
Sejak kejadian hari itu. Perhatian Jae Kyung atas perasaannya pada Nina mulai terpecah. Dia sudah mulai bisa mengendalikan hatinya. Walau terkadang sulit, mengingat Nina wanita pertama yang mampu memasuki hatinya, mempunyai tempat khusus di hatinya.
Dia seringkali memandangi foto gadis yang sudah ia tiduri tidak sengaja itu. Jae Kyung sempat mengambil foto gadis itu. Sesaat setelah sesi panas mereka berakhir. Namun anehnya sampai saat ini dia tidak bisa menemukan gadis itu di manapun.
Jae Kyung juga memastikan kalau gadis itu tidak akan mengandung anaknya. Karena dia membuang semua benihnya di luar. Dia pikir ia telah mengambil kehormatan gadis itu tanpa sengaja. Yang kemungkinan bisa merusak masa depannya. Jadi dia tidak ingin menambah beban gadis itu dengan hamil anaknya. Nanti setelah Jae Kyung menemukannya baru dia akan mempertimbangkannya lagi.
"Aku belum bisa menemukannya. Dimanapun," ucap Rey.
Bawahannya yang ia suruh untuk mencari gadis itu.
"Lagi? Ini sudah hampir satu bulan Rey," Jae Kyung sedikit kesal pada Rey.
"Oh come on, Jay kamu hanya memberikan foto wajahnya saja. Lain tidak," keluh Rey.
He he, gimana Jae Kyung mau memberikan foto gadis itu full. La wong waktu itu gadis itu keadaannya naked alias telan****. Jelas Jae Kyung tidak rela membiarkan foto gadisnya yang lagi naked jadi tatapan Rey.
Satu lagi yang membuat Jae Kyung kesal. Ketika Jae Kyung bangun dia tidak mendapati gadis itu disampingnya. Gadis itu menghilang membawa sejuta pertanyaan dan rasa penasaran Jae Kyung atas sosoknya.
"Aku yang biasanya meninggalkan mereka. Tapi ini, bisa-bisanya dia meninggalkanku. Bahkan tanpa petunjuk apapun," kesal Jae Kyung.
Tanpa Jae Kyung tahu gadis itu tengah menyeret kopernya. Memasuki pintu keberangkatan dalam negeri di Bandara Soetta, Tangerang. Mengambil penerbangan pertama ke Surabaya bersama asisten pribadi kepercayaannya. Sesaat setelah dia kehilangan kehormatannya, yang diambil secara tidak sengaja oleh Jae Kyung.
Bujukan kakak tirinya untuk tetap tinggal di Jakarta tidak ia hiraukan. Dengan dalih ingin hidup mandiri dan mengembangkan salah satu bisnis fashion keluarga mereka di Surabaya. Ia terbang dengan sejuta luka dan penyesalan serta kekecewaan yang mungkin tidak akan bisa ia lupakan.
"Bahkan tidak ada lagi yang bisa aku pertahankan di kota ini. Tidak juga mahkotaku," ucapnya pelan.
Mengingat bagaimana ia dengan mudah menyerahkan dirinya pada seorang pria yang bahkan baru sekali itu dia lihat.
"Bodoh, bodoh, bodoh!" rutuknya pada dirinya sendiri.
Menikmati seluruh penyesalan yang ia rasakan sepanjang penerbangannya menuju bandara Juanda, Surabaya.
*****
"Kalian lagi ngapain sih?" tanya Nina, kepada teman-teman bumilnya yang terlihat tengah ngerumpi di sela-sela jam kerja mereka.
"Nih ngeliatin adik iparmu yang ganteng abis," jawab Nindy antusias.
Nina sekilas melirik Ipad yang tengah disodorkan ke arahnya. Lantas berlalu menuju ke meja kerjanya. Mereka sedang ngerumpi di ruang kerja Nina.
Kredit google.com
"Ganteng nggak, Nin," tanya Karin.
"Iya, iya ganteng," jawab Nina seyogjanya saja.
"Itu photoshoot terbaru adikmu," jelas Nindy.
"So.... aku harus bilang wow gitu," ucap Nina tanpa melihat ke arah teman-temannya.
"Astaga, hatinya benar-benar sudah mati pada Lee Joon. Tidak bisa melihat yang bening lainnya," gerutu Nindy.
__ADS_1
"Memangnya kalian tidak ya. Masih bisa mengangumi pria lain di belakang suami kalian," omel Nina.
"Kan cuma buat cuci mata, Bu," terang Karin.
"Terserah kalian deh. Aku tidak ikutan ya kalau suami kalian marah. Suami kalian yang tipe pencemburu," ucap Nina.
"Ah Bu Bos mah gak asyiik," gerutu Nindy.
Nina lantas meneruskan konsentrasi pada pekerjaannya. Tidak lagi menghiraukan teman bumilnya yang kembali asyik melihat hasil photoshoot sang adik iparnya.
"Ya halo Ma," sapa Nina ketika ponselnya berbunyi.
"...."
"Eeee...."
"..."
"Oke deh Nina coba," ucap Nina akhirnya.
Lantas melesat keluar dari kantornya. Mati-matian menghindari pria itu eh ini malah sang mama menyuruhnya mencarinya. Mamanya beranggapan karena Jae Kyung dan Nina jarang terlihat bicara, sehingga Jae Kyung akan merasa sungkan jika Nina yang menyuruhnya pulang.
"Menyuruhnya pulang? Oh yang benar saja Ma. Dia sudah besar. Tahu mana benar mana salah. Kalau nanti dia sudah mau pulang pasti juga pulang," gerutu Nina pada Mamanya. Berjalan sambil menahan gejolak aneh di perutnya.
