Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 55


__ADS_3

Kedua orang itu nampak gugup. Berhadapan dengan dua orang, dengan kekuasaan paling tinggi di perusahaan itu. Di tambah dengan dua asisten kedua orang itu. Yang sejak tadi sudah memasang wajah seramnya. Tidak bersahabat sama sekali.


Padahal tampang kedua orang di hadapan mereka pun sama tidak bersahabatnya. Seram dan dingin.


Kedua orang itu hanya bisa menelan salivanya bersamaan. Merasa ini adalah akhir dari karier pekerjaan mereka.


"Aku tanya sekali lagi. Apa kalian tahu kenapa kalian di bawa ke sini?"


"Tidak!!" jawab kedua orang itu, kompak.


Dua orang yang tidak lain Rita dan Stella. Di jemput paksa dari lantai 34 dan lantai 30. Membuat karyawan lain bertanya-tanya. Ada apakah gerangan dengan kedua orang itu? Atau kesalahan apakah yang sudah dibuat oleh dua orang itu. Mengingat mereka dijemput langsung oleh asisten Jo dan Max. Tangan kanan orang nomor satu di perusahaan itu.


Sedang tuan Lee, langsung ternganga tidak percaya. Jika pelaku dari pembobolan data itu adalah dua orang wanita.


"Baik, kalau kalian masih tidak mau mengaku. Akan aku beritahu," ucap Joon dingin. Auranya benar-benar ingin melenyapkan dua orang yang ada di depannya itu.


"Seminggu yang lalu dua ada kebocoran data di kantor ini. Satu berisi data kerahasiaan para investor. Dan satu lagi berisi beberapa kontrak kerja dengan beberapa investor.


Joon menjeda ucapannya. Sedang tuan Lee ikut mendengarkan. Mengingat dia memang tidak tahu akan hal itu. Sedang keringat dingin mulai membanjiri tubuh Stella dan Rita.


"Habislah kalian kali ini. Berani-beraninya kalian bermain-main dengan Tuan Muda," batin asisten Jo.


Asisten Jo sendiri juga baru tahu cerita itu dari Max. Ketika keduanya diperintahkan untuk membawa Stella dan Rita.


"Satu terdeteksi dari lantai 34 dan satu lagi dari lantai 30," ucap Joon menatap Stella dan Rita bergantian.


"Ada yang ingin kalian jelaskan?"


"Ada banyak orang di lantai 34 dan 30. Mengapa Tuan menuduh kami? Mungkin saja pelakunya orang lain," kali ini Rita yang berbicara.


"Betul juga ucapanmu."


"Anda mungkin salah telah menuduh kami. Kami tidak melakukan hal itu," Stella memberanikan diri untuk berbicara. Walaupun tubuhnya gemetar saking takutnya melihat tatapan elang Joon.


Habis sudah rasa terpesona Stella pada Lee Joon yang selama ini ia puja-puja karena ketampanannya. Berganti dengan rasa takut yang luar biasa.


"Lalu bagaimana jika aku bisa memberikan bukti bahwa kalian pelakunya?" tantang Joon.


"Silahkan Tuan. Karena kami merasa tidak pernah melakukannya," sangkal Rita mantap.


Karena Rita merasa telah menghapus bukti yang ada dan menghapus rekaman CCTV. Pun dengan Stella. Sedang Max hanya tersenyum miring mendengar kedua orang menyangkal tuduhan Joon.


"Kalian belum tahu siapa yang tengah kalian hadapi. Bersiaplah untuk hancur Nona-Nona," batin Max dengan senyum smirk terukir di wajahnya.


"Kalau begitu lihatlah ini," ucap Joon menunjukkan sebuah rekaman CCTV yang menurut Stella dan Rita sudah mereka hapus.


Kedua wanita itu langsung membelalakkan mata. Terkejut sekaligus takut karena kedok mereka terbongkar.


"Itu, itu bukan kami. Ini pasti kesalahan. Seseorang pasti mengubahnya. Seseorang pasti ingin menjebak kami." Rita berusaha menyangkal.


"Menjebak kalian? Kalian pikir siapa yang akan menjebak kalian?"


"Mungkin bu Direktur. Bukankah dia yang memegang kendali seluruh departemen keuangan?" ucap Rita mencoba memprovokasi Joon.


"Dan Dita bukankah kebocoran data itu berasal dari laptopnya Dita. Pasti dia pelakunya lalu menimpakan kesalahannya pada saya," Stella ikut membela diri.


Braakkkkk,


Suara meja yang digebrak membuat kedua wanita itu berjingkat saking terkejutnya. Mereka baru tahu bagaimana seramnya Lee Joon kalau sedang marah.


"Jangan menyalahkan orang lain atas kesalahan yang telah kalian buat. Apalagi menyalahkan Nina dan Dita. Yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan hal ini," ucap Joon dengan rahang mengatup. Berusaha menahan amarahnya.


