Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 70


__ADS_3

Emosi Lee Joon langsung naik, begitu melihat Heri turun dari lantai dua. Sembari menarik tangan Nina. Setengah menyeretnya. Bisa Joon lihat jika Nina terus berusaha melepaskan tarikan tangan Heri.


"Lepaskan tanganmu darinya, brengseek!" teriak Lee Joon.


"Wooo lihat siapa ini. Tuan muda Lee, dia datang sendiri demi kekasihnya. Ck, ck,ck betapa romantisnya. Aku jadi terharu," drama Heri dengan akting pura-pura menangis.


"Shut up your mouth!" sarkas Joon.


"Kita lihat saja tuan muda Lee siapa yang sebentar lagi masih bisa bicara," kata Heri berubah serius.


"Apa yang kau inginkan?"


"Bagaimana jika aku mengatakan, aku menginginkan kekasihmu. Apa kau akan memberikannya padaku?" ucap Heri sambil mengelilingi Lee Joon.


"Dasar ba***gan!" umpat Joon kembali. Dan dalam hitungan detik Lee Joon telah menarik kerah baju Heri. Menghimpitnya ke tembok di belakangnya.


"Jangan bicara sembarangan. Atau aku bisa menghancurkanmu untuk kedua kalinya," ancam Lee Joon. Namun Heri hanya tersenyum menanggapi ancaman Lee Joo.


"Lee Joon, Lee Joon kau pikir siapa dirimu di sini. Di sini akulah yang berkuasa. Lihatlah," ucap Heri sambil menunjuk dengan dagunya ke sisi kanan Joon.


Secepat kilat Lee Joon melepaskan cengkeramannya pada Heri. "Lepaskan dia!" perintah Lee Joon pada seorang pria bertubuh tinggi besar, dengan wajah menyeramkan. Pria itu tengah menyandera Nina dengan sebilah pisau berada di leher Nina. Persis dengan apa yang pernah Nina lakukan.


Nina hanya diam saja. Berusaha tidak mengeluarkan suara apapun. Sebab ia takut teriakannya akan membuat Joon semakin panik.


"Lepaskan kataku!" perintah Joon.


Akhirnya pria itu menjauhkan pisaunya dari Nina setelah Heri memerintahkannya. Tapi dia tetap memegangi Nina. Walaupun Nina terus berontak. Tapi pria itu tetap tidak bergeming.


"Apa yang sebenarnya kau inginkan ha?" tanya Lee Joon lagi.


"Bukankah aku sudah mengatakannya Tuan Muda Lee, aku menginginkan dia... menjadi teman tidurku malam ini," ucap Heri sambil berbisik di telinga Joon.


Joon meradang seketika. Pria itu bermaksud memukul Heri, tapi dua anak buah Heri sigap memegangi Lee Joon. Lee Joon sama sekali tidak bisa bergerak.


"Ha, ha, ha...dia pasti sangat menggoda bukan?" ucap Heri dengan wajah mesumnya sambil membelai lembut wajah Nina yang langsung membuang wajahnya. Menghindari sentuhan Heri. Hal itu membuat Heri emosi.


"Kalian tahu? Kalianlah yang membuat hidupku menderita. Kalian terutama kau!" ucapnya Heri sambil mencengkeram dagu Nina. Nina langsung meringis menahan sakit.


"Lepaskan tanganmu darinya! Itu semua salahmu sendiri! Jangan pernah menyalahkan orang lain!" ucap Joon berusaha memprovokasi Heri agar tidak lagi menyakiti Nina.


Dan sepertinya usahanya berhasil. Heri dengan cepat melepaskan tangan dari dagu Nina. Lantas berbalik dan " buuuggghhhhh" sebuah hantaman mendarat di perut Lee Joon. Pria itu meringis seketika, menahan nyeri di perutnya.


Ninapun menjerit. Melihat wajah Joon merah padam menahan sakit di perutnya. Ia ingin lari menolong JΓ²on. Tapi pria yang tengah memegangi tubuhnya sama sekali tidak memberikan celah untuk Nina agar bisa melepaskan diri darinya.


"Jangan pernah mengkritik hidupku! Kalian tidak tahu apa-apa soal hidupku!" ucap Heri dengan emosi yang sudah mencapai ubun-ubunnya.


"Kenapa? Apa yang aku katakan salah?" sahut Joon dengan tatapan nyalang tanpa rasa takut.


"Jangan mencoba memprovokasiku tuan muda Lee. Aku tidak akan terpancing. Karena aku yang akan jadi pemenangnya di sini. Aku memegang kelemahanmu di sini," ucapnya kembali santai sambil kembali mencoba membelai lembut wajah Nina.


"Jauhkan tanganmu dariku!" kali ini Nina yang berteriak.


"Wah, lihat dia akhirnya bisa bersuara. Sebaiknya kau simpan saja suaramu untuk nanti, saat kau mende..sah bersamaku," ujar Heri, langsung mendapat pelototan mata dari Nina.


"Jangan coba-coba kau menyentuhnya brengsek!" kembali Joon mengancam.

