Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 35


__ADS_3

Nina turun dari lantai 30 dengan penampilan yang berantakan. Langkahnya gontai. Terlihat jika ia sangat lelah. Rambutnya ia gulung tinggi hingga menunjukkan leher jenjangnya. Blazernya ia tenteng di lengan kirinya. Hingga menampilkan sedikit kulit lengannya, mengingat dressnya yang sleevless.


Entah kebetulan atau disengaja. Mereka turun bersamaan dengan Joon dan Max yang juga turun dari lantai 35 dengan lift khusus.


Melihat Nina kontan membuat Joon membelalakkan matanya.


"Apa-apaan sih tu anak!" gerutu Joon berjalan dengan cepat ke arah Nina.


Apalagi Max, jiwa mesumnya langsung bereaksi liar melihat leher jenjang Nina.


"Oh ****, dia sangat menggoda sekali," umpat Max dalam hati.


Nina dan Karin sedikit kaget melihat Joon dan Max. Mereka pikir keduanya sudah pulang.Mengingat sudah hampir pukul 8. Tak heran jika lobi sudah terlihat sepi.


"Baby, pakai blazermu dan lepaskan rambutmu!" perintah Joon.


Nina melongo mendengar ucapan Joon. Melihat Nina yang hanya terdiam, membuat Joon gemas sendiri. Lantas dengan lembut dilepaskannya gulungan rambut Nina. Hingga kembali tergerai menutupi leher jenjangnya.


Kemudian diraihnya blazer Nina lantas dipakaikannya di tubuh Nina. Nina hanya pasrah dengan tindakan Joon. Terlalu lelah baginya untuk berdebat lagi dengan Joon.


Sedang Max dan Karin langsung shock melihat aksi bos mereka. Terlebih Max, melihat sikap Bos Kutubnya, julukan baru untuk bosnya itu kembali bersikap manis di depan Nina.


"Ini kalau aku rekam, terus aku share di dunia maya. Bisa heboh dua dunia. Dunia maya sama dunia nyata akan sama hebohnya. Untung nggak ada karyawan lihat."


Setelah melakukan hal itu, lantas dengan lembut Joon menarik tangan Nina


"Eh, eh mau ke mana sih?"


"Pulanglah. Aku antar. Masa mau tidur di sini."


"Tapi, pak Man sudah nunggu di depan."


Tak menggubris perkataan Nina. Joon terus menarik tangan Nina hingga ke depan lobi. Di mana mobilnya sudah siap menunggu. Audi R8? Karin hampir terpekik melihat mobil itu terpakir di lobi. Lebih terkejut lagi ketika seorang petugas valet menyerahkan kuncinya kepada Joon.


"Anjirrr, tajir bener tu orang. Kamu bodoh Nin, kalau orang seperti Joon kamu sia-siakan," bisik karin.


Sekilas Karin melihat ke arah Nina, sahabatnya itu tampak biasa-biasa saja melihat mobil sekeren itu di hadapañnya. Nina memang tidak terlalu tertarik dengan barang-barang mewah.


Berbeda dengan Karin yang air liurnya hampir menetes melihat mobil mewah itu terpampang nyata di depan mata. Biasanya hanya Karin lihat di iklan di internet.


"Bilang pada pak Man untuk pulang saja. Penumpang biar diantar orang lain," kali ini Max yang memberi perintah kepada petugas valet yang juga menyerahkan kunci kepadanya.


"Baik, Tuan," jawab petugas itu.


Dan kembali Karin terbelalak. Melihat Mercedes Benz E class terparkir di belakang mobilnya Joon.



Kredit Pinterest.com


Mercedes Benz E Class,


"Gila! Bos dan asisten sama tajirnya."


"Max, kamu antar Karin."


"Siap, Bos."


Ucapan Joon membuat Karin kembali melongo. "Ha? Aku pulang naik mobil sekeren ini? Mimpi apa aku semalam." Oceh Karin di dalam hati.


"Baby, ayo masuk."


"Kita naik mobil ini?"


Joon mengangguk lantas membukakan pintu untuk Nina. Nina langsung masuk tanpa disuruh dua kali. Dia capek sekali. Ingin rasanya segera berendam di bath up apartemennya.


Nina masuk langsung menyandarkan tubuhnya, lantas memejamkan matanya.


Terlihat juga jika Karin sudah masuk ke mobil Max. Bersiap juga untuk pulang.


"Lelah?" suara lembut Joon membuat Nina membuka matanya kembali. Tepat ketika mata Jòon berada di depan matanya. Karena Joon tengah memakaikan sabuk pengaman Nina. Mobil itu mulai meluncur meninggalkan kawasan LJ GROUP.


"Lelah?" tanya Joon lagi. Sedang Nina langsung menghembuskan nafasnya kasar.


"Pantas kamu langsung mengiyakan ketika aku minta gaji 50 juta. Ternyata keuanganmu sangat kacau balau. Berantakan." Gerutu Nina.


Joon malah tertawa mendengar keluhan Nina di hari pertamanya bekerja.


"Lalu? Ingin naik gaji lagi?"


"Bukan begitu, kerja saja belum sudah minta naik gaji. Apa kata dunia?"