"Sudahlah mengaku saja. Mungkin itu akan membuat kami memaafkan perbuatan kalian. Kalian belum tahu apa yang bisa putraku lakukan pada kalian. Jadi mengaku saja. Semua bukti sudah jelas," kali ini tuan Lee yang bicara.


"Padahal Stella, darimana kamu tahu jika kebocoran data itu berasa dari laptop Dita? Aku bahkan tidak membertahukan hal itu pada kalian," ucap Joon santai.

__ADS_1


Skakmat,


Tubuh Stella langsung bergetar hebat. Wajahnya sudah berubah pucat.


"Bagaimana bisa aku keceplosan seperti tadi," batin Stella.


Kali ini sepertinya ia tidak bisa mengelak lagi.


"Dan satu lagi, aku memiliki bukti ini" beberapa foto langsung terpampang di depan mereka.


Foto saat Stella menyerahkan flash disk kepada Heri di klub malam waktu itu. Dan juga foto Rita saat menyerahkan flash disk kepada orang suruhan tuan Burhan di sebuah restoran di hari yang sama dengan pembobolan data tersebut.


Keduanya langsung pias melihat foto itu. Di foto itu terlihat jelas wajah mereka dan flash disk yang mereka berikan juga terlihat jelas.


"Bagaimana? Masih mau menyangkalnya?"


"Tuan, maafkan kami. Maafkan kami. Kami tidak sengaja melakukannya," Rita memohon. Sudah tidak ada alasan untuk menyangkal tuduhan itu. Semua bukti sudah mengarah kepada mereka.


"Tidak sengaja katamu? Kalian bahkan merencanakannya dengan sangat baik. Memilih waktu yang baik untuk melancarkan rencana kalian. Kalian pikir bisa menipuku?!!" kali ini Joon benar-benar menunjukkan taringnya. Wajahnya memerah menahan amarahnya.


"Tuan, mohon maafkan kami. Kami berjanji tidak akan melakukannya lagi," Rita dan Stella memohon. Air mata mulai turun dari mata kedua wanita itu.


"Iya Tuan. Tolong maafkan kami. Tolong maafkan kami," ucap Stella.


"Katakan siapa yang menyuruh kalian?"


Dan sontak pertanyaan Joon membuat Rita dan Stella saling berpandangan. Tidak mungkin mereka memberitahukan siapa yang menyuruh mereka. Terlebih Rita. Bisa terbongkar semua kejahatan mereka selama ini.


"Tidak ada yang menyuruh kami," jawab keduanya hampir bersamaan.


"Benarkah? Lalu apa alasan kalian melakukan hal ini?" tanya Joon.


"Saya sakit hati!" sahut Stella kali ini.


"Karena tuan Max lebih memilih wanita kampungan itu daripada saya " lanjut Stella dengan amarah yang sekarang berganti tergambar di wajahnya.


"Kamu sudah tidak waras ya? Melakukan hal itu hanya karen kamu cemburu dengan Karin?" tanya Max. Sedang Joon langsung memijat pelipisnya.


Tidak disangka cemburu bisa membuat orang melakukan hal yang tidak masuk akal menurutnya. Pun dengan tuan Lee dan asisten Jo yang memang juga tahu dengan kebiasaan Max di masa lalu.


"Iya, aku memang sudah gila. Karena aku jatuh cinta padamu Max. Aku tidak ingin kamu dimiliki wanita lain," ucap Stella setengah merayu Max.


Dan asisten Jo yang berdiri di samping Max langsung mengulum senyumnya. Max langsung mendelik kepada asisten Jo


"Ada juga wanita yang tergila-gila dengan mantan playboy akut ini," batin asisten Jo.


"Lalu kamu apa bedanya denganku? Kamu bilang kamu jatuh cinta padaku. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu pikir aku tidak tahu, pria yang ada di foto itu adalah partner ONS-mu yang baru," ucap Max. Perkataan Max membuat yang lain melongo.


"Max, aku bisa menjelaskan hal itu " mohon Stella.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan. Sejak awal kita berhubungan, sudah aku tegaskan. Kita berhubungan atas dasar saling menguntungkan. Jika kamu jatuh cinta padaku. Itu urusanmu. Aku tidak peduli dengan hal itu. Karena hatiku sekarang hanya milik Karin," ucap Max yang terkesan kejam.


Woo.... bisa melambung ke langit ke tujuh ni kalau Karin mendengar ucapan Max.


"Kamu kejam Max, kamu tidak punya perasaan!" maki Stella.


"Kamu tahu siapa aku di masa lalu Stella. Tidak ada rasa cinta bagi para penikmat ONS. Bukankah itu sudah jelas."


"Kamu jahat, kamu jahat. Aku membencimu. Aku membencimu Max Aldrian. Tunggu, kamu tidak bisa melakukan ini padaku," raung Stella.


