
Tak lama VIP room tempat Nina dirawat sudah penuh dengan teman-teman yang ingin menengoknya.
"Gila! Heri memang gila!" pekik Karin yang langsung ditenangkan Max, sang suami.
"Sudah tertangkap belum?" sahut Maya.
"Anyway, congrats ya. Akhirnya kita bisa hamil berjamaah," seloroh Dina sang kakak.
"Berjamaah apanya la wong kita tinggal nunggu mereka lahir," sahut Nindy.
"Iya juga, ini juga tadi habis kontrol kandungan. Pokoknya tinggal nunggu aja," kata Karin. Sambil mengelus perut buncitnya.
"Moga kalian lairannya lancar ya," doa Nina akhirnya bersuara. Dia dari tadi hanya terus tersenyum mendengar ocehan teman-temannya. Sambil terus mengelus perutnya.
Sedang para pria. Seperti biasa duduk di sofa. Nggibah dengan omongan mereka sendiri.
"Jadi habis berapa duit?" tanya Mike pada Max. Dia kebagian sial. Karena harus berhadapan dengan warga, yang ngamuk gegara harus menyingkirkan Bugatti Veyron Lee Joon dari tengah jalan raya. Karena Lee Joon main tinggal saja.
"Hampir 5 jukot. Gila nggak. Bisa-bisanya ninggalin Veyron gitu aja ditengah jalan. Untung nggak rusak. Kalau rusak biaya perbaikannya bikin kantong jebol," keluh Max.
"Itu mah kantongmu. Kantongnya dia mah oke-oke wae," timpal Doni. Max langsung menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.
Sedang Lee Joon yang jadi obyek ghibahan hanya terlihat santai. Dia terlalu bahagia untuk marah kali ini.
"So, bagaimana sudah ada kabar soal Heri?" Mike tiba-tiba.
Dan nama Heri sukses membuat mood Lee Joon berubah drastis.
"Ada tidak dari kalian yang bisa mewakiliku untuk menghajar dia sampai babak belur. Kalian lihat kan bagaimana dia menganiaya istriku?" emosi Lee Joon naik lagi.
"Tidak boleh. Kita semua tidak bisa melakukan itu," ucap Doni.
"Max, Karin kan hampir lairan. Jadi kamu bisa dong menghajarnya untukku kalau si gila itu tertangkap," bujuk Lee Joon.
"Tetep tidak boleh Bos," tolak Max.
"Aiissssh kamu ini," gerutu Lee Joon.
"Adik kembarmu bisa melakukannya," usul Mike.
"Tidak bisa. Nina tidak menginginkan kami berdua bertindak yang aneh-aneh mulai sekarang," jelas Lee Joon.
"La kok bisa," heran Doni.
"Tidak tahu," jawab Joon singkat.
Dan obrolan mereka berlangsung sampai malam semakin larut. Hingga mereka semua akhirnya pamit pulang. Meninggalkan Nina dan Lee Joon serta Sofia dan tuan Lee.
__ADS_1
Bu Ratna sedang tidak bisa pergi ke mana-mana. Penyakit asam lambungnya kumat hingga membuatnya harus istirahat total. Selama beberapa hari ke depan. Namun hal itu tidak mengurangi kebahagiaannya soal kehamilan Nina.
Lagipula Bu Ratna juga sedang sibuk dengan persiapan pernikahan Risma, adiknya Nina. Setelah sekian tahun berpacaran. Akhirnya Jonathan melamarnya. Rencananya mereka akan menikah bulan depan.
"Sudah bertemu Jae Kyung?" tanya tuan Lee. Mereka sedang duduk di sofa berdua. Sedang Sofia sedang membantu Nina untuk mengompres dan mengobati lebam di pipi Nina.
Sesekali terdengar suara tante Sofia yang mengumpat Heri.
"Belum. Dia bilang mau pulang tidur. Maklum lihat keadaannya. Dia juga pasti kesakitan. Jadi biarkanlah. Lagipula dia yang sudah menyelamatkan istri dan calon anakku," ucap Lee Joon.
"Kau tahu dia memutuskan untuk pergi ke Surabaya. Mengembangkan majalah fashion yang papa baru saja akuisisi. Merintisnya untuk menjadi JK Fashion Magazine di Indonesia," ujar tuan Lee.
Lee Joon jelas terkejut.
"Aku tidak tahu soal hal itu Pa. Kapan dia akan berangkat?" tanya Lee Joon.
"Bulan depan setelah pernikahan adikmu, Risma. Dia pikir, dia harus hadir di pernikahan Risma untuk menjaga nama baik keluarga kita. Tapi Papa rasa hanya akan jadi kehebohan jika kalian datang bersama," canda tuan Lee.
Lee Joon terdiam mendengar perkataan sang Papa. Sedikit terkejut dengan keputusan Jae Kyung untuk pindah ke Surabaya.
Hari berganti, hari kedua Nina dirawat.
Nina baru saja terlelap. Setelah sang suami pamit mengurus Heri yang dikabarkan bisa ditangkap lagi. Joon akhirnya pergi walaupun dengan sederet pesan dari Nina, dengan catatan harus diikuti tanpa boleh dibantah. Joon hanya bisa pasrah. Niat hati ingin menghajar Heri hingga babak belur. Namun urung dilakukan.
Sedang Sofia pulang ke rumah. Mengambil keperluan Nina. Walaupun Nina sudah melarangnya. Kerena kemungkinan besok Nina sudah boleh pulang.
