
Dan seperti perkiraan Max. Walau belum jam makan siang. Namun kantin langsung heboh begitu Joon dan yang lainnya memasuki area kantin di lantai 22.
"Oh ya Baby, kenalkan ini Max, kalau aku tidak ada kamu bisa mengandalkan dia."
Nina langsung mengembangkan senyumnya, membuat Max kembali terpana.
"Gila senyumnya manis banget."
" Halo Tuan Max, senang bertemu denganmu," sapa Nina sambil mengulurkan tangannya. Bermaksud menjabat tangan Max. Tapi hal itu buru-buru di tepis oleh Joon. Max heran seketika.
"Posesif amat," batin Max.
"Senang juga bertemu denganmu Nona."
Merekapun mulai masuk ke kantin.
Meski hanya ada petugas kantin namun mereka begitu antusias dengan kedatangan bos muda mereka. Tatapan penuh puja terlihat dari cara mereka memandang Joon. Membuat Nina jengah dengan hal itu.
"Dari dulu sama saja. Di mana-mana selalu tebar pesona."
Namun yang membuat para petugas kantin heran adalah keberadaan gadis cantik yang berada di sebelah Joon. Dan jelas sekali jika Joon memberikan perhatian lebih untuk gadis itu.
"Siapa itu, siapa itu?" bisik mereka
"Cantik banget," yang lain menimpali.
"Kamu ambillah dulu," Joon memberikan kesempatan Nina mengambil makanannya terlebih dahulu. Max benar-benar terkejut bukan kepalang.
"Sejak kapan bos kutubnya itu bisa jadi semanis itu di depan seorang wanita."
"Kenapa?" tanya Karin yang melihat Max tampak menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ah, tidak, tidak. Uuuhhm apa bos memang selalu bersikap seperti ini kepada Nona Nina?" tanya Max setengah berbisik.
Karin nampak berpikir. Mereka memang selalu bertengkar tapi memang Joon selalu bersikap manis pada Nina.
"Dia memang selalu bersikap manis jika ada di dekat Nina, walaupun kalau bertemu seringnya bertengkar."
"Ooo," Max ber-o ria.
"Max, ikutlah makan sekalian, setelah itu antarkan Nina ke lantai 30."
Max hanya mengangguk. Setelahnya, mereka masuk ke ruang VIP yang aksesnya bisa dibuka dengan kartu yang Max punya.
"Mintalah kartu akses kepada Max jika kamu ingin makan di kantin," ucap Joon. Yang hanya diiyakan oleh Nina.
Max dan Karin duduk terpisah seolah tahu dengan keinginan sang wakil presdir.
"Kenapa kalian duduk di sana? Makanlah di sini," kata Nina ketika melihat Max dan Karin mengambil meja terpisah. Joon langsung menatap tajam ke arah Max memperingatkan.
"Kami di sini saja Nona," jawab Max sedikit menunduk. Takut dengan tatapan Joon.
"Biarkan saja mereka."
Dan Nina akhirnya mengalah. Tidak akan menang dia jika harus berdebat dengan Joon.
"Kamu sering makan di sini?" tanya Nina di sela-sela makannya.
" Tidak, ini kali kedua aku makan di kantin." Nina mengerutkan alisnya.
"Aku tidak suka di pandangi oleh mereka ketika aku sedang makan," ucap Joon sambil matanya menatap ke arah orang-orang yang tengah memandangnya. Nina langsung paham maksud Joon.
Sedang di meja sebelah suasana masih terasa canggung untuk Max dan Karin.
"Sepertinya kita belum berkenalan secara resmi. Perkenalkan aku Karin. Senang bertemu dengan anda, Tuan."
Akhirnya Karin berinisiatif memulai percakapan.
"Max, panggil saja aku Max. Senang juga bisa berkenalan denganmu. Jangan terlalu formal denganku. Kita rekan kerja."
"Wah ternyata orangnya ramah banget. Aku kira dia bakalan dingin kaya bosnya. Eh wajahnya lumayan juga. Nggak kalah sama bosnya. Sayang, sudah punya pacar."
"Baiklah, Max." Max hanya tersenyum melihat Karin.
"Dia bukan tipe yang suka berbasa-basi."
Dan ke empatnya akhirnya menyelesaikan makan siang tepat ketika waktu makan siang tiba. Mereka keluar dari area kantin bersamaan dengan karyawan yang mulai memasuki kantin.
__ADS_1
Saling bisik-bisik pun kembali terdengar. Namun keempatnya tidak peduli dengan hal itu.
"Antarkan Nina ke lantai 30, Max." perintah Joon. Ketika mereka sudah di dalam lift. Max mengangguk.
