Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 19


__ADS_3

"Aku akan mengambil penerbangan paling pagi ke Jakarta. Langsung ke kantor. Kita akan bertemu di sana."


"Baiklah."


"Usahakan Ina datang setelah aku datang. Agar Joon tidak salah paham lagi."


"Ina bilang, dia mungkin akan datang setelah makan siang, aku mengirim Joon untuk meeting di luar pagi ini. Untuk mengulur waktu."


"Baiklah."


Begitulah rencana sepasang suami istri itu. Bermaksud menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Mengingat hubungan Joon dan papanya yang mulai membaik.


Namun kenyataannya tidak seperti rencana awalnya. Penerbangan Sofia terbilang lancar, tapi dia bermasalah dengan jalanan ibukota. Dia tidak memperhitungkan macet yang akan dia hadapi pada jam-jam sibuk seperti ini.


"Oh ya Tuhan bagaimana ini?" guman Sofia. Bisa diperkirakan kalau dia akan sampai di kantor sang suami setelah jam makan siang. Mengingat saat ini sudah jam 11 lebih dan tidak ada tanda-tanda kalau kemacetan ini akan segera terurai.


"Itulah mengapa aku tidak suka tinggal di Jakarta. Macetnya itu lo nggak nahan," gerutu Sofia yang hanya dibalas senyuman oleh sang supir taksi.


Dan lagi satu kesalahan Sofia, dia menolak ketika sang suami akan mengirim sopir untuk menjemputnya.


"Oh, tidak-tidak bisa kacau semua rencanaku."


Di sisi lain, tuan Lee begitu terkejut ketika Ina bilang akan datang sebelum jam makan siang. Karena ia terpaksa mengubah keberangkatannya ke Surabaya menjadi sore nanti. Sang putri yang tiba-tiba sakit membuat Ina memajukan hari keberangkatannya. Yang harusnya minggu depan menjadi hari ini.


Sofia mulai bernapas lega ketika taksi yang ia naiki mulai berjalan. Kemacetan sudah bisa diatasi. 20 menit waktu yang ia perlukan untuk sampai di kantor sang suami.


Dan satu lagi yang menambah kacau rencana mereka. Ternyata meeting Joon berjalan sangat lancar. Sehingga belum juga makan siang mereka sudah kembali ke kantor.


Ina sampai di lobi dan langsung disambut asisten Jo yang membawanya naik ke lantai 35.


Bersamaan dengan itu mobil Joon memasuki lobi. Keduanya turun dan juga langsung menuju lift. Lift terbuka dan mulai membawa mereka naik ke lantai yang sama dengan Ina dan asisten Jo.


Dan disaat yang bersamaan taksi mama Sofia memasuki kantor. Sofia sedikit panik ketika sang suami mengirim pesan. Bahwa keduanya akan datang sebelum kedatangan dirinya. Bisa dibayangkan paniknya Sofia.


"Waaa, bakal ada adegan pukul memukul ayah dan anak ini," guman Sofia sambil setengah berlari menuju lift.


Untung satpam dan resepsionis yang berada di lobi mengenal Sofia sebagai nyonya pemilik perusahaan. Sehingga mereka tidak menghalangi ketika Sofia setengah berlari, menerobos lobi. Langsung menuju lift khusus. Membuat mereka hanya saling melempar pandangan bertanya. Yang hanya dijawab dengan kedikan bahu yang lainnya. Tidak tahu dengan hal yang sedang terjadi.


Bisa dibayangkan satu sudah otw ke lantai 35, satu lagi baru masuk lift dan satu lagi baru mau menuju ke lift.


Ting,


Pintu lift terbuka, asisten Jo langsung mengantar Ina masuk ke ruang tuan Lee. Mereka masih berdiri di depan pintu ruang tuan Lee, ketika lift berikutnya terbuka. Joon yang baru sampai, nampak memicingkan mata menangkap bayangan seseorang yang ia rasa ia kenal ketika pintu lift terbuka.


"Bos, ada yang tertinggal di mobil. Aku turun lagi untuk mengambilnya," ucap Max yang sepertinya tidak Joon dengar.


Joon masih fokus pada wanita yang bersama asisten Jo dan mulai masuk ke ruang papanya.


"Bukankah dia wanita itu. Kurang ajar apa yang dia lakukan di sini," gumam Joon mulai emosi. Kakinya mulai melangkah ke ruang kerja papanya.


