Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 18


__ADS_3

Klub malam xx, Jakarta


Setelah mengantar bosnya pulang ke apartemen. Di sinilah Max berada, mengemban misi yang sangat menyenangkan menurutnya. Bagaimana tidak, disuruh bermain-main dengan wanita adalah kesukàannya.


Dengan wajah sumringah seperti biasanya dia memasuki klub. Langsung menuju ke meja bartender langganannya. Sejenak menikmati hingar-bingar suasana klub malam itu.


Banyak yang sudah berjoged ria di bawah lampu temaram yang berkelap-kelip. Atau sekedar menikmati minuman yang disiapkan para bartender. Namun ada juga yang berani. Melakukan kegiatan panas mereka di sudut-sudut ruangan klub malam itu.


Suasana yang temaram dan pencahayaan yang kurang memang mendukung mereka untuk melakukan hal-hal semacam itu. Belum lagi suara musik yang terdengar begitu memekakkan telinga. Mampu menutupi suara-suara yang mungkin timbul dari kegiatan panas mereka.


"Seperti biasanya," katanya singkat. Dan tak lama segelas minuman yang entah author aja nggak tahu ( ogah mau nyari tahu) tersaji di atas meja.


"Mau seseorang," tawar bartender yang tahu kebiasaan Max.


"Aku sedang dalam misi. Sudah ada yang menungguku," ucapnya sambil bercanda.


"Enjoy your night."


Dan Max hanya mengangkat gelasnya mengiyakan ucapan bartendernya itu.


"Tidak perlu dicari, dia sendiri yang akan mencarimu. Aku jamin itu," ucap Joon


Dan benar saja, tak lama seorang wanita dengan dress mini berwarna merah menyala datang mendekat.


"Perlu teman?" tanyanya dengan nada menggoda.


Max terdiam, sejenak memindai penampilan wanita di depannya.


"Lumayan juga,untuk menghabiskan malam ini, cukup s***i dan menggoda. Sayangnya bekas laki-laki tua itu," batin Max.


Sedang si wanita itu, langsung berbinar melihat Max. Seperti mendapat jackpot.


"Wow, s**** banget ni orang."


Penampilan Max memang 11,12 dengan Joon. Sama-sama tampan dengan kadar ketampanan masing-masing. Sama-sama memiliki tubuh atletis dan proporsional. Keduanya hanya berbeda di tinggi. Joon lebih menjulang dengan tinggi hampir menyentuh 185 cm,sedang Max mentok di 170 cm.


Max hanya mengangguk, dan si wanita langsung menduduki kursi di sebelah Max.


"Bella."


"Rian."


Max menggunakan nama Rian saat berada di luar lingkungan kantor. Kepanjangan dari namanya Max Aldrian. Ia tidak ingin kebiasaannya ini merusak nama baik Joon. Meski ia harus ekstra hati-hati. Karena ada banyak orang yang bisa memanfaatkan dirinya untuk melakukan sesuatu kepada Joon.


Karena itu ia biasanya hanya mengambil wanita yang sudah disediakan oleh bartender langganannya itu. Di club itu, hanya bartender itulah yang tau dirinya adalah tangan kanan Lee Joon.

__ADS_1


Sang bartender sejenak tampak mengedipkan sebelah matanya ke Max. Sedang Max tampak menganggukkan kepalanya sebagai jawaban bahwa ia tahu wanita di hadapannya ini.


"Ingin minum?" tanya Max dengan suaranya yang terdengar s***i di telinga Bella.


"Wow, dengar suaranya saja langsung sudah buat otakku traveling ke mana-mana," batin Bella.


"Tentu!" jawab Bella segera. Dan kembali segelas minuman sudah tersaji di atas meja. Keduanyapun menyesap minuman masing-masing.


"Mau melantai dulu atau mau langsung saja?" tanya Max.


Bella memang sudah mulai menggoda Max. Dia sedikit menggerakkan tubuhnya mencoba memamerkan tubuhnya yang indah. Semakin membuat iman Max yang memang secetek selokan depan rumah semakin tergoda.


"Bagaimana kalau kita langsung saja. Kamu terlihat sangat menggoda," jawab Bella.


Dan tak lama keduanya sudah mulai menaiki tangga ke lantai 3.Setelah sang bartender menyerahkan sebuah kunci kamar VVIP.


Dan begitu pintu terkunci Bella langsung menyerang Max dengan agresif. Dan malam itu menjadi malam yang panjang bagi keduanya. Malam panas yang dilalui keduanya membawa mereka melintasi cakrawala. Menggapai indahnya surga dunia.


Hampir 4 jam keduanya bergelut dengan kegiatan panas mereka. Hingga tubuh keduanya ambruk di ranjang. Setelah keduanya mencapai puncak masing-masing. Max tertidur setelah kelelahan dengan kegiatan panas yang baru saja mereka lalui. Tapi tidak dengan Bella.


