Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 82


__ADS_3

Akad nikah berjalan lancar. Pun dengan acara resepsi kecil-kecilan untuk keluarga Nina di Jogja dan para tetangga.


"Kamu cantik sekali, Baby," ucap Joon, entah untuk yang ke berapa kali. Nina hanya bisa mengulum senyumnya, enggan menanggapi gombalan suaminya itu.


Beberapa tetangga dan keluarga Nina masih tampak menikmati pesta kecil-kecilan itu. Ada juga Doni dan Dina yang ikut ke Jogja. Juga Jonathan Kusuma yang khusus datang untuk mengakrabkan diri dengan keluarga Nina.


"Selamat Bro," ucap Doni dan Jonathan.


"Segeralah menyusul," jawab Joon.


"Tentu saja," jawab keduanya bersamaan.


Joon sudah berada di kamarnya di rumahnya di Jogja. Seusai acara akad dan resepsi kecil-kecilan yang cukup menguras energinya. Dia baru saja menyelesaikan makan siangnya yang terlambat. Sudah melepaskan beskap dan atribut lainnya. Kini dia hanya mengenakan kaos polos putihnya dan celana pendek rumahan berwarna hitam.


Di luar kamarnya. Masih banyak orang yang hilir mudik membereskan sisa acara pernikahannya.


Nina masih di lantai bawah membersihkan dirinya dibantu MUA, yang masih berada di sana. Joon tengah memandangi ponselnya. Menatap foto-foto pernikahannya dengan Nina. Beberapa kali dia tersenyum menatap ponselnya.


Sejurus kemudian dia teringat pesan dokter Pras.


"Jangan memaksanya untuk unboxing dulu jika dia belum siap. Kamu tahu dia pernah trauma dengan hal seperti itu,"


Joon menghela nafas. Dia sendiri memang bertekad tidak akan memaksa Nina untuk berci*** dengan dirinya, meskipun mereka telah sah sebagai suami istri. Dia takut jika Nina masih trauma akan ulah gilanya dulu.


Ceklek,


Pintu terbuka. Terlihat mamanya masuk. Membawa makanan dan minuman masuk.


"Duh, gantengnya anak Mama yang sudah sold out," canda mamanya.


"Mama pikir aku gorengan apa, dijual bebas di luar sana. Ma, aku ini limited edition. Cuma satu di dunia," protes Joon.


"Iya-iya. Satu-satunya" ucap Sofia.


"Satunya lagi belum ketemu sama kamu," batin Sofia.


"Nina mana Ma?" tanya Joon masih memainkan ponselnya.


"Belum selesai acara bersih-bersihnya. Kenapa udah nggak sabar?" goda Mamanya. Joon hanya menghela nafasnya.


"Sabar. Masih banyak waktu untuk kalian. Siapa suruh kamu nggak sabaran. Hasilnya?" hibur Sofia.


"Iya-iya. Joon yang salah," jawab Joon.


"Oh ya, Mama sama Papa habis ini mau ke tempat Karin. Kan acaranya sama kaya kita semalam," beritahu Sofia.


"Iya," sahut Joon singkat.


"Jadi ini Mama sudah siapkan makanan sama minuman kalian. Siapa tahu nggak sempat turun buat nyari makanan," goda Sofia lagi.


"Mama iiih godain mulu," ucap Joon mode manjanya on.


Sofia hanya terkekeh mendengar protes sang putra. Sudah menikah tapi tetap kayak anak kecil.


"Semoga Nina bisa menghadapi Joon."


Sang Mama keluar. Tak lama Nina masuk, dengan piyama hello kittynya.Joon ingin tertawa sebenarnya, tapi sejurus kemudian Joon kembali teringat dengan wajah sang istri yang terlihat begitu cantik saat acara pernikahan mereka tadi.


"By, kamu sudah makan?" tanya Nina saat dilihatnya sang suami duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.


"By?" tanya Lee Joon.


"By, Hubby? Boleh aku memanggilmu dengan itu? Nggak lucu deh kalau kamu tak panggil Mas kayak Mama manggil Papa. Bule Korea kok dipanggil Mas," jelas Nina yang langsung membuat Joon tersenyum


"No problem," jawab Joon singkat.

__ADS_1


"Aku mau mandi dulu, gerah," ucap Nina lantas masuk ke kamar mandi. Meninggalkan Joon yang hanya melongo ditinggal istrinya ke kamar mandi.


