
Joon baru saja mulai memeriksa berkas-berkas yang ada di meja kerjanya. Kacamata kerjanya sudah bertengger manis di hidung mancungnya. Ketika Max dengan tergesa-gesa masuk ke ruangannya. Wajahnya terlihat panik dan entahlah tidak terbaca.
"Ada apa?" Joon mau tak mau menghentikan pekerjaan yang baru saja dia mulai. Mereka baru saja kembali dari meeting di luar. Menemui seorang klien.
"Ada berita buruk, Bos," jawabnya dengan nafas tersengal-sengal.
Joon hanya diam, menanti Max untuk sekedar mengatur nafasnya.
"Itu, si Joni meninggal di selnya."
Max cukup terkejut melihat reaksi bosnya yang cukup tenang. Tidak terkejut sama sekali. Dia pikir bosnya itu akan bereaksi lebih dari ini. Max heran dengan sikap bosnya itu.
"Bos tidak terkejut?"
Bukan jawaban yang Max dapat. Joon hanya menarik sedikit ujung bibirnya. Lantas membuka laptop yang ia ambil dari laci mejanya.
"Aku sudah menduganya. Mereka tidak akan membiarkan Joni buka mulut dan membeberkan rahasia mereka," ucapnya santai mulai mengutak-atik laptonya.
Hari itu adalah hari ke 5 setelah Joni ditangkap dan ditemukan meninggal di sel tahanannya.
"Bos, bukankah itu ilegal?" Max melihat bosnya meretas sistem CCTV di penjara tempat Joni ditahan.
"Yang aku tahu, tidak ada profesi hacker yang legal," jawab Joon santai.
"Iya juga ya, la wong hacker lo kerjaannya meretas data orang lain yang biasanya disembunyikan alias pribadi," batin Max sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ini dia pelakunya," kata Joon setelah terdiam beberapa saat.
Max ikut melihat ke arah laptop bosnya.
"Apa kita akan melaporkan orang ini, Bos?"
"Biarkanlah dulu. Yang penting Joni sudah bisa disingkirkan. Lagian aku tidak ingin mereka tahu keahlianku. Mereka pasti akan bertanya dari mana bukti yang aku dapatkan jika kita melaporkan orang yang telah melenyapkan Joni. Tidak mungkin kan aku menjawab karena aku bisa meretas sistem keamanan mereka. Lagipula mereka pasti akan menyelidiki hal ini. Meninggalnya tahanan di sel dengan kasus besar seperti Joni mereka pasti tidak akan melepaskannya begitu saja," ucap Joon panjang lebar.
"Apa Joni sempat memberitahu siapa bosnya?" Max menggelengkan kepalanya.
"Sudah aku duga, kemungkinan mereka melenyapkan Joni, karena takut Joni akan buka suara dan membahayakan posisi mereka."
"Berarti orang yang ada di belakang Joni punya kekuasaan yang cukup besar Bos, mengingat dia bisa memasukkan orang ke dalam penjara untuk melenyapkan Joni."
"Kamu benar Max dan mungkin kita akan sedikit kesulitan untuk mengungkap orang itu."
Keduanya lantas terdiam. Joon merasa seolah ada sebuah batu besar yang menghalangi langkahnya untuk mengungkap pencuri yang ada di perusahaan. Rupanya hal itu tidak sesederhana yang dipikirkannya.
Joon pikir setelah Joni tertangkap masalah akan selesai, ternyata dugaannya salah. Ada orang lain yang mengendalikan Joni. Joni hanyalah pion orang itu dalam menjalankan rencananya.
__ADS_1
"Aku ingin mengganti posisi Joni dengan orang yang benar-benar bisa kupercaya dalam mengendalikan keuangan perusahaan. Kamu tahu kan aku tidak begitu paham dengan analisa keuangan," ucap Joon kemudian.
Joon memang genius dalam beberapa hal namun, hanya saja dia tidak begitu pandai dalam hal analisa keuangan.
"Anda punya kandidatnya Bos?"
"Tentu. Siapkan surat untuk memutasi Karenina Putri dari kantor cabang di Jogja ke sini."
Perintah yang langsung membuat Max membelalakkan matanya.
"Karenina Putri dari cabang Jogja?" tanya Max memastikan.
"Iya." Max tertegun sesaat.
"Apakah bos sudah lama merencanakan hal ini. Karenina Putri siapa sebenarnya dia? Sepertinya nama itu tidak asing di telinganya," batin Max yang malah mematung sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Hey, kenapa malah diam saja. Cepat lakukan perintahku," ucap Joon ketika dilihatnya Max yang berdiri di tempatnya.
"Eh, i-iya Bos," Max dengan cepat berlalu dari hadapan bosnya.
Setelah Max keluar dari ruang kerjanya, Joon menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya. Memijat pelipisnya menggunakan jemarinya. Dia memejamkan mata. Beberapa hari ini dia benar-benar mempertimbangkan perkataan papanya untuk membawa Nina ke sini. Ke sisinya.