__ADS_1


Joon kembali tertawa.


"Aku hanya heran. Dengan keadaan seperti itu masih bisa ya perusahaan untung."


"Makanya uruslah dengan benar. Maka kamu akan tahu berapa besar untung perusahaan yang sebenarnya?"


Nina hanya diam. Mobil Joon berjalan perlahan menembus jalanan ibukota yang masih terlihat ramai. Pemandangan malam ibukota sedikit menarik perhatian Nina. Melihat ke luar di mana lampu-lampu bersinar terang menerangi jalanan ibukota dan juga bangunan di kiri kanan jalan.


"Sudah makan? Atau ingin makan sesuatu?"


Sebenarnya Nina lapar tapi dia lelah. Dan sudah watak Nina jika ia lelah dia lebih memilih lapar asal dia bisa langsung tidur.


"Entahlah," jawab Nina ambigu.


"Kenapa?"


"Lapar tapi pengennya tidur."


Joon tersenyum. Dia pikir sejak kapan Nina pandai menunjukkan sisi manjanya padanya. Biasanya gadis itu akan bersikap acuh dan sesuka hatinya.


"Tidurlah dulu sebentar. Akan aku bangunkan jika sudah sampai."


Entah mengapa Nina menurut saja ketika Joon berkata seperti itu. Tak berapa lama Nina sudah benar-benar terlelap. Terlihat jika dia sangat lelah.


Sedang di mobil lain. "Bagaimana hari pertama bekerja?"


"Kacau, Nina hampir nangis tadi sore."


"Ha?"


"Keadaan keuangan benar-benar kacau."


"Lalu?"


"Entahlah. Aku belum tahu dia mau ambil tindakan apa. Aku juga belum bertanya sih," jawab Karin sambil matanya terus memandang ke luar. Menikmati suasana malam ibukota. "Mau makan sesuatu?"


"Eh, aku mau masak aja nanti. Kemarin kita habis belanja di supermarket dekat apartemen."


"Kalau capek beli aja atau pesan DO. Mending waktu yang ada buat istirahat."


"Iya juga ya. Capek banget ni rasanya. Pengen cepetan tidur saja," oceh Karin. Entah kenapa ia begitu saja akrab dengan Max. Padahal keduanya baru saja bertemu tadi.


"Iya deh aku coba nanti."


Setelah beberapa lama. Mobil mulai memasuki kawasan apartemen.


"Anterinnya sampai sini aja. Aku bisa naik bareng Nina. Kami cuma beda lantai."


"Aku tahu. Kan aku yang ngurus. Lagian aku juga tinggal di sini."


"Ha? Serius?"


"Iya, aku tinggal di sebelah unit Nina. Karena yang Nina tinggali itu sebenarnya dulu unitnya Joon."


"Whatt!! Kamu serius?"


Max mengangguk. Pantas aja tu apartemen mewah banget. Punya penyanyi sekaliber Joon plus sekarang sudah jadi pengusaha.


Karin benar-benar menggelengkan kepalanya. Teringat bagaimana mewahnya apartemen sang teman ketika kemarin ia berkunjung Menghabiskan waktu seharian di sana. Bahkan ia berangkat dari apartemen Nina pagi ini. Benar-benar wah.


Mereka juga sempat keluar untuk berbelanja. Sambil jalan-jalan, bertanya pada resepsionis di mana supermarket terdekat. Mereka ingin berbelanja sayuran. Ingin memasak bersama ketika pulang bekerja kononnya.


Tapi kalau begini terus tiap hari. Jangankan buat masak. Untuk makan saja bisa dipastikan mereka akan kalang kabut. Pikir Karin.


"Ya Bos," suara Max membuyarkan lamunan Karin.


"Oke."


Karin memperhatikan wajah Max. "Kita pesan makanan di resto dulu. Kamu tahu kan Nina suka apa."


"Kenapa kita yang pesen?"


"Nina tertidur. Bos akan langsung membawanya ke atas," ucap Max sambil matanya menatap lurus ke depan. Langsung diikuti mata Karin. Melihat pemandangan romantis yang terjadi di depan mereka.


Sementara Joon sudah keluar dari mobilnya. Memutari mobil. Membuka pintu sebelah. Dibukanya perlahan sabuk pengaman Nina. Lantas dengan lembut diraihnya tubuh Nina kedalam pelukannya. Ditempatkannya tubuh itu dalam posisi yang paling nyaman menurut Joon.


Dia mulai memasuki lobi apartemen langsung naik ke lantai 25.


"Ah romantis sekali." Pekik Karin dalam hati.


"Ayo." Ajak Max. Karin lantas mengikuti Max. Memasuki restoran di lantai bawah. Memesan makanan. Lantas ikut naik ke unit masing-masing. Karin mengangguk pada Max ketika dia keluar di lantai 24. Sedikit menahan pintu lift agak lama. Memastikan jika Karin telah masuk ke unitnya dengan selamat.

__ADS_1


Max memang brengsek. Tapi dia juga tahu kepada siapa dia harus melampiaskan ke-brengsekannya. Dan dia tahu dengan jelas jika Karin adalah gadis baik-baik. Jadi dia merasa wajib untuk menjaga gadis itu saat ada di dekatnya.


