
Sesungguhnya bahagia dan sedih adalah dua sisi yang selalu mengikuti langkah manusia kemanapun mereka pergi. Semua akan berputar. Tidak selamanya yang bahagia akan terus bahagia. Begitupun sebaliknya.
Jika memang ada manusia yang selalu terlihat bahagia, mungkin ia terlalu pandai dalam menyembunyikan kesedihannya.
Atau, kalau dia benar-benar bahagia tinggal tunggu saja masa sedih itu akan datang menghampiri. Semua akan adil sesuai porsinya masing-masing.
Seperti kehidupan Joon, bertahun-tahun ia memendam kesedihan atas perpisahan orang tuanya. Namun hari ini tiba, dimana gurat kesedihan yang ia rasakan berganti dengan senyum yang serasa tak ingin ia hentikan.
Bahkan, ketika sang Mama menelepon untuk memintanya makan malam di rumahnya ia pun segera mengiyakan.
Dan di sinilah ia, duduk di antara kedua orang tuanya yang tak henti-hentinya menunjukkan keromantisan mereka. Ya mereka memang selalu romantis, hanya Joon saja yang tidak pernah tahu.
"Tidurlah di sini malam ini. Atau pindahlah ke sini," pinta sang Mama.
Joon hanya diam.
"Bukankah dulu kamu pergi dari sini dengan alasan kamu membenci Papa."
"Jangan salah ya Pa, aku sekarang pun masih membenci Papa!" jawab Joon ketus.
"Oh astaga, apalagi sekarang salah Papa? Papa tidak pernah mengkhianati mamamu kamu tahu itu sekarang."
"Tapi Papa membohongi Joon, mengapa Papa tidak jujur saja sama Joon"
"Oh, perhitungan sekali putramu ini. Bahkan ini pun dijadikan alasan untuk membenciku?" keluh tuan Lee
"Sayang, tolong bantu aku."
"Aku sudah membujuknya untuk masuk ke kantormu. Sekarang bujuklah putramu sendiri."
"Apa sekarang kalian bersekongkol untuk melawanku?"
"Tidak ada yang mau melawan Papa, aku akan pindah setelah penghuni baru apartemenku tiba," jawab Joon sambil melirik ke arah mama.
"Aku ogah tinggal berdua sama Papa," tambah Joon kembali, membuat tuan Lee mendelik.
"Apa maksudmu?"
"Tidak ada, aku pulang dulu. Aku tidak mengganggu honeymoon kalian," pamit Joon dingin. Tuan Lee yang tadinya mendelik ke arah Joon langsung mengembangkan senyumnya
"Dasar anak sama ayah nggak ada bedanya," kali ini Sofia yang menggerutu.
"Bukankah dia sangat pengertian, Sayang?" Sofia hanya memutar matanya malas.
"Sayang kamu tahu maksud Joon dengan penghuni apartemennya yang baru?"
Sofia mengedikkan bahunya padahal dia tahu maksud Joon.
**
Dan beberapa waktu berlalu. Hubungan ayah dan anak itu semakin baik. Walau masih ada rasa canggung di hati Joon. Joon semakin pandai mengelola perusahaan membuat tuan Lee bangga.
"Dia belajar dengan cepat" gumamnya saat asisten Jo memberikan laporan soal kinerja putranya itu.
Begitupun Nina, prestasi kerjanya juga semakin baik. Dengan kecerdasannya beberapa kasus penggelapan dana yang hampir merugikan perusahaan berhasil ia pecahkan. Banyak yang memujinya, namun banyak juga yang menganggap Nina hanya mencari muka saja. Tapi Nina tidak pernah menanggapi hal itu.
Terserah mereka mau ngomong apa asal tidak menyinggung dirinya secara langsung. Sedang Heri masih terus mengejarnya setiap hari. Bahkan setiap hari semakin parah.
"Pengen deh aku minta mutasi ke mana gitu. Biar aku nggak ketemu sama manusia satu itu."
Keluhnya pada Karin suatu hari. Mereka sedang berada di kantin menikmati makan siang mereka. Untung Heri tidak ada, sehingga mereka bisa makan dengan tenang. Karena biasanya Heri akan terus menempel pada Nina. Terus mencari perhatian Nina.
"Suruh si makhluk menyebalkan itu pulang."
"Buat apa?"
"Ya buat nunjukinlah kalau kamu tu udah punya pacar."
"Ih masak harus gitu sih?"
"Apa kamu punya cara lain? Kamu udah bilang kalau kamu punya pacar, tapi sampai sekarang kamu nggak pernah nunjukin pacar kamu ke dia. Ya dia mana percaya kalau gitu," oceh Karin.