Stella hampir saja mencakar Max, jika asisten Jo tidak langsung mendorong Stella. Hingga tubuh Stella jatuh di lantai. Tangis Stella tidak terbendung lagi. Dia merasa dikhianati oleh Max. Dia pikir Max benar-benar tulus kepadanya. Sakit hati Stella.


Joon dan Tuan Lee yang memandang drama antara Max dan Stella, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Max, kamu tidak bisa melakukan ini padaku. Aku mencintaimu. Aku sayang kamu. Kamu tidak bisa meninggalkanku. Max..." tangis Stella terdengar pilu.

__ADS_1


Max menghela nafas. Dia juga merasa bersalah dengan yang terjadi pada Stella. Bagaimanapun dia dan Stella pernah punya hubungan yang baik di masa lalu. Namun semuanya hancur karena Stella salah mengartikan hubungan mereka.


"Maaf Stella. Jika kamu salah paham dengan hubungan kita. Tapi bukankah sudah aku katakan dengan jelas di awal hubungan kita. Jangan pernah jatuh cinta padaku," ucap Max tegas.


"Tapi aku tidak bisa mengendalikan perasaanku Max. Aku benar-benar jatuh cinta padamu"


"Dan sekali lagi aku minta maaf. Aku tidak mencintaimu. Dan tidak bisa mencintaimu. Lupakan rasa cintamu padaku. Dan mulailah hidup baru."


"Aku tidak bisa Max. Aku tidak bisa!"


"Lupakan aku Stella!!" ucap Max hampir berteriak.


"Kamu kejam Max, tidak punya perasaan," maki Stella.


Orang lain di ruangan itu, hanya menonton drama cinta antara dua orang itu. Tidak ada yang menyela ataupun membela.


"Sudah dramanya?" tanya Joon santai. Duduk bertumpang kaki sambil menyilangkan kedua tangannya. Persis orang yang sedang menonton pertunjukkan.


"Maaf Bos, mengganggu sidangnya," ucap Max sambil nyengir. Stella masih menangis sesenggukan.


"Jadi bagaimana? Apa yang harus aku lakukan pada kalian?"


"Tuan, mohon jangan apa-apakan kami. Kami berjanji tidak akan melakukannya lagi," mohon Rita.


"Kalau begitu katakan pada kami. Siapa yang sudah menyuruh kalian untuk membobol data perusahaan?"


Stella dan Rita kembali saling pandang. Lalu kompak menjawab,


"Tidak ada yang menyuruh kami."


"Baik kalau begitu. Jo, Max antarkan mereka keluar. Pecat mereka dan perintahkan HRD untuk mengeluarkan surat pemblacklist-an mereka." Perintah Joon tegas.


"Tuan tolong jangan pecat kami. Ampuni kesalahan kami. Tuan, tolong pertimbangkan lagi keputusan Tuan," ucap Stella dan Rita bergantian.


"Aku tidak akan memecat kalian, jika kalian memberitahu siapa yang menyuruh kalian membobol data perusahaan," ucap Joon kembali.


"Tidak ada yang menyuruh kami, Tuan."


"Baik, itu adalah pilihan kalian. Jo, Max, bawa mereka keluar. Aku tidak mau melihat wajah mereka lagi."


Asisten Jo dan Max membawa Rita dan Stella yang mencoba meronta dari cekalan tangan dua asisten itu.


"Tidak masalah aku dipecat, setidaknya aku berhasil mendapatkan data itu," batin Rita.


Namun sebelum mereka keluar dari pintu ruangan tuan Lee, Joon berkata,


"Jangan berpikir kalian berhasil mendapatkan data itu"


Sesaat Rita berhenti lantas menatap Joon yang menatap balik pada Rita dan Stella sambil tersenyum. Senyum yang biasanya akan membuat semua orang terpesona tapi kali ini tidak. Senyum Joon kali ini bak senyum iblis yang tengah mengejek kegagalan mereka.


Sesaat kemudian Rita tersadar,


"Sial! Data itu palsu," batin Rita.


" Bawa mereka pergi!" kali ini tuan Lee yang memberi perintah.


Keduanya dibawa keluar dari ruangan Tuan Lee. Stella masih terus meronta. Sedang Rita hanya diam seribu bahasa.


"Pergilah dan jangan lagi menampakkan wajah kalian di depan kami," ucap asisten Jo dingin. Setelah keempatnyaa tiba di pintu lobi kantor


Kejadian itu sontak menjadi tontonan bagi karyawan yang tengah melintas di lobi kantor.


"Barang-barang kalian akan dikirim ke alamat terakhir kalian," Max menambahkan.


"Max......" Stella ingin memohon, tapi isyarat tangan dari Max membuatnya tidak melanjutkan perkataannya lagi.

__ADS_1


******


__ADS_2