Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 79


__ADS_3

Akhirnya minggu itu berlalu. Keputusan dokter Pras akhirnya keluar. Nina diperbolehkan pulang dalam dua hari ke depan. Tentu saja setelah observasi terakhir dilakukan. Nina dan yang lain senang bukan kepalang. Bahkan bu Ratna akan ke Jakarta lagi minggu depan.


"Ahh...akhirnya bisa pulang ke rumah juga," ucapnya pada Karin, yang siang itu datang berkunjung sambil membawakan berkas dan makan siang untuknya. Pecel lele yang Nina pesan.


"Seneng banget akhirnya kamu bisa ketawa lagi," timpal Karin.


"Emang kemarin-kemarin nggak bisa ya?" tanya Nina.


"Kamu nggak ingat apa. Sebulan ini kerjaan kamu nangis mulu. Ditambah 2 minggu ini kamu sibuk nyakarin si brengsek itu," jelas Karin.


"He, he, sorry. That's out of my control," bela Nina.


"Dimaafkan," sahut Karin cepat


"Tapi aku seneng deh, kamu sendiri yang menghukum si brengsek itu. Kalau nggak udah habis tu muka ganteng tak bejeg-bejeg pake tangan aku sendiri," tambah Karin kesal.


"Sudahlah. Bukankah seperti yang kamu bilang. Kalau semua ini juga salahku. Kamu bilang mau cari di mana coba pria seperti itu. Kamu bilang apa susahnya sih bilang iya," ucap Nina sendu.


"Tapi kan nggak sampai dia buat kamu kayak gitu juga kali," ketus Karin.


"Kamu bilang semua orang pernah buat kesalahan. Kamu saja dengan legowo bisa terima Max yang notabene lebih parah dari Lee Joon. Kamu bersedia memberikan kesempatan pada Max untuk berubah. Kenapa aku tidak? Toh hampir tiga minggu ini dia benar-benar merawatku. Kamu bisa lihat sendiri kan," ucap Nina yang membuat Karin diam.


Ya, Lee Joon memang merawat Nina dengan baik selama Nina di rumah sakit. Semua dilakukan oleh Joon sendiri. Kecuali urusan ke kamar mandi. Ada suster yang señgaja di sewa untuk menemani Nina ketika ke kamar mandi.


Tapi itu pun tak lama. Karena setelah keadaan Nina membaik. Nina bisa ke kamar mandi sendiri. Paling Joon akan menunggu di depan pintu kamar mandi. Karena terkadang ada rasa pusing yang tiba-tiba datang menerpa. Dan itu berbahaya.


"Jadi bisa aku minta tolong padamu?" tanya Nina.


"Apa?" tanya Karin balik.


"Aku ingin minta maaf. Sekaligus memberinya kejutan dan berterima kasih," ucap Nina.


"Caranya?" tanya Karin. Karin perlahan mendekat pada Nina. Seketika senyum mengembang di wajah Karin.


"Wah ada yang sudah siap nyetak gol ini," celoteh Karin.


"Siapa? Kamu?" tanya Nina.


"Ya kamulah. Masak aku," kilah Karin.


"Emang kamu kira aku nggak tahu apa. Kalau Max sudah melamar kamu," ucap Nina skak mat.


"Dari mana kamu tahu?" Karin gugup.


"Gak usah gugup gitu deh. Aku lihat itu, tu," ucap Nina sambil menunjuk jemari Karin dengan dagunya. Karin sontak menunjukkan tangan kanannya yang telah terpasang cincin di jari manisnya.


"Kelihatan banget ya?" ucap Karin malu.


"Aku sendiri tidak tahu. Kenapa aku langsung bilang iya ketika dia melamarku."


"Baguslah itu. Daripada aku. Kenapa kalian nggak langsung nikah aja. Ntar keburu Max khilaf lo. Kalau Max yang khilaf aku gak yakin kamu bisa nolak," ucap Karin.

__ADS_1


"Emang kenapa?" tanya Karin kepo.


"Lah Joon yang amatiran saja sudah menghanyutkan. Apalagi Max yang sudah pro. Bisa langsung bablas tu keperawanan si Karin," batin Nina.


"Pria kalau sudah merayu susah nolaknya. Apalagi kelasnya Max yang sudah pro," ucap Nina.


"Ooooo," Karin hanya ber-ooo ria.


"Iya sih, ciuman Max aja kadang bikin jiwa melayang entah ke mana," batin Karin.


Karin jadi ingat pernah hampir kebablasàn. Saking hotnya berciuman. Tahu-tahu Max sudah topless dan sudah menindih Karin. Beruntung ada mobil yang mengklakson mobil mereka. Jika tidak dia sendiri tidak tahu apa kelanjutannya. Mengingat hal itu membuat Karin menggaruk kepalanya sendiri.


"Cepatlah menikah," ucap Nina lagi.


"Kita semua nungguin kamu," ujar Karin kemudian.


"La kenapa begitu?" tanya Nina.


"Makanya kamu cepetan terima lamaran si brengsek itu. Dengan begitu kami semua bisa segera nyusul."


"Kenapa jadi begini urusannya sih," batin Nina


"Kamu kalau nggak diancam, nggak bakalan mau nerima lamaran si brengsek itu," batin Karin.


Hari kepulangan Nina tiba. Sengaja Nina minta pulang sore. Biar mereka semua nggak perlu bolos kerja untuk menjemput Nina.


