Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 29


__ADS_3

"Haish, bagaimana ini?"


Nina hampir berteriak karena frustrasi. Empat hari yang lalu dia menerima surat yang memberitahu kalau dia dimutasi ke kantor pusat. Dan hingga hari ini dia belum memberikan jawaban.


"Nina, ini ada surat pemberitahuan kalau kamu kamu akan dimutasi ke kantor pusat," ucap Bu Indri dari bagian HRD kala itu. To the point.


Nina langsung membulatkan matanya mendengar hal itu.


"Yang benar Bu? Ibu nggak salah terima surat kan. Bukan buat Nina kali," Nina berusaha menyangkal,tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Tidak Nina, Ibu tidak salah. Ini suratnya baru datang kemarin,"


Nina menerima surat yang masih disegel. Hanya di amplopnya sudah tertulis maksud dan isi dari surat itu.


"Perihal mutasi kerja," Nina berguman


Lantas dibukanya amplop berwarna coklat itu. Dan ia kembali terbelalak membaca surat itu. Di sana tertulis dengan jelas, namanya, dan segala identitas dirinya menyatakan kalau dia akan di mutasi ke kantor pusat dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.


"Ini gila, ini pasti tidak benar."


"Mereka berkata jika kamu sudah mempunyai keputusan silahkan memberitahu mereka melalui Ibu."


"Tapi Bu, apa salah saya? Kenapa saya harus dipindahkan?" Nina hampir menangis saat itu.


"Mereka bilang membutuhkan kinerjamu di sana."


"Memangnya ada posisi yang kosong di sana?"


"Ibu tidak terlalu tahu kamu akan ditempatkan di posisi mana. Yang Ibu tahu, kantor pusat baru saja memecat direktur keuangan mereka karena terlibat kasus narkoba."


"Ha... ha... ha ...takkan saya akan menggantikan posisi orang itu, Bu. Kan itu tidak mungkin."


Ibu Indri hanya mengedikkan bahunya. "Kenapa tidak? Kamu punya potensi. Kinerja kamu bagus, kamu teliti dan pintar."


"Ibu jangan bercanda. Itu cuma kebetulan saja. Lagian saya tidak akan bisa menghandle kantor pusat. Terlalu besar. Saya tidak bisa. Katakan saja kalau saya menolak."


"Pikirkan dulu Nina. Kamu tidak membaca apa yang akan mereka sediakan untukmu jika kamu bersedia dimutasi ke kantor pusat."


Mata Nina membaca kembali surat mutasinya. "WHAAT" Nina setengah tidak percaya dengan apa yang dibacanya. Bagaimana tidak, di surat itu tertulis kalau dia akan menerima gaji sesuai standar, tapi ada poin yang membuatnya heran, "Anda boleh meminta berapa gaji yang anda mau."


"Ini beneran Bu, soal gaji saya boleh minta berapapun yang saya mau," tanya Nina dengan mata berbinar.


Ya iyalah, dia sangat membutuhkan uang saat ini. Karena ia baru saja menghabiskan seluruh tabungannya untuk keperluan kuliah Risma, adiknya.


"Seperti yang kamu baca. Mereka bahkan akan menjemputmu jika kamu mau dimutasi. Belum lagi mereka menyediakan fasilitas rumah beserta isinya. Dan juga supir yang akan mengantar jemput kamu ke kantor selama kamu belum terbiasa dengan lingkungan di sana."


Nina semakin tidak percaya. "Bu, ini beneran. Ibu nggak lagi mau jual saya kan?"


"Hush kamu ini aneh-aneh saja."


"Habisnya surat mutasi ini mencurigakan."


"Kamu betul Nina. Ibu juga baru pertama kali terima surat mutasi model beginian. Tapi yang Ibu dengar yang tanda tangan di surat mutasi itu adalah wakil presdir sendiri."


Nina kembali melihat surat mutasinya. Langsung ke bagian bawah surat. Mata Nina membulat melihat wakil presiden direktur yang menandatangani surat mutasinya. Namun yang lebih membuat Nina terkejut lagi adalah nama Lee Joon.


Nama itu tercetak dengan jelas sebagai wakil presiden direktur.


"Ini Lee Joon yang mana ya? Tidak mungkin kan kalau ini si gembul."


"Sepertinya mereka sangat menginginkan dan memerlukan kinerjamu di sana. Jadi pikirkanlah lebih dulu masak-masak."


"Baik Bu," jawab Nina lesu.

__ADS_1


"Oh ya satu lagi. Mereka juga memberitahu jika ada hal lain yang kamu inginkan mereka akan menyiapkannya untukmu."


"Hah," Nina kembali terheran-heran dengan rencana mutasi dirinya.


Ibunya dan Risma tidak masalah dengan apapun keputusan yang akan Nina ambil. Mereka mendukung apapun yang Nina lakukan.


"Ibu tidak apa-apa. Kan ada Risma yang menemani Ibu."


"Bagaiman kalau Ibu dan Risma ikut Nina aja, kita pindah ke sana. Mereka bilang akan menyediakan apapun yang Nina mau."


"Ya tidak bisa begitu, Nak. Lalu bagaimana kuliah Risma? Dia baru saja masuk."


"Tapi Bu, Nina nggak tenang ninggalin Ibu dan Risma di sini."


"Begini saja kita lihat saja dulu pekerjaanmu bagaimana. Kamu betah atau tidak di sana. Kalau kamu betah di sana, setelah Risma lulus kita akan menyusul kamu ke sana. Sedeng kamu sudah mapan. Siapa tahu kamu sudah punya rumah sendiri waktu itu. Jadi kita bisa ngumpul lagi."