Nina baru mau menjawab ketika ponselnya berbunyi, "Risma? Tumben dia nelpon jam segini."
"Ya, halo Risma ada apa?"
Nina nampak mendengarkan sang adik yang tengah berbicara di ponselnya. Dan detik berikutnya tubuh Nina mendadak lemas. Membuat Karin panik.
Mereka berdua setengah berlari di lorong rumah sakit xxx menuju ruang UGD. Nina hampir tidak mempunyai tenaga untuk berlari. Masih terngiang ucapan adiknya di ponselnya.
"Mbak, cepatlah datang ke rumah sakit xxx, Bapak kecelakaan."
Hanya itu yang adiknya katakan. Nina benar-benar merasa cemas. Memasuki UGD, Nina dibuat semakin takut, seolah dejavu dengan kejadian ini.
"Bu, Bapak gimana?" Nina langsung ambruk didepan Bu Ratna.Tidak sanggup berdiri lagi. Karin hanya mengikuti sahabatnya itu. Berdiri di belakang Nina.
__ADS_1
Namun bukan jawaban yang didapat, hanya tangisan yang terdengar.
"Kata dokternya, luka Bapak parah. Waktu dibawa kesini bapak kehilangan banyak darah" jelas Risma terbata-bata di sela isak tangisnya.
Airmata Nina langsung mengalir deras tak terbendung. Sebait doa ia ucapkan "Ya Tuhan jangan kau panggil ayahku, aku bahkan belum bisa membahagiakannya."
"Kita berdoa saja Nak, Bapak baik-baik saja," akhirnya bu Ratna bersuara. Ketiganya berpelukan berusaha saling menenangkan.
Namun ternyata doa Nina tidak dikabulkan. Tak berapa lama seorang dokter dan perawat keluar, memberikan kabar yang begitu Nina takutkan. Nina bagai tersambar petir, dunianya seakan runtuh, tubuhnya tiba-tiba linglung, serasa lemas tidak bertulang. Hampir ambruk jika tidak ada Sofia yang tiba-tiba sudah memeluk erat tubuhnya.
"Sabar, Sayang," bisiknya pelan. Nina langsung menjerit pilu tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Isak tangis pecah di depan UGD itu, membuat Sofia dan Karin serta beberapa orang yang kebetulan berada di situ ikut berkaca-kaca.
Bahkan Karin akhirnya ikut menangis terisak sambil memeluk tubuh sahabatnya itu.
"Kenapa-kenapa kau mengambil ayahku, ya Tuhan?" Nina protes dalam hatinya
*****
Saat ini Nina sudah pulang. Ayah Nina sudah dimakamkan beberapa jam yang lalu. Namun pelayat masih hilir mudik di rumah Nina.
Nina sendiri saat ini berada di rumah Sofia. Rumah Nina terlalu ramai, Nina tidak suka. Duduk di ruang tengah ditemani Karin. Beberapa orang nampak hilir mudik di rumah Sofia, mengingat semua persiapan pemakaman di lakukan dari rumah Sofia.
Nina tak henti-hentinya menangis. Matanya sembab, dia sama sekali tidak beranjak dari sofa sedari tadi. Duduk dengan memeluk lututnya sendiri.
Hingga sebuah suara terdengar memanggilnya. Namun Nina tidak berminat untuk menjawabnya. Begitupun Karin.
"Ini bukannya menghibur, malah bikin tambah hancur."
Sebab yang datang adalah teman kantor Nina dan salah satunya adalah Heri. Langsung mencoba mendekati Nina. Berusaha menghibur kononnya. Namun Nina sama sekali tidak bergeming. Melirikpun tidak.
Akhirnya teman-teman Nina duduk di sekeliling Nina berusaha menghibur. Ingin rasanya Nina kabur dari tempat itu. Dia ingin sendiri, ingin menangis sesuka hatinya. Meluapkan kesedihan dan kehilangannya.
Airmata itu terus turun di pipi Nina tanpa sanggup ia bendung. Ia terus menundukkan wajahnya tidak mampu dan mau menatap wajah teman-temannya
Hingga satu suara yang sangat ia kenal terdengar di telinganya. Suara itu memanggil namanya,
"Baby, are you okay?"
Begitu suara itu memanggilnya, sontak Nina langsung mengangkat wajahnya. Seakan tidak percaya. Dilihatnya wajah Joon tepat berada didepan wajahnya. Menekuk lututnya dan menggunakannya sebagai tumpuan, agar bisa sejajar dengan Nina duduk di sofa.
"Ini pasti mimpi, dia tidak mungkin ada di sini. Dia lagi konser di Jakarta," bisik Nina dalam hati.
