Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 72


__ADS_3

Teriakan histeris terdengar di ruang VVIP tempat Nina dirawat. Hal itu entah sudah yang ke berapa kalinya terjadi, sejak Joon membawanya ke rumah sakit itu. Sebuah rumah sakit swasta di kawasan Jakarta Timur.


Para dokter dan suster langsung berlarian masuk ke ruangan itu. Anggota keluarga yang lain langsung menyingkir. Nina selalu menangis histeris tiap kali terbangun dari tidurnya. Menolak semua orang yang ingin mendekatinya. Merasa ketakutan dengan keadaan sekelilingnya.


Dia hanya bisa ditenangkan dengan suntikan obat bius. Itupun butuh beberapa orang untuk mengunci pergerakaan Nina agar obat bius bisa disuntikkan ke tubuhnya. Seperti saat ini. Nina sudah kembali tertidur setelah 3 orang suster berjibaku dengannya.


"Dokter Pras akan segera tiba. Maaf tapi sepertinya kita harus berkonsultasi dengan psikiater untuk memastikan keadaannya Nona Nina. Sepertinya Nona Nina mengalami trauma yang cukup hebat," jelas sang dokter.


Semua orang yang ada diruangan itu menghela nafasnya. Tuan Lee, Sofia. Bu Ratna, Risma, semua terlihat begitu cemas dengan keadaan Nina. Terlebih bu Ratna. Bermaksud datang ke ibukota untuk memberi kejutan kepada Nina. Justru dirinya yang mendapat kejutan dengan keadaan sang putri.


Sedang Joon, dia hanya bisa duduk dengan lesu di sofa. Tiap kali Nina menangis histeris dia hanya bisa ikut berkaca-kaca. Menyaksikan bagaimana kekasih hatinya bersikap seperti itu.


Bekas lebam dan memar di wajahnya sudah jauh berkurang setelah dikompres dengan air es oleh sang Mama. Sang Mama dan yang lainnya sempat shock melihat wajah Joon yang babak belur.


"Sekali-sekali jadi orang jelek kan nggak apa-apa, Ma," ucap Joon sambil bercanda. Sang mama langsung mengeplak lengan sang putra.


"Bercanda tapi nggak kayak gini juga kali," timpal Sofia. Tuan Lee berulang kali bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Joon hanya bisa menjawab kalau Heri berusaha melecehkan Nina.


Semua orang duduk kembali di sofa. Dokter yang menangani Nina mengatakan kemungkinan Nina akan bangun sebentar lagi. Karena dia hanya memberikan obat bius dengan dosis rendah. Jika dokter Pras tiba, dia bisa menganalisa tentang trauma yang tengah dialami oleh Nina.


Ceklek, pintu terbuka. Masuklah dokter Pras yang langsung disambut oleh Joon. Sebab hanya dialah yang mengenal dokter Pras ketimbang yang lain.


"Selamat malam semua," sapanya pada semua orang.


"Selamat malam, Dok?" sapa tuan Lee.


"Oh tuan Lee, senang bertemu Anda. Dan juga Anda, Nyonya," sapanya kembali.


"Bisa saya tahu ceritanya, sebelum saya bertemu langsung dengan pasien. Ah maaf, mohon tidak keberatan jika saya menyebut Nina dengan pasien. Saya sudah terbiasa melakukannya,"


"Tidak masalah, Dok," jawab bu Ratna.


"Dan Anda?"


"Perkenalkan saya ibunya, Ratna. Dan yang di sana Risma, adiknya Nina," ucap bu Ratna memperkenalkan diri dan Risma yang tengah menunggui sang kakak yang masih tertidur.


"Senang bertemu dengan Anda, Bu. Harap tetap tenang dan bersabar menghadapi ini semua," ucap dokter Pras kembali.


"Nah sekarang bisa ceritakan yang terjadi pada Nina?"


"Singkatnya Heri mencoba melecehkan Nina, Om," jawab Joon karena memang Joonlah yang tahu kejadiaannya.


"Detailnya," selidik dokter Pras.


Sebagai psikiater tentu dokter Pras dengan mudah bisa mengetahui seseorang itu sedang berbohong atau tidak. Dan Joon, dokter Pras dengan jelas bisa mengetahui, jika Joon tengah menyembunyikan sesuatu.


"Ah, itu....itu...."


Belum sempat Joon bercerita, teriakan Nina kembali terdengar. Bahkan kali ini disertai bunyi "braaakkk". Semua orang langsung mengalihkan pandangannya ke arah Nina. Ternyata Risma sudah di dorong jatuh oleh kakaknya itu.


Semua orang langsung berhamburan lari ke arah Nina, yang mulai berteriak dan bergerak ke sana ke mari tidak terkendali.

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa?" tanya bu Ratna sambil menolong Risma untuk berdiri.


"Nggak apa-apa, Bu. Risma terlalu terkejut hingga terjengkang ke belakang," balas Risma.