Saran ibunya membuat Nina berpikir. Betul juga saran ibunya. Saat ini Nina membutuhkan uang untuk kuliah Risma dan itu bukan jumlah yang kecil. Apa ia harus menerima mutasi ini. Pikirannya masih kacau.


"Ibu, Ibu apa tidak masalah Nina tinggal. Nanti Ibu akan kesepian, Tante Sofia kan sudah pindah ke Jakarta merawat suaminya yang lagi sakit. Nanti Ibu tidak ada teman ngobrol."


"Siapa bilang ibu akan kesepian. Tetangga kita kan banyak. Kamu tidak perlu khawatir dengan Ibu dan Risma. Pikirkan saja dirimu dulu."


Sedangkan Karin sang sahabat juga mendukung apapun keputusan Nina.


"Walau aku akan sedih jika kamu benar-benar menerima mutasi itu. Tapi nggak apa-apa, aku mendukungmu."


Karin berkaca-kaca. "Tapi nanti kita nggak bisa sama-sama lagi Rin. Nanti aku sendirian di sana."


"Kan kita masih bisa video call-an. Dan yang bilang kamu sendiri di sana tu siapa. Kan tante Sofia dan makhluk menyebalkanmu tinggal di sana."


"Eh iya juga ya. Setidaknya aku punya kenalan di sana atau gimana kalau kamu ikut denganku ke sana?" tiba-tiba sebuah ide terlintas di kepala Nina


"Ha? Ngapain aku ikut kamu kesana? Jadi ART-mu? Ogah aku."


"Mau ngapain?"


"Sssttt!, Siang Bu Indri."


"Eh, Nina sudah punya jawaban?" jawab bu Indri. Sedikit terkejut karena Nina membawa Karin ke ruangannya juga.


"Kan kemarin Ibu bilang kalau mereka akan mengabulkan apapun yang saya minta asal saya mau di mutasi ke kantor pusat?"


"Betul."


"Kalau begitu tolong hubungi mereka, saya ingin bicara dengan mereka."


Dan Bu Indri langsung menghubungi sebuah nomor telepon yang ternyata adalah nomor ponsel Max.


"Kamu mau ngapain?" bisik Karin


"Udah kamu diam saja. Aku akan mengajukan syarat yang nggak akan mungkin mereka kabulin."


"Kamu nggak mau di mutasi?"


Obrolan bisik-bisik mereka terputus ketika suara Bu Indri terdengar sudah tersambung dengan orang kantor pusat. Begitu pikir Nina.


"Ya, Tuan Max, Nona Karenina Putri ingin bicara mengenai mutasinya."


"Ya, silahkan," Max lantas melirik ke arah Joon sedikit menjauhkan ponselnya.


"Pacarmu ingin bicara mengenai mutasinya," ucap Max.


"Dengarkan saja, apa yang ia inginkan."

__ADS_1


"Ini," kata bu Indri menyerahkan ponselnya.


"Halo, Tuan," sapa Nina gugup.


"Ya Nona, ada yang bisa saya bantu?"


"Begini Tuan, soal mutasi saya. Apakah saya boleh meminta sesuatu?"


"Ya, apa yang Nona inginkan?"


Nina melirik ke arah Karin. Sedang yang dilirik jelas tidak paham dengan maksud sahabatnya itu.


"Semoga mereka menolak permintaanku," doa Nina dalam hatinya.


Nina menarik nafasnya lantas berkata,


"Saya ingin membawa Karina Saraswati bersama saya untuk di mutasi ke Jakarta."


Perkataan Nina langsung membuat Bu Indri dan Karin sendiri terkejut. Terlebih Karin.


"Kamu sudah gila ya? Ngapain bawa-bawa aku segala," protes Karin.


Nina hanya meletakkan jari telunjuknya di bibirnya menandakan agar Karin diam. Sedang Max langsung menjauhkan ponselnya.


"Dia ingin membawa seseorang yang bernama Karin untuk ikut dimutasi ke sini, Bos."


Hening sesaat,


"Tolaklah, tolaklah!" doa Nina kembali dalam hati


"Lakukan apapun yang ia inginkan," jawab Joon tanpa mengalihkan pandangan matanya dari laptopnya."


"Anda mendengarnya Nona, Anda bebas membawa siapapun bersama Anda ke sini."


Duuarrrrr,


Jawaban Max seperti petir tanpa hujan. Membuat Nina diam seribu bahasa. Tubuhnya lemas seketika.


"Nona, nona anda tidak apa-apa?"


Bu Indri langsung mengambil ponsel dari tangan Nina.


"Ya halo tuan Max, ini saya Indri Tuan"


"Oh bu Indri, seperti yang Anda dengar nona Karina Saraswati akan ikut di mutasi ke kantor pusat bersama dengan nona Karenina Putri."


Kali ini Karin yang langsung terlonjak kaget. Sedang Nina masih terduduk lemas di lantai.


"Kamu apa-apaan sih. Kenapa aku harus ikut kamu ke Jakarta?"


Yang ditanya hanya diam.


"Memangnya Karin siapa bos?"


"Teman baiknya," jawab Joon singkat.


"Oooo," Max hanya ber ooo ria.


"Jangankan Karin. Kamu mau bawa satu RT pun akan aku kabulin permintaanmu," batin Joon sambil tersenyum tipis.


"We'll meet soon, Baby" kali ini senyum terkembang sempurna di wajah Joon.


Tak terbayangkan betapa bahagianya hati Joon saat itu.

__ADS_1


****


__ADS_2