
Nina sudah menunggu di lobi bawah. Seulas senyum masih terlihat di wajah cantiknya. Masih terasa lembutnya ciuman yang Joon baru saja berikan.
"Lama-lama aku bisa gila jika berada didekat pria itu," gumamnya.
Sebenarnya Joon ingin Max mengantarkan Nina dan Karin. Tapi Nina menolaknya. Ingin menikmati Jakarta waktu malam. Nina sangat menyukainya. Lamunannya buyar ketika di lihatnya Karin datang ke arahnya dengan wajah ditekuk sepuluh.
"Ada apa? Ada yang membuatmu marah?"
"Weekend ini kita ke sasana yuk. Lagi pengen ngehajar orang ni."
"Ayo. Emang sudah ada tempatnya?" Karin mengangguk. "Memang kenapa?"
Mereka mengobrol sambil berjalan meninggalkan lobi. Mulai masuk ke kawasan pejalan kaki.
"Ketemu orang di toilet yang ngatain kamu, anak kampungan aja sok bertingkah."
"Lah kan aku memang anak kampung. Terus kamu apain tu orang?"
"Aku bilang aja, biarin anak kampung. Tapi anak kampung itu bisa bikin kamu di pecat dari sini. Baru diam mereka. Ihhh kesalnya!!"
"Sudah atau masih ada lagi?"
Karin diam. Tidak mungkin kan dia cerita hal sebenarnya yang membuat dia benar-benar kesal. Setelah turun ke lantai 30, Karin lupa kalau chargernya di pinjam Dita. Bermaksud mau mengambil charger di meja Dita, eh saat dia buka pintu, dia dapat bonus pemandangan panas.
Bagaimana tidak panas. Di lihatnya, Stella dan Max yang tengah berciuman panas. Bahkan posisi Stella sudah naik ke atas tubuh Max.
Keduanya langsung menghentikan kegiatan mereka ketika sadar ada orang lain yang datang.
"Uuuups, sori mengganggu," ucap Karin berusaha santai padahal dadanya bergemuruh hebat. Mengambil charger diatas meja Dita lantas kabur dari tempat itu.
"Iiih... cepetan sana pergi. Ngganggu aja," ucap Stella merasa menang.
"Rin, Karin tunggu dulu. Ini tidak seperti apa yang kamu lihat," Max berusaha menjelaskan. Lah kenapa dia jadi seperti pacar yang tertangkap sedang selingkuh ya.
"Bodo amat. Bukan urusanku!"
"Ihh sayang, kenapa sih malah ngejar dia. Biarin aja dia pergi."
Sayup-sayup suara Stella masih terdengar. Ketika Karin meninggalkan ruangan itu. "Dasar menyebalkan. Bilangnya bukan pacar. Tapi apa itu tadi. Bikin kesal aja!" umpat Karin sepanjang jalan.
"Nina aku nanti tidur tempat kamu ya?"
"La bukannya tiap hari begitu"
"Takutnya nanti Bos Kutub datang berkunjung."
"Enggak dia lembur. Lagian kalau dia datang, kamu nimbrung aja ke tempat Max kalau malas pulang"
"Ihhh ogah. Jadi apa aku nanti kalau masuk sarang manusia satu itu."
"Jangan gitu. Gitu-gitu dia juga baik lo"
"Baik apanya?"
Mereka memasuki lobi apartemen ketika seorang satpam mencegatnya di pintu masuk.
"Mbak Nina ada tamu. Nungguin di ruang tunggu."
"Siapa Pak?"
Pak satpam mengedikkan bahu tanda tidak tahu. Nina masuk ke lobi. Dan ternyata tamu yang di maksud pak satpam adalah manusia yang paling tidak ingin Nina temui di dunia. Adam.
Laki-laki itu tampak mengembangkan senyumnya ketika melihat Nina datang.
"Ngapain kamu ke sini?" kembali Karin yang bicara.
"Aku ingin bicara dengan Nina, Rin."
"Mau bicara apa?" tanya Nina to the poin.
"Aku mau minta maaf sama kamu."
"Bukankah sudah aku bilang 2 tahun lalu kalau aku sudah memaafkam kamu."
"Kalau kamu sudah memaafkan aku bisakah kita kembali seperti dulu?"
"Maksud kamu?"
"Bisa kita pacaran lagi?"
"Eh, orang gila. Enak banget kamu ngomong kayak gitu. Emang kamu pikir Nina cewek apaan. Cewek yang gampang kamu mainin perasaannya?" amarah Karin meledak. Sejak tadi ia menunggu untuk menumpahkan kekesalannya dan tidak disangka ada kesempatan untuk melakukannya. Tentu saja tidak ia sia-siakan.
"Nina tolong beri aku kesempatan untuk membuktikan," bujuk Adam tidak menghiraukan ocehan Karin.
__ADS_1
"Membuktikan kalau kamu bisa melakukan hal yang sama seperti dulu. Maaf saja aku tidak bisa. Ayo Rin."