"Jangan mendekat! Jangan mendekat! Menjauhlah dariku!" begitulah teriakan histeris Nina. Berulang-ulang. Dia sama sekali tidak mau melihat orang lain. Nina menutup rapat kedua telinganya dengan kedua belah tangannya.


Sejenak dokter Pras hanya diam mengamati tingkah laku Nina. Beberapa suster dan seorang dokter sudah siap di belakang dokter Pras. Beberapa saat kemudian dokter Pras berbalik. Menghadap ke semua orang yang ada di ruangan itu.


"Siapa yang terakhir kali bersamanya atau yang menolongnya, saat berada di tempat kejadian. Selain pelakunya tentunya?"


"Lee Joon yang terakhir bersama Nina. Dia juga yang membawa Nina ke sini," tuan Lee menjelaskan.


"Coba kamu dekati dia. Kau tidak takut kan jika kekasihmu menyerangmu?"


"Tentu saja tidak."


"Coba dekati dia dan ajaklah bicara. Panggil dia dengan sebutan yang biasa kamu gunakan untuk memanggilnya," jelas dokter Pras.


Joon menurut. Perlahan dia mendekati Nina. Gadis itu kini duduk di sudut kamar sambil memeluk lututnya. Persis seperti terakhir kali Joon melihatnya saat di kamar Heri. Bibirnya tak berhenti berucap "jangan mendekat. Menjauh dariku" hanya itu.


"Baby, ini aku. Kamu bisa mendengarku?" ucap Joon. Sambil berjongkok di depan. Menyesuaikan dengan tinggi Nina.


"Baby," panggil Joon lagi. Nina berhenti bergumam. Perlahan dia mengangkat wajahnya. Menatap seseorang yang memiliki suara yang begitu ia kenal. Seketika air mata Nina kembali berurai.


"Lee Joon. Lee Joon.... " ucap Nina, langsung menghambur masuk ke dalam pelukan Lee Joon. Lee Joon dengan segera memeluk balik Nina. Merengkuh tubuh ringkih itu. Berusaha membuatnya merasa nyaman.


Melihat hal itu semua orang menarik nafasnya lega. "Lee Joon dia menyentuhku. Dia menciumku. Hiii tubuhku kotor. Dia....," ucap Nina sambil terisak dalam pelukan Lee Joon.


Semua itu tidak lepas dari pengamatan dokter Pras. Hampir setengah jam berlalu. Hingga pada akhirnya Nina bisa tidur dalam pelukan Joon. Joon bergabung dengan dokter Pras dan yang lainnya duduk di sofa. Setelah menidurkan Nina di bed rumah sakit, yang lebih mirip ranjang queen size. Dengan Risma yang kembali setia menunggui sang kakak sambil memainkan ponselnya.


"Jadi kita sudah bertemu pawangnya," ucap dokter Pras sambil tersenyum. Yang lain pun ikut tersenyum lega.


"Bagaimana itu bisa terjadi, Dok?" tanya Sofia.


"Ya secara singkatnya karena Lee Joonlah yang menolong Nina. Jadi secara reflek otaknya merekam suara dan wajah Lee Joon dengan record yang baik di otaknya. Di antara bad record yang lain di otaknya. Tapi satu hal. Jika aku tidak salah tebak. Kamu juga andil dalam trauma Nina," ucap dokter Pras yang membuat semua orang kembali menatap Lee Joon.


Lee Joon terdiam. Ia menatap lurus ke arah dokter Pras yang juga balik menatapnya. "Trauma Nina masih kategori ringan belum terlalu parah. Masih bisa disembuhkan, karena dia masih bisa mengenali orang yang telah menolongnya. Dengan begitu kita bisa menyembuhkan traumanya melalui orang itu. Tapi dari pengamatanku. Sebelum hari ini terjadi. Nina pernah mengalami hal yang sama sebelumnya," dokter Pras menjeda ucapannya.


"Gleeek," Lee Joon hanya bisa menelan salivanya susah payah.


"Baiklah kalau begitu. Saya akan undur diri dulu. Bicarakan ini terlebih dahulu. Karena saya paham mungkin ini bersifat pribadi bagi keluarga kalian. Dan kalau dia bangun lagi suruh pawangnya untuk menjinakkannya. Saya akan kembali besok," ucap dokter Pras seraya berdiri dan berjalan menuju pintu. Dia menepuk bahu Joon pelan ketika melewatinya sebelum keluar dari sana.


"Jadi ada sesiapa yang ingin menjelaskan tentang hal ini. Kenapa dokter Pras bisa berkata kalau ini bukanlah kejadian yang pertama bagi Nina. Nina pernah dilecehkan sebelumnya. Apakah itu betul?" tanya tuan Lee kepada semua yang ada di ruangan itu. Namun pertanyaan itu terasa lebih tertuju kepada Lee Joon.


"Itu betul Om, dan pelakunya adalah tuan muda Lee," jawab Karin yang tiba-tiba saja sudah masuk ke dalam ruangan itu.