Sudah beberapa hari ini dia merasa tidak enak pada perutnya. Rasa gejolak yang aneh. Kadang sedikit kram. Agak mual. Hingga rasa pusing yang kadang datang melanda.
Tapi dia tidak berpikir yang aneh-aneh. Mengingat kejadian di Korea. Dimana dia mengalami hal yang sama ternyata hanya tanda awal menstruasi. Ya sepertinya bulan ini Nina harus memupus angannya untuk bisa hamil anak Lee Joon, suaminya. Padahal ia sudah senang. Karena menstruasinya sudah telat dua minggu.
Dia baru akan berpikir mengeceknya besok pagi. Setelah sempat membeli test pack tadi pagi.
"Ternyata dia bersembunyi di sini. Menyusahkan saja" gerutu Nina.
Memasuki lobi apartemen, seorang satpam yang masih mengenalinya menyapanya.
"Eh, Bu Nina lama tidak bertemu. Makin cantik saja," mulut lemes pak satpam itu terdengar.
"Ah Bapak bisa saja," jawab Nina.
"Cari siapa Bu?" tanya pak satpam itu.
"Oh nyari adik saya. Dia di lantai berapa ya?" tanya Nina.
"Namanya siapa, Bu," tanya pat satpam itu lagi sambil berjalan ke meja resepsionis.
"Lee Jae Kyung atau kalau tidak Jayden Lee," ucap Nina.
"Adik ipar ya Bu," tanya pak satpam mulai kepo.
"He e," jawabnya singkat.
"Lantai 24 yang dulu ditempati Mbak Karin sekarang dialihkan atas nama tuan Jayden Lee," resepsionisnya memberi penjelasan.
"Oh oke, eh ini saya diizinkan naik tidak?" tanya Nina ragu mengingat peraturan di apartemen itu agak ketat.
__ADS_1
"Boleh kok Bu. Ibu kan pernah tinggal disini. Reputasi Ibu baik. Jadi silahkan saja jika Ibu mau naik," jelas pak satpam.
"Terima kasih kalau begitu. Mari, saya ke tempat adik saya dulu," pamit Nina lantas menuju lift. Langsung naik ke lantai 24.
Tanpa ia sadari sepasang mata mengawasi gerak gerik Nina dari gerbang apartemen. Dengan sorot mata penuh amarah dan dendam. Bersamaan dengan ferrari F8 milik Jae Kyung yang masuk ke lobi apartemen.
Sempat melihat wajah pria yang terlihat aneh di gerbang apartemen. Namun sedetik kemudian pikiran aneh itu ia tepis.
"Ooh tuan Lee sedang keluar to," pak satpam berceloteh.
"Iya habis cari sarapan. Kenapa?" tanya Jae Kyung heran.
"Itu kakaknya nyari.Tak suruh langsung naik saja ke atas," terang pak satpam.
"Kalau begitu aku naik dulu, Pak," pamit Jae Kyung yang disambut lambaian tangan dari pak satpam.
"Untuk apa Lee Joon mencariku," guman Jae Kyung.
Dia pikir kakak lelakinya yang mencarinya. Tapi ia terkejut ketika mendapati seorang wanita cantik berdres navy selutut, tengah berdiri di depan unitnya. Sambil menekan bell pintu.
Jantungnya berdegub kencang. Lama tidak bertemu. Nyatanya rasa itu masih tetap ada.
"Ada apa mencariku? Rindukah?" ucap Jae Kyung di balik telinga Nina. Wanita itu reflek melompat mundur.
"Astaga Jay, kamu mau bikin aku jantungan ya," umpat Nina dengan wajah terkejutnya. Membuatnya terlihat menggemaskan di mata Jae Kyung.
Stres dan frustrasi berhari-hari membuat Jae Kyung memilih tinggal sementara di apartemen milik Lee Joon dulu yang kini sudah dialihkan atas namanya.
Urusan pekerjaan, kegagalannya dalam mencari gadis yang telah menghabiskan satu hari dengannya. Saran Appanya untuk mengurus majalah fashion yang baru diakuisisi Appanya di Surabaya. Semua membuat kepalanya pusing.
Ditambah lagi sekarang. Semua akar permasalahan yang tengah dia hadapi ada di depan matanya. Kakak iparnya sendiri datang menemuinya. Bayangkan betapa pusing kepalanya saat ini. Bagaimana dia harus menghandle kakak iparnya ini.
"Kenapa mencariku?" ulang Jae Kyung.
"Mama mencarimu. Aku disuruh Mama untuk memintamu pulang," jelas Nina.
"Jadi kalau bukan disuruh Mama kamu nggak bakal kemari dan memintaku pulang?" tanya Jae Kyung mulai kesal.
"Kamu sudah dewasa. Pulang atau tidak itu semua keputusanmu," jawab Nina singkat.
Jae Kyung dengan segera menarik tangan Nina. Membawanya masuk ke dalam apartemen miliknya.
"Kamu apa-apaan sih. Lepaskan!" teriak Nina.
"Kau bilang aku sudah dewasa. Semua keputusan ada ditanganku. Oke aku memutuskan melakukan ini padamu, Yeppeun," ucap Jae Kyung.
Pria itu dengan cepat meraih tengkuk Nina. Menyambar bibir ranum yang sekian lama sudah begitu menggoda Jae Kyung untuk menciumnya.
Nina tentu shock setengah mati. Mencoba melepaskan tautan bibir Jae Kyung padanya. Memori lama itu kembali terputar di otaknya. Apalagi pria yang ada didepannya ini persis sama dengan Lee Joon. Hal itu membangkitkan trauma Nina yang sebenarnya sudah lama tidak pernah muncul lagi.
"Jae Kyung apa yang kamu lakukan?!" teriak Nina marah.
******
__ADS_1
Hah bisa up juga akhirnya 😅😅😅
**