
Nina dan Karin kembali tercengang, ketika sang supir mengantarkan mereka yang kawasan hunian elite di jantung ibukota. Begitu mereka sampai di Jakarta.
Belum hilang dari ingatan mereka bagaimana nyamannya perjalanan mereka kali ini. Van super mewah dengan segala fasilitas yang ada. Tempat duduk yang empuk dan bisa diubah menjadi tempat tidur dadakan. Ada kulkas lengkap dengan isinya. Wi-fi, AC bahkan toiletpun ada di bagian belakang van itu. Mereka nyaris tidak berhenti dalam perjalanan mereka. Karena memang semua yang dibutuhkan sudah tersedia di dalam van.
Pak supir hanya meminta izin untuk berhenti sejenak karena ia mengantuk. Dan tentu saja itu tidak masalah bagi Nina dan Karin. keduanya masih terlelap ketika van yang mereka tumpangi mulai masuk ke ibukota. Bahkan ketika matahari belum terlihat di langit ufuk timur.
"Pak, ini beneran. Bapak nggak salah ngantar kami?" Karin yang bertanya. Sedang Nina masih mengucek-ucek matanya. Sesekali menguap. Rasa kantuk masih jelas ia rasakan.
" Bener Mbak ini alamatnya. Tunggu sebentar ya, Pak Manager lagi turun ke sini"
"Ha, Pak Manager?"
"Iya Mbak. Nah itu dia orangnya," tunjuk pak supir pada seorang pria yang tengah berjalan ke arah mereka. Hari masih gelap, tapi orang yang disebut Pak Manager oleh pak supir itu sudah siap dengan setelan resminya.
"Selamat pagi, Mbak. Dengan Mbak Karenina Putri dan Mbak Karina Saraswati?" tanya Pak Manager itu sopan.
Sedang pak supir sudah melesat untuk mengeluarkan barang-barang yang ada di bagasi. Dibantu oleh beberapa orang yang datang bersama manager itu.
"Selamat pagi Pak. Iya betul, panggil saja saya Nina dan ini Karin," ketiganya lantas saling berjabat tangan.
"Mari saya antar ke unit Anda," ucap Pak Manager itu, yang langsung diikuti okeh Nina dan Karin.
"Bagasi anda akan langsung di antar ke unit Anda. Jangan khawatir," jelas Pak Manager dengan name tag Santosa itu. Menjawab kekhawatiran Nina dan Karin.
"Unit Mbak Karin ada di lantai 24, sedang unit Mbak Nina berada di lantai 25," jelas Santosa.
"Loh kami tidak tinggal satu tempat Pak?"
"Itu perintah yang saya terima, Mbak,"
"Tidak bisakah kita tinggal di satu tempat saja Pak. Ngirit," ujar Nina sambil nyengir.
"Itu saya tidak bisa memutuskan." Jawab Santosa.
"Bisa bapak bicara dengan yang berwenang dalam hal ini?"
"Itu.... ah biar saya coba," Pak Santosa menelepon seseorang. Dia pikir yang dia telepon akan mengamuk mengingat ini masih pukul 3.30 dini hari.
"Halo, Tuan" pak Santosa mulai berbicara setelah menunggu agak lama.
"Itu Tuan. Mbak Nina dan Mbak Karin minta, apa bisa tinggal di satu tempat saja?"
"Ah baik-baik. Saya akan menunggu. Baru akan ditanyakan Mbak," kata pak Santosa kemudian.
Nina dan Karin hanya mengangguk. "Mari menunggu di lounge sebentar"
Nina dan Karin mengikuti langkah Santosa untuk duduk di sebuah sofa ruang tunggu lobi apartemen itu. Yang lagi-lagi membuat keduanya melongo. Kagum dengan kemewahan yang tersaji di depan mata.
"Kita nggak salah mau tinggal di sini, Nin?" Nina hanya mengedikkan bahu. Tak lama ponsel Santosa berdering.
"Ya Tuan, ya, ya, baik Tuan. Akan saya sampaikan."
"Bagaimana Pak?"
"Minta maaf Mbak, tidak bisa. Anda harus tinggal di unit masing-masing. Begitu perintahnya Mbak."