Perkataan Karin membuat shock semua orang di dalam ruangan itu. Terlebih Bu Ratna dan Sofia. Tuan Lee langsung memijat pelan pelipisnya. Rasa pusing langsung menyerangnya. Lee Joon sendiri, langsung menundukkan kepalanya. Tidak berani menatap semua orang yang ada diruangan itu. Max pun sama terkejutnya dengan yang lain.


"Apa kamu tidak mau mengakuinya Lee Joon?" tanya Karin langsung mencengkeram kerah kemeja Lee Joon.


Semua orang kembali terkejut dengan ulah Karin.

__ADS_1


"Sayang lepaskan dulu," buru-buru Max berusaha membujuk Karin. "Sebentar! Aku hanya ingin mendengar dia mau mengakui perbuatannya atau tidak," ucap Karin tegas tanpa melihat ke arah Max. Dia menatap tajam Lee Joon yang tidak berani menatap dirinya.


"Tatap mataku dan katakan kau melakukannya atau tidak?" tanya Karin lagi.


"Jawab Lee Joon!" kali ini tuan Lee yang bicara dengan nada yang sudah naik satu oktaf.


Semua orang hanya bisa diam seolah menunggu jawaban dari Joon. Detik berikutnya Joon menganggukkan kepalanya.


"Benar aku pernah ingin melecehkan Nina tapi....." belum sempat Joon melanjutkan ucapannya sebuah pukulan mendarat sempurna di wajah Joon.


"Buuuggghhhhh."


"Aaawww, Kariiiiin!" teriak Joon.


"Kamu benar-benar brengseeek!" umpat Karin sambil kakinya terus menendang kaki Joon berulang-ulang. Karin seolah tidak ingin berhenti hingga akhirnya Max menarik Karin menjauh dari Joon.


"Lepaskan aku! Aku belum selesai menghajar si brengseek itu! Sudah aku katakan, kalau aku akan menghajarmu jika sesuatu terjadi kepada Nina. Max lepaskan aku!" Karin berteriak.


"Diamlah atau kamu akan membangunkan Nina. Dia baru saja tertidur," bujuk Max, membuat Karin diam begitu mendengar nama Nina. Namun matanya masih menatap Joon tajam. Seolah berkata aku tidak akan melepaskanmu.


"Maafkan aku Pa, Ma, Bu Ratna. Aku benar-benar khilaf waktu itu. Aku benar-benar tidak berniat melakukan itu padanya. Sungguh. Aku hanya kecewa ketika Nina menolak lamaranku. Tidak tahu kenapa hal itu begitu saja terjadi," kata Joon sambil menundukkan kepalanya.


"Apa yang sudah kamu lakukan, Nak Joon?" tanya bu Ratna dengan deraian air mata.


"Maafkan aku Bu. Aku tidak pernah ingin menyakiti putri Ibu. Aku bersumpah. Tolong maafkan aku Bu. Maafkan Bu," mohon Joon dengan mata berkaca-kaca. Dia benar-benar menyesali perbuatannya.


"Jeng Ratna aku minta maaf atas kelakuan putraku, Jeng. Aku mohon maafkan dia," pinta Sofia.


"Entahlah. Saya tidak bisa memutuskan. Karena yang menjadi korban di sini adalah Nina," balas Bu Ratna.


Semua orang terdiam. Hanya terdengar isak tangis Lee Joon yang ternyata benar-benar menangis. Hingga satu teriakan Nina terdengar.


"Lee Joon tolong aku. Tolong aku! Dia datang. Tolong aku!" teriak Nina. Joon langsung melesat ke ranjang Nina. Dan langsung memeluk tubuh Nina.


"Aku di sini. Aku di sini. Jangan takut. Ada aku " ucap Joon sambil menciumi puncak kepala Nina.


"Dia datang..Dia datang... Aku takut " ucap Nina dalam pelukan Joon.


"Maafkan aku. Maafkan aku," ucap Joon berkali-kali dengan air mata berlinang. Seorang Lee Joon menangis karena Nina. Gadis yang benar-benar bisa menjungkirbalikkan dunia Lee Joon. Perlahan Nina pun mulai tenang.


Dan pemandangan itu membuat yang lain hanya bisa melongo. Melihat bagaimana Nina yang beberapa waktu lalu sangat sulit dikendalikan. Kini bertingkah manis hanya mendengar suara dan pelukan Joon.


Bahkan Karin pun tidak percaya dengan apa yang dia lihat. "Hebat, baru kemarin dia bilang begitu benci melihat si brengsek itu. Tapi sekarang, oh come on. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?" batin Karin.


*


Hai, hai, hai kekuatan cinta memang hebat ya readers,


So berikan kekuatan cinta kalian dengan cara berikan like, vote, gift and comment,


Happy reading and salam sayang dari author 😘😘😘

__ADS_1


*****


__ADS_2