
Kedua gadis itu hanya saling pandang pada awalnya. Hingga akhirnya Nina menghambur memeluk Dina.
"Mbak Dina, ini mbak Dina kan? Ini aku Karen Mbak," ucap Nina di sela-sela tangisnya yang mulai pecah. Semua hanya melongo melihat pemandangan itu. Terlebih Dina. Perlu beberapa saat bagi Dina untuk menyadari perkataan Nina.
Flasback on
Sekelebat kenangan tentang seorang anak perempuan menangis tersedu-sedu, tangannya menggapai-gapai pada seorang anak perempuan yang umurnya empat atau lima tahun lebih tua dari anak perempuan itu.
"Mbak Dina, Karen ikut mbak Dina aja. Karen nggak mau ditinggal sendirian di sini," ucap gadis kecil itu sambil terus meronta dari pegangan ibunya.
"Ibu, jangan biarin mbak Dina pergi Bu. Papa Burhan jangan bawa mbak Dina pergi," kembali gadis kecil itu merengek. Memohon kepada orang dewasa yang ada di sana. Ada ayahnya, ibunya dan seorang laki-laki yang ia panggil papa Burhan.
Sedang Dina kecil tidak sanggup berkata-kata. Airmata sudah tumpah dari tadi. Mengalir deras di kedua belah pipi chubbynya. Sebuah mobil tampak sudah siap dengan mesin yang sudah dihidupkan.
"Tidak bisakah kamu mengubah keputusanmu?" tanya ayah si gadis kecil itu.
Yang ditanya hanya menggelengkan kepala.
"Maaf," hanya kata itu yang terucap dari bibirnya waktu itu.
Perlahan dia mendekati gadis kecil itu. Diusapnya lembut kepala gadis itu. Lantas diciumnya juga kepala gadis kecil itu.
"Karen sayang, Papa harus pergi. Ada hal yang harus Papa urus. Nanti kapan-kapan Papa akan pulang sama mbakmu untuk menjenguk kamu," ucap pria itu.
"Papa tidak sayang Karen, Papa mau pergi ninggalin Karen. Kalau Papa dan mbak Dina pergi nanti Karen sendirian," gadis itu terus mengoceh sambil terus menangis sesenggukan.
"Siapa yang bilang Papa tidak sayang Karen. Selamanya Papa akan tetap menyayangi Karen. Papa janji. Lagipula kamu tidak akan kesepian. Karena sebentar lagi dedek bayi di perut ibumu ini akan lahir. Jadi Karen akan punya teman buat main," bujuk pria itu.
"Tapi tetap beda Pa. Itu dedek bayi. Bukan mbak Dina. Karen maunya mbak Dina," tangis gadis kecil itu semakin keras. Pria itu putus asa bagaimana membujuknya.
"Sudahlah. Nanti dia juga akan berhenti sendiri. Berangkatlah jika kamu memang sudah bulat dengan keputusanmu," ucap ayah gadis kecil itu.
Pria itu hanya menarik nafasnya pelan.
"Karen sayang, Papa dan mbak Dina pergi dulu ya," dan ucapan pria itu langsung membuat gadis kecil itu menangis histeris. Tangisnya semakin kencang ketika kedua orang itu memasuki mobil. Dengan Dina yang setengah protes dengan keputusan Papanya. Meski dengan terpaksa dia akhirnya menuruti perintah Papanya.
"Tolong jaga Karen, bagiku dia sudah seperti putri kandungku. Ingatlah di dunia ini aku punya dua putri. Karen dan Dina. Aku pergi dulu."
Mobil itu perlahan meninggalkan halaman rumah sederhana itu. Diiringi tangis gadis kecil itu yang tak kunjung reda. Bersamaan dengan tangis Dina yang juga tak mau berhenti.
Flashback off
Perlahan tangan Dina mulai membalas pelukan Nina.
"Ini beneran kamu, Ren?" tanya Dina tidak percaya. Sedang Nina sudah berurai air mata dari tadi. Kakak yang ia rindukan selama bertahun-tahun ini. Akhirnya ia bisa menemukannya.
"Ini aku Karen, Mbak. Mbak kemana saja. Nggak pernah kasih kabar. Nggak pernah pulang," Nina setengah protes pada mbaknya itu.
"Maaf," satu kata yang keluar dari bibir Dina. Dia tidak bisa menceritakan alasan kenapa dia tidak pernah menghubungi Nina ataupun pulang untuk sekedar mengunjungi Nina.
Karena setelah kepergian mereka hari itu.Sang Papa berubah drastis sikapnya. Tidak sehangat dulu. Tidak pernah lagi menunjukkan kasih sayangnya lagi. Menjadi dingin dan terkesan cuek dengan Dina. Papa Dina hanya kerja, kerja dan kerja.
Pernah sekali Dina meminta izin untuk pulang ke Jogja dengan alasan tentu saja rindu dengan Nina. Bukannya izin yang Dina terima tapi malah amukan besar dari papanya.
