
Dan di sinilah keempatnya berada. Sebuah ruangan private untuk berlatih di sasana itu. Joon sebelumnya telah memesan tempat itu.
Para pria telah berganti pakaian. Mereka cukup mengganti celana jeans mereka dengan celana training. Memudahkan mereka untuk bergerak. Sedangkan untuk atasannya mereka cukup melepas kemeja luarnya. Keduanya sudah mulai melakukan pemanasan.
Sedangkan para wanita masih berada di ruang ganti. Setelah Max menyerahkan sebuah paperbag kepada Karin. Yang isinya ternyata dua pasang seragam taekwondo.
"Pacar kamu kayak orang yang punya kepribadian ganda ya."
"Maksudnya?"
"Dia tadi begitu cerewet di jalan. Tapi begitu masuk sini. Semua omongannya ilang entah pergi ke mana. Yang keluar aura pengen bunuh orang. Irit banget omongnya,"
"Kamu kali yang mau bunuh orang. Lagian kalau sama aku dia banyak kok omongnya."
"Ye.. kamu kan pawangnya."
"Buaya kali ada pawangnya."
Ketika keduanya kembali ke ruang latihan. Kedua pria itu sudah mulai saling pukul untuk memulai latihan mereka.
Baik Nina maupun Karin sempat melongo melihat tampilan dua pria di hadapan mereka. Kaos ketat mereka menempel sempurna di tubuh kedua pria itu. Meninggalkan jejak tubuh atletis dan otot sixpcak yang tercetak jelas. Membuat Nina dan Karin menelan saliva mereka hampir bersamaan.
"Hot banget."
"Sudah selesai. Kalian pemanasan dulu."
Ucapan Joon hanya mendapat anggukan kepala dari dua gadis itu. Yang masih setengah melongo melihat tampilan hot kedua pria yang kini sudah mulai baku hantam kembali.
"Aku jadi nggak bisa konsen deh," ucap Karin lesu.
"Kenapa? Katanya kemarin pengen ngehajar seseorang. Tu orangnya sudah ada kalau mau kamu hajar."
"Tapi kalau tampilannya hot gitu. Gimana aku bisa menghajarnya?"
"Itu terserah kamu. Mau kamu hajar atau tidak monggo."
"Haiisshh.... Kalau gitu tampilannya bener deh Jungkook aja lewat."
"Beneran? Kalau gitu buat aku saja."
"Kamu mau pacar kamu bunuh orang?"
Nina terkekeh mendengar hal itu. Iya juga ya.
Hampir 15 menit keduanya melakukan pemanasan. Setelah selesai keduanya lantas menghampiri kedua pria itu. Peluh sudah mulai bercucuran dari tubuh kedua pria itu. Dan hal itu semakin membuat keduanya terlihat seksi di mata Karin dan Nina.
"Busyet deh seksi bener," bisik Karin ke telinga Nina yang dijawab sebuah senyum simpul Nina.
Sesuai kesepakatan mereka akan berlatih berpasangan. Dan seperti yang kalian tebak. Nina dan Joon. Sedang Max tentu saja harus menghadapi Karin.
Yang entah mendapat amunisi dari mana. Karin kembali mendapatkan keinginannya untuk menghajar pria yang ada di hadapannya ini.
Kilasan bagaimana panasnya Max dan Stella yang tengah berciuman berhasil membangkitkan amarah Karin kepada Max. Walau saat ini Max terlihat begitu seksi dan menggoda lantaran kaosnya yang basah oleh keringatnya menempel sempurna ditubuh atletisnya.
"Bodo amat dengan tubuh atletismu. Aku beneran pengen menghajarmu. Dasar keterlaluan. Pembohong!" gumam Karin pelan. Keempatnya telah memasang kuda-kuda siap menyerang lawan masing-masing.
"Aku tahu kamu pemegang sabuk hitam taekwondo. Jadi jangan sungkan denganku, Baby."
Nina hanya tersenyum mendengar perkataan Joon. Lantas detik berikutnya baik Nina maupun Karin langsung melesatkan serangan mereka ke lawan masing-masing.
Buuk, Bug, Buuk,
__ADS_1
Suara tendangan dan pukulan yang saling beradu, terdengar nyaring di ruang latihan kedap suara itu. Beberapa kali Nina dan Karin melesakkan serangan mereka. Tiap kali itu juga para pria itu berhasil menghindar dan menangkis serangan keduanya.
"Lumayan juga, Baby."
Sedang Max hanya memandang Karin tanpa kata. Melihat api kemarahan yang terlihat jelas di mata gadis itu.