"Oh ya, Karin statusmu adalah asisten Nina. Jadi bantu dia."
"Oke," jawab Karin kaku. Masih bingung memposisikan dirinya. Dari seorang fans menjadi seorang bawahan.
Karin jelas senang bukan kepalang. Bukankah sebuah kebahagiaan yang paling besar jika seorang fans bisa bertemu idolanya. Apalagi ini satu kantor, paling tidak ia akan sering melihat Lee Joon. Masa bodoh dengan sifat dingin dan sombongnya. Abaikan saja. Semboyan Karin.
Ketika lift terbuka di lantai 30, serentak 3 orang itu keluar. " Aku pergi dulu," pamit Nina.
Joon hanya terdiam menatap punggung Nina mulai menjauh. Pria itu menghela nafasnya.
"Semua akan dimulai dari hari ini."
"Tuan Max, Anda bisa memanggilku Nina saja."
"Tapi Nona."
"Kita rekan kerja. Kedudukan kita sama. Lagipula sepertinya umurku lebih muda dari Anda, Tuan Max."
"Aku sih tidak masalah Nona, tapi bagaimana dengan si Bos Kutub itu. Nanti aku benar-benar dikirim ke kutub kalau ketahuan memanggil nama nona langsung."
"Tuan Max, Tuan. Nanti biar saya yang bicara pada wakil presdir kalau anda takut padanya."
"Baik Nona, eh Nina. Kalau begitu jangan terlalu formal denganku. Panggil saja Max. Seperti Karin."
Nina mengerutkan alisnya. Sejak kapan keduanya menjadi begitu akrab.
"Tapi Tuan Max, Anda lebih tua daripada saya. Nanti dikira tidak sopan."
"Justru karena itu. Panggil nama saja biar aku nggak keliatan tua. Biar ikutan muda terus," Max mulai bersikap santai menghadapi kekasih bosnya itu. Tidak buruk juga pikirnya.
"Oke deh kalau begitu," dan Nina pun mulai menghilangkan formalitas di antara mereka.
"Nah gitu dong, kan enak bawaannya," celetuk Karin yang diiyakan oleh keduanya. Dan ketiganya pun bisa tertawa lepas bersama.
"Nah ini bagian keuangan. Bersiaplah Bu Direktur," goda Max.
"Issh, apa sih?"
"Ini akan berat." Nina membatin. Sejenak gadis itu melirik Karin. Reaksinya sama dengan dirinya.
"Ini ruangan kamu sementara hari ini. Ruanganmu yang sebenarnya ada di lantai 34. Satu lantai di bawahku."
"Kenapa aku harus ngantor di lantai 34?"
"Itu tanya sendiri sama pak Bos."
"Ihh dia ini selalu seenaknya sendiri," gerutu Nina.
"Baru tau ya Nona, kalau pacar Nona itu memang suka seenaknya sendiri."
"Lalu aku? Apa aku juga harus ngantor di sana juga."
"Iya, aku sedang menyiapkan dua ruang untuk kalian."
"Nggak bisa disatuin aja. Ngirit."
"Kalian ini nggak mau dipisahin. Apartemen minta jadi satu. Ini ngantor juga mau jadi satu. Jangan-jangan nanti suami juga jadi satu," Max akhirnya bisa ngedumel juga kayak mak-mak
" Eh ya nggak dong. Selera kita jelas berbeda," Karin protes.
"Kok kamu tahu kalo kita mau satu apartemen?"
"Ya, iyalah orang aku yang ngurus."
"Ooo, gitu," jawab Nina dan Karin bersamaan. Jadi orang yang menghandle mutasi mereka adalah Max.
"Dan sama dengan kasus apartemen, sesuai dengan perintah si Bos, kalian juga harus dipisah."
"Ya sepi dong, Na."
"Lah kalian itu mau kerja apa mau ngrumpi?"
"Ya kerjalah Tuan, cari cuan. Kali ada temen satu ruangan kan nggak ngantuk."
__ADS_1
"Ooo jangan khawatir. Aku pastikan tidak akan ada rasa kantuk di bagian keuangan. Aku jamin itu."
"Kenapa?"
"Alami dan rasakan sendiri," ujar Max sambil menyeringai.
"Iiih jangan nakutin napa Max. Ada hantu ya?" Karin bergidik ngeri.
"Ini lebih menakutkan dari hantu. Hantu aja kalah. Sebab selain ngeri ditambah juga dengan rasa pusing."
"Issh, apa sih?"
Max tergelak. Merasa terhibur bisa mengerjai Nina dan Karin. Ah dia pikir harinya tidak akan lagi kaku seperti biasanya.