Hingga sejak saat itu Dina tidak pernah lagi menyebut kata Jogja di depan papanya. Dipendamnya semua rasa rindu untuk adik kecilnya Karen. Sambil berdoa agar suatu hari nanti dia bisa bertemu dengan adik angkat yang sangat ia sayangi itu. Dan hari ini doa Dina terkabul.
Akhirnya para wanita itu duduk di sofa sambil mengobrol seru. Pun dengan Karin yang langsung akrab dengan Dina setelah dikenalkan oleh Nina. Mengobrol sambil menikmati cemilan yang Nina dan Karin bawa. Sesekali terdengar gelak tawa dari ketiga gadis itu. Membuat para pria itu hanya bisa saling pandang.
"Sebenarnya apa sih yang mereka omongin. Sampai bisa ketawa ngakak seperti itu," akhirnya Max bersuara. Mengutarakan rasa penasarannya.
"Entah," jawab dua pria yang lain sambil mengedikkan bahu.
Sedang ekspresi Doni langsung berubah seketika, mengingat siapa Nina sebenarnya.
"Bagaimana reaksi Tuan Muda Lee, jika tahu kalau Nina kekasihnya adalah putri angkat dari tuan Burhan. Orang yang selama ini mereka curigai," batin Doni.
__ADS_1
"Jadi dia itu pacarmu?" tanya Max. Doni mengangguk.
"Aku perlu memberitahu kalian satu hal. Dina, kekasihku adalah putri dari tuan Burhan."
"What!!!" Max hampir saja berteriak. Namun buru-buru ia tutup mulutnya dengannya sendiri.
"Kamu tidak sedang bercanda kan?" Joon bertanya.
"Aku serius. Kami backstreet hampir dua tahun ini. Tapi aku pikir papanya sudah tahu akan hal ini"
"Backstreet?" Joon dan Max berkata hampir bersamaan.
"Iya, backstreet dari tuan Burhan. Dan satu lagi, kejadian ini ada hubungannya dengan tuan Burhan."
Joon dan Max hanya saling memandang.
"Sudah kuduga. Tapi apa masalahnya. Apa karena kamu memacari putrinya?" tanya Joon.
"Bukan karena itu. Ini karena tuan Burhan sudah curiga tentang keberadaan tuan Mike." Ketiganya terdiam sejenak.
"Lalu langkah kita selanjutnya apa? Kita sudah tidak mungkin mundur lagi kan. Terapi Mike sudah berjalan sesuai jadwalnya. Dan dokter Pras juga mengatakan jika keadaan Mike semakin membaik," kembali Max yang berbicara.
"Betul katamu Max. Kita tidak bisa mundur lagi. Terapi Mike harus dilanjutkan apapun resikonya. Aku akan meningkatkan keamanan di villa selama Mike di Bandung," ucap Joon.
"Aku setuju denganmu tuan muda Lee. Aku juga sudah menghubungi ayahku untuk ikut mengawasi keamanan di villa," sambung Doni.
"Kita harus semakin waspada. Karena orang yang menculikmu dan orang yang hampir menabrak Nina adalah orang yang sama," kembali Joon berbicara.
Doni terkejut. "Maksudmu, ada kemungkinan orang itu bekerja untuk tuan Burhan?" tanya Doni seketika.
Pertanyaan Doni dijawab anggukan yang bersamaan dari Joon dan Max. "Sepertinya tuan Burhan sudah mulai suka bermain kotor," ucap Doni mengambil kesimpulan.
"Aku penasaran Dina kan anaknya Burhan. Apa kamu tidak curiga dengan dia. Maksudku dia akan seperti papanya. Maaf tapi sebelumnya." tanya Max.
"Orang akan berpikiran seperti itu, jika tahu bagaimana papanya. Tapi aku jamin Dina tidak seperti papanya. Dia cukup menderita selama ini. Melihat bagaimana perlakuan papanya pada Dina. Dingin, tanpa kasih sayang," jawab Doni sambil menghela nafasnya pelan.
"Aku menjaminnya dengan nyawaku," jawab Doni mantap.
"Baik aku pegang jaminanmu. Kalau dia sampai berkhianat. Kamu orang pertama yang akan aku lenyapkan," ancam Joon.
"Siap, Tuan Muda," Doni mencoba bercanda.
"Dia paling benci pengkhianat dan dikhianati." bisik Max di telinga Doni. Pria itu pun hanya tersenyum.
"Lalu bagaimana kantor jika kamu tinggal tidur di sini. Mike masih ada satu minggu lagi di Bandung " tanya Joon setelah keheningan sejenak menyelimuti mereka bertiga.
"Ada Maya yang bisa diandalkan. Dan juga ada Bimo. Asisten tuan Mike yang satu lagi."
Dan gelak tawa dari gadis-gadis itu kembali mengundang perhatian dari pria-pria itu.
"Aku benar-benar penasaran dengan apa yang sedang mereka bicarakan," Max berkata.
"Apalagi yang Kpopers bicarakan kalau lagi ngumpul selain idol mereka," sahut Doni bosan. Membuat Joon dan Max mendengus kesal.