Singkat cerita. Acara kedua pasangan itu di Jogja berjalan lancar. Hari kedua setelah pernikahan mereka, mereka harus kembali ke Jakarta. Karena resepsi Nina dan Joon hanya berjarak tiga hari dari acara akad mereka di Jogja. Lantas berganti dengan resepsi Karin dan Max seminggu kemudian.


Papa dan Mama mereka sempat protes.


"Kenapa nggak dijadiin satu saja sih? Ngirit. Kan teman dan kolega kalian lebih kurang sama," protes tuan Lee. Dia bisa membayangkan lelahnya mengikuti acara pernikahan dua orang yang itu. Yang satu putra kandungnya. Yang satu sudah seperti putra kandungnya.


"Para wanitanya yang nggak mau. Kata mereka konsep kami berbeda. Padahal sengaja Karin ingin menguras kantong Max," jawab Joon. Tuan Lee menghela nafasnya seketika.


Saking sibuknya dengan persiapan pernikahan mereka. Mereka bahkan belum sempat bertemu dengan Max dan Karin sejak kepulangan mereka dari Jogja. Karena Max dan Karin pulang tidak bareng mereka.


Beruntungnya persiapan pernikahan Nina di Jakarta dihandle oleh Dina hingga Nina tidak terlalu pusing di buatnya.


And here we are,


Hari H akhirnya datang juga. Bertempat di ballroon Hotel Mulia, Thamrin, Jakarta. Salah satu hotel mewah di Jakarta. Di mana ballroom hotel sudah di dekorasi sedemikian rupa.





Dengan nuansa putih biru warna kesukaan Nina membuat ballroom hotel itu terlihat sangat mewah. Para undangan banyak yang memuji kemewahan pernikahan Nina dan Joon.


Dan resepi pernikahan mereka berjalan lancar. Nina memakai dua gaun untuk resepsinya kali ini. Gaun hasil rancangan sang kakak, Dina.




Dua gaun yang terlihat simple tapi mewah. Sesuai dengan karakter Nina. Dan kembali Joon terlihat begitu terpukau dengan penampilan sang istri. Dia sendiri terlihat begitu sempurna dengan mengenakan tuksedo dengan warna senada dengan gaun sang istri.


"Selamat ya bro. Akhirnya kamu duluan yang married," ucap seorang pria dengan aksen Cina yang begitu kentara.


"Thank's Kai. Siapa dia? Pacarmu?" tanya Joon ketika temannya yang ia panggil Kai itu datang bersama seorang gadis cantik. Yang mengenakan gaun simple berwarna peach.


"Oh, ini perkenalkan Natasya Ariana. Broadcasting Manager-ku. Kebetulan dia free jadi aku minta untuk menemaniku ke sini. Kenapa?" tanya pria yang dipanggil Kai.


"Dia yang kamu cari selama ini?" tanya Joon penasaran. Mereka sudah duduk di sofa di sudut ruangan. Lelah berdiri dari tadi. Kedua pria itu terus memandang kedua wanita yang kini sudah mengobrol asyik di sisi yang lain.


"Aku masih menyelidikinya. Feelingku mengatakan dialah orangnya. Tapi semua belum pasti," terang Kai.


"Nenek sihir itu pasti marah kamu datang dengan dia. Bukankah dia lebih senang menjodohkanmu dengan putrinya, Fanny," ucap Joon lagi.


"Sebenarnya itu adalah ide Kakek. Kalau wanita itu kamu sendiri kan tahu kalau dia tidak suka denganku sejak dulu. Dan ini kebetulan Fanny lagi ada acara ke luar kota. Jadi aku bebas mengajaknya. Bibi nggak bisa protes," kembali Kai menyahut. Hingga keduanya pun hanya menghela nafasnya.


Joon sendiri sedikit bersimpati dengan nasib temannya yang satu itu. Terjebak di antara balas budi dan mencari cinta sejati. Lebih pusing dari dirinya.


"By the way. Dia cantik. Dia betul-betul tipemu. Kalau dia bukan yang kamu cari selama ini bagaimana? Apa kamu akan memilihnya atau tetap menunggu tutup botolmu?" tanya Joon.


"Entahlah. Ngomong-ngomong jangan memuji wanita lain. Nanti istrimu marah," ucap Kai.


"Alah bilang saja kamu jealous," timpal Joon. Kai hanya tersenyum mendengar ucapan Joon.


"Oh ya, Adrian dan Mark tidak datang?" tanya Kai.


"Kamu tahu sendiri si Prince satu itu sibuknya minta ampun. Padahal aku sudah minta dijadwalkan dari sebulan yang lalu. Dan jawabannya kamu tahu "sorry bro jadwalku penuh sampai dua bulan ke depan," terang Joon, membuat Kai terkekeh kecil.


