Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 61


__ADS_3

Mike begitu terkejut ketika melihat Maya sudah berada di villa keluarga Joon pagi itu. Sehari sebelum kepulangan Mike. Maya meminta izin pada ayahnya untuk menemani Mike di villa. Mereka sering berbalas pesan. Dan Mike sering mengeluh jika dia merasa bosan di sana.


Sehingga Maya berinisiatif untuk menemani Mike dan pulang bersama ke Jakarta. Mike memang akan pulang dari Bandung. Dan kalaupun tuan Burhan curiga. Dia akan menjawabnya telah pulang lebih dulu ke Bandung dan meneruskan liburannya di sana.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Mike masih mengenakan kaos polos hitam dan trainingnya yang penuh dengan keringat. Sepasang bluetooth earphone masih terpasang manis di telinganya.


Dia baru saja selesai ngegym. Kegiatan yang bisa dia lakukan di sela-sela sesi terapinya. "Katanya Kakak bosan, jadi aku ke sini mau menemani Kakak," jawab Maya sambil nyengir.


Sebenarnya hampir dua minggu ini, Maya rindu dengan sosok Mike. Ingin menyusul dari minggu kemarin tapi tidak diperbolehkan oleh ayahnya mengingat Doni yang baru saja mengalami penculikan. Membuat dokter Pras sedikit takut dengan keselamatan putrinya. Terlebih jika tuan Burhan tahu kalau Mayalah yang sudah memberitahu pada Lee Joon perihal Doni yang diculik. Yang berujung pada berhasilnya Doni ditolong dari para penculik itu.


Dokter Pras sudah menyatakan kekhawatirannya itu pada Doni. Dan Doni memutuskan untuk memberi pengawal bayangan pada Maya. Mengingat gadis itu sering bepergian ke manapun sendirian. Kecuali kadang pergi dengan Dina. Kekasih Doni.


"Kamu mau nemenin Kakak di sini?" tanya Mike tidak percaya.


"Iya dan kita akan pulang bareng besok," jawab Maya.


"Ayahmu tahu tidak kamu pergi ke sini. Nanti kamu main kabur saja seperti waktu itu," kembali Mike bertanya.


Dia ingat pernah dibuat pusing tujuh keliling oleh gadis manis didepannya ini. Di mana, dokter Pras tiba-tiba menghubungi mereka hampir jam 9 malam kala itu.


Menanyakan di mana Maya, apakah masih lembur di kantor. Karena tidak biasanya anak itu belum pulang sampai waktu itu. Karena Maya memang sudah pulang seperti biasa. Dan sudah tidak ada di kantor, membuat dokter Pras panik. Dia sudah mencari ke tempat gadis itu biasanya pergi tapi tidak juga menemukannya.


Mike dan Doni ikut panik. Takut terjadi apa-apa pada gadis itu. Mengingat beberapa kali Mike dan Doni menemukan beberapa orang yang terlihat mencurigakan di kawasan kantor MH GROUP. Mereka duga itu adalah orang-orangnya tuan Burhan. Walaupun hal tersebut belum dapat dipastikan.


Akhirnya Doni dan Mike pun turut mencari Maya. Berpisah jalan mengambil arah yang berbeda. Berharap salah satu dari mereka bisa menemukan gadis itu.


Mike teringat terakhir kali pernah memasang GPS di ponsel gadis itu. Untuk alasan yang dia sendiri tidak tahu. Hanya sekedar ingin tahu di mana gadis itu berada. Kening Mike mengerut melihat titik yang terlihat di layar ponselnya.


"Ngapain tu anak di situ. Eh dengan siapa pula anak itu ke tempat itu," guman Mike. Mobilnya meluncur ke tempat di mana titik di GPS itu menunjukkan lokasi ponsel Maya berada. Setelah sebelumnya menghubungi Dokter Pras dan Doni bahwa dia sudah menemukan Maya. Dan akan mengantarnya pulang. Agar kedua orang itu tidak khawatir.


