
"Sepertinya mereka adalah orang-orang suruhan Tuan Lee Jae Ha, Tuan."
"Benarkah?"
"Ya, Tuan."
"Baiklah, mari beri sedikit pelajaran pada mereka. Berani-beraninya dia mencampuri urusanku!"
Pria itu hanya mengangguk patuh. Mengiyakan seluruh perintah tuannya.
******
Tap,
Tap,
Tap,
Derap langkah kaki terdengar menggema di lorong rumah sakit yang sudah mulai terlihat sepi. Kepanikan jelas tergambar di dua wajah tampan, dengan kadarnya masing-masing, yang kini seolah berusaha secepat mungkin sampai ke tujuan yang diinginkan.
"Tuan Muda, Tuan Besar mengalami kecelakaan sekarang ada di rumah sakit xx."
Pesan singkat dari asisten sang Papa, langsung membuat Joon dan Max melesat ke rumah sakit yang dimaksud.
Braaaak, terdengar pintu yang dibuka kasar.
"Pa, bagaimana keadaan Papa?" cecar Joon ketika melihat papanya tiduran di bed rumah sakit dengan tangan di perban dan digendong. Ada memar di beberapa bagian wajahnya. Terkena benturan mungkin.
Sedang asisten Jo nampak baik-baik saja, hanya beberapa luka memar dan goresan di wajah dan tangan. Begitulah yang terlihat.
"Kamu memberitahunya?" tuan Lee bertanya pada asistennya.
"Memangnya Papa ingin aku membunuh asistenmu ini, jika hal seperti ini tidak ia beritahukan padaku," ucap Joon sambil memberikan tatapan elangnya pada asisten Jo.
Asisten Jo hanya bisa menelan salivanya.
"Diberitahu salah, tidak diberi tahu apalagi. Huh ayah dan anak sama saja membuatku pusing," batin asisten Jo.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Pa?"
"Tiba-tiba rem mobilnya blong."
"Itu tidak mungkin Pa, aku dan Max baru saja memakainya siang tadi."
Ya, tuan Lee memang bertukar mobil dengan Joon ketika akan pulang. Tuan Lee berdalih ia sedang buru-buru dan akan lama jika mengambil mobilnya sendiri di basement.
"Ya mana kita tahu, Nak. Bisa saja kan hal itu terjadi tiba-tiba," ucap tuan Lee santai.
Namun tak pelak hal itu malah membuat Joon curiga. Namun ia tak ingin membicarakan hal itu sekarang.
"Lalu keadaan Papa bagaimana?"
"Hanya patah tulang dan sedikit memar. Kamu jangan khawatir, ini tidak apa-apa," sambil menunjukkan tangannya yang digendong.
Joon hanya bisa menghela nafasnya. Merasa sedikit bersalah atas apa yang menimpa papanya.
"Jangan khawatir, mamamu akan segera datang. Dia akan merawat Papa."
__ADS_1
Joon hanya terdiam mendengar ucapan papanya.
"Kamu tahu, melihatmu mencemaskan Papa membuat Papa bahagia. Bahkan Papa rela terluka jika itu bisa membuatmu menunjukkan perhatianmu ke Papa," canda tuan Lee.
"Mana ada orang terluka yang bahagia. Orang terluka pasti rasanya sakit."
Tuan Lee hanya tersenyum, ia tahu anaknya itu terlalu gengsi untuk mengakui perasaannya. Tapi ia sungguh bahagia melihat sikap putranya yang mencemaskan keadaan dirinya.
"Pulanglah, sebentar lagi mamamu datang. Dia langsung terbang ke sini. Mungkin sudah menuju ke sini. Papa menyuruh supir untuk menjemputnya."
"Kalau begitu aku akan pulang setelah Mama datang."
Tak berapa lama Sofia datang. Sama hebohnya dengan Joon ketika melihat keadaan suaminya. Untung mereka ada di ruangan VVIP sehingga tidak mengganggu pasien lain.
"Pulanglah, sudah malam. Lagipula besok pekerjaanmu akan bertambah banyak. Karena untuk sementara Papa mau liburan dulu," ucap tuan Lee seraya mengerling ke arah sang istri.
"Mana ada orang liburan di rumah sakit."
"Ooo... jangan salah, besok Papa bisa pergi ke Bali kalau Papa mau."
"Cih!" Joon mendecih dan langsung mendapat tatapan peringatan dari mamanya.
"Tidak sopan!" tegur Sofia tegas
"Sorry Ma, abisnya Papa sengaja melakukan itu."
"Melakukan apa?"
"Mengambil kesempatan dalam kesempitan."
"Sebagai pebisnis kita harus pandai mengambil keuntungan dalam segala situasi. Lihat Papa dapat musibah tapi Papa bisa mengambil ini sebagai liburan Papa. Ya kan, Ma?"
"Lagian bala bantuanmu akan segera datang. Seharusnya kamu senang bukan?"
"Apa dia sudah mengambil keputusan, Ma?"
"Kamu sudah memindahkan Nina? Mama malah belum tahu, Nina tidak cerita apa-apa ke Mama. Dia sangat sibuk akhir-akhir ini."
"Surat perintah mutasi sudah dikirim tiga hari yang lalu. Takkan dia belum mengambil keputusan."
"Kamu bilang tidak akan memaksanya. Jadi tunggulah dengan sabar. Ada banyak pertimbangan yang harus ia pikirkan. Mengertilah."