Nina hendak berlalu dari hadapan Adam, namun laki-laki itu dengan cepat menahan tangan Nina. Dan tepat ketika itu suara baritone Joon terdengar.
"Ada masalah, Baby?"
"Tidak ada," dengan cepat Nina melepaskan tangannya dari cekalan tangan Adam. Sedang Karin langsung kabur begitu melihat Max yang datang bersama Joon.
"Aku naik dulu. Sudah ada Bos Kutub dan bodyguardnya. Aku mau mandi dulu. Gerah. Aku naik kalau Bos Kutub sudah pergi," bisik Karin yang diangguki kepala Nina.
"Ada perlu apa anda datang ke sini menemui Nina?" aura dingin dan membunuhnya mulai terasa.
"Kamu, kamu yang waktu itu di pantai bersama Nina kan?" tanya Adam sedikit merasa gugup melihat wajah dingin Joon.
"Iya betul. Ada apa anda menemui kekasih saya."
"Ha? Kekasih?"
"Ya, kekasih. Nina adalah kekasih saya."
"Kamu jangan bergurau. Tidak mungkinkan kalian pacaran?"
"Kenapa tidak mungkin. Kami sama-sama sendiri jadi tidak ada salahnya kami bersama. Iyakan, Baby?"
Yang ditanya hanya mengangguk. Membuat Joon sedikit kesal dengan kekasihnya itu.
"Silahkan pergi dan jangan pernah temui Nina lagi. Ayo, Baby," ucap Joon lantas menggandeng mesra tangan Nina. Berlalu meninggalkan Adam yang hanya bisa terpaku melihat Nina dibawa pergi Joon dari hadapannya.
"Aku akan mendapatkanmu kembali. Nina," ucap Adam mantap dengan kedua tangan terkepal. Lantas keluar dari lobi apartemen Nina.
"Ada yang ingin kamu jelaskan, Baby?"
Ternyata mereka tinggal berdua karena rupanya Max pun sudah naik ke lantai 25.
"Tidak ada" jawab Nina singkat.
"Aku tidak tahu kalau kamu ketemu mantanmu lagi."
Mereka mulai masuk lift.
"Oh itu. Aku dan Karin tidak sengaja bertemu dengannya minggu lalu. Aku tidak tahu kalau dia akan mencariku ke sini. Maaf aku tidak memberitahumu."
"It's okay. Lalu apa yang dia inginkan?"
"Dia ingin kembali"
"Tentu saja tidak?" jawab Nina tapi Joon bisa melihat keraguan di mata gadis itu.
Joon ingin kembali bertanya, namun pintu lift terbuka.
"Eh ini kan bukan lantai kita. Astaga aku salah menekan tombol angka."
Nina baru saja akan menutup pintu lift kembali, ketika dia melihat Max yang tengah berdiri di depan pintu apartemen Karin. Dia menoleh ke arah Joon yang ternyata juga tengah melakukan hal yang sama.
"Karin tolong buka pintunya. Aku bisa jelaskan kejadian tadi. Rin, buka pintu."
Merasa tidak ingin ikut campur Nina menekan angka 25 dan lift kembali tertutup.
"Apa ada yang kita tidak tahu?" tanya Joon. Nina hanya mengedikkan bahunya. Sebenarnya Joon masih terganggu dengan soal Adam yang muncul kembali. Dia bisa melihat keraguan Nina ketika menjawab pertanyaan Joon.
"Apakah Nina belum sepenuhnya bisa melupakan Adam. Apakah Nina masih mencintai Adam" batin Joon.
Pertanyaan itu terus berputar di pikiran Joon hingga ia mengikuti Nina masuk ke apartemennya tanpa sadar.
"Kamu mau tidur di sini?"
"Entahlah aku lihat nanti."
"Mandilah dulu. Aku mau masak. Kamu belum makan kan?"
Joon menggelengkan kepalanya lantas masuk ke kamar Nina. Sedang Nina langsung berkutat dengan alat masak di dapur minimalis Joon.
Tak berapa lama sepiring capcay dan ayam goreng sudah siap. Tinggal menunggu nasinya matang. Tak lupa secangkir teh ia buatkan untuk Joon.
Joon baru saja keluar dari kamar ketika Nina bermaksud mandi di kamar tamu.
"Aku sudah selesai. Mandilah."
Tampak pria itu sudah segar berganti baju. Kaos oblong putih dan celana pendek membuatnya terlihat santai.
"Oke. Oh iya aku buatkan teh. Tinggal menunggu nasi lalu kita makan."
Joon lantas menuju meja makan. Menyesap tehnya sambil memainkan ponselnya. Namun harum ayam goreng menggelitik hidungnya. Membuat perutnya yang sudah lapar bertambah lapar.
__ADS_1
Nina langsung melesat ke kamar mandi. Memulai ritual mandi. Dalam hati ia berpikir darimana Joon dapat baju ganti. Sebab selama tinggal di sini ia tidak menemukan satupun barang pria itu.
Ah terserahlah. Orang ini kan rumahnya. aku cuma numpang di sini. Pikir Nina pada akhirnya. Namun ketika ia masuk ke walk in closet mencari piyamanya.