Ternyata tempat yang dikunjungi Maya adalah sebuah tempat karaoke di kawasan Jakarta Barat. Bertanya pada resepsionis di depan, langsung mengarahkan Mike ke sebuah ruang dimana terdengar suara seorang gadis yang tengah menyanyi sambil menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Sesuai tempo lagu yang tengah ia nyanyikan.


Tanpa basa-basi Mike langsung menarik tangan gadis itu. Maya terkejut. Lebih terkejut lagi melihat bosnya adalah orang yang tengah menarik tangannya.


"Kakak? Ngapain kakak di sini?" Maya bertanya heran.


"Justru kakak yang mau tanya. Ngapain kamu di sini? Bikin semua orang panik saja," bentak Mike. Namun Maya tidak takut sama sekali.


"Aku bosan kak. Lagian aku sudah mengabari ayah, Kak," bela Maya.


"Nyatanya ayahmu mencarimu ke sana ke sini."


"Masak sih?" Maya mengecek ponselnya. Dan tak lama wajahnya mengulas senyum innocent khas Maya.


"He, he, pesannya tidak terkirim dan ponselnya low bat," ujar Maya sambil nyengir.


Mike jelas harus ekstra sabar menghadapi gadis kecil dokter Pras itu.


"Kamu ke sini sama siapa?" tanya Mike penasaran.


"Sendirian " jawab Maya acuh.


"Ayo pulang kalau begitu," ajak Mike.


"Eh nanti dulu. Masih ada setengah jam lagi. Rugi kalau nggak dihabisin."


"Nanti aku ganti rugi. Ayo pulang."


"Nggak mau. Setengah jam doang. Ya kak, please," rengek Maya. Mike tak berkutik di buatnya.Hingga akhirnya mau tak mau ikut duduk di sofa sambil melihat Maya yang menyanyi ke sana ke mari. Mike sendiri tidak tahu lagu apa itu. Namun membuat Mike cukup terhibur melihat gaya Maya saat menyanyi.


Maya nyengir ketika mengingat hal itu.


"Aku sudah bilang pada ayah kalau aku pergi ke sini. Lagian ayah ada kunjungan pasien ke Semarang. Jadi daripada sendirian di rumah mending aku ke sini nemenin kakak."


"Kamu nggak muter-muter sama Dina?" Mike ingat kalau Maya satu server dengan Dina, sepupunya.

__ADS_1


"Mbak Dina lagi sibuk. Lagi nggak bisa diajak jalan"


Mike hanya ber-oo ria. Mengingat Dina memang memiliki butik yang cukup terkenal di ibukota. Mungkin lagi banyak pesanan, pikir Mike.


" Kakak sudah makan atau belum?"


"Belum, ini juga baru selesai. Bentar lagi aku masak."


"Sudah, biar aku saja yang masak. Kakak mandi saja. Bau," ucap Maya sambil menutup hidungnya. Mike mengecek tubuhnya sendiri.


"Enak saja. Masih wangi tahu," protes Mike.


"Alah cepetan mandi sana," usir Maya yang sudah berlalu ke dapur. Menenteng tas berisi sayur dan teman-temannya. Memasang apron lantas memulai acara memasaknya.


Mike yang tadinya ingin naik ke kamar, urung melakukannya. Dirinya malah menyandarkan tubuhnya di pintu dapur sambil melihat Maya yang sudah mulai memotong sayurannya. Satu pemandangan yang membuat pagi Mike terasa begitu indah. Melihat Maya yang terlihat seksi saat memasak.


Terlebih ketika gadis itu menggulung tinggi rambut panjangnya. Memperlihatkan leher jenjang Maya yang begitu menggoda. Mike seketika menelan salivanya sendiri.


"Astaga, kenapa gadis kecil itu terlihat sangat seksi," batin Mike.