"Serang aku jangan hanya menghindar." Karin berteriak pada Max. Detik berikutnya kembali Karin melayangkan pukulan dan tendangan kepada Max yang hanya sekedar dihindari atau di tangkis oleh pria itu. Membuat emosi Karin semakin memuncak.
Namun ketika Karin bermaksud memukul Max. Tiba-tiba saja pria itu menangkap tangan Karin dan mencekalnya. Membuat Karin semakin marah. "Lepaskan tanganku brengsek!" umpat Karin.
"Katakan dulu kenapa kamu begitu marah padaku? Kenapa kamu begitu ingin menghajarku?" tanya Max kalem.
"Bukan urusanmu!"
Karin memutar pergelangan tangannya dan berhasil melepaskan cekalan tangannya. Dengan cepat dia melayangkan tendangannya kepada Max. Namun lagi-lagi pria itu berhasil menghindarinya.
"Serang aku! Jangan hanya menghindar saja!" raung Karin membuat Nina dan Joon yang tengah saling serangpun menghentikan gerakan mereka. Menatap ke arah pasangan yang seolah tengah bertengkar.
"Tidak etis seorang pria menyerang seorang wanita," ucap Max masih kalem mode on.
Karin dengan wajah memerah penuh emosi, siap menyerang Max kapan saja. Sedang Max terlihat begitu santai menghadapi sikap bar-bar Karin.
Kembali Karin menyerang Max dengan tendangan dan pukulan bertubi-tubi. Namun kali ini Max tidak hanya menghindar. Dia balik menyerang Karin dengan tendangan dan pukulan yang sama intensnya dengan Karin. Hanya saja Max menggunakan seperempat dari tenaganya ketika melawan Jòon untuk melawan Karin.
"Bagus!" ucap Karin sambil menyeringai.
"Berhenti Karin. Aku tidak ingin melukaimu."
"Aku tidak peduli!"
Kali ini satu tendangan ia layangkan ke perut Max. Dan Max yang sedang tidak siap langsung terhuyung ke belakang sambil meringis menahan sakit di perutnya.
Seketika Max berdiri lagi. Kali ini ia ingin mengakhiri semuanya. Kenapa gadis di hadapannya ini tampak begitu marah kepadanya. Karin kembali menyerangnya. Bunyi tendangan dan pukulan yang beradu semakin nyaring terdengar.
"Lee Joon hentikan mereka. Karin kalau lagi ngamuk serem."
"Kamu pikir Max tidak bisa menaklukkan Karin. Kita lihat saja mereka."
Kini keduanya hanya jadi penonton melihat Max dan Karin saling memukul, menendang, menyikut dan segala jenis serangan yang bisa mereka lakukan.
"Karin stop! Karin cukup!" ucap Max. Ngos-ngosan. Keduanya sama-sama sudah terlihat lelah. Peluh dan keringat sudah membasahi hampir seluruh tubuh dan pakaian mereka.
"Aku belum puas menghajarmu. Dasar brengsek! Pembohong!"
Kali ini Max mengerutkan dahinya mendengar umpatan Karin. "Sejak kapan aku berbohong pada gadis ini" batin Max.
Satu pukulan nyaris mengenai wajah Max. Namun ia sempat menghindar ke kiri. Membuat Karin memukul udara kosong. Dan kesempatan itu tidak disia-siakan Max. Dia dengan cepat membalikkan tubuhnya. Meraih tangan Karin yang tadi hendak memukulnya. Lantas memutarnya dengan lembut dengan hasil akhir Max berhasil memiting tubuh Karin. Mengunci kedua tangan Karin di belakang tubuhnya. Membuat Karin mati kutu tidak bisa bergerak.
Terlebih lagi dada bidang Max sedikit menempel di punggung Karin karena pria itu mencondongkan badannya ke tubuh Karin. Dan posisi itu sukses membuat jantung Karin berdebar hebat. Pasalnya ia juga bisa merasakan hembusan nafas pria itu tepat dibelakang telinganya.
"Lepaskan brengsek. Lepaskan aku!" Karin menjerit dan meronta bersamaan. Berusaha melepaskan diri dari pitingan Max.
"Tidak akan. Sampai kamu jawab kenapa kamu menyebutku brengsek dan pembohong."
"Tanya saja pada dirimu sendiri!" Karin terus meronta. Tapi tenaganya jelas tidak sebanding dengan Max.
"Aku akui aku memang brengsek. Tapi aku tidak pernah bohong padamu. Aku berani bersumpah."
"Dasar pembohong. Lepaskan aku!" Kembali Karin berteriak.
Nina ingin maju melerai, tapi ditahan Joon. "Biarkan saja. Max tidak akan melukai Karin. Aku jamin itu." Ucap Joon pada Nina.