Sementara itu "oh ya Tuhan, cepatlah, kumohon cepatlah," doa Sofia dalam lift.


Joon perlahan membuka pintu ruang kerja papanya. Dia sengaja tidak menimbulkan suara saat masuk. Dia hanya masuk dan hanya berdiri di pintu.


"Akhirnya kamu datang Ina, bagaimana kabarmu?" sambut tuan Lee sambil memeluk Ina.


Joon yang melihatnya menggertakkan giginya menahan emosi.


"Aku baik, sangat baik. Terima kasih untuk semuanya tuan Lee. Maaf telah banyak menyusahkan Anda dan nyonya Sofia selama ini," jawab Ina yang membuat Joon mengeryitkan dahinya.


"Kenapa mereka bicara seperti orang asing, bukankah mereka pasangan selingkuh? Lalu apa ini? Dan lagi mengapa seolah-olah Mama juga mengetahui hal ini. Bahkan asisten Jo pun ada di sana tidak berbuat apa-apa," batin Joon bingung.


Namun berikutnya, didengarnya mereka kembali berbicara dengan nada yang sangat akrab menurut Joon. Membuat Joon tidak bisa lagi menahan emosi.


"Jadi ini yang Papa lakukan di belakang Mama?!!. Bahkan Papa berani membawa wanita ini ke kantor!" teriak Joon dengan mata dan wajah yang sudah memerah menahan amarah.


"Joon ini tidak seperti yang kamu bayangkan," tuan Lee jelas terkejut dengan kehadiran putranya. Dia pikir putranya ini masih ada meeting dengan klien di luar. Tuan Lee melihat asisten Jo dan asisten Jo hanya mengkode "saya tidak tahu jika tuan muda sudah kembali."


Sedang Ina, wajahnya langsung berubah pucat. Ia tahu, ia telah banyak membawa kesalahpahaman dalam keluarga ini. Namun dia tidak bisa berkata apa-apa, terlalu shock melihat kemarahan Joon


"Apa Papa tidak tahu malu sampai berani membawa wanita ini ke kantor!" kembali Joon berteriak.


"Dan kamu? Kenapa kamu hanya mendiamkan Papa ketika dia membawa wanita ini ke sini?!" Kali ini asisten Jo ikut kena semprot Joon. Tuan Lee memijit pelan pelipisnya yang tiba-tiba terasa sakit.


Karena tidak ada yang menjawab, membuat Joon bertambah marah.


"Apa Papa sudah tidak peduli dengan perasaan Mama ha?!" dan sedetik kemudian Joon sudah bergerak maju mencengkeram kerah baju sang Papa dan bersiap memukul papanya.


"Joon berhenti!!!" satu suara mampu membuat Joon menghentikan aksinya. Membuat semua menoleh sekaligus membuat semua orang bernapas lega. Ya, siapa lagi yang bisa mengontrol kemarahan Joon jika bukan mamanya sendiri.

__ADS_1


"Mama? Apa yang Mama lakukan di sini?"


Sofia dengan cepat melerai cengkeraman sang putra dari kerah suaminya.


"Kamu tidak apa-apa, Mas?" Sofia bertanya cemas ke arah sang suami.


"Tidak apa-apa, Sayang. Aku baik-baik saja."


"Dan kamu, Lee Joon apa yang sudah kamu lakukan? Kamu mau memukul Papa kamu?" Mamanya jika sudah memanggil Joon dengan nama aslinya itu berarti dia sudah dalam mode marah level akut.


"Ma, kenapa Mama masih membelanya? Jelas-jelas dia membawa wanita ini, selingkuhannya ke kantor! Mama tidak marah dan tetap membelanya!" Joon benar-benar tidak paham dengan situasi ini.


"Oh ya Tuhan, kepalaku tiba-tiba pusing"


Sofia langsung mendudukkan dirinya di sofa terdekat. Membuat semua orang kembali panik.


"Jo, bawakan teh untuk kami"


"Baik, tuan"


Saat asisten keluar, dia bertemu Max di depan pintu.


"Tuan muda ada di dalam?"


"Ya, lagi bikin drama di dalam"


"Ha???" Max melongo tidak paham dengan ucapan asisten Jo. Sedikit mengintip ke dalam ruang kerja tuan Lee. Dilihatnya semua orang berkumpul. Bahkan ada nyonya Ina juga.