Mike memang telah lama tidak berhubungan dengan wanita. Mengingat kondisinya sendiri yang tidak stabil. Mike takut mereka akan menjauh jika mereka tahu dia memiliki gangguan kesehatan mental. Biarpun gak gila ya.


Selama ini wanita yang dekat dengannya ya hanya Maya. Sekretarisnya sendiri.


"La kakak ngapain berdiri di situ. Mandi sana, bau," oceh Maya ketika dilihatnya Max yang masih berdiri, sambil bersandar di pintu dapur. Sambil memperhatikan dirinya yang tengah memasak.


"Eh iya aku naik," jawab Mike gugup, Maya menangkap basah dirinya tengah memandangi gadis itu yang tengah memasak.


Beberapa waktu berlalu. Masakan Maya sudah siap di meja makan. Tak lama Mike turun. Terlihat segar dan tampan. Membuat hati Maya berdisko ria di dalam sana.


"Aduh bisa terkena serangan jantung aku kalau begini terus," bisik hati Maya.


Terlihat berbeda dengan saat memakai setelan kantornya. Mike terlihat santai dengan setelan kaos polos navi serasi dengan celana pendeknya.


"Ayo sarapan dulu. Sebentar lagi dokter Budi dan yang lainnya akan segera datang."


Hari itu berlalu dengan cepat. Terapi Mike berlangsung hampir seharian. Mengingat hari itu hari terakhir Mike berada di Bandung. Jadi dokter Budi melakukan terapi sekaligus evaluasi mengenai keadaan Mike.


Keduanya sedang duduk di teras belakang villa Joon. Terasnya langsung menyuguhkan pemandangan langit malam kota Bandung. Mereka baru saja menyelesaikan makan malam mereka.


Mike tengah menikmati menikmati secangkir teh yang Maya buatkan. Gadis itu tengah asyik memainkan ponselnya. Membuat Mike jengah merasa diabaikan. Dia sendiri dilarang menggunakan ponsel selama di Bandung. Dengan alasan mereka bisa melacak keberadaan dirinya melalui ponselnya.


Mike merebut ponsel Maya, membuat gadis itu mendelik kepada Mike.


"Kak, kembalikan."


"Jangan bermain ponsel saat temanmu juga tidak memainkan ponselnya," ujar Mike membuat Maya memanyunkan bibirnya.


"Alamak, menggemaskan sekali tu bibir," jiwa mesum Mike meronta-ronta.


Sudah lama sekali memang Mike tidak melakukan hal-hal yang pria lainnya umum lakukan. Pacaran, ciuman atau ONS.


"Ah, yang benar saja. Aku bisa berpikiran mesum pada gadis kecil di depannya ini," kembali batin Mike berbisik.


"Kembalikan, Kak!" kembali Maya merengek.


"Enggak!" jawab Mike tegas. Lalu memasukkan ponsel Maya ke kantong celana. Maya membulatkan matanya. Dia mana berani mengambilnya dari situ. Melihat ekspresi Maya membuat Mike tersenyum penuh kemenangan.


"Kakak mah nggak asiiik," ucap Maya bersungut-sungut.


Mike hanya terdiam mendengar keluhan gadis itu. Lama ditatapnya gadis itu. Maya masih terlihat imut di usianya yang masih 23 tahun. Berkat rambut model poni depan yang dipakainya. Hari ini dia bertambah imut dengan memakai piyama hello kitty berwarna pink berlengan pendek namun panjang celananya.


"Kenapa kamu nggak malming-an sama pacar kamu?" tanya Mike membuka obrolan


"Jones!" jawab Maya singkat masih dengan mode kesalnya.

__ADS_1


"Apa lagi tu?" tanya Mike yang memang tidak paham dengan bahasa gaul anak zaman now.


"Jomblo ngenes! Iiih ngapain juga pake nanya status segala."