Ceklek,


Pintu unit Nina terbuka. Perlahan Joon masuk, langsung melesat menuju kamarnya. Dengan perlahan di baringkannya tubuh Nina di atas ranjangnya. Dilepaskannya sepatu Nina. Lalu dibukanya juga blazer Nina. Agar Nina bisa tidur dengan nyaman pikirnya.


Sejenak ditatapnya wajah damai Nina yang tengah tertidur. Perlahan dikecupnya kening Nina.


"Good night, Baby. Have a nice sleep," ucap Joon lirih.


Ia keluar kamar. Bersamaan dengan bel apartemen yang berbunyi. DO dari resto bawah rupanya. Di letakkannya makanan itu di atas meja makan. Lantas ia langsung keluar dari apartemen Nina.


"Aku pulang," pesannya pada Max.


Hebat sekali Bos Kutubnya itu. Pikir Max setelah membaca pesan dari bosnya. Dia bisa langsung pulang begitu mengantarkan kekasihnya.


Kalau Max, mungkin dia tidak akan pulang. Dia akan memilih menghabiskan malam panasnya dengan wanita itu. Dasar otak mesum, begitulah yang sering Joon ucapkan pada Max. Tapi Max santai saja tiap Bos Kutubnya itu mengatakan hal itu padanya.


Menurut Max, yang penting dia tidak merusak gadis baik-baik. Dan melakukannya dengan orang yang benar-benar rela. Bukan dengan paksaan.


Tiiing,


Satu pesan masuk.


"Sayang aku merindukanmu," bunyi pesan itu. Max langsung menyunggingkan senyumnya.


"Waktunya untuk bersenang-senang."


****


Hari berganti pagi,


"Mbak Rita bisa kumpulkan semua staff di ruang rapat?"


"Bisa Bu. Sekarang?"


"Iya Mbak, sekarang. Tolong ya."


Dan Rita pun keluar ruangan untuk menyampaikan perintah direktur barunya itu kepada staf yang lain.


Tak berapa lama. Ruang rapat itu telah penuh dengan para staf yang saling memandang dengan tatapan penuh tanya. Untuk apa mereka dikumpulkan di sini.


Ceklek,


Suara pintu di buka, Nina masuk di ikuti Karin dan Rita. Dengan beberapa berkas tampak di tangan Karin. Ini adalah pertama kalinya Nina berhadapan dengan seluruh stafnya.


"Saya tidak akan bertanya bagaimana Anda bekerja selama ini. Hanya saja saya ingin bertanya bagaimana Anda mengerjakan semua laporan ini?" tanya Nina dengan suara tegas dan tanpa basa basi. Itulah Nina.


"Ada yang ingin menjawab?"


"Bukankah itu sudah sesuai dengan datanya," jawab seorang staf terlihat sekali jika ia ingin menguji bos barunya itu.


"Benar, ini memang sesuai dengan datanya. Tapi masalahnya data yang kalian masukkan salah semua."


"Tapi Bu, data itu sudah di setujui oleh pak Joni. Direktur yang lama. Jadi kami tinggal mengerjakan," sanggah yang lain.


"Jadi kalian akan tetap diam saja. Meski kalian tahu kalau data salah atau sudah dimanipulasi?"


Tanya Nina dengan tatapan matanya yang setajam burung elang siap memakan mangsanya.


"Dan satu lagi. Saya tidak peduli dengan apa yang sudah direktur terdahulu perintahkan kepada kalian. Tapi mulai saat ini saya ingin kalian melakukan pekerjaan kalian dengan benar."


"Alah, bilang saja jika Ibu tidak tahu cara mengerjakan laporan itu. Jadi Ibu menyalahkan kami. Bu laporan itu sudah benar dan sesuai dengan data yang ada."


Ucapan staf itu segera di iyakan oleh staf lainnya.


Nina menyeringai, "Anda menantang saya. Jangan pikir saya tidak tahu cara mengerjakan laporan ya?"


"Buktikan Bu kalau begitu," tantang yang lain. Mereka berniat membuli Nina. Tapi seperti yang Joon katakan Nina bukanlah gadis yang mudah di tindas.


"Oke akan saya buktikan. Karin!"


ujar Nina pada Karin.


"Silahkan kalian pilih berkas mana yang ingin di kerjakan oleh bu Nina," pinta Karin membuat para staf itu menyeringai penuh kemenangan.


Mereka pikir inilah saatnya mereka untuk menjatuhkan direktur mereka yang baru. Membuat Nina kehilangan harga diri sekaligus kepercayaan diri. Membuatnya merasa tidak pantas untuk memimpin departemen keuangan. Lantas mengundurkan diri dengan sendirinya. Setidaknya itulah yang ada di pikiran mereka saat ini.


Mereka berkumpul lantas seorang staf maju menyerahkan sebuah berkas. Dengan wajah penuh kemenangan staf itu kembali ke tempat duduknya. Merasa yakin bisa menjatuhkan direktur baru mereka.


*****

__ADS_1


__ADS_2