Dia hampir saja lupa dengan misi yang sebenarnya gara-gara terlalu asyik dalam permainan panas Max.


"Pria ini benar-benar bisa bikin aku lupa diri," batin Bella.


Bella yang melihat Max sudah tertidur, perlahan bangkit dari ranjang. Masih dengan tubuh nak*dnya. Meraih jas Max mencoba mencari-cari sesuatu di dalamnya. "Dapat" batin Bella. Dan detik berikutnya ia menempelkan benda kecil, sangat kecil di ponsel Max. Bella tersenyum merasa ia sudah berhasil melakukan tugasnya. Tanpa sadar Max yang hanya pura-pura tidur mengamati dengan senyum smirk terlihat di wajahnya.


Bella berbalik dan naik ke atas ranjang kembali. Betapa senangnya Bella malam itu. Dia akan mendapat bonus yang besar dari tuan Joni dan sekaligus bisa menghabiskan malam berdua dengan pria sekelas Max. Yang ternyata sangat luar biasa.


"Asistennya saja sudah sehebat ini. Bagaimana dengan bosnya yang super hot itu. Ahh, jadi penasaran bagaimana rasanya menghabiskan malam berdua dengan Lee Joon," batin Bella sambil memandang wajah Max.


" Kamu menginginkannya lagi," tanya Max tiba-tiba.


Belum sempat Bella menjawab, Max sudah kembali menyerang Bella.


"Gila! Pria ini benar-benar hebat. Sangat luar biasa," teriak Bella dalam hatinya.


***


"Bagaimana?" tanya Joon ketika keduanya sudah duduk di ruang kerja Joon.


Max lantas memberikan ponselnya.


"Bagus, kamu benar-benar hebat.Oke kita lihat apa yang sudah kita dapat," Joon mulai mengutak-atik laptopnya.


"Oke kita tinggal hasilnya."

__ADS_1


"Baik Bos!" jawab Max


"Bagaimana semalam?"


"Aaah, dia benar-benar nikmat."


Jawaban Max langsung membuat Joon terbelalak. "Aku bertanya bagaimana kamu melakukannya. Bukan bertanya tentang.... Joon menggantung ucapannya. "Kamu tidur dengan wanita itu?"


"Ya iyalah Bos, ada depan mata buat apa disia-siakan. Lagian dia begitu menggoda, sayang kalau dilewatkan," jawaban Max langsung mendapat lemparan bantal sofa dari Joon.


"Yaelah Bos, masak bantal lagi. Kasih lemparan bonus gitu."


"Sudah aku transfer."


"Ha? Beneran Bos. Besok-besok lagi, kalau ada tugas seperti itu, biar saya saja yang melakukannya. Udah enak, dapat bonus lagi." Seloroh Max santai.


Dan lagi-lagi sebuah lemparan bantal Max terima dari Joon.


"Haduh Bos, Bos ini kenapa sih. Makanya, Bos coba sekali saja pasti ketagihan," ucap Max enteng.


"Kamu ngajarin aku hal yang nggak bener ya."


"Bukan begitu Bos. Itu adalah kebutuhan untuk pria dewasa seperti kita. Kecuali Bos memang ada kelainan."


"Enak saja kalau ngomong. Aku normal. Aku bisa saja membuatnya hamil jika dia ada di sini."


"Dia? Dia siapa Bos? Pacar Bos?"


"Lah itu tahu. Aku nggak mau melakukan hal itu selain dengannya." Seketika terbayanglah wajah Nina di pikiran Joon. Membuat Joon tersenyum.


"Yah kumat lagi deh gilanya. Sebenarnya seperti apa sih gadis yang disebut-sebut bos sebagai pacarnya itu." Max membatin penasaran.


Max memperhatikan bosnya yang sibuk dengan laptopnya. Lantas menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak paham dengan jalan pikiran bosnya itu.


Di sisi lain,


"Ma, datanglah ke sini minggu depan. Ina ingin berpamitan. Ia akan kembali ke Surabaya. Dan Papa rasa, sudah waktunya kita memberitahu Joon yang sebenarnya."


Semua akan kembali ke tempatnya, walaupun ia tahu, mungkin akan ada bahaya yang datang mengancam jika keluarganya kembali bersatu.


"Tapi apapun akan aku lakukan untuk melindungi keluargaku. Bahkan kalau aku harus mengorbankan nyawaku sendiri. Akan aku lakukan."


Sudah cukup selama ini, ia membiarkan keluarganya berantakan. Tapi sekarang hal itu tidak akan terjadi lagi.


*****

__ADS_1


__ADS_2