Jawaban Maya membuat Mike mengulum senyumnya. "Tu kan malah ngetawain. Bener-bener kakak nih gak asik."


"Siapa juga yang ngetawain. Orang kita juga sama. Apa itu tadi namanya. Jones? Boleh juga tu istilahnya."


"Jones kok bangga," cibir Maya.


"Kita kan sama-sama jones. Bagaimana kalau kita jadian biar nggak jadi jones lagi," tawar Mike tiba-tiba. Entah ide dari mana. Tapi ia tak merasa menyesal, ketika kata-kata itu keluar dari bibirnya.


"Whatt!!! Kakak nembak aku?"


"Heemmm boleh dibilang begitu. Bagaimana mau nggak?"


Maya seperti dilambungkan ke langit ke tujuh. Mendengar pria yang disukainya mengajaknya pacaran. Tidak sia-sia pikirnya memendam rasa hampir satu tahun ini. Tentu saja Maya langsung mengiyakan ajakan Mike untuk jadian alias pacaran.


"Kamu cepet banget jawabnya," tanya Mike curiga. Sedang Maya wajahnya sudah memerah malu. Malu kalau dia ketahuan sudah menyukai bosnya itu.


"Ah itu, itu....." jawab Maya menggantung sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Kamu menyukaiku ya?" tembak Mike.


"Alamak, ketahuan. Bagaimana ini? Aduh malunya aku ketahuan suka sama kak Mike, batin Maya dalam hati.


Ingin rasanya Maya nyebur ke kolam renang di samping villa saking malunya. Tingkah Maya sontak membuat Mike hampir meledakkan tawanya. Sungguh dia tidak menyangka jika Maya punya perasaan suka pada dirinya.


"Sejak kapan?" tanya Mike penasaran.


"Apanya?"


"Kamu suka sama kakak."


"Iiih siapa juga yang suka sama kakak," kilah Maya. Gengsi dong ketahuan suka duluan.


"Oke, oke tidak masalah jika tidak mau mengaku. Tapi kita tetep jadian kan?" tanya Mike kembali. Yang langsung disambut anggukan dari Maya. Ooh betapa bahagianya hati Maya. Bibirnya tak berhenti tersenyum. Membuat Mike yang tadinya duduk di seberang Maya mendekat ke arah Maya.


"Eeeh kakak mau ngapain?" Maya terkejut karena tiba-tiba pria itu sudah ada dihadapannya.


"Memberikan ini sebagai tanda jadian," ucapnya santai.


"Tanda jadian apa?" tanya Maya tidak mengerti dengan ucapan Mike.


"Ini," jawab Mike singkat. Lantas menarik tengkuk Maya dan "cup". Bibir tebal Mike mendarat sempurna dibibir mungil Maya. Saking terkejutnya. Maya hanya bisa membelalakkan matanya. Dia sama sekali belum pernah berciuman sebelumnya. Dan ini adalah ciuman pertamanya.


Perlahan Mike menggerakkan bibirnya dengan lembut. Manis dan lembut. Itulah yang Mike rasakan ketika bibirnya mulai menyapu bibir mungil Maya. Sedikit ******* Mike berikan di bibir Maya. Jantung Maya semakin berdebar tidak karuan.


"Oooh jantung. Jantung bertahanlah. Ini benar-benar amazing," bisik hati Maya.


Mike melepaskan pagutannya ketika merasa Maya sudah mulai kekurangan oksigen. Dipandanginya wajah Maya yang masih bersemu merah. Membuatnya terlihat cantik di mata Mike.


"Kamu adalah milik kakak mulai hari ini," ucap Mike. Maya seketika mengembangkan senyumnya.


"Oh Bandung, I"m in love," teriak Maya di dalam hatinya.


*


Satu lagi couple yang jadian😍😍


Jangan lupa vote, like and komen.


Happy reading, readers,


Love you all, 🤗🤗🤗

__ADS_1


*****


__ADS_2