Karin dan Nina hanya menghela nafas pelan. Lantas mengikuti langkah Santosa masuk ke lift yang langsung mengantar mereka ke lantai 24.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Status boleh tinggal sendiri-sendiri. Tapi nanti kita bisa gantian tidurnya. Di tempatmu dan tempatku," bisik Nina. Karin langsung mengiyakan ucapan Nina.
Tiiing,
Lift terbuka. Membawa mereka langsung ke unit Karin. "Ini kartunya dan ini passwordnya,"
"Ha?" Karin melongo.
"Kode untuk membuka pintu apartemen, Mbak," jelas Pak Santosa melihat Karin yang melongo.
Password di tekan dan ceklek pintu terbuka. Seketika keduanya melongo. Sekilas melihat isi di dalam apartemen Karin. Namun mereka tidak lama di unit Karin. Karena Santosa langsung mengantarkan Nina ke unitnya.
Dan kali ini giliran Nina yang ternganga, ketika Santosa membuka unit untuk Nina.
"Ini... "
Nina bahkan sampai kehilangan kata-katanya. Begitu menyerahkan kunci, Santosa langsung undur diri.
"Semoga Mbak Nina betah tinggal di sini. Kalau perlu apa-apa silahkan hubungi resepsionis. Nomornya ada di dekat meja ruang tamu," ucap Santosa.
"Iya Pak, terima kasih."
"Sama-sama mbak."
Nina langsung mengitari apartemen. Hanya kekaguman yang Nina tunjukkan ketika dia mulai menyusuri setiap sudut apartemen itu.
"Ini luar biasa," satu kata yang terucap dari bibir Nina ketika gadis itu melihat keluar. Melalui jendela full kaca yang ada di apartemennya. Pemandangan kota Jakarta dengan kerlap kerlip lampu yang masih menyala dikarenakan memang hari yang masih gelap.
Sejenak dia berdiri mematung di tempat itu. Menikmati pemandangan yang bagi Nina terasa begitu indah. Hingga kakinya menuntun untuk menyusuri sisi lain dari apartemen itu. Ada dapur minimalis lengkap dengan peralatan masaknya. Ia mencoba membuka kulkas yang ada. Dan tak menyangka jika ada isinya walaupun tidak lengkap. Diambilnya satu minuman kaleng yang ada, lantas langsung meminumnya.
Jarinya tidak henti menyusuri setiap sudut dapur itu. Dia pikir akan sangat menyenangkan jika ia bisa memasak sesuatu di dapur itu.
"Wah, gila ini bagus banget!" bibirnya tak henti tersenyum.
Perlahan dia duduk di ranjang itu. Ini nyaman sekali, pikirnya. Lantas dia merebahkan dirinya. Sejenak memandang langit-langit kamar yang berwarna cream. Dan entah karena saking nyamannya atau karena masih ngantuk. Mata Nina perlahan terpejam dan mulai masuk ke alam mimpi. Masih dengan pakaian utuh.
Dan siapa yang menyangka jika semua tingkah Nina itu tengah diamati oleh seorang pria, yang sejak tadi hanya bisa mengulum senyumnya. Melihat tingkah Nina yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Apa kamu menyukainya, Baby?"
Pria itu tak lain adalah Joon. Sejak Max menghubungi untuk menanyakan apakah keduanya boleh tinggal di satu tempat, Joon langsung terbangun dan menyalakan laptopnya. Mulai memata-matai sang kekasih.
Setelah beberapa saat berlalu, Nina terbangun ketika merasa ada sesuatu atau lebih tepatnya seseorang yang menyentuh lembut bibirnya.
"Eeeh," Nina terbangun, melihat ke kiri dan kanan. Tidak ada orang. Apa aku bermimpi. Pikirnya. "Ah sebaiknya aku mandi" gumamnya.
Dan ia kembali ternganga dengan kamar mandinya. Sangat mewah untuk seorang Nina. Langsung melepas pakaiannya dan mulai mengguyur tubuhnya dibawah shower.
"Ah, segarnya," celingak-celinguk mendapati sebuah bathrope. Lantas memakainya. Teringat jika kopernya masih ada di ruang tamu. Namun sebuah pintu kembali membuatnya penasaran. Dan ketika ia membukanya, kembali Nina terkejut sekaligus takjub.
Bagaimana tidak? Sebuah ruangan yang biasa disebut walk in closet oleh para orang kaya menyambut pandangan Nina. Ruangan itu tampak penuh dengan deretan baju dan berbagai aksesoris. Yang ketika Nina dekati itu adalah pakaian dan aksesoris wanita.
