
"Tuan, tuan Mike sudah kembali dari liburannya,"
"Benarkah. Darimana dia?"
"Dia kembali dari Bandung. Bukankah ini aneh. Tapi menurut kabar yang beredar. Tuan Mike pulang ke Bandung dan meneruskan liburannya di sana."
"Mencurigakan."
"Terlebih tuan Mike pulang bersama Maya. Putri dokter Pras."
"Semakin mencurigakan. Selidiki hal ini. Apa dokter Pras mulai bermain-main di belakangku?"
"Baik, Tuan."
*******
Hari ini mood Nina rusak gara-gara dia melihat Nindy di lantai 34. Yang itu berarti perkataan Sofia untuk merekrut Nindy menjadi sekretaris tuan Lee benar-benar dilakukan.
Dia masuk ke ruangannya sambil menghentak-hentakkan kaki. Meski Joon sudah menjelaskan berkali-kali jika dia tidak punya perasaan pada Nindy. Tetap saja Nina cemburu pada Nindy.
Nina mau protes tapi tidak berani. Soalnya itu permintaan Sofia. "Dia kan jadi sekretarisnya tuan Lee. Bukan jadi sekretarisnya pak Bos," ucap Karin menenangkan.
"Tapi kan Rin dia ada di sini."
"Terus? Kan dia juga tidak diijinkan naik ke lantai 35. Apalagi masuk ruangannya pak Bos. Sudah deh jangan khawatir."
Nina sedikit tenang mendengar perkataan Karin.
Sedang Nindy yang tengah mendapat kursus kilat dari asisten Jo. Malah melongo melihat wajah asisten Jo. Yang menurut Nindy sangatlah cool dan tampan.
"Aku kira kak Lee Joon adalah manusia terkeren sejagad raya. Ternyata ada yang melebihi kerennya kak Lee Joon. Ck, ck, ck ini mah tidak ada bandingannya," batin Nindy yang malah bertopang dagu sambil memandang wajah asisten Jo.
"Bagaimana apa kamu sudah paham?" tanya asisten Jo kepada Nindy yang masih melongo mengagumi dirinya. Asisten Jo yang seumur-umur belum pernah diperhatikan seperti itu oleh seorang gadis malah jadi bingung.
"Hei, hei bagaimana. Mengerti tidak?" kembali asisten Jo bertanya.
"Aku sudah paham. Tenang saja Om."
"Ha? Om?"
"Iyalah. Kan situ lebih pantes saya panggil Om."
Dita yang duduk di meja seberang hampir saja meledakkan tawanya. Namun buru-buru ia tahan. Di lantai ini mana ada yang berani berulah di depan asisten Jo, yang terkenal dingin dan tegas tanpa ampun. Bahkan Nina, Karin dan Max pun kadang tidak tahu harus bersikap bagaimana saat di depan asisten Jo.
Mukanya itu lo yang selempeng jalan tol dan sedatar meja tulis, bikin orang langsung kehilangan kata-kata kalau ada di depan asisten Jo. Makanya kalau interview yang turun asisten Jo, sudah dipastikan banyak yang gagal. Mereka langsung speechless, begitu lihat mukanya asisten Jo.
Tapi Nindy, dia bisa dengan santai menjawab pertanyaan asisten Jo. Bahkan bisa memanggil asisten Jo dengan sebutan om. Wah ini luar biasa. Pikir Dita seperti itu.
"Om, Om Jo sudah punya pacar belum?" Nindy bertanya dengan santainya. Dita berusaha keras untuk tidak tertawa. Perutnya benar-benar sakit menahan tawa. Bisa ya, seorang anak kecil menggoda seorang asisten Jo.
__ADS_1
Sedang asisten Jo sendiri malah terlihat shock mendengar pertanyaan Nindy. Ini baru hari pertama. Dan sekretaris baru Bos Besarnya sudah bikin ulah.
"Ini waktunya jam kerja. Tidak boleh bertanya-tanya hal pribadi," jawab asisten Jo tetap berusaha mempertahankan wajah dinginnya.
"Apa maksud gadis kecil ini bertanya seperti itu. Apa dia ingin meledekku," batin asisten Jo dalam hati. Sambil dia mengumpat kenapa juga Bos Besarnya itu dapat sekretaris baru model begini. Bukannya membantu bisa-bisa anak ini malah membuat repot saja nantinya.
"Ah Om, jangan lempeng-lempeng amat kenapa Om. Nanti ilang lo cakepnya."
