
Lee Joon benar-benar membuktikan ucapannya. Memberikan satu bogem mentah kepada adik kembarnya. Saat ia berkunjung pada malam harinya.
Buuugggghhh, suara pukulan Lee Joon beradu dengan rahang keras Jae Kyung.
"Oh ****!!! Apa yang kamu lakukan ha?" umpat Jae Kyung kesal sekaligus menahan sakit.
Kakaknya bukannya menjawab tapi malah menyeringai puas. Melihat hal itu sontak tuan Lee, Sofia dan Bu Ratna yang ada di sana, langsung berteriak panik. Melihat keduanya saling pukul eh salah kakak memukul adiknya.
Jae Kyung ingin membalas, tapi tatapan mata Nina membuatnya urung melakukannya.
"Oh ****!" umpatnya lagi. Sambil mengusap-usap pipinya yang terasa perih dan panas. Ada rasa asin sedikit di sana. Bisa dipastikan jika ada luka di dalam sana.
"Lee Joon apa yang kamu lakukan?" tanya Sofia panik. Membantu Jae Kyung bangun dan menuntunnya duduk di sofa.
"Ucapan terima kasih atas apa yang sudah dia lakukan pada istriku," jawab Lee Joon.
Deg,
Ucapan Lee Joon langsung membuat Jae Kyung menatap kakaknya yang juga tengah menatapnya. Ada kemarahan di sana. Membuat Jae Kyung menelan salivanya sendiri.
"Hubby, cukup," ucap Nina lembut, lantas meraih lengan sang suami agar duduk disampingnya. Mengusap lengan Lee Joon. Mencoba meredam kemarahan sang suami.
"Iya, satu pukulan cukup untuknya seperti janjiku," jawab Lee Joon menjawab perkataan sang istri. Sedang matanya masih tak lepas dari mata sang adik. Yang menatapnya dengan jutaan tanya terlihat di sana.
"Anak jaman sekarang. Minta maaf kok caranya aneh. Pake di pukul," celoteh bu Ratna membuat yang lain mengulum senyumnya. Sedang tuan Lee langsung memijat pelan pelipisnya yang pusing melihat tingkah dua putranya.
******
"Kak......" panggil Jae Kyung lirih.
Mereka sedang berada di taman rumah sakit. Lee Joon sedang menghisap rokoknya untuk sekedar menghilangkan kegundahan hatinya.
Kemarahannya benar-benar meledak tatkala melihat wajah adiknya. Teringat akan cerita Nina. Lee Joon menghembuskan nafasnya pelan. Lantas mematikan rokoknya dan memasukkannya ke tempat sampah. Berbalik dan kini menghadap pada adiknya.
"Maaf," ucap Jae Kyung. Dia tahu kakaknya pasti sudah tahu perihal apa yang sudah ia lakukan pada istrinya.
"Soal?" tanya Lee Joon coba menguji adiknya.
Jae Kyung kini yang menghela nafasnya. Seolah mengumpulkan seluruh keberaniaannya untuk menghadapi kemarahan kakaknya.
"Soal aku yang berusaha menyakiti istrimu," jawabnya singkat.
Lee Joon terdiam. Ditatapnya wajah sang adik yang hanya menunduk tidak berani menatap dirinya.
"Ada penjelasan?" tanya Lee Joon santai. Kemarahan jelas-jelas sudah menguap dari hatinya.
"Aku khilaf. Aku tidak sadar dengan apa yang aku lakukan. Aku tidak bisa mengendalikan diriku saat itu. Aku betul-betul menyesalinya Kak," ucap Jae Kyung dengan wajah masih tertunduk.
Dia persis dirinya 2 tahun lalu saat berdiri di depan papanya yang kemarahannya hampir merobohkan rumah sakit kala itu.
"Apa kamu benar-benar menyesalinya? Bisa menjamin kalau tidak akan ada khilaf untuk kedua kalinya?" tanya Lee Joon. Sang adik mengangkat wajahnya. Dia pikir kakaknya akan menghajarnya lagi. Tapi ini....
"Ya?" jawab Jae Kyung tidak paham.
__ADS_1
"Kakak iparmu hanya mengizinkan aku memukulmu satu kali," ucap Lee Joon.
"Kakak tidak marah?" tanya Jae Kyung heran.
"Marah...Sangat marah! Bagaimana bisa kamu mencium kakak iparmu sendiri. Memaksanya untuk bercin** denganmu. Kamu pikir aku tidak waras tidak marah padamu!" teriak Joon pada akhirnya.
"Maaf," ucap Jae Kyung kembali menunduk.
"Aku heran sekali pada istriku sendiri. Aku dan kamu sama-sama melakukan hal sama padanya. Tapi dia memaafkan kita dan memberi kita kesempatan untuk memperbaiki diri. Sebenarnya dia itu apa," heran Lee Joon.
"Kita? Sama-sama melakukan hal yang sama?" giliran Jae Kyung yang heran.
"2 tahun lalu aku juga melakukannya, padanya agar dia mau menikah denganku," ucap Lee Joon cepat. Sungguh dia tidak ingin mengingat hal itu lagi.
"What?!!!!!" Jae Kyung jelas terkejut.
