
Masih di weekend tiba,
Dua gadis itu dengan heboh langsung masuk ke salah satu mall di ibukota. Bergerak dengan lincah. Ke sana ke sini. Dari satu toko ke toko yang lain. Membeli apapun yang mereka mau.
Maklum ini pertama kali bagi keduanya ngemall. Setelah sekian lama mereka tinggal di ibukota.
Biasanya tiap weekend mereka akan berkunjung ke rumah Joon. Setelah Sofia tahu, kalau Karin juga ikut ke Jakarta dia meminta Nina untuk mengajak Karin kalau datang ke rumah. Kasihan kalau ditinggal di rumah sendirian. Lagian biar di sini juga tambah rame. Ucap Sofia kala itu.
Dan biasanya kalau Karin ikut, Max juga di paksa ikut. Biarpun kadang dia hanya tidur di sana. Maklum habis dinas semalam. Membuat papa dan mama Joon geleng-geleng kepala.
"Kapan anak itu akan berubah?" kadang Sofia bergumam sendiri.
"Nanti Ma, kalau dia sudah kepentok batunya pasti berubah," jawab sang suami.
Mereka sudah minta izin ke Sofia kalau hari ini tidak datang ke rumah. Mau "me time" kata mereka. Dan kebetulan Sofia dan sang suami juga ada arisan keluarga katanya.
Dan kita kembali ke yang lagi ngemall. Tangan keduanya sudah penuh dengan paperbag hasil hunting mereka ke sejumlah toko. Baju, sepatu dan pernak-pernik ala cewek semua mereka beli. Berbekal kartu sakti yang Joon berikan apa sih yang tidak bisa mereka beli. Hari itu mereka benar-benar menghilangkan stres mereka dengan berbelanja.
Apalagi Karin. Moodnya yang berantakan akhir-akhir ini mulai bertemu boosternya. Bagaimana tidak, dia berhasil mendapatkan sepatu incarannya.
"Capeknya," ucap keduanya hampir bersamaan. Membuat tawa keduanya langsung meledak. Bodo amat dengan pengunjung lain di restoran itu yang menatap mereka heran. Mereka tengah berada di sebuah restoran yang menyajikan masakan Jogja. Kangen masakan rumah kata mereka.
"Tinggal ngabisin aja capek. Apalagi yang nyari ya. Jadi nggak enak nih sama pacar kutub kamu," celetuk Karin yang terasa menohok perasaan Nina.
"Iya juga ya. Jadi nggak enak ini akunya," jawab Nina mengiyakan.
Tidak disangka si pemilik kartu sakti sudah nongkrong di parkiran depan mall. Menuruti ide Joon kemarin yang ternyata mau stalker cewek-cewek mereka. Ups masih calon cewek buat Max.
Masing-masing terlihat keren dengan outfit mereka. Kaos polos di bagian dalam, kemeja lengan panjang yang sudah digulung ke siku di bagian luar. Celana jeans. Dan sneakers. Outfit favorit cowok jaman now. Tak lupa kacamata hitam bertengger manis di hidung mancung mereka.
Mereka memang tidak mengikuti acara belanja para wanita mereka. Pasti merepotkan. Itu kata mereka. Cewek kan ribet kalau udah belanja. Imbuh keduanya. Lagipula kalau mereka ikut masuk belanja pasti mall akan heboh lihat ketampanan mereka. Kata mereka lagi. Kumat lagi narsisnya, itu kata Nina kalau dengar semua yang diomongin dua cowok itu.
"Berapa banyak yang mereka habiskan?" tanya Max. Kartu itu atas nama Joon jadi semua notifikasi penggunaan akan masuk ke ponsel Joon.
"Tidak ada satu persen dari isinya. Mereka masih terlalu ngirit untuk bisa menghabiskan kartuku," Max hanya mengulum senyum mendengar kesombongan bosnya itu.
"Tapi lihat deh cewek kamu belanja sudah seperti orang gila," dan Max pun ikut melihat ke ponsel bosnya. Melihat bagaimana tingkah Karin saat berbelanja. Benar-benar heboh.