Asisten Jo membelalakkan matanya mendengar ucapan Nindy. Tak terbayangkan kekehan Dita di meja seberang. Dita bahkan hampir menangis menahan tawanya mendengar gombalan Nindy kepada asisten Jo.
"Jangan bicara sembarangan ya," suara asisten Jo sudah naik satu oktaf. Menandakan mode kesalnya mulai on. Wajahnya sudah berubah semakin dingin. Bisa membuat siapa saja ketakutan melihatnya. Bahkan dulu Stella saja tidak berani membuat asisten Jo kesal. Sangat berbahaya.
Tapi lihatlah Nindy. Wajahnya menunjukkan kalau ia sama sekali tidak takut pada asisten Jo. Bahkan Nindy semakin kagum dan terpesona pada asisten Jo.
"Siapa yang bicara sembarangan. Om cakep deh. Mau nggak jadi pacar Nindy?" tanya Nindy santai.
Duarrrr, pertanyaan Nindy bagai sambaran petir di tengahnya panas matahari. Bagaimana bisa anak kecil ini bertanya seperti itu padanya.
Sedang di meja seberang, Dita langsung melongo mendengar ucapan Nindy. Bagaimana beraninya gadis kecil itu menembak seorang asisten Jo.
"Wah bisa jadi gosip panas satu kantor ini," batin Dita.
"Jangan bicara yang aneh-aneh. Kerja saja yang betul," ucap asisten Jo hampir membentak Nindy. Yang tidak ada takut-takutnya sama sekali.
"Siapa juga yang ngomong aneh-aneh. Jadi gimana Om, mau ya jadi pacar Nindy?" Nindy masih bertanya namun kali ini dengan gaya imutnya. Jantung asisten Jo berdebar seketika.
"Ha? Apalagi ini? Kenapa jantungku jadi seperti ini. Apa aku terkena serangan jantung," batin asisten Jo.
"Oh ya Dita, bantu dia kalau dia butuh bantuan," ucap asisten Jo sebelum benar-benar keluar dari ruangan Dita dan Nindy.
"Siap Pak," jawab Dita.
"Eh Om, Om pertanyaanku belum dijawab. Mau nggak jadi pacar aku. Om, Om Jo," teriak Nindy.
Dita mengulum senyumnya melihat tingkah gadis kecil itu.
"Kak, Kak Dita memangnya Om Jo tu dah punya pacar belum to?"
"Setahu kakak sih belum? Kenapa? Kamu suka sama asisten Jo?" tanya Dita to the point.
"Iya, Nindy suka sama om Jo. Keren, ganteng. Kak Lee Joon aja kalah," jawab Nindy santai.
"Whaattt!! Hah apa ini?" Dita begitu shock mendengar jawaban Nindy.
"Wah sekretaris tuan besar Lee semua tidak beres. Yang kemarin sibuk mengejar Max yang berujung dipecat gara-gara pembobolan data karena cemburu. Yang ini sepertinya bakal lebih parah. Sepertinya Nindy mulai tergila-gila pada asisten Jo," batin Dita sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sedang Nindy masih memandang pintu, di mana asisten Jo beberapa detik yang lalu menghilang di sana. Memandang pintu dengan tatapan memuja.
Walaupun di luarnya Nindy terlihat manja dan selengekan. Ternyata hasil kerjanya lumayan bagus untuk pemula. Dita hanya sesekali mengarahkan, selebihnya Nindy sudah bisa melakukan pekerjaannya dengan baik.
__ADS_1
Asisten Jo sedikit terkejut dibuatnya. Lumayan juga pekerjaan anak ini, batin asisten Jo ketika meneliti hasil kerja Nindy sebelum diserahkan kepada tuan Lee.
"Bagaimana? Baguskan? Aku pintarkan? Jadi mau dong Om jadi pacar aku?" ucap Nindy untuk yang kesekian kalinya. Sejak hari dia menembak asisten Jo dan asisten Jo belum memberi jawaban. Gadis itu semakin gencar mengejar asisten Jo. Kadang asisten Jo sampai illfell dengan Nindy tapi urusan pekerjaan membuatnya harus mengesampingkan rasa illfellnya itu. Toh selama ini pekerjaan Nindy terhitung bagus. Tidak ada kesalahan yang terlalu berarti.
Johan Indrawan, namanya atau satu kantor mengenalnya sebagai asisten Jo. Asisten orang nomor satu di LJ GROUP. Wajahnya juga tampan. Tidak kalah dengan wajah para bosnya. Tubuhnya pun oke. Dan asisten Jo terlihat semakin matang dan hot, di usianya yang menginjak 36 tahun, tahun ini. Dia sama sekali belum pernah yang namanya berpacaran.