"Pertemuan keluarga ataukah perang dunia atau sebuah drama seperti yang asisten Jo barusan sampaikan," batin Max


"Oh Ina, maafkan putraku. Dia memang keterlaluan"


"What?!! Ma, Mama bilang apa barusan? Joon keterlaluan. Apa Joon salah jika melabrak wanita ini?!! protes Joon dengan mata kembali memerah menahan amarah.


"Lee joon!!! Minta maaf!!"


"Nggak mau!!" Joon langsung menolak. Enak saja kata Joon dalam hati.


"Sudahah Sofia, kita semua tahu aku juga bersalah dalam hal ini"


"Tuan Muda Lee, saya minta maaf atas kesalah pahaman yang telah saya timbulkan selama ini"


"Tunggu dulu, kesalah pahaman apa maksudnya. Apa ada hal aku tidak tahu selama ini."


"Duduklah dulu Joon. Kami akan jelaskan semuanya kepadamu," ucap tuan Lee. Joon mau tak mau mengikuti permintaan papanya.


"Kamu masih ingat dengan tante Ina?" Sofia kali ini yang bertanya.


"Tante Ina?" Joon bergumam. Ingatannya melayang kepada seorang wanita yang dulu sering berkunjung ke rumahnya. Yang dia ingat sebagai teman baik mamanya.


"Tante Ina, mamanya Nindi?" Joon tiba-tiba teringat jika tante Ina dulu sering membawa anak perempuannya jika datang ke rumah.


"Iya Sayang, ini tante Ina mamanya Nindi"


Joon membulatkan matanya.


"Apa tuduhannya selama ini kepada papanya salah."


"Baiklah karena semua sudah ada di sini, jadi lebih baik kita ceritakan yang sebenarnya kepada Joon," kali ini tuan Lee yang bicara.


Dan mengalirlah semua cerita dari masa 10 tahun yang lalu. Semua diceritakan lengkap tanpa ada yang ditutup-tutupi.


Dan begitu cerita itu selesai diungkap. Semua orang menarik nafas lega. Termasuk asisten Jo dan Max yang ternyata sudah ikut bergabung. Ikut penasaran dengan drama keluarga Lee.


"Pa, jika pelakunya adalah Mike temanku bukankah ia terlalu muda saat itu," pertanyaan Joon membuat tuan Lee sadar.


Putranya benar, Mike adalah teman kecil Joon, jadi umurnya tidak jauh beda dengan Joon. Apakah dugaannya selama ini benar jika Mike hanya dimanfaatkan. Pelaku sebenarnya adalah orang lain.


Dan akhirnya ketegangan siang itu berubah menjadi acara kumpul keluarga dan makan siang dadakan. Tentu saja dalam hal ini yang kerepotan adalah dua asisten ayah dan anak itu.


Tapi kali ini keduanya tidak masalah. Salah paham dalam keluarga tuannya akhirnya selesai.


"Syukurlah, perang dingin ini sudah berakhir" ucap asisten Jo yang diangguki Max. Tentu saja dalam konflik keluarga ini mereka berdua yang sering dibuat pusing tujuh keliling.


"Ehhmm, roman-romannya ada yang mau minta maaf nih," ucap Sofia di tengah acara makan siang mereka. Sesekali melirik sang putra. Sedang yang dilirik masih sibuk dengan makan siangnya.


"Yue!!"


"Ah, iya, iya Mama," Joon akhirnya menjawab setelah mendapat tatapan intimidasi dari mamanya.

__ADS_1


"Eh itu, tante Ina Joon mau minta maaf. Joon sudah salah paham dengan Tante," ucap Joon terbata-bata. Seumur hidup baru kali dia minta maaf pada orang lain.


"Tidak masalah Tuan Muda, justru saya yang harusnya minta maaf karena sudah membuat keluarga kalian berantakan. Maafkan Tante,"


"Joon juga mau berterima kasih karena sudah menyelamatkan Mama waktu itu" ucap Joon tulus yang kembali mendapat anggukan dari Ina.


Akhirnya makan siang itu berakhir.


"Aku pergi dulu Sofia. Aku pamit dan terima kasih untuk semuanya selama ini. Maaf jika aku sudah banyak merepotkan kalian."


"Tidak apa-apa," kata Sofia sambil memeluk sahabatnya itu. Dan mereka bergantian berjabat tangan.