"Ya sudah aku pergi dulu ya. Nanti pacarmu bisa ngamuk aku tinggal lama-lama. Selamat berpusing ria Bu Direktur dan Bu Asisten Direktur," pamit Max keluar dari ruangan tersenyum, sambil melambaikan tangannya.
"Iissh, orang itu apa-apaan sih."
Dan dimulailah hari sibuk Nina dan Karin. Disertai beragam pandangan dari wajah bawahannya Nina memulai tugasnya. Sebagian mencibir dan meragukan kemampuan Nina. Tapi seperti kata Joon, "Tunjukkan saja kemampuanmu dan mereka akan diam dengan sendirinya,"
Dan karena direktur yang lama sudah cukup lama hiatus. Hingga tumpukan berkas yang harus di periksa dan ditandatangani sangat banyak. Beruntungnya sekretaris direktur terdahulu yang bernama Rita, dengan ramah menyambut mereka. Membantu Karin dan Nina menunjukkan berkas mana yang harus dikerjakan lebih dulu.
"Bagaimana?"
"Sepertinya dia akan baik-baik. Terlihat kalau dia bukan orang yang mudah di tindas."
"Kamu akan terkejut dengan apa yang bisa dia lakukan." Kata Joon penuh arti.
"Kita lihat saja Bos. Karena kemungkinan akan ada kasus pembulian di bagian keuangan."
"Ha... ha... ha... kita lihat saja Max. Siapa yang di buli siapa."
"Bagaimana dengan mereka?"
"Seperti dugaan kita. Ada banyak yang menentang. Tapi biarkanlah. Mereka berpikir Joni itu baik. Mereka berpikir kasus yang menimpa Joni adalah jebakan untuk menjatuhkan nama baiknya."
"Ciih, nama baik katanya," Max berdecih. Begitu muak dengan orang-orang yang hanya pandai menjilat untuk mendapatkan keuntungan.
Lee Joon pun hanya menarik sudut bibirnya, mendengar ucapan Max.
"Sudahlah kembali bekerja sana," usir Joon. Sedang Joon mulai meraih berkas-berkas dan laptopnya, mulai bekerja dengan kacamata kerjanya dan kemeja yang sudah ia gulung sampai siku.
(Kerennya ngebayangin Lee Joon kerja. Silahkan menghalu dengan visual masing-masing 🤣🤣🤣)
Hari sudah beranjak malam, ketika Nina dan Karin memutuskan untuk menghentikan pekerjaan mereka. Benar kata Max, rasanya mengerikan dan memusingkan.
Bahkan emosi Nina langsung naik di hari pertamanya bekerja. Dokumen yang ia kerjakan bahkan belum ada separuhnya. Ada banyak berkas yang harus direvisi dan tidak sesuai dengan data yang ada.
"Sebenarnya bagaimana sih cara mereka bekerja. Bahkan ini lebih parah dari yang ada di kantor cabang," Nina menggebrak mejanya lantas mengacak rambutnya. Rambutnya yang tadinya ia gulung tinggi kembali berantakan. Karin terkekeh melihat ekspresi frustrasi temannya itu.
"Hari pertama dan aku sudah gila."
"Sabar bu Direktur." Seloroh Karin.
"Kamu lihat hampir semua berkas harus di revisi. Bisa kerja nggak sih mereka. Aku tahu aku amatiran tapi setidaknya aku tahu memasukkan data dengan benar," Nina jelas mengamuk dan hampir menangis.
"Boleh nggak Rin aku nangis?"
Dan tawa Karinpun meledak. "Sini-sini kalau mau nangis. Aku peluk sini."
Sementara itu,
"Wakil presdir mengirim orang baru untuk menangani bagian keuangan LJ GROUP pusat, Tuan."
"Benarkah, seperti apa orang yang ia kirim untuk mengantikan Joni?"
"Menurut informan kita, dia seorang wanita dan masih muda."
"Ha... ha.... ha... apa Lee Joon tidak salah pilih orang. Mengirim seorang wanita untuk menggantikan Joni."
"Dia berasal dari kantor cabang tuan. Di sana prestasi kerjanya cukup bagus. Mungkin itu alasan Tuan Lee Joon menariknya ke kantor pusat untuk menggantikan Joni."
"Baiklah, baiklah kau selidiki dan awasi saja dia."
"Baik tuan."
"Ini menyenangkan, akan aku lihat bagaimana orang kirimanmu itu. Apa bisa dia menemukanku. Lee Joon," ucap orang itu yang tak lain adalah tuan Burhan dengan seringai yang mengerikan di wajahnya.
__ADS_1
*****