
Bersamaan dengan Heri menyeret Nina ke lantai atas, Joon seketika merutuki dirinya sendiri. Merasa tidak mampu menjaga Nina. Dia benar-benar merasa putus asa. Joon merasa menjadi orang yang paling gagal. Joon terus berusaha melepaskan diri dari kekangan dua pria di sampingnya. Namun gagal. Hingga...
Tok, tok, tok.... bunyi heels yang beradu dengan lantai keramik terdengar begitu kontras dengan keheningan yang ada di ruangan itu.
"Wah, lihat siapa ini?" suara seorang perempuan yang sangat Joon kenal.
"Stella? Ngapain kamu di sini?" tanya Joon penasaran.
"Di mana dia?" alih-alih menjawab pertanyaan Joon. Stella malah bertanya pada dua orang yang tengah memegangi Joon.
"Diatas dengan....," pria itu tidak melanjutkan perkataannya namun melirik ke arah Lee Joon.
"Apa dia sedang bersama "nya"?" Stella menekankan kata "nya" seolah tahu siapa yang dimaksud oleh pria itu.
Stella menghela nafasnya pelan. Lalu berkata, "bagaimana kalau kita juga melakukan hal yang sama?" tanyanya pada Lee Joon.
"Maksudmu apa?" tidak paham ke mana arah pembicaraan Stella.
"Ya ber..cintalah tuan muda Lee," jawab Stella santai sambil berjalan mendekati Lee Joon. Perlahan jemarinya menyusup ke dalam kemeja Lee Joon. Mulai meraba perut sixpack Lee Joon. Kelakuan Stella seketika membuat Lee Joon jijik.
Detik berikutnya muncul sebuah ide. Ia harus bisa melepaskan diri dari dua pria disebelahnya ini, untuk menyelamatkan Nina. Namun dengan keadaannya sekarang, dia tidak mungkin menang melawan kedua pria ini. Tapi, dia bisa memanfaatkan Stella.
"Kenapa tidak?" ucap Lee Joon pura-pura membuat wajah tergoda dengan usapan jemari Stella di perutnya. Padahal Lee Joon jijik setengah mati. Seumur-umur baru Nina seorang yang pernah menyentuh tubuhnya.
"Benarkah?" tanya Stella dengan wajah berbinar.
"Tentu saja. Meskipun wajahku babak belur. Tapi aku yakin masih bisa membuatmu men..desah puas di bawah tubuhku," balas Joon setengah berbisik di telinga Stella. Ucapan Lee Joon membuat tubuh Stella memanas seketika. Siapa sih yang tidak mau ber..cinta dengan seorang Lee Joon.
Sekarang kesempatan itu ada di depan matanya. Stella menggigit bibir bawahnya. Membayangkan bagaimana sempurnanya tubuh seorang Lee Joon, yang saat masih tertutup kemeja maron dan jas berwarna hitam..Pasti sangat seksi pikirnya.
"Tapi bilang pada orang ini untuk melepaskanku," pinta Lee Joon memulai rencananya. Dua orang itu saling pandang.
"Kita diperintahkan tidak boleh melepaskannya apapun yang terjadi," jawab salah satunya.
"Kalau mereka tidak melepaskanku. Bagaimana kita ber..cin..ta?" ucap Joon hampir saja ingin muntah mendengar mulut lemesnya berbicara.
"Kalau bukan demi kamu. Tidak sudi aku melakukan ini. Menjijikkan sekali," batin Joon.
Joon harus segera bertindak. Sebab Nina baru saja berteriak. Jika gadis itu masih sanggup berteriak berarti dia masih baik-baik. Namun jika Nina sudah diam, itu yang bahaya. Bisa dia yang terluka atau lawannya yang terluka. Apapun itu dia harus bisa segera naik ke lantai atas.
"Sialan ke mana mereka semua. Aku sudah menghidupkan GPS di mobilku tapi kenapa mereka belum juga menemukanku," batin Joon.