"Tidak usah mengantarku. Selesaikan dulu masalah keluarga kalian," bisik Ina saat ia kembali berpelukan dengan Sofia.


"Ah tentu saja. Salam untuk Nindi dan hati-hati di perjalanan. Ajaklah Nindi jalan-jalan ke sini jika ada waktu."


"Tentu saja."


Setelah kepergian Ina yang di antar asisten Jo, suasana kembali hening.


"Kamu tidak ingin meminta maaf pada papamu?" tanya Sofia


"Ogah!!" jawab Joon seraya berdiri meninggalkan kantor papanya.


"Yue! Yue! tunggu dulu! Minta maaf sama papamu dulu!" Sofia berteriak tapi sang putra tak menghiraukannya.


"Putramu itu benar-benar."


"Ya putraku, dia memang putraku. Apa yang ada di dirinya adalah duplikatku. Ah tapi tidak, dia lebih teliti dariku" keduanya sudah kembali duduk di sofa berbincang hangat.


"Kau tahu kan permintaan maafnya tidaklah penting bagiku, selama dia mau berada di sisiku. Selama dia berada dalam jangkauanku itu sudah cukup bagiku. Aaah, aku benar-benar bahagia hari ini, Sayang," ucap tuan Lee sambil tersenyum hangat ke arah sang istri.


"Aku juga Mas. Setelah sekian lama kita bisa berkumpul lagi."


"Jadi kapan kamu akan kembali ke sini."


"Ah itu, tidak bisa dalam waktu dekat ini. Aku harus menepati janjiku pada putramu"


"Janji apa?"


"Aku memang berjanji pada putramu, jika dia mau masuk kantor aku akan pindah ke sini tapi aku juga berjanji akan pindah bersamaan dengan kekasih putramu."


"Kekasih? Joon punya pacar?"


"Pacar sih belum Mas, soalnya gadis itu masih belum memberi jawaban ketika Yue menembaknya waktu itu."


"Apa aku mengenal gadis itu?"


"Iya Mas, dia Nina. Putri pak Adi depan rumah kakek"


"Nina? Apa Karenina Putri?"


"Yue berencana untuk memutasinya ke mari. Dia bekerja di kantor cabang sekarang. Yue bilang, dia masih mencari timing yang tepat untuk memindahkan Nina."


Pikiran tuan Lee sudah melayang entah kemana. Sehingga perkataan isterinya tidak terlalu di dengarnya. Jika joon menginginkan gadis itu ada di sini, bukankah itu akan membahayakan gadis itu. Tapi jika Joon sudah menginginkan hal itu akan sulit sekali untuk mencegahnya.


"Aku akan melihat Yue sebentar."


"Ah, biarkan saja dia sendiri dulu. Dia pasti perlu waktu sendiri."


"Iya juga ya."


"Kamu menginapkan kan malam ini?" tanya tuan Lee menggoda sang istri


"Aku pulang besok sore."


"Yes!!! bolehlah aku berbuka puasa malam ini. Dan jangan harap aku akan melepaskanmu malam ini" batin tuan Lee sambil melirik sang istri yang sudah masuk ke dalam pelukannya.


Sementara tuan Lee dan Sofia saling melepas rindu, Joon di ruangannya masih shock dengan kebenaran yang baru ia dapatkan. Merasa sangat lega ketika ternyata kedua orang tuanya baik-baik saja. Namun di sisi lain dia juga sangat shock mendapati kenyataan bahwa dalang dari kekacauan keluarganya adalah Mike, sahabatnya sendiri.


Joon dan Mike berteman karena kedua orang tua mereka juga berteman. Terlebih keduanya juga seumuran. Sangat akrab dulu keduanya. Namun semua berubah ketika kedua orang tua Mike dibunuh oleh orang yang tidak dikenal.


Dan mulai saat itu Mike berubah. Mike yang berada di bawah pengasuhan pamannya, bahkan mengatakan jika papanyalah yang sudah membunuh papa dan mamanya. Sebuah tuduhan yang tentu saja dibantah oleh Lee Joon.


"Apa yang sebenarnya yang terjadi padamu Mike?" gumam Joon.


Ada begitu banyak hal yang terjadi. Satu masalah keluarganya sudah selesai. Sedang yang lain masih menunggu untuk diselesaikan.


****

__ADS_1


__ADS_2