__ADS_1


"Kenapa? Aku sudah menunggu waktu ini sejak lama. Apa kalian tahu apa sebenarnya aku inginkan? Aku ingin melihat kalian berdua hancur. Dan aku dapat ide bagaimana untuk membuat kalian berdua hancur sekaligus," ucap Heri sambil berjalan mendekat ke arah Joon.


"Mengambil apa yang paling berharga dari gadis ini dan membuatnya menjadi seonggok sampah yang tidak berguna. Menyenangkan bukan? Dengan begitu aku jamin kalian berdua akan hancur berkeping-keping," ucap Heri yang membuat Joon membulatkan matanya. Seketika menatap Nina.


Tidak bisa Joon bayangkan jika itu terjadi. Benar kata Heri, jika itu terjadi baik Nina maupun dirinya akan sama-sama hancur.


"Jangan berani-berani menyentuhnya! Sudah kubilang berapa kali ha?" kembali Joon berkata. Mencoba menghilangkan pikiran buruk yang sempat singgah di otaknya.


"Baik. Kalau begitu gantikan tempatnya. Dan aku tidak akan menyentuhnya," ujar Heri dengan seringai misterius di wajahnya.


"Apa maksudmu?" tanya Joon curiga.


"Aku ingin melihatmu babak belur dihajar anak buahku. Dan kau tidak boleh melawan. Bagaimana? Apa kau mau menggantikan tempat kekasihmu ini?"


"Jangan lakukan itu Lee Joon. Aku mohon jangan. Kamu bisa terluka!" teriak Nina.


"Kalau begitu kau bersedia menemaniku tidur malam ini?" tanya Heri dengan satu kedipan mata. Nina terkejut seketika.


"Sudah kubilang jangan pernah menyentuhnya! Dasar brengseek! Hajar saja aku!" ucap Joon akhirnya. Dia lebih memilih babak belur dan terluka daripada membayangkan Nina dan bajingan itu menghabiskan malam bersama.


Nina langsung melihat Joon, seolah mengatakan jangan melakukan hal itu. Tapi seulas senyum terbit di sudut bibir Joon. Seolah ingin mengatakan jangan khawatir semua akan baik-baik saja.


"Baik kalau begitu. Hajar dia dan kau tidak boleh melawan," ucap Heri penuh kemenangan.


Detik berikutnya pukulan dan tendangan bertubi-tubi mendarat di tubuh Joon. Bunyi "buughhh" dan "arrgghhh" saling bersahutan ketika pukulan maupun tendangan itu menghantam tubuh Joon dari berbagai arah.


Jerit tangis Nina pecah seketika, melihat Joon menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya hanya demi dirinya.


"Heri hentikan! Aku mohon hentikan! Dia bisa terluka," jerit Nina dengan air mata berurai di kedua belah pipinya. Dia berusaha meronta melepaskan diri dari pegangan pria di belakangnya. Sedang Heri tertawa puas melihat anak buahnya menghajar Joon habis-habisan.


Secepat kilat Nina berlari ke arah Joon yang tubuhnya sudah ambruk ke lantai. Berusaha melindungi pria itu ketika sebuah pukulan dipikirnya akan datang menghantam. Namun Joon yang melihat hal itu justru meraih tubuh Nina. Lantas merubah posisinya dengan cepat. Membuat tubuh Nina berada di bawah tubuh Joon. Dan "buggghhh" pukulan itu mendarat sempurna di punggung Joon. Pria itu kembali meringis. Membuat airmata Nina mengucur semakin deras.


"Jangan menangis. Aku akan selalu melindungimu. Apa kau tidak ingat, itu adalah janjiku padamu" ucap Joon di sela-sela ringisan yang keluar dari bibirnya.


"Lee Joon....."


"Kurang apa dia?" kata-kata Karin terngiang di telinganya"


"Maafkan aku. Maafkan aku," ucap Nina semakin keras suara tangisnya.


Heri yang melihat hal itu langsung emosi. Dengan cepat ditariknya tubuh Nina. Gadis itu sedikit terhuyung karena tarikan tangan Heri yang begitu keras.


"Sudah cukup dramanya. Kalian membuatku muak," Heri berkata dengan kesal.


"Sekarang tepati janjimu. Lepaskan dia. Kau berjanji tidak akan menyentuhnya bukan?" ucap Joon dengan nafas tersengal. Wajahnya penuh memar. Sudut bibirnya nampak mengeluarkan darah. Bahkan pelipisnya pun mengalami robekan yang cukup lebar. Darah nampak mengalir dari luka itu.


Itu baru luka yang terlihat. Nina tidak bisa membayangkan bagaimana luka-luka lain yang berada di sekujur tubuh Joon. Mengingat anak buah Heri benar-benar all out saat menghajar Joon.


"Eits tunggu dulu. Aku memang bilang tidak akan menyentuhnya. Tapi aku akan menidurinya," ucap Heri dengan tawa membahana di rumah itu.


Nina dan Joon langsung terkejut.


"Dasar bajingan! Brengseek! Kurang ajar!" umpat Joon. Berusaha bangun ingin menghajar Heri. Namun ia belum sempat menyentuh Heri. Satu orang anak buahnya kembali melayangkan pukulan ke perut Joon pria itu kembali ambruk ke lantai.