Ia menemukan satu lemari di sudut sudah terbuka. Biasanya lemari itu terkunci. Nina pikir itu lemari kosong. Ternyata setelah ia intip isinya adalah susunan pakaian pria.
Walaupun sedikit tapi lengkap. Dari baju, kaos,kemeja, setelan jas sampai underwear ada di situ.
" O... dia juga punya baju di sini."
Nina keluar dari walk in closet dengan setelan piyama hello kitty. Membuat Joon hampir tersedak teh yang tengah di minumnya.
"Ada apa? Ada yang aneh?"
"Tumben pakai piyama. Biasanya juga pakai baju kebangsaan."
Nina memutar matanya jengah. Sambil menyiapkan makan malam. "Kamu suruh aku pakai begituan depan kamu. Yang benar saja. Tidak sopan tahu."
"Aku sudah biasa melihatnya. Terlihat seksi dan menggoda. Kalau ini, kamu terlihat imut-imut."
"Ah sudah jangan dibahas. Makan yuk lapar nih."
Tapi Nina baru saja duduk ketika ia menyadari jika pria di depannya itu tengah makan ayam goreng tanpa nasi.
"Astaga Lee Joon. Kamu makan ayam goreng doang. Mana tinggal 3 lagi. Lapar apa doyan?"
"Sori abis enak sih."
Nina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Nina tengah menunggu Karin naik. Ternyata Joon memilih tidur di tempat Max. Membuat Nina langsung lega seketika. Dia pikir apa jadinya jika ia dan Joon tidur di tempat yang sama.
"Nina, aku boleh curhat nggak?" kata Karin. Mereka sudah rebahan di ranjang king size milik Joon di kamar utama. Karin baru saja berhenti meledek Nina gara-gara pakai piyama hello kity lantaran ada Jòon di sana.
Karin bilang, kamu takut diterkam pacarmu ya kalau pakai baju kebangsaan. Dan langsung ditimpuk bantal oleh Nina. Kini keduanya sudah sama-sama memakai baju kebangsaan mereka.
"Soal apa?" sebenarnya Nina ingin menanyakan soal Max. Tapi Nina pikir sahabatnya itu pasti akan cerita dengan sendirinya.
"Bagaimana jika aku tertarik dengan Max?" Nina seolah tidak terkejut dengan pertanyaan Karin.
"Aku tidak masalah kamu tertarik ataupun suka dengan Max."
"Kamu tidak marah?"
"Buat apa aku marah. Aku tidak ada rasa dengan Max. Terus alasanku marah apa?"
"Aku pikir karena dari awal aku sudah bilang tidak akan suka dengan Max"
"Perasaan mana ada yang bisa ngatur. Itu alami terjadi. Lagi pula perasaanmu ya milikmu. Semua terserah kamu. Hanya saja kamu tahu kan Max seperti apa."
"Itu dia yang bikin aku bingung. Harus aku apakan perasaanku ini. Tadi saja aku sudah dibuat kesal sama tu orang."
Nina mengerutkan alisnya. "Soal?"
Dan Karinpun menceritakan apa yang dia lihar di ruang sekretaris tadi. "Oh... jadi yang pengen kamu hajar tadi itu Max?"
Karin mengangguk.
"Padahal beberapa waktu ini aku sudah mencoba move on dari Max dan cari yang lain. Tapi tetep aja nggak bisa lupain orang brengsek itu."
"Orang lain? Siapa?" Dan Karin pun menunjukkan ponselnya. Di mana foto seorang pria beraksen Korea tengah tersenyum manis.
"Lah gimana bisa move on, la wong yang dijadiin pengalihannya Jeon Jungkook. La yo tak jamin ra bakal iso move on awakmu."
(Lah bagaimana bisa move on orang yang di jadikan pengalihannya Jeon Jungkook. Ya tak jamin kamu nggak bakalan bisa move on)
"Abisnya Jungkook ganteng banget."
"Gantengan mana sama Max?"
"Gantengan Max," jawab Karin lirih
"Nah tu tahu. Sudah nanti kita cari jalan keluarnya. Yang penting nanti kita cari tahu apa Max punya perasaan yang sama ke kamu atau tidak. Kalau tidak ya selamat, cinta anda bertepuk sebelah tangan," dan Nina langsung mendapat tabokan dari Karin.
"Sakit tahu. Tenang kalau nanti Max nggak suka kamu kita cari yang lain. Masih ada Boby, Reza, Rio dan masih banyak lagi yang naksir kamu."
"Aku maunya cuma Max. Nggak mau yang lain," ucap Karin hampir menangis persis anak kecil yang minta permen.
"Iih maksa. Beneran mau Max doang. Di kasih Jungkook nggak mau?"
"Iihh mau dong. Siapa juga yang nolak di kasih Jungkook" jawab Karin langsung sumringah.
****
__ADS_1
Sementara sesi curhat-curhatan dulu ya reader, happy reading🤣🤣🤣🤣
****