Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 69


__ADS_3

Nina berjalan keluar dari kafe. Hanya sekedar mengikuti langkah kakinya. Tidak tahu ke mana arah dan tujuannya. Kata-kata Karin jelas masih terngiang di telinganya.


"Dia memang gila, jika melakukan hal itu, hanya karena ingin kamu menikah dengannya. Dan tentu itu adalah hal yang salah. Tapi mari memandang dari sisi dirinya. Tidakkah dia terlalu sabar menghadapimu. Tidakkah kamu yang terlalu egois pada dirinya. Dia menjagamu dengan baik selama ini. Dia sudah melamarmu baik-baik. Apa susahnya sih untuk bilang iya dulu.


Lalu mulai membicarakan kekhawatiranmu tentang tidak tepatnya kalian untuk menikah sekarang. Dia pasti akan mengerti. Tapi setidaknya kamu bersedia menikah dengannya."


Ocehan Karin benar-benar menghantam hati Nina. Karin benar, dia terlalu egois. Hanya memikirkan perasaannya sendiri tanpa peduli pada perasaan Joon.


Dia menghela nafasnya perlahan. Menghentikan langkahnya di antara beberapa orang yang masih berlalu lalang saat itu. Suasana memang agak sepi, mengingat masih jam kantor.


"Apa susahnya sih untuk bilang iya?"


Kata-kata itu kembali terngiang di telinganya. Tanpa sadar, sepasang mata memperhatikan dirinya dari jarak yang tidak terlalu jauh.


"Alihkan perhatiannya," orang itu berkata melalui ponselnya.


Tak lama Nina mendengar bunyi "gubrak" tak jauh di belakangnya. Namun dia tetap acuh. Menengok pun tidak.


"Ah, maaf. Maafkan saya. Saya tidak sengaja," samar Nina mendengar potongan percakapan orang di belakangnya. Tapi dia tetap acuh. Hingga tiba-tiba sebuah tangan membekapnya dari belakang.


Menutup hidungnya dengan sapuntangan. Lantas mengunci pergerakan Nina. Gadis itu seketika tidak bisa bergerak.


Dan sepersekian detik berikutnya, Nina merasa kesadarannya mulai menghilang. Pandangannya mulai kabur. Tubuhnya tiba-tiba lema. Di saat akhir, sebelum dia benar-benar kehilangan kesadarannya. Dia merasakan tubuhnya dibawa masuk ke dalam gendongan seseorang.Setelahnya, semuanya menjadi gelap bagi Nina.


Sedang Riko yang sejak tadi mengikuti Nina, terkejut. Melihat Nonanya dibawa masuk ke sebuah mobil van yang langsung tancap gas dari tempat itu. Hanya karena seseorang yang tidak sengaja menabraknya tadi. Membuat dirinya kehilangan fokus pada Nonanya.


Dia lantas melesat menuju ke mobilnya yang memang terparkir tidak jauh dari tempat itu. Berusaha mengejar mobil itu. Tangan kanannya sibuk memegang kemudi sambil fokus pada jalanan. Sedang tangan kirinya langsung meraih ponselnya.


Mencoba menghubungi Bos Besarnya. Yang bisa dipastikan akan langsung membunuhnya. Kehilangan Nonanya tepat di depan mata adalah kesalahan paling fatal yang pernah dilakukannya.


"Halo Bos. Nona diculik," lapornya singkat. Sebuah makian langsung Riko dapat dari seberang. Memutus sambungan dan kembali fokus pada kemudinya. Mengikuti mobil van yang membawa Nina. Mulai keluar dari kawasan perkantoran, bercampur dengan kendaraan lain yang mulai padat waktu itu.


"Oh sh.it," Joon langsung mengumpat kesal. Semua orang yang ada di ruangan itu terkejut. Tak terkecuali Karin, yang tengah mencengkeram kerah Joon. Ingin memukul Joon kembali. Tapi umpatan Joon membuatnya melepaskan pria itu begitu saja.


"Ada apa?" tanya tuan Lee yang dengan cepat menguasai diri dari keterkejutannya akibat mendengar umpatan dari Joon.


"Nina diculik," dua kata yang langsung membuat semua orang yang ada di tempat itu ikut panik. Bahkan Karin hampir saja ambruk ke lantai jika Max tidak langsung menyangga tubuhnya.


"Aku hanya meninggalkannya di kafe itu beberapa menit yang lalu," ucapnya panik. Airmata mulai turun di wajahnya. Tidak bisa dia bayangkan bagaimana nasib sahabatnya itu.


"Berikan laptopmu," perintah Joon pada asisten Jo. Sebuah laptop telah berada di depan Joon. Dengan lincah dia mulai memainkan jarinya di atas keyboard laptop itu.


"Berikan aku nomor plat van itu!" ucap Joon melalui ponselnya. Dia berhasil melacak ponsel Riko melalui GPS yang mereka pasang di ponsel Riko. Sebuah pesan masuk. Dan jari Joon bergerak semakin lincah.


