
Di kantor MH GROUP,
Lantai 25, ruangan Mike. Keadaan pagi itu sedikit kacau. Setelah Doni menelepon kalau dia akan masuk kantor setelah jam makan siang. Dia sedang ada urusan. Itu yang dikatakan ketika dia menelepon Mike.
"Haiisshh, sebenarnya dia lagi sibuk ngapain sih?" makinya pada Doni.
Saat ini dia dan Maya tengah sibuk mempersiapkan meeting yang akan di adakan sebentar lagi. Beruntung, kemarin Doni sempat memberitahu Maya. Berkas mana saja yang perlu disiapkan. Hingga dia tidak merasa kesulitan.
Berbeda dengan Mike. Mike tipe orang yang mudah panik ketika semua tidak sesuai dengan keinginannya.
"Mungkin dia benar-benar sedang ada urusan, Kak," ucap Maya pelan. Mike langsung menatap gadis itu, yang hari ini terlihat manis dengan setelan kerja berwarna pink lembut. Maya memang gadis yang feminin. Gadis itu dengan cekatan menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan untuk meeting sebentar lagi.
"Aku bisa menggantikan asisten Doni untuk presentasi," kata Maya sambil terus bekerja. Mike seketika menatap Maya intens. Dia pikir kenapa gadis ini jadi semakin cantik dan menarik sejak dia terakhir kali menatapnya beberapa hari yang lalu.
"Kak, Kakak," panggil Maya
"Ah iya," jawab Mike gelagapan.
"Aku perlu tanda tangan Kakak di disini," ujar Maya sambil menyerahkan sebuah berkas untuk Mike tangan tangani.
"Terima kasih," ucap Maya manis. Dengan cepat dia berlalu dari samping Mike. Namun pria itu dengan cepat menahan tangan Maya.
"Ya? Ada sesuatu?" tanya Maya.
"Mari kita kencan setelah pulang nanti. Kamu tidak ada janji dengan genk-mu itu kan?"
"Ha?" Maya malah melongo. Pasalnya sejak mereka jadian dua minggu yang lalu. Mike sama sekali tidak ada niatan untuk mengajak Maya keluar atau sekedar jalan berdua seperti pasangan-pasangan lain.
Dia tahu dengan jelas alasan Mike mengajaknya pacaran hanyalah sekedar untuk menghilangkan status "jones" mereka. Jadi Maya pun sebenarnya tidak berharap lebih. Mike hanya bersikap sewajarnya saja. Mengingat Maya pun tahu sifat Mike yang memang kurang peka.
"Maksudnya apa ya?" Maya tentu saja terkejut ketika tiba-tiba Mike mengajaknya kencan.
"Ya kita pergi kencan. Seperti pasangan-pasangan lain. Kamu tidak ada janji dengan mereka kan?"
"Ahh tidak, tidak. Aku tidak ada janji dengan mereka," senyum langsung terukir di wajah imut Maya. Mike sejenak terkesima. Dia pikir kenapa dia tidak menyadari jika Maya memiliki wajah yang cantik. Mirip tokoh boneka barbie versi hidup. Itu menurut Mike.
Perlahan Mike berdiri, tangannya masih menggenggam tangan Maya. Membuat gadis itu tidak bisa pergi ke mana-mana. Perlahan Mike mendekatkan wajahnya ke wajah Maya dan "cup" sebuah kecupan mendarat di bibir Maya.
"Kak," bisik Maya terkejut.
"Manis," ucap Mike pelan. Rasanya masih sama dengan saat terakhir kali Mike menciumnya dua minggu lalu.
"Ihh, Kakak kenapa sih nyium Maya di kantor," Maya protes.
"Oh, kamu maunya dicium di luar kantor. Tidak masalah," balas Mike santai. Dia gemas melihat ekspresi Maya yang merajuk sambil memanyunkan bibirnya.
"Kondisikan bibirmu, May. Kalau tidak, aku cium lagi di sini," goda Mike.
"Kakak! Ih menyebalkan!" rajuk Maya berlalu dari hadapan Mike. Namun ketika Maya menjauh, Mike dengan cepat menarik tangan Maya. Membuat tubuh Maya berbalik arah dan langsung menabrak dada bidang Mike. Dan detik berikutnya "cup". Mike kembali menautkan bibirnya ke bibir Maya. Mike benar-benar menikmati bibir Maya yang menurutnya sangat manis dan memabukkan. Sejenak keduanya hanyut dalam ciuman mereka yang begitu lembut.
***
Joon tengah memandang Nina yang kembali terlelap. Setelah sesi menangis histerisnya muncul kembali. Kali ini entah mengapa dia memerlukan waktu yang agak lama untuk "menjinakkan" Nina. Joon menarik nafasnya pelan.
Baru lima menit yang lalu dia baru saja diomeli oleh papanya habis-habisan. Kesibukan papanya membuatnya baru bisa bertemu Joon lagi hari ini. Dan kesempatan itu tidak disia-siakan oleh tuan Lee untuk memarahi putra tunggalnya itu.