Tapi detik berikutnya, Nina bisa merasakan sepasang tangan mengusap airmatanya dengan lembut. Segera ia sadari bahwa itu bukan mimpi.
"Are you okay, Baby?"
Kembali Joon bertanya. Dan detik berikutnya tangis Nina kembali pecah. Dengan segera Joon merengkuh tubuh Nina ke dalam pelukannya.
Seolah menemukan sandaran yang sangat ia butuhkan, Nina membiarkan dirinya menangis sepuas hatinya. Meluapkan segala kesedihan yang ia rasakan. Bahunya terus bergetar hebat menandakan betapa dalamnya kesedihan yang ia rasakan.
Karin hanya melongo melihat pemandangan itu. Pikirnya sejak kàpan keduanya menjadi sedekat ini. Atau dia melewatkan sesuatu hingga tidak menyadari kedekatan mereka. Kembali ia berpikir.
Teman-teman Nina pun ikut melongo melihat pemandangan di depan mereka. Melihat seorang pria tampan yang mereka kenal sebagai Lee Joon sang penyanyi, tiba-tiba muncul di hadapan mereka dan langsung memeluk Nina.
Memperlihatkan bahwa mereka memiliki hubungan yang dekat. Mereka terpesona dengan ketampanan Joon sekaligus heran bagaimana Joon bisa mengenal Nina.
Namun berbeda dengan Heri. Pria itu langsung menggertakkan giginya, menahan amarah yang tiba-tiba meluap. Hingga mencapai ubun-ubunnya. Cemburu, satu kata yang bisa menggambarkan perasaaanya saat ini.
Bagaimana bisa ada seorang pria tiba-tiba muncul di hadapannya. Langsung memeluk pujaan hatinya. Tangannya terkepal erat, mencoba menahan kembali amarahnya.
Cukup lama Joon membiarkan Nina menangis dalam pelukannya. Tak ia hiraukan lututnya yang mulai kebas, terlalu lama menekuk lututnya.
Hingga ketika semua teman Nina berpamitan, Nina belum juga melerai pelukannya. Heri sebenarnya menolak untuk pulang, tapi teman-temannya menyeretnya untuk ikut pulang bersama mereka. Berusaha menyadarkan Heri siapa saingannya dalam usahanya mendapatkan hati Nina. Mereka bisa menyimpulkan ada hubungan yang istimewa antara Nina dan pria itu.
"Menangislah sepuasmu, tapi setelah ini jangan menangis lagi," ucap Joon pelan.
Nina yang mendengar hal itu, perlahan melepaskan diri dari pelukan Joon. Membuat Joon langsung menjatuhkan dirinya di karpet ruang tengahnya. Berusaha menetralisir rasa kebas yang ia rasakan.
"Kenapa?" jawabnya sambil menyeka air matanya yang tampak masih terus mengalir.
"Aku tidak tahu, aku hanya ingat kamu mengatakan itu saat kakek meninggal," jawaban Joon yang langsung mendapat cubitan keras di lengan kokoh Joon.
"Aaaww sakit tahu, kebiasaan amat sih suka nyubitin aku."
"Biarin, dasar nggak kreatif!"
Tapi detik berikutnya Nina kembali terisak. Dan Joon langsung mengusap-usap punggung Nina. Menenangkan.
"Ayahku pergi meninggalkanku sama seperti Kakek yang juga meninggalkanku," ucap Nina di sela isak tangisnya.
"Mereka tidak meninggalkanmu, mereka hanya pergi ke tempat yang lebih baik."
Nina hanya terdiam mendengar jawaban Joon.
"Kamu tahu, mungkin kakekku kesepian. Meski sudah ada nenek di sana. Tapi kan tidak ada yang menemani Kakek main catur. Kan nenek tidak bisa main catur."
__ADS_1
"Ada juga yang seperti itu."
"Mungkin saja."
"Kalau begitu Kakek jahat dong, masa dia memanggil ayahku hanya untuk menemaninya main catur di sana dan meninggalkanku di sini."
"Kan sudah aku bilang mereka tidak meninggalkanmu, mereka tetap ada di sini bersamamu, bersama kita," ucap Joon sambil menunjuk dadanya sendiri.
Nina kembali diam. Sejenak keheningan tercipta. Joon membiarkan Nina menata hatinya sendiri, satu dua isak tangis masih terdengar dari bibir Nina. Joon mendudukkan dirinya di sofa setelah rasa kebas yang ia rasakan hilang.