"Karin apa dia membawa ponselnya?" tanya Joon tanpa melihat Karin. Membuat yang ditanya langsung gelagapan menjawab.


"Dia tidak menggunakan ponselnya beberapa hari ini" jawab Karin yang kini telah duduk di sofa.


"Sial!"


Umpat Joon dalam hati. Semua orang yang ada di ruangan itu kini hanya bisa melongo. Tak terkecuali tuan Lee. Melihat Joon dengan lihainya mampu meretas data seluruh CCTV sepanjang jalan ibukota.


Apalagi asisten Jo dan Doni yang kebetulan berada di belakang Joon. Keduanya saling pandang. Dan satu kata yang keluar dari bibir keduanya. "Wow" melihat Joon beraksi bak hacker profesional yang biasanya hanya mereka lihat di TV. Sungguh mereka tidak menyangka jika tuan muda mereka bisa melakukan hal seperti itu.

__ADS_1


"Oh sial!" Joon kembali mengumpat. Bisa Doni dan asisten Jo lihat apa yang membuat tuan mudanya kembali mengumpat.


"Orang itu," ucap Doni dan asisten Jo hampir bersamaan.


"Heri yang menculiknya," ucap Joon pelan. Rasa panik dengan cepat menguasainya. Mendengar nama "Heri" satu ruangan itu saling pandang.


"Apa yang sebenarnya diinginkan orang itu," tanya Karin. Rasa khawatir tergambar jelas di wajahnya. Satu pesan masuk ke ponsel Joon.


"Maaf tuan. Saya kehilangan mereka," bunyi pesan itu. Joon dengan cepat meraih ponselnya.


"Hubungi Ronald dan yang lainnya untuk merapat ke tempatmu. Aku akan dapatkan posisinya dalam beberapa saat ini," perintahnya.


Jarinya kembali bermain lincah di keyboard laptop itu. "Oh tidak. Tidak ada CCTV di daerah itu," batin Joon.


Dan lebih parahnya, detik berikutnya titik mobil van itu berhenti. Dengan cepat Joon mengecek tempat itu.


"Oh tidak mereka mengganti nomor plat mobilnya," ucap Joon. Membuat semua orang saling memandang. Rasa panik jelas ikut tergambar di wajah mereka. Apalagi Karin. Wajahnya pucat dengan air mata tak henti menetes.


"Bagaimana ini?" tanyanya pelan.


"Semua akan baik-baik saja jangan khawatir," ucap Max pelan berusaha menghibur kekasihnya itu. Padahal dia sendiri sama paniknya dengan Karin. Max melihat ke arah Bosnya. Bisa dilihatnya Bosnya itu tak kalah panik dengan dirinya.


"Apa dia memakai anting yang kuberikan waktu itu?" tanya Joon. Karin berpikir sejenak. Lantas mengangguk. Dengan cepat Joon kembali meraih ponselnya. Mencari kode GPS yang pernah dia pasang di anting itu.


Entah kenapa, jiwa hackernya memberinya ide gila itu. Joon teringat bagaimana Nina mati-matian menolak anting itu. Hanya ketika Joon berkata bahwa itu berlian KW, baru Nina mau menerima. Padahal anting itu berlian asli dari brand Cartier yang terkenal.


Mengetikkan kode GPS itu lantas menekan tombol "search" dan tiiing. Sebuah peta atau lebih tepatnya sebuah sharelock terpampang di layar laptop itu. Doni dan asisten Jo kembali saling pandang.


"I got you," ucap Joon pelan. Semua orang menarik nafas mereka penuh kelegaan. Bersamaan dengan sebuah pesan masuk. Yang langsung membuat emosi Joon naik seketika.


"Dasar bajingan. Brengseek!" umpat Joon keras. Joon langsung melesat keluar dari ruangan itu. Semua orang melongo dibuatnya.


"Max, Jo. Kejar dan ikuti dia," perintah tuan Lee. Kedua orang itupun langsung ikut keluar dari ruangan itu. Menyusul tuan muda mereka yang telah lebih dulu keluar.


"Apa isi pesan itu?" tanya tuan Lee pada Doni yang berdiri di belakang Joon. Dipastikan jika dia bisa membaca pesan di ponsel Joon.


Karin langsung menangis mendengar bunyi pesan itu yang disampaikan Doni dengan bibir bergetar.


"Oh apa yang akan terjadi? Tolong lindungi Nina ya Tuhan," batin Karin.


"Halo. Tolong kirim anak buahmu ke Jalan Mawar nomor 10. Putraku mungkin membutuhkan bantuan," ucap tuan Lee melalui ponselnya. Semua kembali terdiam, hanya isak tangis Karin yang sesekali terdengar. Hingga satu suara terdengar memecah keheningan di ruangan itu.


"Sayang kamu di dalam? Dan, oops maaf jika aku mengganggu. Tapi sayang, Bu Ratna dan Risma minta dijemput di stasiun Jatinegara. Mereka akan tiba dalam satu jam," ucapan orang itu yang tak lain adalah Sofia membuat Karin dan tuan Lee khususnya langsung terkejut.. Tuan Lee langsung memijat pelipisnya.