Apalagi di mata Jae Kyung. Belum ada yang bisa menandingi kecantikan Nina. Kecuali gadis yang pernah dia tiduri tanpa sengaja. Yang kini entah di mana. Jae Kyung semakin frustrasi saja dibuatnya.
Perlahan di sentuhnya lembut kening Nina. Dia pikir kali ini dia harus benar-benar membunuh rasa cintanya pada kakak iparnya ini.
"Aku akan pergi bulan depan. Aku akan berusaha melupakan rasa yang aku punya untukmu," ucap Jae Kyung lirih.
"Maaf. Aku pasti sudah gila bisa melakukan hal menjijikkan itu padamu. Aku benar-benar minta maaf. Sungguh aku tidak berniat melukaimu," lanjut Jae Kyung. Lantas bermaksud beranjak pergi dari sana. Hingga suara Nina membuatnya menghentikan langkahnya.
"Tidak ingin melihatnya lahir?" tanya Nina.
Jae Kyung berbalik lagi. Pria itu melihat Nina yang sudah membuka mata, berusaha untuk duduk. Jae Kyung dengan cepat membantu Nina.
"Kau tidak tidur?" tanya Jae Kyung.
"Aku merasakan kedatanganmu. Juga aku ingin bicara padamu," ucap Nina.
"Kamu bisa merasakan kehadiranku?" tanya Jae Kyung terkejut.
"Tentu saja. Kalian kembar. Aku bisa membedakan kalian bahkan dengan menutup mata. Kalian beda. Aura saja sudah berbeda," jawab Nina. Jae Kyung tertegun dibuatnya.
"Jadi tidak mau menunggu sampai dia lahir. Kamu yang menyelamatkannya. Hingga dia akhirnya bisa melihat dunia," kompor Nina. Jae Kyung terdiam. Ditatapnya dalam bola mata kakak iparnya itu. Tidak ada kemarahan sama sekali di mata wanita itu.
__ADS_1
"Tidak penasaran dengan wajahnya," kata Nina lagi.
"Kamu tidak marah denganku?" tanya Jae Kyung.
"Marah. Sangat marah malah" jawab Nina membuat Jae Kyung tertunduk.
"Maaf," ucap Jae Kyung lirih.
"Tapi marahku padamu hanya akan mengurangi kebahagiaan yang aku rasakan. Jadi aku memutuskan untuk melupakan kejadian hari itu," jawab Nina balik menatap mata Jae Kyung. Mata yang sama dengan yang dimiliki sang suami. Nyaris tidak bisa dibedakan.
Tapi tidak dengan Nina. Sekali pandang saja dia tahu mana suaminya, mana adik iparnya.
"Jay, aku sangat bahagia dengan kehamilan ini. Aku tidak ingin merusaknya dengan masa lalu yang kamu pun ingin melupakannya kan?" ucap Nina dan Jae Kyung mengangguk.
"Aku ingin melewati kehamilanku tanpa beban di hatiku. Jadi aku berusaha memaafkanmu. Menganggapmu khilaf hari itu. Dan kamu bisakah melakukan hal sama. Melupakannya. Biarkan kita kembali ke tempat kita masing-masing. Kamu sebagai adik iparku dan aku kakak iparmu. Tidak ada rasa lebih dari itu. Bisa?" tanya Nina. Masih memandang lekat wajah Jae Kyung.
Sejenak Jae Kyung terpaku. Dia masih memandang lekat wajah Nina. Wajah wanita satu-satunya yang mampu menggetarkan hatinya. Wajah yang sudah ia tahu sejak awal tidak akan pernah jadi miliknya. Namun dia tetap nekad memupuk rasa cinta itu dihatinya. Yang akhirnya hanya membawa luka dan kecewa untuk dirinya sendiri.
"Setelah anakku lahir. Aku jamin kamu akan jatuh cinta padanya. Dan melupakan rasa cintamu padaku," ucap Nina.
"Bagaimana bisa kamu mengatakan hal itu?" tanya Jae Kyung heran.
"Sudah kodratnya seorang bayi akan merebut semua cinta dan perhatian semua orang disekitarnya," jelas Nina.
Jae Kyung terdiam.
"Tidak percaya? Buktikanlah. Tunda keberangkatanmu. Dan lihatlah dia lahir. Saat itu aku bisa jamin. Kamu akan langsung melupakan aku," tantang Nina.
Jae Kyung kembali terdiam. Namun tiba-tiba sesuatu terlintas di pikirannya.
"Baik aku akan menunda keberangkatanku. Aku akan menunggu kelahiran putrimu. Karena dia akan jadi milikku," ucap Jae Kyung yakin.
Nina sedikit terkejut.
"Belum tentu dia perempuan," sangkal Nina.
"Dia perempuan. Kamu bilang aku yang membuatnya bisa melihat dunia. Jadi aku juga bisa merasakan kehadirannya. Dan aku yakin dia perempuan. Kau dengar baby girl, kamu akan jadi milikku begitu kamu lahir," ucap Jae Kyung.
"Apa-apaan ini? Dia anakku. Bagaimana bisa kau mengklaim dia milikmu?" protes Lee Joon yang tiba-tiba saja sudah ada di belakang Jae Kyung. Tanpa mereka sadari kapan Lee Joon sampai dan masuk ke dalam kamar Nina.
*****
Up lagi readers, getting closer to the end ya readers,
Thank's for reading. Terima kasih sudah mau mampir. Happy reading everyone,
Love you all 😘😘😘😘
__ADS_1
****