"Lalu hasilnya? Kakak ipar menolakmu? Bagus!" seloroh Jae Kyung. Dia tidak mengira jika perjalanan cinta kakaknya tidak mulus seperti jalan tol yang biasa ia lalui.
"Minta dihajar lagi kamu?!" teriak Lee Joon. Kini keduanya seolah merasa lega satu sama lain. Beban berat di hati Jae Kyung sudah terangkat.
"Aku berjanji tidak akan mengulanginya. Aku akan berusaha mengendalikan perasaanku pada kakak ipar. Berusaha melupakan cintaku pada istrimu," janji Jae Kyung.
Lee Joon mengepalkan tangannya. Mendengar sendiri adiknya mengaku mencintai istrinya.
"Aku akan ke Surabaya," lanjut Jae Kyung.
"Pergilah setelah anakku lahir" ucap Lee Joon.
"Belum tentu dia perempuan," sangkal Lee Joon.
"Dia pasti perempuan," ucap Jae Kyung yakin.
"Hei, aku yang tanam benihnya. Jadi aku tahu," kesal Lee Joon.
"Kak, asal kakak tahu kita kembar identik. Struktur DNA kita 98% sama. Jadi kemungkinan benihku dan benihmu pun punya struktur yang sama," jelas Jae Kyung. Lee Joon melongo dibuatnya.
"Astaga kenapa aku lupa itu," ucap Lee Joon bertambah kesal.
"Jadi jangan marah jika anakmupun nanti mirip denganku juga. Bukan karena aku ikut tanam saham lo. Tapi karena bibit kita hampir sama," seloroh Jae Kyung yang langsung mendapat keplakan dari sang kakak.
"Tanam saham? Istilah apa lagi itu? Kamu pikir istriku perusahaan properti apa. Ada istilah tanam saham segala," protes Lee Joon.
Keduanya tertawa ngakak. Mengakhiri perseteruan dua kakak beradik kembar itu. Lee Joon yang dengan legowo memberikan kesempatan adiknya untuk menjadi lebih baik. Dan Jae Kyung yang berjanji tidak akan mengulangi kekonyolannya lagi. Mencintai kakak iparnya sendiri.
Tanpa mereka sadari. Tuan Lee memandang interaksi kedua putranya dengan mata berkaca-kaca.
"Kedua putraku benar-benar sudah dewasa," bisiknya pelan.
Dia memang menyusul kedua putranya keluar. Takut terjadi baku hantam lagi. Tapi nyatanya tidak. Justru dia disambut pemandangan yang membuat hatinya bahagia.
****
Nina jelas bahagia sekali ketika dia bisa menengok Karin dan Nindy sebelum kepulangannya dari rumah sakit. Dua hari dia dirawat guna meyakinkan kalau tidak ada lagi pendarahan lanjutan. Dan juga pemeriksaan tambahan lainnya soal kandungannya.
__ADS_1
"Oh, Hubby lihatlah mereka begitu manis," ucapnya berkaca-kaca saat menatap bayi Karin.
Nina mengusap lembut pipi bayi perempuan yang tengah tertidur di box bayi di samping ranjang Karin.
Sedang Karin sedang disuapi Max. Berusaha menolak tapi Max tetap memaksa. Karin akhirnya pasrah disuapi Max.
"Selamat bro, cewek. Kamu ganteng sendiri serumah," seloroh Lee Joon.
"Thank's Bos. Baru nyadar ya kalau aku ganteng," jawab Max narsis.
Lee Joon memutar matanya malas.
"Nindy, cowok. Kalian cewek. Bukankah bagus kalau bisa dapat keduanya sekaligus," ucap Nina masih mengusap pipi bayi Karin.
"Kamu mungkin bisa dapat bayi kembar. Suamimu kembar. Ada kemungkinan itu bisa terjadi padamu. Itu yang dokter kandunganku bilang," ucap Karin.
"Benarkah?" kata Nina sumringah.
"Memang kamu mau hamil kembar?" tanya Lee Joon.
"Kenapa nggak. Sekalian. Ngirit," ucap Nina sambil nyengir.
Lee Joon menepuk dahinya pelan. "Ngirit" kata itu adalah kata favorit sang istri dan sering digunakan disemua kesempatan yang ada.
Max dan Karin tergelak mendengar ucapan Nina.
"Punya suami sultan. Pikirannya masih soal ngirit aja, Bu," celoteh Max.
"He, he, he," tawa Nina.
"Memangnya kalian sudah pernah USG belum?" tanya Karin. Dan keduanya menggelengkan kepalanya.
"La wong tahunya hamil juga baru 3 hari yang lalu. Gara-gara si brengsek Heri itu berulah lagi," ucap Lee Joon.
"Berarti kalian harus berterima kasih pada si brengsek itu. Gara-gara dia kalian jadi tahu kalau Nina lagi hamil," saran Max.
"Iya juga ya. Nanti deh aku kirim karangan bunga ke penjara," canda Lee Joon.
"Sebaiknya kalian USG saja. Sekalian memeriksa kesehatan bayinya," saran Karin.
Nina dan Lee Joon saling pandang.
*******
Up lagi readers.
Terima kasih sudah mampir.
Happy reading,
Love you all 😘😘😘😘
***
__ADS_1