"Kamu tahu kan begitu dia datang ke sini, ingatlah, itu artinya dia yang datang kepadamu. Dia yang memutuskan untuk naik ke tempatmu. Perlakukan ia dengan baik. Ia meninggalkan banyak hal di belakangnya untuk bersamamu."
Nasihat mamanya membuat Joon terdiam. Ia memang terkesan egois dengan keputusannya untuk memindahkan Nina ke kantor pusat. Tapi dia juga tidak punya banyak pilihan saat ini.
Akhirnya Joon pulang ke apartemennya hampir tengah malam. Dengan berjuta pikiran yang ada di kepalanya. Begitu banyak yang terjadi akhir-akhir ini membuat kepalanya berdenyut seakan mau meledak.
"Aku rasa ini bukan kebetulan bos. Kecelakaan Tuan Besar, maksudku."
"Aku rasa juga begitu. Bagaimana jika mereka salah sasaran?"
"Maksud Bos?"
"Mereka menargetkanku tapi malah Papa yang menjadi korbannya."
"Aku rasa mereka sudah mulai bertindak, Bos. Mungkin mereka sudah tahu kitalah dibalik gagalnya operasi mereka waktu itu."
__ADS_1
"Mungkin saja. Dan itu artinya kita harus semakin berhati-hati."
"Siap Bos"
*****
"Apa maksudmu mereka bermaksud melukai Joon?"
"Joon baru saja menjebloskan Joni ke penjara. Membuat mereka mengalami kerugian yang yaa lumayan besar. Mungkin mereka ingin membalas dendam."
"Ah, anak itu membuatku semakin khawatir saja."
"Untung anak buah Jo berhasil mengetahui rencana mereka. Mereka melihat sesuatu yang tidak beres ketika mereka mengecek CCTV di parkiran."
"Kamu tahu Mas, kadang aku berpikir kapan kita akan menjalani hidup dengan tenang?" keluh Sofia.
"Dan kamu juga tahu, tidak ada kehidupan semacam itu. Akan selalu ada badai dalam setiap kehidupan manusia. Tinggal bagaimana kita menikmatinya. Kita patut bersyukur masih bisa diberikan waktu untuk berkumpul."
"Kamu betul, Mas."
*****
"Apa kamu bilang, Lee Jae Ha yang terluka?"
"Betul, Tuan."
"Bukankah itu bagus. Kita menargetkan putranya tapi dia sendiri yang datang menggantikan putranya ha... ha... ha."
Sementara itu di sebuah klinik swasta, tampak Mike tengah diperiksa oleh dokter Pras. Dokter ahli kejiwaan yang beberapa tahun terakhir ini menjadi tempatnya berkonsultasi tentang kesehatan mentalnya. Bukan berarti Mike gila ya.
Beberapa waktu ini Mike mulai terganggu dengan rasa sakit kepala yang acapkali menyerangnya tiba-tiba. Dan rasa sakit itu membawa serpihan, sekelebatan bayangan dari kenangan yang sama sekali ia tak merasa memilikinya. Apalagi sejak hari itu, sejak ia bertemu Lee Joon, kepalanya semakin sering terasa sakit. Berdenyut-denyut tanpa tahu sebabnya.
Dan akhirnya di sinilah ia, setelah berulangkali didesak oleh Doni asistennya dan juga Maya sekretarisnya. Maya yang notabene anak dari dokter Pras sedikit tahu tentang ilmu kejiwaan, menyarankan untuk berkonsultasi dengan sang ayah. Mengingat hal itu semakin parah beberapa waktu ini.
"Apa ada yang salah dengan saya, Dok?"
"Apa yang Anda rasakan sekarang?"
"Saya merasa seperti melihat kenangan-kenangan yang saya rasa bukan milik saya akhir-akhir ini."
"Apa Anda bertemu orang baru akhir-akhir ini?"
Sejenak Mike berpikir, lantas menjawab
"Iya, Dokter. Rekan bisnis saya. Dan anehnya dia berpikir kalau saya adalah teman dekatnya. Tapi saya tidak ingat dengan dia. Namun saya merasa sangat akrab dengan suara dan sikap orang itu. Seolah benar, kami pernah mengenal satu sama lain di masa lalu." jelas Mika
"Siapa orang itu? bisa jadi orang itu dapat membantu memulihkan ingatan Tuan Mike. Kasihan tuan Mike. Tapi saat ini aku belum bisa bertindak karena Tuan Burhan terus mengancamku. Aku harus bicara pada Doni dan Maya."
"Ah... itu mungkin saja reaksi dari alam bawah sadar Anda. Karena Anda merindukan orang-orang yang Anda kasihi. Saya akan meresepkan obat seperti biasanya. Apakah obat ini masih membantu."
"Ah iya, Dok, obat itu sangat membantu."
"Usahakan agar Anda tidak terlalu stres, itu tidak baik untuk kesehatan mentalmu."
"Saya usahakan, Dokter."
Dokter Pras tahu, yang Mike rasakan adalah reaksi dari obat penekan memori yang mulai ia kurangi dosisnya. Sehingga pikiran Mike sedikit demi sedikit mulai mengingat masa lalunya. Dan sakit kepala itu muncul karena Mike sedikit memaksa pikirannya untuk mengingat masa lalunya.
__ADS_1
Reaksi yang wajar karena rasa penasaran Mike akan masa lalu yang tidak ia ingat.
****