"Mereka sudah selesai makan. Akan aku hubungi mereka," ucap Joon.
"Kamu di mana, Baby?"
"Lagi makan di mall. Habis ngabisin duit kamu."
"Itu masih kurang banyak belanjanya. Apa sudah selesai makannya?"
"Sudah. Bentar lagi mau pulang."
"Oke, aku tunggu di depan."
"Ha? Maksudnya?" Tut, tut sambungan telefon terputus.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Karin.
"Joon bilang dia menunggu di depan. Maksudnya apa ya?"
"Dia jemput kamu? Ya, gagal dong acaraku pengen ngehajar samsak di sasana"
"Ya nggak tahu. Kita lihat aja dulu."
Keduanya lantas keluar dari restoran yang memang berada di lantai satu dekat dengan pintu keluar. Sedikit kerepotan dengan banyaknya paperbag di tangan mereka.
Dan ketika mereka keluar mall. Terkejutlah mereka melihat dua pria dengan outfit super keren dan wajah super tampan tengah menunggu mereka berdua.
Bersandar pada mobil Alphard berwarna hitam. Keduanya menjadi pusat perhatian para pengunjung mall yang lewat terutama para cewek. Siapa coba yang nggak meleng lihat cowok bening gitu depan mata.
Dan mood Karin yang baru saja dapat booster langsung ambyar seketika. Melihat Max yang berada di samping bosnya. Walaupun dia terlihat tampan hari itu. Sangat tampan malah menurut hati Karin.
"Ngapain juga sih si brengsek itu ikut jemput. Aduh mana ganteng banget lagi. Begini caranya, gagal dong acaraku buat move on ke Jungkook," dan omelan Karin itu membuat Nina terbawa terbahak-bahak.
"Emang kamu sudah putus dari dia. Mau acara move on segala. Nyambung aja belum."
"Ini namanya layu sebelum berkembang. Jadi langsung aja cari gebetan baru."
"Nanti aku siram air segalon deh biar bisa tumbuh dan berkembang."
"Kamu pikir nanam cabe. Di kasih air segalon."
"Habis ngomongnya begitu. Lagian gebetan nun jauh di mata. Cara kamu nggebet bagaimana?"
"Astaga. Cara nggebet jaman now."
Dan acara ngobrol bisik-bisik mereka berhenti, ketika dua pria satu aliran beda server itu melambaikan tangan mereka.
Membuat pengunjung lain langsung mundur teratur sadar yang jadi pusat perhatian sudah bertemu pawangnya. Max langsung mengembangkan senyumnya begitu melihat Karin
"Hai," sapa Max manis. Membuat hati Karin meleleh seketika. Seperti es krim ketemu matahari. Habis jadi air semua.
"Alamak, ganteng banget. Beneran gagal nih acaraku mau move on ke Jungkook," kata hati Karin saat melihat ke arah Max.
"Apa hai, hai," bentak Karin. Judes mode on.
"Astaga, galak bener Non," sahut Max. Yang sama sekali tidak digubris Karin. Membuat Max mati kutu dibuatnya.
"Pada ngomongin apa sih?" Joon yang bertanya sambil meraih belanjaan sang kekasih. Begitu juga dengan Max yang melakukan hal yang sama.
"Aku bisa sendiri," sahut Karin masih dengan wajah judesnya.
"Mau ditaruh di bagasi belakang," jawab Max. Dan Karin hanya ber-o ria. Membiarkan Max mengambil alih paperbagnya.
"Lagi ngomongin ada yang gagal move on," sahut Nina enteng, membuat Karin memberikan tatapan intimidasi yang langsung diabaikan Nina. Karin menggeram kesal seketika.
"Siapa?" tanya Max. Saat keempatnya sudah masuk ke mobil. Dan mobil mewah itu mulai meninggalkan parkiran mall.