Empat hari memendam kemarahannya. Membuat tuan Lee bak senapan mesin yang tidak berhenti menembakkan pelurunya.
"Kamu tahu apa kesalahanmu? Kenapa kamu bisa melakukan hal itu pada Nina? Memangnya dia mau lari ke mana hingga kamu takut, dia tidak mau menikah denganmu? Apa sih yang kamu pikirkan waktu itu?" cerocos tuan Lee tanpa jeda.
__ADS_1
"Pa, satu-satu nanyanya," jawab Joon.
"Ha? Masih menjawab!" sarkas tuan Lee.
"Iya-iya. Joon minta maaf. Joon khilaf waktu itu. Joon salah," balas Joon dengan wajah sendu. Tuan Lee hanya bisa menghela nafasnya.
"Kamu itu apa tidak berpikir dulu sebelum bertindak. Ke mana otak bisnismu pergi. Hingga tidak bisa menghitung untung dan rugi akibat ulahmu itu " cecar tuan Lee lagi.
"Papa pikir Joon lagi pengen menangin tender apa? Pa, untuk urusan beginian otak nggak ada gunanya," bela Joon.
"Na! menjawab lagi!" bentak tuan Lee.
"Haissh Papa ini. Masih kurang ya Joon dihajar Heri sampai babak belur begitu. Ini masih di marahi kayak anak kecil yang habis ngambil duit mamanya," kembali Joon menjawab.
"Dasar anak keterlaluan..." tuan Lee sudah mengangkat tangannya ingin mengeplak putra tunggalnya itu. Namun urung dilakukan, ketika Sofia menahannya.
"Sudahlah Pa. Sudah cukup. Joon memang salah. Dan patut dihukum. Tapi apa Papa tidak lihat dia babak belur begitu. Anggap aja itu hukuman buat dia. Lagian dia sudah empat hari nggak tidur Pa. Jagain Nina," bela Sofia. Joon langsung mengacungkan jempolnya pada sang mama, namun dibalas delikan mata oleh Sofia.
"Lee Joon, Lee Joon...kamu pacaran sekali. Sekalinya dapat pacar Nina. Dia langsung mendelete semua masa lalu dan mantannya. Membuat kamu tidak punya saingan untuk mendapatkan hatinya. Dan kamu masih tidak sabar menunggu Nina menerima lamaranmu," ujar tuan Lee.
"Mantan Nina cuma satu Pa," balas Joon.
"Cuma satu dan itu pun kamu masih cemburu dengannya. Akibatnya Nina lagi yang jadi korban. Untung tidak apa-apa. Coba kalau yang ngejar Nina banyak. Apa yang akan kamu lakukan. Kamu tahu, dulu Papa waktu mau mendapatkan Mamamu. Saingan Papa banyak. Apalagi yang namanya Burhan itu. Tidak ada menyerah-menyerahnya waktu mengejar Mamamu," cerita tuan Lee tanpa sadar.
"Pa..... ," Sofia memperingatkan.
"Jadi Papa dulu saingan sama tuan Burhan. Ayah angkatnya Nina?" tanya Joon kepo.
"Ayah angkat?" gantian tuan Lee yang kepo.
"Iya. Tuan Burhan ayah angkatnya Nina. Iyakan Bu," tanya Joon pada bu Ratna yang sejak tadi hanya diam. Dan bu Ratna mengangguk.
"Tapi Nina tidak ada hubungan dengan semua kejahatan tuan Burhan lo Pa,"
"Kejahatan? Kejahatan apa yang sudah dilakukan Burhan," tanya Bu Ratna. Dua pria itu hanya bisa menarik nafas pelan. Lantas Joon menceritakan semua perihal kejahatan tuan Burhan. Bu Ratna langsung shock setelah mendengarnya.
"Dia membunuh adik kandungnya sendiri. Jadi dia kembali ke Jakarta waktu itu hanya demi harta. Burhan, Burhan apa yang sudah kamu lakukan. Apa kamu tidak memikirkan Dina. Kasihannya anak itu," ujar bu Ratna hampir menangis
"Memangnya bu Ratna kenal dengan Burhan?" tanya tuan Lee.
"Dia dan ayahnya Nina teman baik. Kami pernah jadi tetangga di Jogja. Tapi setelah Sita, istrinya meninggal dia pindah ke Jakarta. Dan tidak pernah tahu kabarnya lagi."
Semua orang terdiam.
"Dalam beberapa hari ini mungkin surat perintah penahanan akan dikeluarkan. Tadi Pak Siregar menelepon. Katanya pengadilan mengabulkan permohonan Mike untuk membuka kasus ini kembali untuk disidangkan ulang. Dengan tersangka tuan Burhan. Dan kemungkinan kali ini kesempatan tuan Burhan untuk lolos sangat kecil. Semua bukti dan saksi kunci, mengarah padanya," jelas Joon. Ratna menangis seketika.