"Ini apa boleh dipakai," gumam Nina.
Belum sempat berpikir. Telepon di kamarnya berdering. "Ya halo,"
"Ini saya Mbak, saya lupa memberitahu kalau anda bisa memakai apapun yang ada di apartemen, Mbak"
__ADS_1
"Semuanya, Pak?"
"Iya, Mbak. Semuanya tanpa terkecuali."
Sambungan telepon terputus. "Aku boleh memakai apapun disini. Berarti termasuk pakaian yang ada di kamar itu. Waahh ini hebat sekali," batin Nina. Heran sekaligus senang.
"Tapi siapa yang sudah menyiapkannya? Apa mungkin orang perusahaan, tapi bagaimana mungkin orang itu bisa tahu dengan jelas. Ukuran pakaiannya, warna kesukaannya. Bahkan model pakaian apa yang ia suka, semua ada di walk in closet itu.
Nina terus membatin sambil jemari tangannya menelusuri deretan baju yang ada di walk in closet miliknya.
"Bahkan pakaian dalampun ada di sini. Dan ini semua adalah ukuranku,"
Nina lantas memilih pakaian untuk mengganti bajunya. Sementara itu Max dikejutkan bunyi bel yang tiba-tiba berbunyi.
"Siapa sih, pagi-pagi gini udah nggangguin orang tidur aja."
Max jelas ingin mengamuk, dua kali tidurnya terganggu pagi ini. Namun amarahnya menyusut seketika, ketika tahu siapa yang sudah menekan bel unitnya dengan cara yang tidak sopan menurut Max.
"Ha? Bos ngapain pagi-pagi kesini?"
Heran melihat bos besarnya pagi-pagi sudah ada di depan pintu unitnya. Yang ditanya bukannya menjawab, namun langsung menerobos masuk langsung duduk di sofa. Langsung memainkan ponselnya.
"Eee... bukannya jawab, main nyelonong masuk aja."
Max pun ikut duduk di hadapan bosnya itu. Masih ngantuk padahal. "Ada apa Bos pagi-pagi nyariin saya?"
"Siapa juga yang nyariin kamu."
"Lah terus Bos ngapain kesini?"
Joon hanya diam, masih asyik dengan ponselnya. Hingga akhirnya Max teringat sesuatu.
"Bos, mau nemuin pacar Bos ya?" tebak Max
"Aku baru saja dari sana," jawab Joon santai.
"Lalu Bos ngapain ada di sini?"
" Dia masih tidur."
"Ha? Bos main masuk aja gitu? Itu pelanggaran privasi namanya."
"Hey, apartemen itu milikku jadi aku bebas kapanpun aku mau datang."
"Iya juga ya" gumam Max yang hanya bisa terdiam kembali.
"Oh ****, bagaimana bisa dia berpakaian seperti itu?"
Mata Joon terbelalak memandangi layar ponselnya. Bagaimana tidak, Nina keluar dari walk in closet hanya memakai tank top dan hot pants saja. Yang mana langsung memperlihatkan lekuk tubuh Nina dengan jelas. Dada dan bagian belakang Nina yang padat berisi nampak terlihat jelas. Pemandangan yang kontan membangunkan sisi lain dari diri Joon.
Apalagi dia baru saja mencium gadis itu dalam tidurnya. Ternyata yang Nina rasakan bukan mimpi. Joon masuk ke kamarnya lantas mencium lembut bibir Nina. Bibir yang sudah lama sangat ia rindukan beserta sang pemiliknya.
"Oh, bagaimana aku bisa menahan diri kalau begini. Melihatnya seperti itu saja, kepalaku sudah pusing dibuatnya."
Pusing karena yang di bawah sana tiba-tiba saja bergejolak hanya dengan melihat lekuk tubuh Nina.
"Ah sial!" makinya pelan. Joon memijit pelan pelipisnya yang tiba-tiba ikut berdenyut, menggunakan jemarinya.
__ADS_1
Joon masih memandangi layar ponselnya yang memperlihatkan Nina yang terus bergerak ke sana kemari. Tanpa sadar jika ada yang tengah memperhatikannya, sambil menahan hasratnya yang mulai naik. Akhirnya Joon hanya bisa diam sambil memejamkan matanya.
****