Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 44


__ADS_3

Sementara di unit sebelah,"Bos, mau nginep sini lagi?"


"Hmmm."


Max lantas merebahkan tubuhnya di sofa ruang tengah. Melihat itu Joon heran. "Tumben di rumah. Nggak dinas kamu?"


"Lagi malas. Lagi nggak mood"


"Wah ini keajaiban. Seorang Max nggak mood pergi ke klub."


"Ah.. si Bos nih nggak asik."


"Nggak asik apanya?"


"Mbuh," jawab Max menirukan logat Nina. "Sejak kapan kamu ketularan Nina kalau ngambek sukanya bilang gitu?"


"Mbuh," lagi-lagi jawaban itu yang keluar dari bibir Max. Membuat Joon semakin bingung ada apakah gerangan dengan asisten mesumnya itu.


"Bos, kenapa sih Bos nggak tidur di sebelah aja sama pacar Bos. Kan enak itu bisa ehem-ehem," ucap Max lesu.


"Kamu mau aku kena tonjok sama Nina?"


"Masa sih Bos? Jaman sekarang masih ada cewek yang nggak mau diajak begituan?"


"Nyatanya ada tu di sebelah. Sepasang, lagi pada curhat di kamar aku."


"Ha? Karin tidur di sebelah?"


"Tiap hari lagi. Kamu nggak tahu apa?"


Max menggelengkan kepalanya. "Emang bos yakin kalau dua cewek itu masih p*r***n?"


"Yakin. Kenapa? Kamu mau testing? Jangan mimpi bisa nyentuh tu dua cewek sebelum resmi nikahin dua orang itu."


"Emang Bos betah nungguin nikah sama non Nina?"


"Mbuh."


"La?"


"Susah banget buat ngajakin Nina nikah."


"Masa sih?"


"Orang bilang cinta aja nggak pernah."


"Ha? Padahal kelihatannya mesra banget Bos waktu berduaan. Trus Bos ngapain aja selama ini?"


"Ya paling banter ciuman doang. Bahasa tubuhnya memang menunjukkan kalau dia punya rasa yang sama ke aku. Tapi bibirnya itu lo susah banget buat ngomong cinta ke aku. Kadang pengen tak ***** sampai habis tu bibir. Saking gemasnya aku." Max melongo mendengar curahan hati bosnya itu. Tidak menyangka jika bosnya itu juga punya masalah seperti itu.


"Terus Bos nggak kepikiran gitu cari yang lain?"


"Nggak. Aku nggak n*fs* lihat yang lain. Cuma dia doang yang bikin aku pengen begituan."


Max kembali melongo. Sebegitu bucinkah bosnya itu dengan Nina. Kenapa dirinya berbeda? Hasrat dan gairah Max langsung naik seketika setiap melihat wanita seksi dan menggoda.


"Bos, emang seperti apa sih rasanya jatuh cinta?" tanya Max tiba-tiba.


"Ya rasanya hidupmu itu isinya dia doang. Nggak ada yang lain. Sampai-sampai kamu nggak bisa lihat yang lain. Nggak bisa mikirin cewek lain. Dan satu lagi tiap kamu ngeliat dia jantungmu berdebar kencang kayak orang lagi lari maraton. Itu yang aku rasain. Memang kenapa? Kamu jatuh cinta Max?"


Max diam saja. Tidak tahu harus menjawab apa. "Nggak tahu Bos."


"Ada yang akhir-akhir ini menuhin otak kamu sama mukanya dia?"


Max berpikir. Akhir-akhir ini dia cuma kepikiran satu orang di kepalanya. Dan satu orang itu yang sudah beberapa waktu ini membuatnya malas pergi dinas alias pergi ke klub. Membuat Max hanya duduk manis dirumah.


"Masak iya aku jatuh cinta sama tu cewek."


Kalau dipikir-pikir dari semua wanita yang pernah Max jumpai. Hanya satu wanita itu yang mampu menolak pesona Max. Bersikap seperlunya, tanpa menunjukkan kalau dia ada rasa ketertarikan dengan Max. Bahkan wanita itu cenderung judes dan menjaga jarak dengannya akhir-akhir ini.


"Masa iya aku jatuh cinta dengan Karin," gumam Max.


"Ha? Siapa? Karin? Kamu jatuh cinta dengan Karin?"


"Nggak tahu Bos. Cuma akhir-akhir ini, dia ada kepalaku tidak mau pergi. Bikin aku malas buat ngapa-ngapain."


"Terus?"


"Aku nggak tahu Bos. Cuma aku memang merasakan apa yang Bos katakan tadi."


"Sudah berapa lama kamu nggak dinas?"


Max berpikir sejenak. "Hampir sebulan ini Bos"


"Wah hebat, Karin sudah bisa membuatmu puasa sebulan. Lalu apa kabar Stella."


