semua wanita. Kami diberi kepercayaan menjadi tempat tumbuhnya sebuah kehidupan baru. Di sini," kata Nina sambil menunjuk perutnya.


"Walaupun rasanya kamu sendiri sudah melihatnya. Tidak senikmat waktu membuatnya kan?" tanya Nina lagi sambil terkekeh. Jae Kyung langsung membuang pandangan. Enggan membayangkan saat mereka tengah membuat bayi alias bercin**.


"Lagipula bukankah mengagumkan ketika milik kalian bertemu dengan milik kami hingga akhirnya bisa menumbuhkan sebuah kehidupan baru. Itu benar-benar luar biasa. Tidakkah begitu? Dan kami para wanita yang diberi kepercayaan untuk menjaga kehidupan itu. Hingga ia siap melihat dunia. Mengagumkan bukan?" tanya Nina.


Jae Kyung spechless tidak bisa menjawabnya.


"Apa yang kalian berdua lakukan?" tanya suara baritone itu menggelegar di seantero dapur.


Keduanya langsung menatap ke sumber suara. Melihat Lee Joon sudah berdiri di pintu dapur. Memandang curiga ke arah keduanya. Sedang keduanya masih berdiri di dekat wastafel. Berjaga-jaga jika Nina muntah lagi.


"Dia hanya menolongku saat aku muntah tadi," jelas Nina.

__ADS_1


Mereka sudah ada di kamar mereka. Lee Joon masih memandang curiga kepada Nina. Namun detik berikutnya dia hanya menghela nafasnya pelan.


"Jangan membuat emosi istrimu terganggu. Akan berpengaruh pada kehamilannya."


Sekilas dia teringat ucapan Max.


"Apa kamu sudah berkonsultasi pada dokter Rita soal keinginanmu untuk melahirkan normal?" tanya Lee Joon. Nina mengembangkan senyumnya. Suaminya sudah tidak marah, pikirnya.


"Belum, untuk itu aku ingin membicarakannya dulu denganmu. Setelah itu baru berkonsultasi dengan dokter Rita."


"Kamu tahu kenapa aku melarangmu melahirkan normal?" tanya Lee Joon.Nina mengangguk.


"Aku tidak ingin kamu kesakitan. Aku tidak ingin kamu berada dalam bahaya ketika melahirkan anak-anak kita. Aku tidak mau itu," ucap Lee Joon. Dia terlihat sangat rapuh saat mengucapkan hal itu.


"Kamu tahu Hubby, baik caesar maupun normal. Semua pasti merasakan sakit. Meski berbeda. Tapi sakit iya. Setiap proses persalinan pasti akan menempatkan si ibu dan bayinya dalam bahaya itu pasti. Tapi bukankah selama ini kita sudah berusaha meminimalkan resikonya. Agar baik aku, maupun mereka tetap baik-baik saja. Hubby biarkan aku menjadi perempuan yang sempurna bisa melahirkan mereka melalui jalan yang sudah dikodratkan oleh-Nya. Biarkan aku mencoba melahirkan normal dulu. Tentu jika medis mengizinkan. Tapi jika tidak, aku akan terima jika harus melalui caesar untuk membuat mereka bisa melihat dunia," jelas Nina. Mata Lee Joon berkaca-kaca.


Sebenarnya Nina ingin memberitahu Lee Joon bahwa wanita yang tengah melahirkan amal ibadahnya sama seperti wanita yang sedang bertarung di medan perang menurut agama mereka. Tapi hal itu urung dia lakukan. Takutnya malah membuat suaminya semakin takut menghadapi proses persalinannya nanti.


"Aku pikir dengan hamilnya kamu, aku akan merasa bahagia. Tapi ternyata tidak semudah itu ferguso!" kelakar Joon setengah menangis.


Nina terkekeh.


"Tetap berada disampingku. Jangan tinggalkan aku, saat aku sedang berusaha membuat anak-anak kita untuk melihat dunia. Itu sudah cukup bagiku. Jangan dibayangkan tapi cukup hadapi saja. Insyaallah semua akan baik-baik saja. Percayalah," ucap Nina lagi.


"Oh Baby, kamu tahu? Aku rela menukar semua yang aku punya bahkan nyawaku asal kalian baik-baik saja," ucap Lee Joon sambil terus memeluk Nina.


"Jangan bilang begitu. Kalau semua ditukar, aku tidak bisa hidup melarat. Kalau kamu pergi yang bantuin aku momong mereka siapa?" kelakar Nina.


"Baik-baik. Aku tidak akan menukar apapun. Tidak akan pergi ke manapun. Nanti tidak ada yang beliin es krim lagi kalau kita melarat," sambung Lee Joon. Keduanya tertawa.


"Aku sangat mencintai kalian," kata Lee Joon. Mencium bibir sang istri sekilas. Lantas mencium perut buncit sang istri. Hingga satu gerakan membuat Lee Joon semakin bahagia.


"We'll meet soon. Boy and Girl," ucap Lee Joon seolah membalas gerakan bayi mereka.


*****


Up lagi readers,


Thank's sudah mampir,


Happy reading everyone,

__ADS_1


Love you all 😘😘😘


****


__ADS_2