Joon tahu mereka akan merampas ponselnya jadi dia menghidupkan GPS yang ada di mobilnya agar Max dan yang lainnya bisa menemukannya.
"Oh come on Stella. Aku sudah tidak tahan," ucap Joon sensual di telinga Stella, membuat wanita itu langsung mengembangkan senyumnya.
"Tidak tahan ingin menghajarmu,"
"Lepaskan dia!" perintah Stella.
"Tapi Mbak, nanti pak Heri bisa marah," tolak salah satu dari mereka.
"Dia tidak akan marah. Dia sedang senang. Kalian tidak dengar itu?" ujar Stella karena bersamaan dengan itu, terdengar bunyi "duuggh" dari lantai atas.
__ADS_1
"Wow mereka sangat liar, bukan?" ucap Stella. Joon jelas semakin panik tapi berusaha, tetaptenang.
"Bertahanlah, Baby. Aku mohon."
"Cepat lepaskan dia. Toh dia juga tidak bisa lari ke mana-mana. Dia aman bersamaku. Kita tidak akan ke mana-mana. Soalnya kita akan bercin..ta di kamar itu. Jadi cepat lepaskan," tegas Stella lagi. Hingga keduanya melepaskan Joon walaupun penuh keraguan.
"Sudah sana pergi. Ganggu saja," perintah Stella. Kedua orang itu pun keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Stella dan Lee Joon yang perlahan mulai mengumpulkan kekuatannya.
"Jadi bagaimana tuan muda Lee? Apa kita bisa memulainya sekarang?" tanya Stella dengan jemarinya kembali meraba sisi depan tubuh Joon. Pria itu seketika menarik nafasnya.
"Baiklah mari kita mulai dengan ...menghajarmu," Joon kembali mode dinginnya. Dengan cepat Joon mendorong tubuh Stella ke belakang. Berusaha menjauhkan dirinya dari Stella.
"Jangan coba-coba menyentuhku. Kau pikir aku tidak tahu siapa dirimu. Dasar ja****!" maki Joon tanpa belas kasihan. Stella tentu marah.
"Beraninya kau berkata begitu padaku. Apa bedanya diriku dengan kekasihmu di atas sana, yang mungkin saat ini sedang men....desah menikmati waktu mereka," cibir Stella sambil melihat ke arah Lee Joon.
"Dia tidak seperti itu. Jangan memancingku untuk bertindak kasar padamu. Kau pikir karena kau perempuan, aku tidak berani memukulmu. Satu lagi, kau pikir aku mau tidur denganmu. Cih, jangan mimpi!" ucap Joon, lantas naik ke lantai dua. Ucapan Joon benar-benar membuat Stella marah.
Berani sekali pria itu merendahkan dirinya. Melihat Joon yang ingin naik ke lantai dua, Stella dengan cepat menghalangi jalan Joon.
"Kau tidak boleh pergi ke sana," cegah Stella.
"Kau tidak bisa mencegahku. Minggir!" Joon dengan kasar menghempaskan tubuh Stella ke lantai. Stella langsung meringis menahan sakit di bo...kongnya.
"Kau sudah terlambat! Heri pasti sudah berhasil menidurinya," ucap Stella berusaha mencegah Joon naik ke lantai dua. Apalagi kembali terdengar bunyi "braakk" dari lantai dua.
"Berhenti memancing emosiku!" kali ini Joon berkata dengan emosi yang meluap. Bersamaan dengan itu, terdengar keributan di luar rumah tersebut. Tak berapa lama Max sudah berhasil masuk. Langsung menghampiri bosnya.
"Shut up your mouth! Urus dia!" ucap Joon sambil melirik ke arah Stella.
"Jangan mendekat!!" satu jeritan terdengar dari lantai dua. Joon langsung melesat naik ke sana.
"Dan kamu apa yang kamu lakukan di sini?" Max bertanya kepada Stella yang malah memandangnya dengan tatapan terpesona. Lama tidak bertemu membuat Max terlihat semakin hot di mata Stella.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku tidak tertarik untuk bercinta denganmu," ucap Max santai, langsung membuat Stella kecewa.