__ADS_1
"Katakan dulu padaku. Kenapa kamu menyebutku pembohong," Kali ini Max mendekatkan wajahnya ke Karin. Wajah keduanya nyaris tak berjarak. Max dengan jelas bisa melihat keseluruhan wajah Karin dari samping. Mata yang indah meski saat ini ia tahu gadis itu tengah marah. Hidung yang tidak terlalu mancung namun sangat pas di wajah Karin. Dan yang terakhir sebuah bibir mungil yang akhir-akhir ini begitu menggodanya. Terlihat ranum dan yaah benar-benar membuat Max ingin ********** sampai habis tidak bersisa.
Karin yang merasa wajah mereka sangatlah dekat langsung merona merah. Malu. Karena ia bisa melihat dengan jelas bahwa Max tengah menatap intens wajahnya.
"Menjauhlah dariku. Brengsek!" desis Karin tepat di wajah Max yang kini malah tersenyum menatapnya.
"Katakan dulu kenapa kamu marah padaku. Apa kamu cemburu karena Stella menciumku?"
Skak mat. Ucapan Max benar-benar tepat sasaran.
"Tunggu dulu. Siapa yang cemburu?"
"Kamu?"
"Jangan ge er ya. Aku tidak cemburu!"
"Lalu kenapa kamu marah saat Stella menciumku?"
"Siapa yang marah. Aku tidak marah. Aku tidak cemburu. Lepaskan aku. Menjauhlah dariku. Dasar brengsek. Dasar pembohong."
Karin terus berteriak dan meronta. Namun Max tak kunjung melepaskan pitingannya. "Lepaskan aku Max Aldrian! Aku membencimu! Aku membencimu!"
"Jangan katakan itu Karin."
Namun bukannya berhenti berteriak. Teriakan Karin malah semakin nyaring. "Aku membencimu. Aku membencimu. Aku membencimu Max Aldrian. Aku....hmmmmpptt."
Teriakan Karin terhenti seketika karena Max telah menautkan bibirnya ke bibir Karin. Karin langsung membulatkan matanya. Shock!
Nina langsung menutup mulutnya, sedang senyum langsung terbit di bibir Joon.
"Ayo kita pergi mandi." Lantas menarik tangan Nina berlalu dari tempat itu. Meninggalkan Max dan Karin yang masih shock. Yang shock Karin ya reader kalau Max kan sudah biasa nyium cewek
"Eh kok malah pergi sih, nanti kalau mereka kenapa-kenapa bagaimana?"
"Tidak akan terjadi apa-apa," jawab Joon enteng.
Karin mengedip-ngedipkan matanya berusaha meraih kembali kesadarannya. Sedang Max malah menatapnya intens dengan bibir keduanya masih bertaut sempurna.
Dan sepersekian detik berikutnya Karin melepaskan tautan bibir mereka. Jantungnya seakan ingin melompat keluar. Menatap marah pada pria di hadapannya karena telah mencuri ciuman pertamanya. Sedang yang ditatap dengan marah malah tersenyum sangat manis. Semanis gula satu ton🤣🤣🤣
"Is it your first kiss? Oh how lucky I am"
Ucap Max masih dengan senyum semanis madunya. Yang justru membuat Karin maju langsung melayangkan pukulan pada Max. Memukul apapun yang bisa ia pukul dari tubuh pria itu.
"Beraninya kamu menciumku! Beraninya kamu!" ucap Karin sambil terus memukul Max yang akhirnya malah membuka kedua belah tangannya. Seolah menyambut semua pukulan yang Karin berikan. Berakhir dengan Karin yang terus-menerus memukul dada bidang Max.
Beberapa saat Max hanya membiarkan Karin yang terus memukul dadanya sambil terus mengumpat. Kuat juga pukulan gadis ini. Max sedikit meringis dadanya terasa sakit.
Hingga dengan tiba-tiba Max mengatupkan kedua tangannya. Membawa Karin dalam pelukannya.
"Eh,eh eh, lepaskan! Lepaskan!" Karin kembali meronta.
"Sssttt diamlah atau aku akan menciummu lagi!" ucapan Max sontak membuat Karin terdiam.
Mereka sama-sama terdiam. Max begitu menikmati aroma lembut Karin yang tiba-tiba menguar di hidungnya. Pun dengan Karin. Aroma maskulin Max langsung memenuhi rongga hidung dan pernafasannya. Meski aroma keduanya sudah bercampur dengan peluh dan keringat. Tapi nyatanya mereka tetap betah berpelukan. Kayak teletubbies🤣🤣🤣
"Karina Saraswati aku rasa aku jatuh cinta padamu," ucap Max tiba-tiba.
"Ha?" Karin melongo mendengar ucapan Max
****
__ADS_1