"Itu kalau ditambah Maya pasti sudah kayak pasar pindah ke sini," kembali Doni bicara.
"Maya? Sektretarksnya Mike?" tanya Joon.
"Iya, sudah deh. Orang Maya juga satu server dengan mereka. Kpopers," ucap Doni bersungut-sungut.
"Haiisshh, apa sih hebatnya mereka?" tanya Max kesal. Ingat bagaimana ia tiap kali jalan dengan Karin yang dibahas hanya itu saja. Kpop, Kdrama, BTS, Blackpink. Sungguh Max tidak nyambung dengan hal-hal seperti itu.
Ketiganya kembali hanya bisa menarik nafas. Ketika ledakan tawa kembali terdengar.
Hampir pukul sepuluh malam saat mereka memutuskan untuk membubarkan diri. Padahal para gadis itu sebenarnya masih ingin mengobrol lagi. Tapi para pria sudah memberikan tatapan horor mereka. Membuat mereka mau tidak mau mengikuti kemauan para pria itu.
__ADS_1
Padahal Nina masih ingin kangen-kangenan dengan Mbaknya yang baru saja ia temukan.
"Masih pengen ngobrol," ucap Nina manja pada mbak Dinanya. Joon melotot melihat kelakuan Nina.
"Biasa aja kali Bos ngeliatinnya. Itu sama mbaknya. Perempuan lagi. Masak iya Bos cemburu?" ucap Max dan langsung mendapat tatapan intimidasi dari Joon.
"Sudah pulang saja dulu sana. Kan kita sudah ketemu. Masih banyak waktu buat kita ngobrol. Betul nggak Rin," dan disambut acungan jempol dari Karin.
"Pulang dulu sana. Nanti pacarmu ngambek lo. Kalau pacarmu ngambek bisa banyak yang susah."
"La?"
"Akan banyak tender yang nggak bakal dilolosin sama dia nantinya."
Dan ucapan Dina sukses membuat Joon jadi salah tingkah.
"Aku bener kan Tuan Muda Lee. Sungguh aku tidak menyangka jika adik kecilku yang cengeng ini yang jadi kekasihmu Tuan Muda," ucap Dina kalem. Nina membelalakkan matanya. Sedang Joon jadi punya bahan untuk membulli kekasihnya itu.
"Emang dia cengeng dulunya Mbak?"
"Banget," dan jawaban Dina sukses membuat Nina memerah menahan malu.
"Tu kan bener. Tahu gitu masih nolak juga dipanggil cengeng," ejek Joon. Membuat yang lainnya tercengang melihat Joon bisa bercanda.
"Wah ternyata Tuan Muda tidak semenakutkan yang orang ceritakan ya," ucap Dina tanpa takut. Max bahkan hampir tersedak salivanya sendiri.
"Berani sekali wanita ini. Sama dengan Nina sifatnya," batin Max.
"Sudah-sudah sana cepat pulang. Sudah malam. Tuan Muda titip Karen ya"
"Mbak, jangan panggil Karen dong," protes Nina.
"La kamu ganti nama?" tanya Dina.
"Enggak. Cuma nanti aku bakal dibuli kalau Mbak panggil aku Karen," ucap Nina sambil berbisik dengan mata melirik ke arah Joon.
"Panggil aku Nina sekarang ya Mbak, please."
"Haisshh, sejak kapan anak ini jadi begitu manja," batin Joon melihat tingkah Nina hari ini.
Sedang Max, Karin dan Doni hampir meledak tawanya melihat wajah Joon dengan wajah yang sulit dibaca. Antara heran, cemburu, kesal dan entah apalagi yang dia tengah rasakan kali ini.
"Sudahlah Bos, itu mbaknya bukan Adam. Nah kalau Adam silahkan Bos lenyapkan. Lah itu mbaknya lo. Calon kakak ipar " bisik Max di telinga Joon.
"Eh, iya juga. Dia kan calon kakak ipar," batin Joon membenarkan kata-kata Max.
"Sudahlah ayo kita pulang. Sudah malam. Aku harus balik Bogor. Mama menyuruhku pulang."
"Kamu mau nyetir sendiri ke Bogor? Sudah malam."
"Gaklah kan ada Riko."
"Ooo. Kirain mau nyetir sendiri. Takut kenapa-kenapa."
"Kamu khawatir ya sama aku?"
"Haisshh, kumat narsisnya. Ayo ah pulang. Ngantuk nih. Mbak pulang dulu ya. Bye," ucap Nina berpamitan dengan Dina. Yang lantas diikuti yang lain.
Hampir tengah malam mereka sampai di apartemen.
" Rin, langsung naik ya. Jangan mampir-mampir." pesan Joon pada Karin.
"Baik Bos."
Mereka berpisah di lobi apartemen. Ketiga orang itu naik ke lantai 25. Sedang Joon yang sudah ditemani Riko langsung meluncur ke Bogor.
__ADS_1
****