Sementara itu,
Braaakkkk, pintu itu terbuka dengan satu tendangan dari Joon. Begitu pintu terbuka Joon langsung melesat masuk. Amarahnya meledak seketika. Bagaimana tidak meledak, dia melihat Heri yang sedang berusaha mencium bahu Nina yang terbuka.
Sedang Nina terus berontak ingin melepaskan diri. Satu pecahan vas bunga berhamburan di lantai. Menunjukkan kalau Nina kembali berusaha melukai dirinya sendiri. Joon bisa melihat tangan Nina masih memegang satu pecahan vas bunga itu. Dan Heri jelas sudah mengunci pergerakan tangan Nina yang satu itu.
"Menjauhlah darinya brengseeek!" ucap Joon seketika. Sedang Heri sama sekali tidak menyadari kedatangan Lee Joon. Dia masih asyik, dengan usahanya yang ingin menciumi bahu Nina yang terbuka.
Melihat Lee Joon, air mata Nina semakin deras mengalir. Walaupun ketakutannya sedikit berkurang. Tanpa basa basi Joon langsung menarik Heri dari hadapan Nina. Langsung menghantam tubuh laki-laki itu dengan pukulan bertubi-tubi.
"Dasar bajingan! Kurang ajar! Brengsekk! Beraninya kau menyentuh tubuhnya. Dia milikku hanya milikku!" ucap Joon sambil terus menghajar Heri tanpa ampun.
Hingga suara Max menghentikan aksinya. "Bos, hentikan! Tolonglah Nina dulu," mendengar nama Nina. Joon langsung berhenti memukuli Heri. Dengan cepat melangkah ke arah Nina. Gadis itu sudah terduduk di sudut kamar sambil memeluk kedua lututnya.
Tampilannya begitu berantakan. Rambut tidak karuan. Bahu sebelah kirinya nyaris terekspos sempurna karena kemejanya sudah robek. Air mata tak kunjung berhenti mengalir dari kedua belah matanya. Sungguh menyedihkan. Max jelas tidak berani mendekat melihat penampilan Nina yang hampir topless. Bisa-bisa ia juga ikut dihajar oleh Bosnya itu.
Perlahan Joon mendekat. Tapi Nina semakin menjauh. "Jangan memdekat! Jangan menyentuhku! Pergi! Pergi!" kata Nina, terus mengingsutkan tubuhnya. Berusaha menjauh dari Joon.
__ADS_1
"Baby, ini aku," ucap Joon lembut. Mendengar suara Lee Joon, Nina mengangkat wajahnya. Begitu melihat orang yang ada di depannya adalah Lee Joon. Tangis Nina langsung pecah. Lee Joon lantas merengkuh tubuh Nina ke dalam pelukannya. Gadis itu menangis semakin kencang dalam pelukan Joon.
"It's okay Baby, semua sudah berakhir. Jangan khawatir," kata Joon lembut. Hatinya benar-benar sakit melihat keadaan Nina. Punggung mulus Nina nyaris terekspos sempurna. Beserta bagian dadanya. Banyak memar dan lebam di sana sini. Menunjukkan kalau gadis itu terus melawan Heri.
"Dia menyentuhku. Dia ingin menciumku. Dia... dia.. aku kotor Lee Joon. Aku kotor," Nina berteriak histeris. Hati Joon ikut terluka mendengarnya.
"Ssst jangan berkata apapun. Dia tidak melakukan apapun padamu. Jangan takut aku di sini," ucap Joon sambil terus memeluk gadis itu. Sesekali Joon mencium puncak kepala Nina. Joon tahu benar, jika dirinyalah orang pertama yang pernah menyentuh tubuh Nina.