"Nah itu dia Bos. Aku sudah berusaha menjauh dari Stella. Tapi Stella mepet terus."


"Lah orang kamunya juga seneng dipepet."


"Ih Bos aku serius. Dan parahnya, tadi Karin lihat aku lagi ciuman sama Stella."

__ADS_1


"Ha? habislah kau!"


"Bos ini jangan ngomporin terus dong. Itu Stella yang maksa. Aku sudah menolak Bos," frustrasinya Max menghadapi Bos Kutubnya itu.


"Alah kamu juga mau kok dipaksa.Jadi itu tadi sebabnya kamu stand by depan pintu unitnya Karin?"


"Kok Bos tahu?"


"Aku sama Nina nggak sengaja lihat."


"Terus aku harus bagaimana, Bos? Aku nggak tahan dicuekin Karin. Lama-lama tak seret juga tu cewek ke kasur."


"Wait, wait kamu mau dihajar Nina?"


"Habis aku harus bagaimana?" ucap Max lesu. Joon tidak tega. Ini adalah pertama kalinya Max mengakui kalau dia punya perasaan pada seorang wanita.


"Apa kamu mau mendengar sesuatu?"


Max langsung mengangkat wajahnya. Menatap wajah Bos Kutubnya. Lantas menerima ponsel bosnya.


Lama Max terdiam mendengarkan rekaman dari ponsel bosnya. Hingga akhirnya senyum kembali terbit di wajah tampannya.


"Jadi bagaimana?"


"Dia juga suka sama aku Bos!" teriak Max, membuat Joon menutup telinganya.


"Yey, Karin juga suka sama aku." Teriaknya dengan bahagia


"Jadi berubahlah dan berusahalah untuk mengejarnya. Ingat, mereka sudah tahu kamu tukang tidur dengan banyak wanita. Jadi jangan gunakan cara mesum untuk mendapatkan Karin. Dan selamat kamu akan mendapatkan seorang perawan jika kamu berhasil menaklukan Karin. Padahal kamu sudah bekas banyak wanita"


"Eh Bos jangan salah. Aku selalu pakai pengaman jadi belum pernah ada yang nyentuh langsung juniorku."


"Ya, ya jadi berusahalah. Atau dia akan di ambil orang lain."


"Ha? Siapa sainganku Bos?"


"Lah kamu tidak dengar tadi, kalau Karin akan menggantikan kamu dengan siapa tadi namanya.... Joon berpikir sebentar.... ha Jungkook namanya Jungkook."


"Siapa itu Jungkook. Kok namanya mirip sama bos. Saudaranya Bos ya?"


"Aku nggak punya saudara yang namanya apa itu tadi. Ah, aku lupa. Dan itu tugas kamu buat nyari tahu siapa itu tadi ah aku lupa namanya."


Max terdiam lantas tersenyum. Ia bertekad akan berjuang kali ini. "Bos, mau aku beri saran agar pacar Bos mau nikah sama Bos?"


"Apa saranmu?"


"Hamili dia, saya jamin dia akan langsung mau menikah dengan Bos," ucap Max dengan seringai diwajahnya.


"Saya cuma menyarankan. Di pakai atau tidak terserah Bos."


Dan satu lemparan bantal sofa mendarat dengan mulus di wajah Max. Disambut umpatan keras dari sang pemilik wajah.


***


Weekend tiba,


Joon membuka pintu apartemennya. Langsung disambut pemandangan yang hmmm, cukup membuat dadanya berdesir hebat. Seiring dengan suhu tubuhnya yang ikut memanas.


Dilihatnya Nina tengah memasak di dapurnya. Hanya memakai pakaian kebangsaannya. Untungnya masih tertutupi apron yang dipakai yang panjangnya hingga lututnya dan bagian atas tertutup sempurna.


Namun Nina yang tengah mendengarkan musik lewat earphone itu terus bergerak ke sana ke sini mengikuti irama lagu. Dan parahnya, ada beberapa gerakan Nina yang terlihat seksi di mata Joon.


Joon hanya menikmati pemandangan itu sambil terus menahan dirinya. Namun ia begitu penasaran dengan lagu yang tengah di senandungkan kekasih hatinya itu. Lantas meraih ponsel Nina diatas meja.


Joon mengerutkan alisnya membaca track lagu yang tengah Nina dengarkan.


"Sejak kapan kamu berubah haluan?"


Nina langsung berbalik arah mendengar suara Joon. Dan lagi Joon telah menghentikan lagu yang tengah Nina dengarkan itu. Membuat Nina langsung merapatkan tubuhnya ke dinding dapur. Terkejut sudah pasti. Apalagi saat ini dia tengah memakai baju kebangsaannya.