"Lalu Adrian?" tanya Kai lagi.


"Kamu tahu Vero nyungsep di pabriknya Adrian yang di Johor Bahru?" ucap Joon.


"What?!! Vero? Veronika adiknya Mark?" Kai terkejut.

__ADS_1


"He e. Dia kabur dari kakaknya. Menolak acara pertunangan yang sudah perlemen siapkan. Jadi Adrian sekarang yang jadi bodyguard dadakan. Dan dia nggak bisa datang gegara harus jagain si Vero. Katanya meleng dikit saja si Vero bisa bikin ulah. Bahaya," terang Joon. Dan Kai kembali terkekeh.


"Pasti Adrian lagi pusing sekarang. Secara Vero kan manja banget," tambah Kai. Keduanya kembali terkekeh.


Mereka mengobrol agak lama. Terlebih ketika Max datang bergabung. Lama tidak bertemu membuat mereka tampak sangat menikmati obrolan mereka kali ini. Obrolan mereka terhenti ketika gadis yang dibawa Kai mendekat.


"Kak," ucapnya lirih. Membuat ketiga pria yang tengah asyik mengobrol itu menghentikan obrolannya.


"Sudah lelahkah" tanya Kai lembut. Semua yang ada di sana melongo. Kai yang terkenal dingin dan angkuh bisa bersikap lembut pada seorang gadis.


"Dia mau pulang tapi nggak berani ngomong. Dia ada meeting pagi besok, Pak General Manager," Karin berkata seolah mewakili suara hati Natasya.


"Oh maaf, aku tidak tahu. Ayo kalau begitu. Kami permisi dulu. Selamat untuk pernikahan kalian. Semoga bahagia," ucap Kai.


"Kak, aku pulang dulu. Selamat ya sekali lagi," ucap gadis yang bernama Natasya itu kepada Nina dan Karin. Yang langsung memeluknya antusias.


"Nanti kita calling-callingan ya?" ucap Karin. Dan gadis itu hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala. Lantas berlalu dari hadapan ke-dua pasang pengantin baru itu.


"Pacarnya?" tanya Nina.


"Katanya sih bukan. Tapi Kai kayaknya suka deh sama cewek itu " jawab Joon.


Dan ke-empatnya kembali melanjutkan obrolan mereka. Sesekali menyalami tamu yang masih saja datang menyapa.


"Sudah bobol belum?" tanya Karin sambil berbisik. Nina menggeleng.


"Sama. Belum sempat. Nggak ada waktu. Capek banget," keluh Karin. Sedang Nina hanya tersenyum.


"Kamu masih trauma nggak sama Lee Joon soal yang waktu itu," tanya Karin masih dengan mode berbisiknya.


"Nggak terlalu sih. Beberapa hari tidur bersama. Nggak pernah kepikiran lagi soal itu," jelas Nina.


"Bagus deh kalau begitu. Kan kasihan Pak Bos masih harus nunggu lagi. Padahal sudah sah jadi suami istri," seloroh Karin. Nina pun mulai berpikir.


Iya juga ya. Joon kan pria normal. Jadi pasti dia tersiksa belum bisa mendapatkan haknya. Padahal sudah hampir seminggu mereka menikah.


Sejenak Nina menatap Joon yang tengah mengobrol asyik dengan Max. Suaminya itu terlihat tampan dengan setelan tuksedo berwarna baby blue. Senada dengan gaun kedua yang tengah dia kenakan saat ini.


"Apa aku terlalu kejam padanya?" batin Nina.


Lamunan Nina buyar ketika suara Dina dan Maya datang bergabung dengan mereka. Bersamaan dengan Mike dan Doni yang juga turut bergabung bersama para pria.


Ke-empat pasangan itu akhirnya mengobrol santai hingga malam mulai merayap semakin larut. Diiringi canda tawa dan sesekali menikmati hidangan yang diantarkan oleh waiter yang berjaga.


*******


Hai, hai readers up lagi. Masih seputaran nikahan Nina ma Joon ya.


Ini tak kasih bonus visual Kai, yang rencananya mau tak buat kisahnya sendiri bareng mbak Natasya



Visual Kai,



Visual mbak Natasya


Oke, jadi jangan lupa buat dukung author ya. Caranya seperti biasa cukup like, vote, gift and comment,


Terima kasih sudah mendukung author,


Happy reading and salam sayang dari author, muah 😘😘😘😘


**

__ADS_1


__ADS_2