Penampilannya cukup berantakan. Hanya memakai jas dan kemejanya. Perlahan ia melepaskan jasnya, lantas menggulung lengan kemejanya. Ditatapnya Nina yang ada di hadapannya. Gadis itu masih terdiam, tatapan matanya terlihat kosong. Ia sedikit tahu dengan yang Nina rasakan. Mengingat dia juga pernah merasakannya.
Perlahan diraihnya jemari tangan gadis itu, digenggamnya dengan lembut dan erat. Membuat Nina langsung memandang wajah Joon.
"Semuanya akan baik-baik saja," ucap Joon. Nina hanya terdiam
"Aku janji."
Kembali kedua mata dua insan itu bertemu. Seolah berusaha saling mendalami satu sama lain.
"E hem," Karin berdehem. Membuat Joon dan Nina sontak mengalihkan pandangan mereka ke Karin yang tiba-tiba sudah ada di depan mereka.
"Tuan dan Nyonya, silahkan tehnya di minum. Karena menangis dan yang berusaha menghibur orang yang menangis, semua butuh kekuatan," oceh Karin yang langsung membuat keduanya mengulum senyum.
"Gila! si makhluk menyebalkan ini kalau sudah tersenyum bikin meleleh. Heran aku sama Nina bagaimana bisa dia menyia-nyiakan makhluk seganteng ini. Si brengsek aja nggak ada apa-apanya dibanding ini."
"Oh ya, Tuan Muda mau minum apa?" Tanya Karin setelah Joon hanya mengambilkan teh untuk Nina lantas menyuruh gadis itu untuk meminumnya.
"Minumlah."
"Berikan dia air mineral saja," jawab Nina.
"Tidak perlu, aku akan mengambilnya sendiri, dan satu lagi jangan panggil aku Tuan Muda!" ucap Joon kali ini wajahnya sudah kembali ke mode dingin dan ketus.
"Widih, dah balik lagi dah tu wajah dingin ma ketusnya."
Batin Karin yang sudah ikut duduk di sofa. Mulai memainkan ponselnya. Sambil memindai makhluk menyebalkan, menurut sahabatnya yang saat ini ada di hadapannya.
Kemeja dengan dua kancing teratas sudah terbuka. Sedikit menampilkan dada bidangnya yang pelukable banget. Lengan kemeja yang sudah digulung sampai siku. Rambut yang sedikit berantakan semakin menambah kesan seksi dan macho pria yang ada di hadapannya itu.
"Ada ya pria setampan dan sesempurna ini di dunia. Dan ada juga ya yang tidak tergiur dengan makhluk sesempurna ini."
Batin Karin memandang dua manusia yang ada di depannya.
"Jangan sembarangan mengambil fotoku ya!" salak Joon yang melihat Karin tengah memegang ponselnya.
"Enak saja. Jangan menuduh sembarangan. Aku tidak sedang mengambil fotomu ya."
"Bagus kalau begitu," ucap Joon sambil menegak air mineral yang entah kapan dia mengambilnya.
"Issh, issh tu bibir seksi banget kalo lagi diem. Tapi kalo udah ngomong kaya cabe rawit sekilo pedesnya. Amit-amit dah. Tapi kemarin kan tu bibir yang udah ngambil first kissnya Nina. Kagak dower tu bibir Nina dicium ma bibir yang pedesnya minta ampun kalo lagi ngomong."
Batin Karin sambil mengedikkan bahunya. Membuat Joon dan Nina hanya saling pandang melihat kelakuan Karin.
"Sudah baikan?" tanya Joon. Sesaat di pandangnya wajah Nina. Gadis itu sudah berhenti menangis. Matanya sembab dan juga bengkak.
"Lumayan, terima kasih," jawab Nina, yang langsung membuat Joon mengembangkan senyumnya.
"Aku pulang ah, dari pada jadi obat nyamuk di sini."
"Bagus, pulang sana."
"Loh kok pulang sih, Rin."
"Udah gelap ni, lagian kamu kan udah ada yang jagain. Tu si makhluk menyebalkan kan ada."
"Kamu bilang apa tadi?"
"Makhluk menyebalkan."
"Kamu mau saya pecat ya?"
"Ye siapa situ? Mau pecat saya, kan kamu bukan Bos saya."
Ingin sekali Joon menunjukkan kalau dialah bosnya. Tapi kemudian dia teringat Nina. Belum saatnya dia membuka jati dirinya. Dia ingin memberi kejutan untuk gadis itu.
"Ye... nggak bisa jawab," ledek Karin membuat Joon menggertakkan giginya.
"Awas kamu ya."
Karin hanya menjulurkan lidahnya. Lantas berpamitan pulang.
Malam menyapa membawa hati semakin merana karena kehilangan orang yang sangat dicinta.
****
__ADS_1