__ADS_1
"Ada deh," jawab Nina sambil melihat Joon yang melihatnya dari kaca spion tengah mobil mewah itu. Saling memberi kode satu sama lain.
Keduanya memang merencanakan untuk mengadakan double date untuk mendekatkan Karin dan Max. Setelah keduanya mengakui memiliki perasaan satu sama lain. Yang penting berusaha dululah. Hasil akhirnya kita lihat saja nanti. Begitu rencana mereka berdua ketika pagi itu Joon menyerahkan black cardnya kepada Nina.
"Kirain beneran mau mindahin mall ke rumah. Sia-sia dong kita bawain mobil gede. Belanjaan kalian cuma segitu," ucap Joon setengah mengejek.
Biasanya memang mereka cuma pakai mobilnya Max kalau jalan berempat. Maklum, mobilnya Joon rata-rata mobil sport dengan model couple. "Muat dua orang je," seperti kata kartun berkepala plontos itu.
"Ini aja susah ngeluarin dari garasi. Kelamaan nggak di pakai," imbuh Max.
"Belanjaan segitu kamu bilang sedikit. Segitu, sudah berapa digit nolnya aku habisin."
"Aku tahu" jawab Joon sambil menunjukkan ponselnya dengan notifikasi penggunaan dari black cardnya.
"Astaga, dia tahu," ucap Karin menyembunyikan badannya di belakang Nina.
"It's okay. Aku akan memotongnya dari gaji Max," Max hampir saja mengerem mendadak mendengar ucapan Bos Kutubnya.
"Kenapa dipotong dari gaji saya?"
"Lah kan Karin tanggung jawab kamu. Harusnya kamu berikan black card kamu ke dia."
"Ha? si brengsek ini punya black card juga. Tajir juga dong," batin Karin.
"Kamu pikir aku tidak tahu apa, kamu habis beli Lambo baru," Max terbelalak mendengar ucapan bos kutubnya itu.
"Tapi itu kan hasil tabungan saya bertahun-tàhun ini, Bos," kilah Max.
"Ha? Dia habis beli Lamborghini baru. Oke fix, si brengsek ini asisten rasa sultan," kembali Karin membatin.
Sedang Nina hanya mengulum senyum melihat ekspresi wajah Karin. Nina tahu Karin memang suka dengan barang-barang mewah. Tapi bukan berarti dia matre ya.
Perdebatan bos dan asisten itu terus terjadi sepanjang perjalanan mereka. Yang entah mau dibawa ke mana. Karin dan Nina belum begitu hafal jalan di Jakarta.
"Ya beneran batal dong acaraku yang pengen mukulin samsak," gumam Karin lirih namun masih bisa di dengar Nina.
"Minggu depan kita pergi. Ok?" tawar Nina dan langsung mendapat anggukan antusias dari Karin.
Namun tak berapa lama. Mobil itu mulai masuk ke parkiran yang jika dilihat dari luar seperti sebuah tempat pelatihan alias sasana. Kedua gadis itu saling pandang tidak paham dengan maksud kedua pria itu membawa mereka ke sini.
"Turunlah," ucap Joon sambil membukakan pintu mobilnya. Saat mobil itu sudah terparkir sempurna di depan sasana itu. Hal yang sama juga di lakukan Max dari pintu sebelah Karin.
"Mau ngapain ke sini?"
"Katanya ada yang lagi pengen ngehajar orang," tanya Joon kali ini berkata ke arah Karin sambil menaikkan alisnya.
"Siapa tahu ada yang mau jadi samsak hidup," kali ini tatapan Joon mengarah ke Max yang langsung bergidik ngeri.
"Alamak habislah aku. Bakalan jadi samsak hidup buat cewek yang lagi dalam mode jutek abis," batin Max menatap horor ke arah bos kutubnya yang justru tengah menyeringai mengerikan ke arahnya.
"Oke siapa takut," sahut Karin tanpa takut. Lantas turun dari mobil mengikuti langkah Joon di depan. Sedang Max mengawal dari belakang.
__ADS_1
******