"Lee Joon.... Lepaskan aku!" Nina berteriak.

__ADS_1


"Jangan berteriak di depanku!" bentak Heri.


"Jangan berani membentaknya!" Joon masih berusaha berdiri.


"Oh kau masih kuat berdiri rupanya. Hajar dia lagi!" perintah Heri.


"Hentikan! Aku bilang stop! Stop!" Nina meraung histeris.


"Kau benar. Sebaiknya kita hentikan ini. Dan mulai sesuatu yang menyenangkan di atas " ucap Heri dengan wajah mesumnya.


"Tetap awasi dia. Jangan biarkan dia pergi dan naik ke lantai atas. Walau sebenarnya aku ingin sekali kau bisa mendengar bagaimana kekasihmu ini men..desah di bawah kungkunganku," ucap Heri lagi. Lee Joon kembali tersulut emosinya.


"Jangan menyentuhnya atau aku akan membunuhmu!" ancam Joon seraya ingin memukul Heri. Tapi dengan cepat anak buah Heri memegangi kedua tangan Joon.


"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" teriak Joon.


"Awasi dia. Jangan sampai lengah," perintah Heri. Lantas menarik tangan Nina yang tubuhnya sudah terduduk di lantai. Air mata terus mengalir di pipinya. Melihat Joon yang sudah bersimbah darah. Dan juga ia yang tidak tahu bagaimana nasib dirinya.


"Tidak! Lepaskan aku! Lepaskan aku! Lee Joon tolong aku!" teriak Nina ketika Heri menyeretnya paksa naik ke lantai dua.


"Lepaskan dia brengseek! Lepaskan aku!" teriak Joon sambil terus meronta.


Heri dengan cepat menyeret Nina. Masuk ke sebuah kamar lantas menghempaskannya ke atas ranjang.


"Kau mau apa?" tanya Nina ketakutan.Bayangan tentang malam di mana Lee Joon ingin melecehkannya kembali terbayang. Apalagi Heri sudah mulai membuka kaosnya. Membuatnya shirtless seketika.


"Bukankah sudah aku bilang kalau kita akan bersenang-senang," ucap Heri sambil ikut naik ke atas ranjang. Nina langsung mundur mentok di headboard ranjang.


"Menjauh dariku. Jangan mendekat! Lee Joon. Lee Joon!" Nina berteriak. Namun seolah tidak mendengar. Heri terus merangsek maju. Bisa Nina lihat jika kabut gairah sudah menyelimuti mata Heri. Nina semakin ketakutan.


"Sudah nikmati saja. Jangan melawan," ucap Heri lagi. Wajahnya semakin dekat ke wajah Nina. Dengan cepat Nina menundukkan wajahnya. Namun Heri dengan cepat meraih dagu Nina dan mencoba mencium Nina paksa. Nina menghindar dengan segala usaha yang dia bisa.


Bahkan ada kesempatan ketika Nina bisa menendang kaki Heri. Membuat pria itu mengumpat. Sedikit menjauhkan tubuhnya dari Nina. Dengan cepat Nina mendorong tubuh Heri menjauh. Nina secepat kilat berlari turun dari ranjang. Mencoba berlari ke arah pintu. Namun sebelum ia bisa meraih pintu. Heri berhasil mengejarnya. Menghempaskan tubuh Nina ke dinding di sisi kirinya.


"Duugghh" dan "aarrghh" terdengar bersamaan. Ketika kepala Nina membentur dinding. Rasa pusing langsung ia rasakan. Tapi ia coba menekan rasa pusingnya. Agar ia bisa tetap menjaga kesadarannya.


"Sudah kubilang jangan melawanku. Jadi jangan salahkan aku jika aku bermain kasar padamu," Heri berkata dengan wajah memerah menahan marah. Terus merangsek maju. Detik berikutnya Heri mencengkeram kemeja Nina.


"Apa yang kau lakukan? Dasar brengseekk!" umpat Nina.Heri marah, dan "sraaakkkk" suara kemeja Nina yang dikoyak oleh Heri. Langsung memperlihatkan bahu mulus Nina dan sebagian dada Nina yang masih tertutup bra berwarna merah menyala.


Mata Heri berbinar seketika. Tanpa ragu dia langsung menciumi bahu Nina yang terbuka. Nina tentu terkejut dan memberontak seketika. Air mata kembali turun di pipinya. Akankah ini akhir dari dirinya. Dia mencoba terus mendorong tubuh Heri menjauh.


"Lee Joon, aku mohon tolong aku. Tolong aku," ucapnya lirih.


Dan bersamaan dengan itu "braaaakkkkk." Pintu terbuka.


"Menjauh darinya, brengseeek!"


******


Deg-degan nggak. Kalau author sih iya. Nggak tau deh kalian para readers. Semoga bisa ikut deg-degan bareng author 😁😁


Oke jangan lupa like, vote, comment and gift ya readers,


Happy reading and salam sayang dari author 😘😘😘

__ADS_1


****


__ADS_2