Sejak ikut menjadi asisten tuan Lee di usianya yang baru 23 tahun. Dia masih betah bekerja dengan tuan Lee sampai sekarang. Sedang tuan Lee sendiri merasa sangat puas dengan kinerja asisten Jo. Jarang sekali asistennya itu membuat kesalahan. Membuat tuan Lee tak segan-segan memberikan bonus yang wah untuk asistennya. Mengingat asisten Jo-lah orang yang telah menemani tuan Lee dari dia merintis bisnisnya. Hingga bisa sukses seperti sekarang.
Berdua mereka merasakan jatuh bangunnya mendirikan usaha hingga bisa berkembang seperti sekarang. Asisten Jo juga yang menjadi saksi hidup bagaimana tuan Lee dan keluarganya melalui berbagai macam rintangan hidup mereka. Hingga mereka bisa berkumpul seperti sekarang.
Bukan tidak ada wanita yang ingin menjadi kekasih asisten Jo. Yang ngantri juga banyak seperti halnya bos mereka yang menjadi pujaan banyak wanita. Namun kebanyakan wanita itu sudah skeptis duluan begitu melihat wajah dingin dan tegas asisten Jo.
Asisten Jo sendiri memang menghindari berurusan dengan wanita. Ribet menurutnya. Mengingat bagaimana dulu dia harus menghandle banyaknya wanita yang ingin mendekati bos besarnya. Atau melihat kalang kabutnya Max menghalau semua fans berat tuan mudanya. Membuatnya berpikir bahwa wanita adalah pembuat masalah, rusuh dan sebagainya.
Dan sekarang ditambah satu lagi makhluk imut bernama Nindy yang tiap hari gencar mengejarnya. Menginginkan asisten Jo menjadi pacarnya. Membuatnya semakin yakin. Para wanita adalah pembuat masalah.
"Haiishh," teriaknya frustrasi. Bukan masalah pekerjaan. Tapi masalah Nindy yang dari tadi sibuk mengajaknya makan siang. Dia sudah menolaknya. Tapi gadis itu bukannya mundur tapi semakin keras berusaha.
"Oh, yang benar saja. Aku dibuat pusing tujuh keliling hanya karena seorang gadis kecil yang baru berusia 21 tahun," gumam asisten Jo. Bersamaan dengan Max yang masuk ke ruangan mereka.
"Ada apa dengan wajahmu. Seperti orang yang baru kalah main saham saja," tanya Max. Dia tahu asisten Jo sangat suka bermain saham.
"Ini lebih parah daripada kalah main saham."
"Wow... ada hal yang lebih penting daripada main saham bagi asisten Jo," Max setengah meledek. Belum pernah dia melihat wajah asisten Jo se-frustrasi ini. Bahkan kalah berpuluh-puluh juta tidak membuat wajah asisten Jo jadi seperti itu.
"Jangan meledekku ya. Berikan aku solusi bagaimana menolak seorang wanita."
"Ha? Menolak wanita? Ada yang sanggup mengejarmu dan tidak gentar melihat wajahmu? Wah siapa dia? Aku jadi penasaran. Cantikkah dia? Kalau cantik terima saja. Tidak rugi sekali-kali pacaran. Bisa jadi mood booster bagi kita," oceh Max.
"Kamu bukannya membantuku malah membuatku semakin pusing."
"Sebenarnya siapa sih yang tidak gentar melihat wajah dinginmu itu," Max begitu penasaran dengan wanita yang menyukai asisten Jo. Yang berani mengejar asisten Jo.
"Itu, itu....."
Ucapan asisten Jo terpotong ketika suara melengking khas Nindy terdengar di kejauhan.
"Om Jo kamu di mana? Om Jo....." suara Nindy memanggil asisten Jo
"Oh tidak aku harus sembunyi. Tidak aku harus kabur," ucap asisten Jo panik. Mengabaikan tatapan penuh pertanyaan dari Max. Asisten Jo langsung melesat keluar dari ruangan mereka berdua. Jelas sekali jika asisten Jo tengah menghindari suara Nindy yang semakin lama semakin dekat ke ruangan mereka.
"Tidak mungkin kan wanita yang mengejar asisten Jo adalah Nindy. Oh my God. What the hell is this?" gumam Max.
*****
Jangan lupa vote, like and komen 🤗🤗
Happy reading, ya readers..
__ADS_1
Salam sayang dari author..
***