"Bagaimana kamu bisa masuk?"


"Ini kan rumahku. Lagian aku tidak mengubah kode pintunya sejak aku kenal kamu."


"Ya?"


"Kodenya kan tanggal lahir kamu yang aku balik. Masak nggak nyadar sih."


"Masak sih," gumam Nina.


"Nah sejak kapan kamu pindah haluan? Ini lagu apa sih. Black Swan? BTS? Apa itu?"


"Ya lagulah. Masih nanya. Aku ketularan Karin. Dia sering mendengarkan lagu dari boyband itu akhir-akhir ini."


"Kamu juga nggak ikutan suka dengan orangnya kan?"


"Suka. Ganteng, pinter nyanyi. Pasti duitnya banyak," ucap Nina masih menempelkan dirinya di tembok


"Kamu ngapain sih berdiri di situ?"


"Eh itu, itu sebab...."

__ADS_1


"Aku sudah sering lihat kamu pakai itu. Jadi jangan khawatir aku nggak bakal makan kamu sekarang."


"Padahal pengen banget."


Nina lantas ikut duduk di meja makan. Masih dengan sikap malunya. "Apa itu tadi?" tanya Joon. Pandangan matanya seolah siap menerkam Nina.


"Apanya?"


"Itu maksudnya. Ganteng, pinter nyanyi dan banyak duit."


"La kan emang bener begitu."


"Lalu aku? Ganteng pasti.( Kumat deh narsisnya kata Nina) Pinter nyanyi? Ingat ya aku ini mantan penyanyi. Kamu mau request lagu apa saja aku bisa nyanyikan. Nanti aku buat konser solo dengan penonton solo juga."


"Maksudnya?"


"Kamu doang yang nonton. Terus banyak duit. Nih!"


Joon menyerahkan sebuah black card kepada Nina.


"Ini apa?"


"Black card. Kamu nggak tahu?"


"Aku tahu. Tapi buat apa?"


"Kamu kan minta aku bobolin bank yang ada di depan kantor. Nah itu hasilnya. Saldonya aku pindah ke black card itu."


"Serius?" Joon mengangguk.


"Lee Joon aku kan bercanda. Masak kamu anggap beneran. Itu kriminal tahu. Udah balikin aja. Aku nggak mau kalau itu hasil kriminal," ucap Nina ketakutan. Takut kalau yang dikatakan Joon adalah benar.


"Ya balikin aja. Aku nggak butuh black card atau apalah itu," wajah Nina benar-benar ketakutan.


Joon hanya tersenyum simpul melihat ekspresi Nina. Merasa puas bisa mengerjai lagi sang kekasih. "Aku becanda kok," kata Joon pada akhirnya.


"Ya?"


"Aku bercanda kok. Itu bukan hasil aku ngerampok bank. Tenang aja."


"Terus ini buat apa?"


"Katanya mau mindahin mall ke rumah. Itu cukup kok."


"Siapa yang bilang? Kamu nguping lagi?. Bisa nggak sih kamu buang alat itu. Aku kayak penjahat aja. Di mata-matain mulu."


"Itu cuma kebetulan aku lagi dengerin aja. Biasanya juga jarang aku ngintipin kamu. Lagian kamu kan memang penjahat. Penjahat cinta," diiringi sebuah kedipan mata Joon.


"Isshh dasar."


"Pokoknya pakai aja. Pin-nya seperti biasa."


"Nggak mau ah."


Dan akhirnya perdebatan panjang pun kembali terjadi. Seperti yang sudah-sudah. Nina selalu kalah kalau harus berdebat dengan seorang Lee Joon.


"Awas kalau nggak dipakai," ancam Joon.


Max POV


"Bos, kamu tahu nggak siapa yang namanya Jungkok itu?"


"Siapa emangnya?"


"Nih. Lihat."


"Member boyband BTS," Dengan foto seorang pria beraksen korea tengah tersenyum manis terpampang di layar ponsel Max.


"BTS? Bukankah ini boyband yang Nina dengarkan lagunya waktu itu."


"Kenapa Bos?"


"Ini gara-gara Karin. Nina jadi ikut-ikutan suka sama orang itu."


"Masak sih?"


"Terus bagaimana?"


"Aku punya ide."


Ucap Joon dengan senyum smirk di wajahnya. "Jangan harap kalian akan ada waktu untuk memikirkan pria lain"


Joon sudah dalam jealous mode on.


**


Oh ya readers, by the way si Max udah tahu ya kalau Joon pasang perekam suara di kamarnya.


Ya ampun jealousnya sama Jungkook oppa. Sori oppa jadi sasaran kecemburuan Joon dan Max. Peace🤣🤣🤣🤣


******

__ADS_1


__ADS_2