"Kasihan Dina," ucapnya singkat.
Ratna ingat kemarin sempat bertemu Dina. Bisa dibayangkan betapa bahagianya Dina kala itu. Begitupun Ratna. Dina sudah seperti putrinya sendiri. Tapi sekarang Ratna jadi khawatir dengan keadaan Dina.
"Jangan khawatir Jeng. Dina memiliki kami di sini. Kami siap menjadi keluarganya. Kejahatan Papanya tidak ada hubungannya dengan Dina," hibur Sofia.
"Terima kasih Jeng. Oh ya, Nak Joon. Ibu mungkin minggu depan pulang. Ibu tidak bisa membiarkan Risma sendirian di rumah. Ibu lihat keadaan Nina sudah lebih baik. Dan lagi ada nak Joon yang akan menjaganya. Tapi Risma.....," Ratna menggantung ucapannya. Ada kepanikan dalam ucapannya.
"Ada masalah Bu? Mungkin kami bisa membantu," tawar Joon melihat kegundahan hati camernya itu.
"Itu beberapa hari ini kemarin. Risma merasa diikuti seseorang. Jadi dia takut jika sendirian. Sekarang saja dia tak titipkan ke tempat lek-nya (saudaranya) yang rumahnya di Jogja. Deket sama kampusnya."
"Pria atau wanita?" selidik Joon.
__ADS_1
"Katanya sih lanang (pria). Mobilnya bagus. Orangnya ngganteng (tampan)," jelas Ratna.
"La itu tahu ciri-cirinya. Memang pernah ketemu Rismanya?" tanya Sofia.
"Kata Risma, dia pernah nolong orang itu waktu kecopetan di Malioboro. Terus katane minta kenalan. Tapi Rismanya takut. Tahu to Jeng jaman sekarang. Risma takut di apa-apain gitu. Eh gak tahunya orang itu ngintilin Risma terus. Katanya di kampus ya nungguin, di jalan ngikutin. Sopo sing ra wedi to Jeng (Siapa yang nggak takut to Bu)," cerita Ratna.
"Apa Risma dikasih bodyguard aja? Siapa sih orang yang kurang kerjaan. Ngikutin anak gadis orang," ceplos Joon.
"La dia bisa ngomong gitu. Nggak ingat diri sendiri pernah seperti itu," ledek tuan Lee. Joon seketika menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Mungkin dia suka Risma Bu," akhirnya Joon berkata setelah mengingat kelakuannya sendiri.
"Suka sih suka. Tapi caranya mbok ya nggak kayak gitu. Sopo sing ra wedi nek carane ngono kuwi ( Siapa yang tidak takut jika caranya seperti itu)," ucap Ratna.
"Coba nanti aku lihat siapa orangnya. Jadi nanti tanya Risma mau tidak dikasih bodyguard. Buat jaga-jaga."
"Emang Nak Joon bisa tahu orangnya siapa?" tanya bu Ratna.
"Bisa. Tapi apa Risma pernah cerita siapa nama pria itu," Joon penasaran.
"Sopo yo (Siapa ya), Jo..,Jo..mbuhlah pokoke belakangnya Kusuma," jawab Ratna, tuan Lee dan Lee Joon saling pandang.
"Jonatahan Kusuma?" tegas Joon.
"Iya. Kayane itu. Emang Nak Joon kenal?" tanya bu Ratna lagi.
"Wah putri-putri Jeng Ratna pinter cari jodoh," canda tuan Lee.
"Emangnya kenapa Pak Lee?" Ratna kepo.
"Kalau pria itu benar Jonathan Kusuma. Risma beruntung. Orangnya baik, juga dari keluarga baik-baik," balas tuan Lee.
"Kalian kenal sama si Jo.., Jo... ah mbuhlah itu tadi?"
"Aku kenal dia Bu. Dia beberapa waktu lalu bilang mau ke Jogja. Ada beberapa bisnis yang harus diurusnya," jelas Joon.
"Dia umurnya berapa?" tanya bu Ratna.
"Sama denganku Bu. Kami pernah satu kampus dulu."
"Oalah. La kalau begitu mbok ya tolong di bilangin, jangan bikin anak gadis orang takut. Kalau mau kenalan mbok ya yang baik-baik. Datang ke rumah atau gimana. Kan ibuk nggak khawatir jadinya. Pusing aku Jeng punya anak wedok loro ( anak perempuan dua),"
"Situ mending dua. La aku satu saja bikin pusing tujuh keliling " canda Sofia.
"Eh dua. Benar aku punya dua putra," batin Sofia sambil memandang tuan Lee yang juga tengah memandangnya.
"Apa kabarmu di sana, Nak. Appa sangat merindukannmu. Juga Eomma-mu," batin Tuan Lee saat berbalas pandang dengan sang istri.
*****
Hai readers up siang. Mumpung si bocil masih tidur.
Jangan lupa buat like,vote, comment and gift ya,
Happy reading and salam sayang dari author muah 😘😘😘
****
.
__ADS_1