"Semoga yang aku lakukan benar." gumam Joon.
Joon tahu dengan membawa Nina ke sisinya akan membahayakan nyawa gadis itu. Tapi dia akan memastikan keamanan gadis itu selama di sisinya.
"Ada apa?" tanya asisten Jo.
"Alamak, ternyata masih ada makhluk secantik ini di muka bumi. Pantas saja bos Joon tidak bisa melirik yang lain." ucap Max yang membuat asisten Jo penasaran. Lantas berjalan mendekati Max ikut melihat ke laptop Max.
"Siapa dia?" asisten Jo pun ikut kepo melihat foto Nina yang terpampang di laptop Max.
"Calon Nyonya Muda," sahut Max asal membuat asisten Jo semakin penasaran.
"Maksudmu? Kekasih Tuan Muda?"
Max hanya mengangguk. Lantas tangannya mulai menari lincah di atas keyboard laptopnya menaik turunkan foto Nina seolah sedang menilainya. Sedang asisten Jo berdiri di sebelahnya turut mengamati foto Nina.
"Ck, ck, ck, ck benar-benar sempurna. Wajah cantik, body seksi. Senyumnya beeuuuh," ucap Max yang langsung mendapat toyoran di kepalanya dari asisten Jo.
"Aduh!" jerit Max mengusap-usap kepalanya yang ditoyor asisten Jo.
"Katakan itu di depan Tuan Muda kalau berani, kujamin dia pasti akan segera memarahimu habis-habisan," kata asisten Jo
"Ih sereeem amat. Aku kan hanya menilainya saja."
__ADS_1
"Kamu pikir aku tidak tahu yang ada di kepalamu itu."
Max hanya nyengir. Ia akui memang ia sempat berfantasi melihat foto Nina. Maklum setelan kepalanya sudah mesum dari sananya. Jadi ya dia langsung saja berfantasi soal Nina begitu dia melihat foto Nina. Melihat fotonya saja Max bisa memastikan jika Nina memiliki tubuh yang sempurna.
"Benar-benar sempurna. Kira-kira Tuan Muda sudah pernah begituan belum ya sama ni cewek," celetuk Max yang kembali mendapat toyoran dari asisten Jo.
"Jangan sembarangan kalau ngomong." Ucap asisten Jo membuat Max penasaran.
"Kamu tahu soal cewek ini, asisten Jo?"
"Aku hanya pernah mendengar namanya disebut nyonya Sofia ketika terakhir kali bertemu dengan Tuan Besar. Yang aku tahu gadis itu berada di bawah pengawasan langsung nyonya Sofia di Jogja. Jadi jangan berpikir yang aneh-aneh tentang mereka."
"Waaaah berarti cewek ini masih pe-ra-wan dong," kembali satu toyoran mendarat di kepala Max.
"Aduh, cewek ini belum ada di sini saja aku sudah gegar otak gara-gara ditoyorin mulu sama asisten Jo. Gimana kalau cewek ini sudah ada di sini. Apalah yang akan terjadi denganku," celoteh Max.
"Makanya jangan berpikir yang aneh-aneh!" ucap asisten Jo sambil meninggalkan Max yang masih menggerutu.
"Apanya yang aneh? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya," Max berguman sambil matanya kembali menatap foto Nina.
"Akan ada kehebohan besar kalau cewek ini sudah ada di sini."
****
"Tuan Muda sudah mulai bertindak Tuan Besar. Tuan Muda yang ada di balik penangkapan Joni."
"Aku tahu, Jo," jawab tuan Lee. Seperti biasa dia saat ini tengah memandang pemandangan ibukota dari jendela full kaca yang ada di ruangannya.
"Ada perkembangan?"
"Joni ditemukan meninggal pagi ini."
Tuan Lee menghembuskan nafasnya pelan. "Sudah aku duga. Ini tidak akan mudah untuk Joon, Jo."
"Ada yang lain?"
"Tuan Muda sudah mengirimkan surat mutasi untuk menarik Nona Karenina Putri untuk menggantikan posisi Joni, Tuan Besar"
"Dia benar-benar melakukan hal itu."
"Ya tuan."
"Maka bersiaplah, kita harus meningkatkan keamanan. Meski aku tahu, putraku pasti sudah melakukan yang terbaik untuk melindungi gadis itu. Tapi kita tetap harus waspada. Gadis itu mungkin bisa menunjukkan bukti keterlibatan orang itu dalam kejahatannya selama ini. Jadi mungkin itu akan menempatkannya dalam keadaan bahaya."
"Baik, Tuan!"
__ADS_1
"Semoga keputusanmu tidak salah, Nak. Membawa Nina kemari sama saja dengan melibatkannya dalam bahaya. Papa harap kamu sudah tahu dan siap dengan resikonya."
*****