"Sudah siap semua?" tanya Nina. Yang lain hanya memberi kode "oke".


"He, he sorry" ucap Nina sambil nyengir.


"Kamu tahu Lee Joon sampai berpikir mau beli counter hp. Buat jaga-jaga kalau kamu banting hp lagi. Benar-benar deh ni anak," oceh Karin.


"Sorry, sorry."


"Dewasa dikit napa sih. Sudah pada mau nyetak gol juga tingkah masih kayak anak TK, suka main banting barang kalau lagi marah," celoteh Karin. y Dina yang ikut menjemput Nina langsung menelan salivanya. Pasalnya dia sendiri yang sudah kebobolan duluan.


"Kita otw sekarang," Karin mengirim pesan kepada Max yang bertugas membawa Joon ke venue surprise.


*******


Tiing,


Satu pesan diterima. Dan Max langsung mengembangkan senyumnya.


"Wah bakal ada lamaran anti mainstream ini," batin Max.


"Buruan Max, nanti keburu sampai rumah Ninanya?"


"Rumah? Memang Nina balik Bogor Bos?"


"Ya balik apartemenlah. Buruan!"

__ADS_1


"Santai Bos. Ni Karin barusan WA pulangnya diundur satu jam lagi. Masih ada pemeriksaan tambahan katanya. Dan ini mereka masih menunggu dokternya datang. Jadi bisa dong kita makan dulu sebentar. Lapar Bos," bujuk Max.


"Haisshhh. Kamu ini kenapa gak bilang-bilang," ucap Joon kesal.


"He, he. Sudah ayo kalau begitu kita makan di kafe xx yang lagi viral itu. Katanya makanannya enak."


Joon tidak menjawab. Hanya terus berjalan dengan Max yang setia mengekorinya.


"Kami otw," pesan singkat Max kepada Karin.


Lima belas menit kemudian mereka sampai di kafe xx. Suasana kafe nampak begitu nyaman. Joon sedikit mengerutkan alisnya. Katanya lagi viral kok kafenya sepi.Begitulah yang ada di pemikiran Joon.


Namun ia pun tidak terlalu menggubrisnya. Hanya mengikuti langkah Max yang terus menuju ke bagian dalam kafe. Yang biasanya terdapat panggung untuk pertunjukan live band.


Joon langsung terperangah ketika ia sampai di depan panggung yang ditata sedemikian rupa, dengan balon dan pita-pita yang bertebaran di sana-sini.


"Siapa yang ulang tahun Max?" tanya Joon bingung. Dia pikir kenapa dia jadi terjebak di tempat dengan dekorasi ulang tahun. Sebab merasa jika ini bukanlah ulang tahun dirinya ataupun Max. Dia ingat betul tanggal lahir dirinya dan Max. Dan hari itu jelas bukanlah sekarang.


Ada beberapa orang nampak terlihat tengah menikmati makanan mereka.Namun suasana yang dibuat remang-remang membuat Joon tidak tahu siapa mereka. Lagipun Joon juga tidak terlalu memperdulikannya. Toh dia ke sini cuma mau menemani Max makan.


Hingga tiba-tiba sesosok gadis yang sangat ia kenal, naik ke atas panggung itu. Ia tampak begitu cantik dengan dres simple selutut berwarna baby blue. Warna favorit gadis itu. Rambut panjangnya ia gerai dengan sedikit bagian atas rambutnya yang diikat sederhana. Simple tapi elegan. Gaya Nina banget.


Ya, gadis itu adalah Nina. Ia sejenak tersenyum menatap Lee Joon. Yang balik menatapnya dengan sejuta pertanyaan yang jelas tergambar di matanya.


Joon ingin menghampiri gadis itu. Tapi ditahan oleh Max.


"Kita lihat dia mau apa?" ucap Max. Joon seketika mengurungkan niatnya untuk menghampiri gadis itu.


"This song I dedicated to that man, who I love so much. Thank you, for all that you've gave to me. For your unlimited time, patience and of course for your love. Forgive me because I've always hurted you. So this time, please receive my appologize through this song,"


(Lagu ini saya persembahkan untuk pria di sana itu, pria yang sangat saya cintai. Terima kasih untuk semua yang sudah kamu berikan kepadaku. Untuk waktu, kesabaran dan tentu saja cintamu yang tidak terbatas. Maafkan aku yang selalu menyakitimu. Jadi terimalah permintaan maafku lewat lagu ini)


*****


Hai, hai readers baru bisa up lagi. Sambil nungguin tahun baru. Ada yang mau ngasih surprise tu kayaknya.


Nah author juga mau ngasih surprise nih buat readers. Author mau ngasih visual Lee Joon versi author ya..



Taaaraaa, ini visual versi author ya. Pasti tau dong siapa dia.Tau pas apa nggak sama karakter Lee Joon yang bisa dingin dan juga ramah. Cuma author selalu terbayang wajah orang satu ini tiap nulis partnya Lee Joon.


Menurut author karena orang ini bisa terlihat dingin dan humble dalam waktu yang bersamaan. Face jenius gitu loh.


Anyway itu pendapat author ya. Jadi jangan dibully kalau beda dengan pendapat readers. Selera kembali ke masing-masing he he,


So jangan lupa buat tetep dukung author dengan cara like, vote, comment, and gift,


Terima kasih buat dukungannya. Happy reading. And salam sayang dari author, muah 😘😘😘


Selamat tahun baru ya readers ya, see you in an amazing new year 🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


*****


__ADS_2