"Oh apalagi sekarang?" gumannya pelan.


"Tante...Bu Ratna ke sini?" tanya Karin.


"Iya, dia masih di Bandung tadi pas menelepon. Jadi mungkin masih sekitar satu jam lagi mereka sampai. Nina di mana? Tante tadi ke ruangannya tapi kosong. Ke mana dia?" tanya Sofia biasa saja setelah tahu Mike-lah yang ada di ruangan itu.


Pertanyaan Sofia tentang Nina langsung membuat semua yang ada di sana saling pandang. Bagaimana menjelaskan pada Sofia. Pikir mereka semua.


Sedang di parkiran bawah. Joon langsung melesat masuk ke dalam mobilnya. Menghidupkan mesin lalu membawa mobilnya keluar dari kawasan kantor LJ GROUP. Tidak peduli dengan teriakan Max dan asisten Jo yang mengejarnya. Asisten Jo langsung melesat masuk ke mobilnya sendiri diikuti Max. Langsung menyusul mobil Joon yang telah melaju lebih dulu.

__ADS_1


"Akan aku habisi kau jika berani menyentuh Nina!" ucap Joon. Ponselnya tergeletak di dashboard mobil di depannya. Masih menampilkan sebuah pesan dengan bunyi, "Datanglah ke jalan Mawar nomor 10 sendirian. Jika ingin kekasihmu selamat," disertai foto Nina yang nampak tertidur pulas.


"Apa sih sebenarnya isi pesan itu?" tanya Max yang penasaran. Asisten Jo menjawabnya. Mendengarnya Max hanya menyeringai.


"Pantas dia langsung panik setengah mati," batin Max.


"Sial! Bagaimana dia bisa menyetir mobil seperti itu?" umpat asisten Jo. Karena mereka kehilangan jejak mobil Joon. Yang melajukan mobilnya bak pembalap F1 di jalan raya. Terlebih hari ini Joon membawa Bugatti Veyron-nya. Jadi tidak sulit untuk mengebut di jalanan.



Kredit Pinterest.com


Bugatti Veyron,


Meski pada akhirnya bisa saja dia menjadi target polisi karena mengebut di jalan raya. Tapi siapa juga yang peduli. Terlebih Joon yang dipikirannya saat ini hanyalah bagaimana bisa dia menemukan Nina secepatnya. Yang lain tidak penting.


Sementara itu. Di sebuah kamar, di rumah yang menjadi tujuan semua orang yang sedang mencari Nina. Tampak seorang pria tengah memandang seorang gadis yang masih tertidur pulas. Akibat obat bius yang diberikan kepadanya.


Menatap tajam pada gadis yang menurutnya semakin cantik sejak terakhir kali mereka bertemu.


"Kamu cantik dan semakin cantik. Tidak heran jika pria sekelas tuan muda Lee begitu tergila-gila padamu," ucap pria itu yang tak lain adalah Heri. Perlahan tangannya terulur merapikan beberapa anak rambut yang menghalangi pandangannya saat menatap wajah Nina.


"Kau bahkan terlihat begitu menggoda saat tertidur," ucapnya sambil jemarinya perlahan menyentuh lembut bibir Nina.


Detik berikutnya Heri mendekatkan wajahnya. Mencium sekilas bibir Nina. "Manis," satu kata yang keluar dari bibir Heri. Satu ciuman kilat membuatnya ketagihan. Hingga dia kembali mendekatkan wajahnya, bermaksud mencium Nina kembali. Namun baru saja bibirnya menempel di bibir Nina. Gadis itu dengan cepat membuka matanya. Reflek mendorong tubuh Heri menjauh.


"Kau? Apa yang kau lakukan?" tanya Nina dengan cepat menjauhkan diri dari Heri.


"Ingin mengajakmu bersenang-senang. Apalagi?" jawab Heri santai.


"Kau! Dasar brengsek! Lepaskan aku!" teriak Nina.


"Oh bersabarlah sedikit. Kekasihmu akan sampai sebentar lagi. Dan kita akan bersenang-senang setelah menyelesaikan urusan kita dengan kekasihmu," ucap Heri sambil menyeringai.


"Maksudmu apa?" tanya Nina khawatir pada Joon.


"Kita akan tahu setelah dia datang," balas Heri lagi. Tak lama sebuah suara terdengar dari lantai bawah.


"Bos, dia sudah datang,"


"Ah, dia datang lebih cepat dari dugaanku. Pastikan dia datang sendiri. Singkirkan orang-orang yang mengikutinya," perintah Heri.


"Ayo kita temui kekasihmu. Semakin cepat selesai, semakin cepat kita bersenang-senang," kata Heri. Kembali seringai mengerikan terlukis di wajah Heri. Nina langsung bergidik ngeri.


*****


Hai readers, met malam. Up malam kita.


Jangan lupa buat like, vote and comment ya.


Happy reading, and salam sayang dari author..😘😘😘😘


*****

__ADS_1


__ADS_2