"Max berikan jasmu," pinta Joon. Max dengan cepat melepaskan jasnya. Menyisakan kemeja putih slim fitnya. Perlahan Max mendekat dan memakaikan jas itu ke punggung Nina yang lumayan terbuka. Sejenak hening terasa.
"Bagaimana di bawah?" tanya Joon.
"Asisten Jo masih membereskannya. Ternyata anak buahnya banyak juga," ucap Max sambil menendang kaki Heri yang sudah terkapar pingsan tidak berdaya. Bisa Joon lihat beberapa lebam dan memar di wajah Max. Yang berarti jika pria itu ikut baku hantam di lantai bawah sebelum menyusulnya naik.
"Polisi akan tiba sebentar lagi. Sebaiknya kita pergi sebelum mereka datang," Max berkata begitu karena melihat keadaan Nina. Bisa dipastikan jika gadis itu mengalami trauma.
"Kau benar," sahut Joon perlahan mengajak Nina berdiri dan pergi dari sana. Hingga kemudian Joon sadar jika gadis itu sama sekali tidak merespon ketika dia memanggilnya.
"Baby, ayo kita pulang. Jangan takut, semua sudah selesai," ucap Joon. Tapi Nina tidak merespon sama sekali. Bahkan gadis itu tidak bergerak dalam pelukan Joon. Perlahan Joon melonggarkan pelukannya. Bisa dilihatnya jika mata gadis itu tertutup rapat.
"Baby, baby. Nina bangun. Jangan membuatku takut," kata Joon sambil menepuk-nepuk lembut pipi gadis itu. Nina sama sekali tidak bergeming. Joon panik seketika.
"Max!" panggil Joon pada Max.
"Ada apa?" Max mendekat ke arah Bosnya.
"Ada apa dengannya?" tanya Joon panik. Perlahan Max mendekat. Mengecek leher Nina yang langsung mendapat tatapan horor dari Bosnya.
"Jangan menyentuhnya," sarkas Joon.
"Astaga Bos. Aku cuma mengecek nadi di lehernya. Dia pingsan. Tidak apa-apa," ucap Max sambil geleng-geleng kepala.
Detik berikutnya Max berteriak. Dilihatnya pergelangan tangan dan telapak tangan kanan Nina terluka. Darah seolah tidak mau berhenti mengalir dari luka itu.
Kepanikan kembali melanda Joon. Dengan cepat Max merobek sprei dan menggunakannya untuk membalut pergelangan tangan Nina. Max kembali terkejut, ketika dia juga mendapati darah mengalir dari bagian kepala Nina.
"Kita harus cepat membawanya ke rumah sakit Bos. Sepertinya Nina terluka cukup parah," ucap Max. Dengan cepat Joon membawa Nina dalam gendongannya. Max lantas merapikan jasnya agar menutup tubuh Nina dengan sempurna. Di bawah semuanya laki-laki kecuali Stella. Dia tahu pasti bagaimana Bosnya itu.
Joon melangkah keluar. Tanpa memperdulikan keadaan di sekelilingnya. Bahkan asisten Jo yang ingin bertanyapun tidak ditanggapinya. Alhasil, dua orang itu hanya bisa mengikuti tuan muda mereka. Keluar rumah sambil menggendong Nina. Pintu mobil Joon dibukakan oleh Max. Perlahan direbahkannya Nina di kursi penumpang.
"Kita bertemu di rumah sakit. Aku dan asisten Jo akan mengurus di sini dulu," ucap Max.
"Baik. Aku pergi dulu," jawab Joon yang sudah siap di balik kemudinya. Sejenak ditatapnya Nina yang wajahnya terlihat pucat. Dalam hitungan detik, Bugatti Veyron itu sudah melesat meninggalkan asisten Jo dan Max. Bersamaan dengan sirine mobil polisi yang datang dari arah yang berlawanan.
******
Malam readers. Ketegangan sedikit mereda ya.
Tapi tetep jangan lupa buat like, vote,gift and comment ya,
Happy reading and salam sayang dari author 😘😘😘😘
****
__ADS_1